Nancy Pelosi; jabatannya sebagai Ketua DPR terancam. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

PEMILU sela Amerika Serikat 2 November mendatang tidak cukup memberikan angin segar untuk politisi perempuan. Bahkan kans kaum Hawa menduduki kursi Kongres hampir dipastikan di titik terendah sejak 1978.

Selama ini Partai Demokrat lebih banyak menempatkan politisi perempuannya ke Kongres dibandingkan rivalnya, Partai Republik yang lazim pula dijuluki sebagai GOP (Grand Old Party). Dalam formasi 535 kursi di Kongres saat ini, 90 adalah perempuan dengan proporsi: di DPR Demokrat menempatkan 56 politisi berbanding 17 dari Republik, sedangkan di Senat Demokrat memiliki 13 wakil perempuan berbanding hanya 4 dari Republik.

Untuk pemilu 2 November, Demokrat masih memasang lebih banyak kandidat perempuan dibandingkan Republik yang menyiapkan hanya 4 dari total 46 politisi amunisi Young Guns-nya menuju Kongres. Dengan demikian, politisi lelaki maupun perempuan Demokrat harus menghadapi persaingan supersengit dari para kandidat Republik dan –menurut berbagai hasil polling— mereka bakal tumbang. Bahkan kursi Ketua DPR yang diduduki Nancy Pelosi terancam ‘’disita’’ oleh John Boehner yang sudah dielus-elus kubu Republik untuk menggantikan Pelosi.

Menurut kalkulasi Newsweek, hasil pemilu sela 2 November bakal mengurangi jumlah politisi perempuan di Kongres antara 8 hingga 10 kursi. Merespons kemungkinan tersebut, dalam kesempatan jamuan amal awal pekan ini Pelosi menebarkan sinyal waspada. Jika itu yang benar-benar bakal terjadi, berarti ada setback alias kemunduran dalam partisipasi perempuan yang selama ini dianggap sudah stabil di Kongres yang masih didominasi lelaki.

‘’Anggota perempuan lebih bisa memahami makna penting dan relevansi masalah yang berkaitan dengan agenda kesehatan perempuan. Semakin sedikit jumlah mereka (di Kongres) jelas bakal berdampak,’’ ujar Geoff Garin, penjajak dari Demokrat.

Keberadaan perempuan di Kongres selama ini dinilai sebagai peredam ‘’kobaran api’’ atas pembahasan agenda yang berkaitan dengan kesehatan perempuan, khususnya masalah reproduksi. Bila Republik mendominasi, termasuk kandidat perempuannya yang berhaluan konservatif, sangat diyakini hal itu bagian dari agenda politik pro-life, yaitu menggencet hak-hak aborsi dan jaminan kesehatannya yang selama ini diperjuangkan secara gigih oleh Demokrat.

Wakil Presiden Urusan Kebijakan Publik pada organisasi Planned Parenthood, Laurie Rubiner, mengatakan, selama ini Kongres yang didominasi Republik sangat tidak menguntungkan dari sisi agenda kesehatan dan hak reproduksi pada perempuan. Ia menunjuk pada pendanaan agenda ‘’Title X of the Health and Human Services’’, satu-satunya program kesehatan yang didanai pemerintahan federal untuk program konseling keluarga berencana dan kontrasepsi.

Selama delapan tahun pemerintahan George Walker Bush, dana untuk program itu tidak beranjak. Tapi tahun lalu, dalam pemerintahan Obama, anggaran itu mendapatkan suntikan dana tambahan US$ 10 juta. ‘’Yang benar-benar bisa kami cermati, Kongres yang (didominasi) Republikan tidak menjanjikan (dana) tambahan atau malah memangkas. Itu salah satu yang kami cemaskan,’’ ujar Rubiner.

Isu keterwakilan perempuan di parlemen bakal menjadi salah satu amunisi Demokrat, selain tetap mengandalkan para pemilih dari kaum muda dan berbagai ras serta warna kulit yang mendongkrak perolehan suara Barack Obama pada pemilu presiden dua tahun lalu.

Apalagi Demokrat meyakini berbagai jajak yang belakangan mengunggulkan Republik masih ‘’cukup lemah’’. Jajak-jajak itu dinilai belum memasukkan pemilih dari latar kulit berwarna –khususnya Hispanik—kaena kendala bahasa. Demokrat memang diprediksi kalah, tetapi siap menyalip di tikungan terakhir sebelum hari pemilihan. Andai kalah, Demokrat juga tidak menilainya sebagai kekalahan selagi masih menjadi kekuatan mayoritas di Kongres meski selisih kursinya menipis.