Aisha di sampul TIME edisi Agustus lalu (kiri) dan wajahnya kini dengan hidung baru hasil bedah rekonstruksi di AS. PHOTO: AP-GETTY

 

AGUSTUS 2010 lalu, Aisha menjadi perhatian dunia. Perempuan Afghanistan yang akrab disapa ‘’Bibi’’ ini muncul di sampul Majalah TIME dengan hidung bolong akibat dimutilasi oleh suaminya, seorang anggota milisi Taliban. Meski tahapan operasi rekonstruksi belum rampung sepenuhnya, akhir pekan lalu Aisha muncul di depan publik AS dengan hidung buatan yang sangat mirip hidung asli.

Musim panas ini Aisha menjalani operasi di AS yang dibiayai Grossman Burn Foundation, California. Dengan hidung baru dan senyumnya yang terus mengembang, Aisha cukup percaya diri kala tampil menerima penghargaan Enduring Heart Award di hadapan politisi, pengacara, serta pengagumnya yang menghadiri event tahunan yayasan tersebut.

Seperti diwartakan TIME Agustus lalu, Aisha menikah dini pada usia 13 tahun. Lepas pernikahan ia hampir tiada henti menjadi target kekerasan  suaminya. Berulang-ulang ia berusaha kabur, tetapi selalu gagal. Si suami yang berang lantas menghukumnya dengan memotong hidung dan telinganya. Namun upaya Aisha lepas dari penderitaan akhirnya berhasil.

‘’Saya lebih suka mengonfrontir pembaca dengan perlakuan Taliban daripada mengabaikannya. Akan lebih baik orang tahu realitas itu ketika mereka berpikir tentang apa yang dilakukan AS dan sekutunya di Afghanistan,’’ tulis Redaktur Pelaksana TIME Richard Stengel pada edisi Agustus tersebut.

Belum diketahui pasti berapa lama merampungkan operasi rekonstruksi hidung Aisha mengingat operasi rekonstruksi menuntut pemasangan tulang hidung (kombinasi tulang dan tulang rawan) sebagaimana otot dan kulit. Menutup bagian hidung yang bolong dengan mengambil kulit dari bagian tubuh Aisha menjadi alternatif yang diyakini mampu memberikan hasil lebih bagus secara estetis karena lebih matching warnanya.

Aisha pun layak berbesar hati mengingat pada 2007 para ahli bedah rekonstruksi di Johns Hopkins mampu memperbaiki  kerusakan lebih parah pada hidung Michael Fletcher, veteran Perang Irak, dengan mencangkokkan dari bagian-bagian tubuhnya sendiri. Bedah rekonstruksi Fletcher butuh enam tahapan dan prosedur yang terpisah dalam waktu setahun dengan total waktu 40 jam.

Pada operasi itu, dokter mengambil kulit bagian dalam lengan Fletcher untuk membuat saluran hidung. Sedangkan susunan hidung dibuat dengan memanfaatkan tulang rawan dan tulang dari iga serta telinga Fletcher. Hasilnya luar biasa. Hidung Fletcher sangat berfungsi; bisa untuk bernapas, mencium, bahkan untuk bersin.

‘’Sejak awal rekonstruksi hidungnya tidak pernah langsung rampung. Ia memang menginginkan hidungnya lagi, tak peduli orang sedunia lalu melihat goresan-goresan bekas lukanya,’’ ujar Dr. Patrick Byrne yang terlibat dalam rekonstruksi Fletcher.

Operasi rekonstruksi Aisha diprediksi juga berlangsung setahun. Dengan hidung barunya itu, perempuan Afghanistan ini diharapkan bisa kembali ceria menyapa dunia meski apa yang hilang dari dirinya takkan tergantikan. Karena ia tak harus selalu berada di ranjang rumah sakit, demikian Daily Beast, sembari menjalani proses panjang rekonstruksi itu Aisha masih bisa sekolah serta mengikuti sesi konseling psikologi.

‘’Saat bertemu dokter, kukatakan kepadanya semua kisahku. Ayahku berpesan agar tidak memberi tahu siapa pun tentang kisahku sepenuhnya. Namun akan kukatakan semuanya, semua, karena aku bukan pembohong. Kuberitahu mereka karena aku rasa kisahku harus diceritakan,’’ tutur Aisha.