PHOTO: AFP

Sebuah renungan untuk pemain dan publik sepakbola di Indonesia.

Wang Dalei memang belum setenar Eric Cantona, legenda Manchester United (MU) yang dikenal temperamental, semau gue hingga tidak pernah mencicipi kostum Timnas Prancis, bahkan terbang menendang suporter di tribun. Namun yang dilakukan si ‘’Geledek Besar’’, begitu arti harfiah nama kiper Timnas China pada Asian Games 2010 tersebut, terbilang jauh lebih menyakitkan ketimbang serangan fisik.

Kiper berusia 21 tahun itu menyebut fans sepakbola di negaranya tidak lebih dari ‘’sekawanan anjing’’. You’re just a bunch of dogs. Hardikan itu ditulis Wang di microblog-nya menyusul kekalahan menyakitkan China 0-3 dari Jepang, rival sengitnya di Asia, pada Senin (8/11) lalu.

Dalam pertandingan itu Wang melakukan blunder yang mengakibatkan lahirnya gol Jepang. Ia melompat di garis gawang sejajar mistar. Ia menepis bola. Namun itu tidak dilakukan dengan satu tangan hingga bola meluncur di atas mistar ke belakang. Wang justru menahannya dengan dua tangan, muntah ke depan gawang yang langsung disambut penyerang Jepang dan goal.

‘’Wang Dalei membuat keputusan buruk. Ia tidak seperti kiper, tetapi layaknya setter di bola voli,’’ ujar penyiar di China Central Television berkelakar.

Wang merasa dizalimi tidak hanya oleh fans, tetapi juga jurnalis, atas pelbagai hujatan pascakekalahan itu. Ia merasa ‘’tidak ada benarnya’’. Main indah tidak dipuji, main buruk dicaci. Dari sekitar 7.000 jurnalis China yang meliput Asian Games, ujarnya lagi, sekitar 4.000 orang memang di pikirannya sudah tidak menyukai sepakbola jadi bisa saja melontarkan komentar-komentar nyinyir.

Realitas itulah, kata Wang, yang menyebabkan sepakbola China tidak maju-maju. Wang bahkan menyebut tingkat intelejensia (IQ) pengkritiknya di bawah rata-rata.

Karena ulahnya itu, Rabu (10/11) malam Wang dicadangkan saat Timnas China menang 2-1 atas Kyrgystan. Comment menyakitkan itu juga sudah dihapus dari microblog-nya yang memiliki tidak kurang 80 ribu followers. Namun masalah belum usai. Suporter sepakbola dan sebagian publik di China meradang. Comment menyakitkan yang sudah mereka salin itu terus menyebar.

Para pejabat China belum berkomentar, tetapi sang kiper sudah diskorsing untuk waktu yang belum ditentukan oleh para petinggi pada delegasi Asian Games China. Kepada Kantor Berita Xinhua, Sekjen Delegasi China Cai Jiadong meminta Wang ‘’merenungkan dampak kata-katanya’’ itu. Ia sangat menyayangkan sikap Wang yang hilang kendali. Padahal Wang pemain yang menjanjikan. Pada 2006 ia pernah berlatih bersama klub raksasa Italia, Inter Milan.

Wang lantas mengakui komentarnya itu memang melukai fans sepakbola di China sekaligus memperburuk citra pemain timnas. Memang sangat tidak menguntungkan. Terlebih lagi sepakbola China masih dalam pemulihan akibat berbagai skandal korupsi, seperti match fixing alias pengaturan skor, suap, dan sebagainya.

Seperti dinukil The Associated Press, dua wartawan Kantor Berita Xinhua, Li Zheng dan Yue Dongxing menulis, rakyat China sangat terkejut dengan komentar Wang sebagai cermin sikap semau gue. ‘’Manusia dengan standar moral serendah itu seharusnya dienyahkan dari publik. Bagaimana mungkin ia layak mengenakan bendera nasional di dadanya?’’

China dan Jepang memang sudah sekilan lama terlibat rivalitas, khususnya menilik sejarah di Perang Dunia II. Di lapangan rivalitas itu masih terjadi, namun dalam atmosfer fair play. Kekecewaan fans sepakbola China atas kekalahan timnasnya bisa dipahami. Tapi ini tidak ada kaitan dengan ketegangan politik yang baru berlangsung, seperti tabrakan antara kapal nelayan China dan kapal patroli Jepang pada September lalu yang memantik protes anti-Jepang selama berminggu-minggu di berbagai kota Negeri Tirai Bambu. Tak mengherankan jika pada pertandingan Senin malam lalu pengamanannya ekstraketat dan laga pun lancar bergulir.