STADION NASIONAL BUKIT JALIL: Di stadion nasional Malaysia ini malam nanti juara Grup B, Vietnam, mulai mengukir nasib di AFF Cup 2010.

HARAPAN memang mahal. Dengan harapan seseorang bisa punya semangat hidup. Tak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi yang lain. Dalam hidup harapan harus tetap menyala meskipun kadang dilakukan dengan cara berbohong sebagaimana dideskripsikan pengarang Jerman, Jurek Becker, lewat novel Jakob der Lugner (1969).

Dalam novel yang dua kali diangkat ke layar lebar dengan judul Jakob the Liar atau Jakob si Pembohong (tahun 1975 disutradarai Frank Beyer dengan bintang utama Armin Mueller-Stahl dan pada 1999 dibesut Peter Kassovitz dengan pemeran utama Robin Williams), Jakob Heym terpaksa berbohong dengan menyatakan masih menyimpan radio. Barang yang sangat diharamkan bala tentara Nazi Jerman di Polandia pada 1944, tidak terkecuali di ghetto Yahudi yang dihuni Jakob dan rekan-rekannya.

Mengaku tahu kabar perkembangan gerak maju tentara sekutu menuju Polandia dari siaran BBC melalui radio yang sejatinya tidak dimiliki, Jakob minta mereka bersabar. Tetap bersemangat. Rekan-rekan Jakob pada awalnya begitu antusias. Tetapi, seiring perjalanan waktu, Jakob tidak kunjung menunjukkan radionya dan tentara sekutu tidak cepat datang membebaskan, satu per satu di antaranya mulai dilanda frustrasi. Bahkan beberapa di antaranya memilih bunuh diri.

Kedok Jakob pun terbongkar. Ia ditangkap dan disiksa. Gagalkah Jakob? Tidak. Ia justru sukses ‘’membeli waktu’’ untuk menghidupkan semangat sebagian rekannya yang tersisa agar tetap hidup hingga pembebasan itu akhirnya benar-benar datang.

Filipina vs Indonesia

Harapan superbesar kini melanda segenap lapisan rakyat Indonesia seiring perjalanan timnas sepak bola negara ini di AFF Cup 2010. Penantian panjang gelar di level internasional sejak pingat emas pada SEA Games 1991 Manila serasa hampir berakhir. Kegemilangan timnas menggasak Malaysia 5-1, menggunduli Laos 6-0, serta menekuk Thailand 2-1 pada penyisihan laga penyisihan Grup A benar-benar mengesankan. Semua itu merupakan fakta yang jelas berbeda dengan kebohongan Jakob.

Fakta-fakta itu telah hadir sedemikian nyata di depan mata, sehingga wajar apabila rakyat menggantungkan harapan lebih tinggi. Dari tayangan televisi, anak-anak, para remaja putra dan putri, bapak-bapak, maupun ibu-ibu rela antre sejak pagi buta di depan loket Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) untuk mendapatkan tiket laga semifinal pertama Filipina vs Indonesia.

Sebagaimana punggawa timnas yang berlaga gagah berani di lapangan, karena harapan pula rakyat di luar SUGBK tersebut rela berjuang keras. Tidak semata demi tiket, tetapi esensinya demi mendukung langsung perjuangan Firman Utina dkk. Mereka tidak menyoal kenaikan tajam harga tiket semifinal dibandingkan laga-laga sebelumnya. Mereka juga tidak mau tahu berbagai penilaian miring bernada menuding –seperti marak dalam beragam komentar di Facebook maupun Twitter— bahwa kenaikan harga tiket merupakan ‘’akal-akalan’’ yang bermuara pada ‘’pembohongan’’ oleh panitia pelaksana pertandingan.

Harapan itu kini begitu besar mendera rakyat Indonesia: berharap timnas menang di semifinal, lalu lolos ke final, dan juara! Tak seperti Jakob yang harus ekstrahati-hati berbohong dalam menerjemahkan harapannya agar tidak dijerat celaka, rakyat Indonesia begitu gamblang menumpahkan harapannya di berbagai suasana. Menyadari begitu besar harapan yang ada, tidak mengherankan apabila saat kunjungan ke kamp latihan timnas pada Senin (13/12) Presiden SBY meminta para pemain agar tidak kelewat terbebani ketika bertanding melawan Timnas Filipina.

Apalagi tanpa harus membuat Filipina merasa dibohongi, mereka dipaksa menerima realitas melakoni dua laga semifinal (home dan away) di SUGBK pada Kamis (16/12) dan Minggu (19/12) karena dinilai AFF di dalam negerinya tidak memiliki stadion yang memadai untuk menggelar pertandingan bertaraf internasional. Dua laga semifinal di SUGBK praktis memberikan keuntungan besar untuk Timnas Indonesia. Firman dkk bisa kembali beraksi di rumah sendiri dengan sokongan suporter fanatik. Perjalanan laga-laga di penyisihan Grup A dan realitas dua laga semifinal di SUGBK itu semakin menabalkan harapan rakyat.

Namun, harus diakui, rakyat Filipina juga berharap besar Booters –julukan untuk para pemain timnasnya— terus mampu memberikan kejutan dari rantau. Tidak hanya beramunisi sembilan pemain naturalisasi, tetapi yang juga harus diwaspadai oleh timnas Indonesia adalah intelejensia dan ketenangan mereka menghadapi tekanan lawan-lawannya, lalu menyengat lewat counter attacks cerdik, seperti ditunjukkan pada laga-laga penyisihan Grup B: menahan imbang Singapura dan Myanmar, serta di luar dugaan mampu menekuk tuan rumah Vietnam 2-0 di Stadion My Dinh, Hanoi, yang dikenal keramat dengan fans superfanatik.

Bisa dikatakan Filipina merupakan new emerging force sepak bola Asia Tenggara. Sedangkan Indonesia adalah kekuatan tradisional yang menemukan kembali tajinya pada AFF Cup 2010 ini. Sebelum ranking FIFA diperbarui hari ini, Filipina berada di peringkat ke-151 dan Indonesia di peringkat ke-135 dunia.

Tetapi kiranya bukan gap itu yang mutlak membuat rakyat Indonesia menggantung asa tinggi kepada timnas. Rakyat berharap besar karena sudah sekian lama, hampir dua dasawarsa, dahaga prestasi. Sedangkan rakyat Filipina bagai tersengat, serasa tidak percaya, bahwa timnasnya tidak lagi sebagai pelengkap penderita pada perhelatan AFF Cup yang dulu dikenal sebagai Piala Tiger itu.

Sangat, sangat, dan sangat jarang terjadi koran-koran di Filipina menampang timnas sepak bolanya di halaman depan. Namun tidak lagi beberapa hari terakhir. Koran-koran terkemuka seperti The Philippine Daily Inquirer dan The Star, misalnya, menempatkan foto sekaligus berita tentang Booters di halaman muka. Seolah menggugurkan tesis bahwa selama ini berita olahraga yang layak diangkat di front cover adalah bola basket dan tinju, khususnya saat demam Manny Pacquiao melanda.

Timnas Indonesia mampu membelasah Filipina, sebagaimana yang dilakukan terhadap Malaysia (peringkat 150 FIFA), Laos (171), dan Thailand (114)? Memang itulah yang diharapkan rakyat negeri ini. Namun bagaimana jika timnas kita tidak cukup mampu, yakni ditahan imbang sebagaimana telah berlaku pada Singapura (138), bahkan kalah seperti tuan rumah Vietnam (139)?

Sportiflah menerima. Inilah seni pertandingan, art of the game. Data dan angka, serta sejarah pertemuan tidak bisa menjadi pegangan absolut. Teknik, taktik, serta spirit bertanding yang didorong harapan para pemain dan suporternya lebih berperan ketika bola bergulir di lapangan. Timnas Filipina bisa saja merasa berat sebelum berlaga di SUGBK, tetapi beban itu bakal terasa ringan jika mereka paham memainkan seninya. Begitu pula Timnas Indonesia yang mungkin merasa lebih ringan sebelum laga, tetapi bisa menjelma sebagai petaka bila tidak waspada serta cermat me-manage harapan saat ini yang begitu membuncah.

Tidak bisa dipungkiri, bisa ditahan seri Filipina pun bakal membuat suporter dan rakyat negeri ini kecewa serta ‘’merasa dibohongi’’. Para pemain timnas jelas tidak membohongi mereka. Harapan begitu besar lah yang membuat mereka merasa demikian. Tidak salah memang. Tetapi semoga rasa kecewa tidak melahirkan putus asa, apalagi sampai bunuh diri.

Malaysia vs Vietnam

Untuk membeli waktu agar tetap mampu menghidupkan harapan, Wakil Presiden Persatuan Sepak Bola Malaysia (FAM), Tengku Abdullah Sultan Ahmad Shah, meminta timnasnya menjaringkan bola sebanyak mungkin ke gawang Vietnam saat menjamu mereka pada first leg semifinal di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, malam nanti. Mengapa demikian?

Sederhana saja jawabannya. Jika Malaysia bisa mencetak banyak gol, maka misi laga kedua di Hanoi, Sabtu (18/12), akan semakin ringan. ‘’Kalau boleh cuba dapatkan jurang gol yang besar. Bermain di Hanoi amat sukar kerana skuad negara terpaksa berhadapan penyokong fanatik Vietnam yang menganggap stadium mereka sebagai tempat keramat,’’ katanya sebagaimana dilansir Utusan Online.

Mencetak banyak gol ke gawang Vietnam jelas bukan pekerjaan mudah. Pelatih Malaysia K. Rajagobal bahkan jauh-jauh hari telah minta rakyat di negeri jiran itu agar tidak kelewat berharap timnasnya mampu mengulang kejayaan sebagaimana di SEA Games Laos 2009 kala Malaysia meraih medali emas setelah menggulung Vietnam 1-0 di final. Skuad Vietnam di AFF 2010 sangat jauh berbeda dengan pasukannya di SEA Games Laos.

Begitulah realitasnya. Dari rooster Vietnam, diketahui hanya dua pemain di skuad SEA Games yang membela timnas di AFF kali ini, yakni kiper cadangan Bui Ban Truong, 24 tahun, yang bermain cemerlang saat laga terakhir nan menentukan di Grup B dengan kemenangan 1-0 melawan Singapura serta gelandang Pham Thanh Luong, 22 tahun. Bisa dikata, kekuatan Vietnam nyaris sama dengan yang mereka turunkan saat menjuarai AFF Cup dua tahun lalu kala menggulung Thailand di final.

Selain itu, sebagaimana fenomena di Timnas Indonesia pada beberapa laga penyisihan grup lalu, pemain dari berbagai lini juga bisa memberikan ancaman serius dan mencetak gol. Di antara mereka adalah dua gelandang enerjiknya: Nguyen Minh Phuong yang bernomor punggung 12 dan Phan Van Tai Em bernomor 22. Pertahanan Malaysia yang begitu rapuh saat melawan Indonesia juga harus ekstracermat mewaspadai pergerakan striker Nguyen Anh Duc.

Dari analisis berbagai pertandingan yang sudah dilalui Vietnam, anak latih Rajagobal juga layak mewaspadai counter attacks pasukan Henrique Calisto. Dalam serangan balik itu, Vietnam lazim memobilisasi banyak pemain ke wilayah lawan dalam upaya menambang gol sedini mungkin.

Menjelang laga malam nanti, Rajagobal juga tidak mau kelewat senang dan berharap menang besar hanya karena pernyataan Calisto bahwa Vietnam kemungkinan bakal kehilangan empat pilarnya. Tiga cedera dan seorang lagi dikenai sanksi kartu merah. Menurut Rajagobal, kabar dari kubu Vietnam itu hanya perang psikologis untuk meninabobokkan pasukannya.

Pada intinya, Rajagobal tetap meminta pasukannya tidak gentar dan memancang harapan tinggi saat menjejak lapangan melawan Vietnam. Tetapi ia juga tidak mampu pasukannya dilanda overconfidence, kelewat percaya diri dan berharap tinggi mudah memenangkan pertandingan. Rajagobal pun minta rakyat Malaysia tidak memasang harapan kelewat tinggi bahwa timnasnya bisa mudah melalui semifinal ini, lalu ke final dan meraih predikat terbaik sebagaimana di SEA Games Laos tahun lalu.

Rajagobal tidak mau memberikan janji muluk-muluk dan kelak bisa dinilai sebagai ‘’pembohong’’ bila tidak kuasa mewujudkannya. (solichin m. awi)

* Tulisan ini dimuat di section olahraga TopSoccer, Harian Jurnal Nasional, Jakarta, edisi 15 Desember 2010.