Donald Trump dan istri, Melania Trump. PHOTO: AP

KAMIS, 18 November 2010. Pemilihan presiden Amerika Serikat memang masih dua tahun lagi, tetapi suhu politik mulai memanas. Menilai posisi Presiden Barack Obama rentan, kubu Republik yang dimotori Sarah Palin dan Donald Trump mulai menabuh ‘’perang terbuka’’ untuk mengambil alih kursi kepresidenan pada Pilpres 2012.

Untuk membidik kursi presiden, pada Jumat (12/11) lalu Trump merilis shouldtrumprun.com, sebuah situs web untuk menampung berbagai masukan apakah sang pengusaha miliarder itu dinilai layak atau tidak maju sebagai kandidat presiden. Think-thank Trump akan menggodok semua masukan itu sebelum sang bos membuat keputusan maju atau tidak yang direncanakan pada Juni 2011.

‘’Sedang saya pikirkan tentang banyak hal. Saya suka yang saya kerjakan sekarang, tetapi akan lebih menyenangkan apabila saya bisa melihat banyak hal positif tercipta di negara ini,’’ ujar Trump dalam wawancara di program ‘’Good Morning America’’ televisi ABC, Kamis, seperti dimuat USA Today.

Trump mengukuhkan dirinya Republikan. Oleh karena itu, ia juga akan maju melalui Konvensi Partai Republik. Dengan demikian, ia harus siap bersaing dengan Sarah Palin, mantan Gubernur Alaska sekaligus bekas kandidat wapres di Pilpres 2008 dari Republik.

‘’Ia sangat menarik. Jangan meremehkannya. Jika saya maju, tidak ada pilihan lain harus bersaing dengannya. Saya menyukainya, tetapi harus melawannya,’’ kata Trump tentang Palin.

Pada hari yang sama, dalam taping untuk program bincang-bincang dengan Barbara Walters, juga di ABC, Palin optimistis bisa mengalahkan Obama jika sang presiden dari Partai Demokrat itu maju lagi pada Pilpres 2012. Menurut Palin dalam wawancara untuk tayangan penuh 9 Desember tersebut, jika maju lagi pada Pilpres 2012, itu baik tidak hanya untuknya pribadi dan keluarga, tetapi juga untuk AS.

Masalahnya, di antara Trump dan Palin, siapa kira-kira yang akhirnya maju sebagai capres dari Republik?

Sarah Palin. PHOTO: USA TODAY

Kalkulasi politik saat ini memang lebih berpihak kepada Palin. Ia bisa berharap dukungan para anggota baru asal Republik di DPR dan Senat, khususnya dari kubu gerakan politik berhaluan konservatif Tea Party, yang di-endorse (restui)-nya pada pemilu sela awal bulan ini. Pada pemilu itu Republik bisa mengalahkan Demokrat di DPR dan mempersempi jarak perolehan kursi di Senat.

Meski demikian, banyak politisi dan Republikan di Kongres AS menilai Palin masih belum cukup kuat untuk menandingi Obama pada Pilpres 2012. Dalam wawancara dengan Robert Draper dari majalah The New York Times, Palin bukannya tidak menyadari penilaian itu. Ia justru menyebutnya sebagai kecemasan kelewat berlebihan, predominant worry, bahwa dirinya bakal kalah lagi melawan Obama.

Argumen Palin sederhana saja. Dalam politik sejatinya tidak ada garansi atau jaminan yang pasti. ‘’Jadi barangkali mereka perlu menahan diri agar tidak paranoia terhadap seluruh kandidat potensial dari G.O.P (Grand Old Party, julukan Partai Republik) karena jelas tidak ada garansi bahwa salah satu dari kami bakal menang,’’ tuturnya.

Palin juga menilai kecemasan terhadap dirinya tidak lebih merupakan ancaman terhadap hirarki yang dimiliki para pengkritiknya di Republik. ‘’Karena saya tidak pernah mundur sejengkal pun dari pertarungan dan selalu mendahulukan prinsip dalam berpolitik.’’