Cepat melesat ke angkasa, cepat pula ditelan awan. Seperti itulah nasib Freddy Adu. Pada usia 14 tahun, ia dibuai ketenaran saat bermain bersama DC United, klub anggota Major League Soccer (MLS), liga utama sepakbola Amerika Serikat. Bahkan ia sempat disebut-sebut sebagai ‘’Pele Amerika’’ yang bakal mengguncang jagat permainan kulit bundar.

Freddy Adu (kiri) saat masih bermain di MLS untuk DC United mendapatkan apresiasi Pele. Adu gagal mewujudkan impian sebagai ''Pele Amerika''.

Di mana Adu kini?  Setelah lagi-lagi tidak dipanggil masuk Timnas AS pada Piala Dunia 2010 lalu, kini ia nyaris menganggur. FC Randers, klub anggota liga utama Denmark yang mempekerjakannya, Senin (22/11) menyatakan tidak akan memperpanjang kontraknya. Dengan sokongan tenaga Adu, Randers kini cuma menempati peringkat kesembilan dari total 12 klub kontestan liga utama di negara Skandinavia tersebut.

Alhasil, Adu yang kini menginjak usia 21 tahun –bahkan mungkin lebih karena ia sendiri tidak tahu pasti tanggal kelahirannya— dipaksa sibuk mencari klub baru. Oleh karena itu, ia harus tetap berlatih keras guna menjaga stamina sambil terus berharap datang tawaran dari klub mana pun untuk menghidupkan spirit bermain bola.

Seperti dipaparkan Rob Hughes dalam kolomnya di The International Herald Tribune,   Adu merupakan contoh kesekian pemain sepakbola yang cepat tenar pada usia yang masih belia, tetapi juga cepat tenggelam. Kini tidak ada lagi julukan Pele-nya Amerika itu. Segaris waktu sekarang, Adu sudah gagal mengikuti tapak sukses yang pernah diukir Pele, sang legenda hidup asal Brasil tersebut. Yang jelas terjadi adalah sosok Adu sebagai ‘’mantan bintang harapan’’ yang mengulang lagi nasib Nii Lamptey.

Pada usia 15 tahun, Lamptey dipaksa oleh ketenaran untuk meninggalkan negaranya, Ghana, dan berlabuh bersama klub Anderlecht. Di klub anggota liga utama Belgia ini, ternyata Lamptey tidak bisa berbuat banyak untuk menunjukkan skill-nya.  Ia kemudian dipaksa hengkang, lalu melancong hingga 12 negara di dunia, dari Eropa ke China sebelum pulang kampung ke Afrika pada 1990-an hingga 2000-an.

Nama Lamptey pun tenggelam. Ia gagal terus menyalakan bintangnya, baik di timnas maupun di pelbagai klub yang membayar keringatnya. Jangankan meretas jalan menjadi legenda sepakbola dunia, menjadi seperti Michael Essien, pilar utama Chelsea Inggris, ia sudah terbilang gagal.

Adu dan Lamptey kebetulan sama-sama lahir di Kota Tema, Ghana.  Setelah lahir, ibunda Adu memenangi lotere untuk tinggal di AS. Ayahnya memilih tidak mau meninggalkan Afrika. Maka pergilah sang ibu ke ‘’tanah harapan’’ bersama Adu, yang diperkirakan masih berusia 8 tahun. Mereka tinggal di Maryland. Kegemaran Adu bermain sepakbola di jalanan berlanjut.  Aksinya mengundang decak kagum orang-orang yang menyaksikannya.

Melihat bakat Adu, DC United bergegas mengikatnya. Bersama sponsor mereka, seperti Nike dan Pepsi, yang kali pertama dilakukan oleh klub dari ibu kota AS itu adalah memberi Adu sepatu agar tidak lagi terbiasa bermain sepakbola dengan kedua telapak kaki telanjang. Kehidupan keseharian Adu dan keluarganya juga berubah setelah DC United memastikan mengikat sang bocah.

Sejarah baru terukir. Untuk kali pertama dalam kurun lebih dari 100 tahun, seorang bocah bernama Freddy Adu menjadi atlet termuda yang diikat kontrak oleh sebuah klub olahraga di ranah Abang Sam. DC United terus memantau perkembangan bocah Adu dan memenuhi segala keperluannya sampai tiba masa ia siap ‘’dipanen’’.

Pada usia 14 tahun, ia mulai beraksi di tim profesional. Mula-mula semua berjalan mulus. Ia masih bisa mempertontonkan kehebatannya. Adu juga semakin pintar ‘’menjual diri’’ kepada media. Tetapi ia terbilang tidak cukup sabar mengikuti alur permainan di lapangan dan cenderung selfish, sehingga dinilai tidak bisa mengimbangi permainan tim. Ego memaksanya harus hengkang dari DC United.

Pada Juni 2007 saat catatan usianya 18 tahun, Adu dilego ke Benfica, Lisabon,  senilai US$ 2 juta. Bersama tim senior di klub Portugal itu bintangnya tidak lagi cemerlang. Semusim ia dimainkan cuma 11 kali. Ia lantas dipinjamkan ke berbagai klub, seperti Monaco (Prancis), lalu kembali ke Portugal bersama Belenenses, kemudian Aris Thessaloniki (Yunani) sebelum tertambat di Denmark bersama Randers.

Adakah semua kesialan itu buah kerja Adu seorang? Tentu tidak. Sistem juga berperan memerosokkannya.  Ada yang berpendapat Adu adalah ‘’korban’’ dari MLS yang telah menjadikannya sebagai pemain bergaji tertinggi pada saat teman-teman seusianya masih belajar di sekolah.

Uang dan karier telah mencabut Adu dari pendidikan yang seharusnya juga menjadi perhatiannya. Namun semua telah terjadi. Mungkin berkaca dari pengalaman ini, Diego Fagundez, 15 tahun, yang baru saja diikat kontrak oleh New England Revolutions, juga klub anggota MLS, memilih tetap bersekolah sambil terus mengasah keterampilannya bermain bola. Pemain kelahiran Uruguay itu pun digadang-gadang bakal menjelma sebagai ‘’Diego Maradona’’-nya Amerika.

Afrika dan Amerika Latin memang menjadi sumber-sumber bakat untuk sepakbola AS dan Eropa. Banyak bocah berbakat dari kedua belahan dunia itu diekspor dan diimpor. Namun, sangat disayangkan apabila proses itu dilakukan dengan melanggar beberapa ketentuan yang berlaku. Misalnya, pemalsuan umur pada dokumen keimigrasian.

Ghana misalnya. Negara di Afrika itu tampil sebagai juara Piala Dunia U-17. Namun begitu para pemainnya dikirim ke klub-klub profesional di luar negeri, banyak di antara mereka tidak mampu bersaing. Diduga pemain-pemain itu berusia lebih tua atau lebih muda dibandingkan yang tertulis di keimigrasian.

Celakanya, seperti pengalaman Lamptey, para pemain yang masih butuh pematangan mental di rumah sendiri itu dijual oleh agennya tanpa sepengetahuannya. Mau tidak mau, keluarga juga dipaksa mengikuti keinginan si agen, meski dengan risiko harus berpisah seperti ayah dan ibu Adu.  Pemantapan skill dan kesadaran itu yang kini ditanamkan Lamptey kepada anak-anak asuhnya di sebuah akademi sepakbola di Ghana.

Berkaitan dengan masalah tersebut,  kisah sukses Lionel Messi adalah pengecualian. Ia meninggalkan Argentina pada usia 13 tahun untuk bergabung akademi milik FC Barcelona. Keluarganya menerima tawaran pindah juga atas dasar pertimbangan yang sangat rasional.

Saat kecil, Messi bisa dibilang kekurangan gizi. Pertumbuhan hormon di tubuhnya juga tidak normal, sehingga lebih kecil dibandingkan teman-teman sebayanya. Dengan pindah ke Spanyol, keluarga berharap Messi mendapatkan cukup banyak asupan gizi guna memacu pertumbuhan hormon di tubuhnya.

FC Barcelona menanggung seluruh biaya kesehatan dan pendidikan Messi. Perlahan-lahan, si bocah kurang gizi itu tumbuh menjadi pemain yang sangat menjanjikan dan telah terbukti memberikan andil besar dalam menorehkan prestasi untuk klub Catalan tersebut. Messi, yang juga dinilai Maradona sebagai titisannya, juga telah merengkuhi predikat Pemain Terbaik Dunia FIFA.

Di luar kisah-kisah sukses dan kegagalan meninggalkan tanah kelahiran itu, yang dialami Rogelio Funes, 19 tahun,  adalah pengecualian lain. Ketika usianya mendekati 17 tahun, tepatnya pada 2008, pemain kelahiran Argentina itu terjaring oleh pemandu bakat klub anggota MLS, FC Dallas, dan memasukkannya ke akademi miliknya.

Namun Funes enggan bermain sepakbola di AS, meskipun orangtuanya telah meninggalkan Argentina dan tinggal di Dallas sejak 2001. Funes yang sebelumnya juga sangat diincar oleh Chelsea, London, itu kini memilih bermain bersama River Plate di Buenos Aires, Argentina. Di klub ini bintangnya terbilang kian terang.

Kabar dari Portugal menyatakan bahwa Benfica, klub yang membeli Adu pada 2007, sudah menyiapkan tidak kurang US$ 11 juta untuk memboyong Funes. Menurut River Plate, pada usia 19 tahun nanti kemungkinan Funes baru siap melanglang jagat.