PHOTO: GETTY IMAGE

Di mata dan hati pesepakbola sejati, gantung sepatu bukan mutlak bermakna memungkasi karier. Justru gantung sepatu kerap merupakan metamorfosis penanda peralihan karier: dari pemain ke pelatih. Itulah yang berusaha dipahat kuat-kuat oleh Diego Armando Maradona, yang pada Sabtu, 30 Oktober 2010, tepat berusia 50 tahun.

Maradona bukan lagi mencari jati diri. Jati dirinya sudah terukir jauh hari sebagai pemain pro superbrilian. Ia ‘’pahlawan’’ Argentina, dipuja di dunia, dan bakal dikenang sepanjang masa. Seperti pernah diulas di blog ini pula, Maradona ibarat dewa, mengesankan selalu benar meski telah melalui banyak jalan berkelok penuh masalah.

Tak jarang ia dicerca –seperti pada saat-saat akhir Kualifikasi Piala Dunia 2010 Zona Amerika Latin dan tersingkirnya Timnas Argentina yang dipolesnya secara memalukan pada perempat final Piala Dunia 2010 Afsel— tetapi kekuatan cinta yang lebih besar menimbunnya. Kini siapa sejatinya Maradona pada usianya yang setengah abad?

The jobless star. Bintang pengangguran. Maradona memang masih layak menyandang status bintang meski sudah tidak bermain serta tidak lagi melatih Timnas Argentina. Kini ia juga tidak memoles klub mana pun, tetapi brand-nya masih melekat kuat karena ia tetap bintang. ‘’Perlu kuperjelas di sini, aku tidak menawarkan diri untuk pekerjaan apa pun. Tidak ada pula yang datang menawariku pekerjaan,’’ ujarnya kepada Sky Sports News, Jumat (29/10).

Namun, kepada stasiun televisi itu, Maradona mengakui ada hasrat mengarsiteki klub di Premier League Inggris. Nama Aston Villa sempat dikaitkan dengannya, tetapi bekas kapten Timnas Argentina ini mengaku sama sekali belum ada pendekatan dari klub anggota Premier League tersebut. Ia hanya menyatakan seluruh klub di Premier League yang disukainya telah memiliki pelatih-pelatih hebat.

Itu berarti Maradona masih harus menunggu kepastian yang belum pasti.  Sekali lagi, ia tidak lagi memburu jati diri, tetapi berusaha mengukirkan lagi ‘’harga diri’’-nya selepas kariernya sebagai pelatih timnas dipangkas secara menyakitkan oleh Jerman di perempat final Piala Dunia 2010. Untuk ukuran Argentina –juara Piala Dunia 1978 di rumah sendiri dan Piala Dunia 1986 Meksiko dengan Maradona sebagai aktor utama perhelatan itu lengkap dengan pamer skills dan trik kontroversialnya—plus bermaterikan bintang-bintang yang merumput di liga-liga Eropa dan dunia, jelas sampai di perempat final bukan target.

Maradona belum mampu mengikuti jejak, misalnya, Franz Beckenbauer yang menorehkan sukses ganda sebagai pemain dan pelatih yang bisa mengangkat trofi Piala Dunia. Bersama Die Panzer Jerman, Beckenbauer dan rekan-rekannya menjuarai Piala Dunia 1974, lalu sebagai pelatih mengantarkan Timnas Jerman juara Piala Dunia 1990 Italia setelah menggebuk Maradona dkk pada laga final.

Sebagai pemain, Maradona memang unggul dalam kalkulasi kontroversi, di dalam maupun luar lapangan, dibandingkan Beckenbauer maupun legenda Brasil, Pele. Tetapi pada kalkulasi kuantitas prestasi, Maradona kalah telak dibandingkan Pele yang bisa mencetak 1.000 gol dalam 1.000 laga hanya untuk satu klub yang dicintainya, Santos, serta sebagai aktor utama Brasil menjuarai Piala Dunia tiga kali pada kurun 1958 hingga 1970.

Meski demikian, Maradona tetaplah legenda dunia dan menjadi hak seseorang mengidolakannya lebih dari bintang sepakbola lainnya. Bintang itu telah digenggamnya: terang selagi berkiprah di lapangan sebagai pemain, tetapi butuh pembuktian lebih lanjut pada karier melatih yang (masih) ingin ditekuninya. Selamat ulang tahun sang bintang pujaan.

KARIER & KEHIDUPAN MARADONA

1960: Lahir di Lanus, Provinsi Buenos Aires, 30 Oktober 1960

1970: Sebagai pemain U-14 Los Cebollitas, membawa timnya tak terkalahkan dalam 136 pertandingan.

1976: Debut di liga utama bersama Argentinos Juniors, klub induk Los Cebollitas.

1977: Dipanggil masuk timnas yunior pada laga melawan Hungaria, Argentina menang 5-1.

1978: Ketika timnas senior menjuarai Piala Dunia di rumah sendiri, Maradona dkk juga menjuarai Piala Dunia Yunior setelah menang 3-1 atas Uni Soviet pada laga final.

1981: Bergabung Boca Juniors dan menjuarai Divisi Satu.

1982: Bermain di Piala Dunia Spanyol, diusir dari lapangan saat laga melawan Brasil. Usai Piala Dunia, bergabung Barcelona dengan nilai transfer mencatatkan rekor baru dunia (5 juta pounds), andil membawa klub Catalan ini menjuarai Piala Raja dan Piala Super Spanyol.

1983: Pindah ke Napoli, Italia, dengan nilai transfer lagi-lagi mencatatkan rekor dunia (6,9 juta pounds) dan membawa klub ini mengukir era paling gemilang dalam sejarahnya, yakni dua kali menjuarai Serie A (1987 dan 1990), Coppa Italia (1987), UEFA Cup (1989), dan Piala Super Italia (1990).

1986: Menjadi kapten Timnas Argentina di Piala Dunia Meksiko. Mencatatkan dua gol sensasional dan kontroversial –Goal of Century (gol terbaik abad ke-20) dan Hand of God (gol Tangan Tuhan)—saat laga perempat final melawan Inggris. Argentina kemudian menjadi juara.

1990: Maradona dkk kalah di partai final Piala Dunia oleh Jerman. Di semifinal Argentina menundukkan tuan rumah Italia, yang tahun itu juga dilanda ‘’demam Maradona’’ karena ukiran prestasinya bersama Napoli.

1991: Di luar rumor yang melibatkannya dalam kejahatan terorganisasi, Maradona dikenai larangan bermain 15 bulan setelah terbukti positif mengonsumsi kokain.

1992: Kembali ke Spanyol, bergabung dengan Sevilla.

1993: Pulang ke Argentina, bergabung Newell’s Old Boys.

1994: Diusir dari partisipasi di Piala Dunia AS karena terbukti mengonsumsi zat terlarang ephedrine.

1995: Untuk kali kedua bergabung ke Boca Juniors.

1997: Pensiun bermain sebelum ulang tahun ke-37.

2000: Dilarikan ke rumah sakit karena kecanduan kokain, ke Kuba untuk rehabilitasi. Jajak internet menempatkannya sebagai pemain terbaik abad ke-20, namun FIFA memberikan penghargaan terbaik abad ke-20 kepada Pele.

2004: Terkena serangan jantung setelah overdosis kokain.

2005: Kembali ke Boca sebagai pelatih, namun sebentar.

2007: Dilarikan ke rumah sakit karena hepatitis dan kecanduan alkohol.

2008: Dipercaya sebagai pelatih Timnas Argentina, mendebarkan melalui Kualifikasi Zona Amerika Latin dan kepastian lolos ditentukan pada laga terakhir.

2010: Gagal membawa Argentina menjuarai Piala Dunia karena dihancurkan 0-4 oleh Jerman di perempat final. Maradona dipecat.