LAUTAN MERAH: Dominasi suporter Garuda di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, selama penyisihan dan semifinal AFF Cup 2010 tampaknya sulit terjadi di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, saat final leg pertama 26 Desember 2010. PHOTO: AFF SUZUKI CUP 2010

DESEMBER ini merupakan bulan tantangan menorehkan sejarah bagi persepakbolaan Indonesia dan Malaysia, dua negara kekuatan utama sepak bola Asia Tenggara pada 1950-an hingga 1970-an sebelum dominasinya diambil alih Thailand sejak 1980-an hingga sekarang. Pada dua leg final, 26 dan 29 Desember 2010, timnas kedua negara bersaing menuju kampiun Asia Tenggara di perhelatan Piala AFF yang sejak kali pertama digelar pada 1996 hingga 2006 berlabel Piala Tiger.

Euforia melanda kedua negeri. Apalagi di Indonesia yang sebelumnya tiga kali gagal mengangkat trofi karena kalah dari Thailand di final Piala Tiger 2000 dan 2002, serta diungguli Singapura pada 2004. Malaysia sekali ke final, Piala Tiger 1996, tetapi juga dipaksa mengakui kehebatan Thailand.

Hingga perhelatan Piala AFF tahun ini, Thailand dan Singapura merajai dengan masing-masing tiga kali juara. Thailand juara 1996, 2000, dan 2002. Singapura juara edisi 1998, 2004, dan 2006. Vietnam juara tahun 2008. Wajar Timnas Indonesia dan Malaysia dan, tentu, pendukungnya begitu berharap tahun ini juara, terlebih Indonesia –negara terbesar di Asia Tenggara— pasca tiga kegagalan di final dan sekian lama paceklik gelar internasional setelah raihan medali emas di SEA Games 1991 Manila.

Jelas Malaysia tidak mau gegabah dan menyerah di final ini. Seperti dikemukakan pelatih timnasnya, K. Rajagobal, pada final leg pertama di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, 26 Desember, jangan harap Timnas Indonesia bisa leluasa bermain dan menang besar (5-1) seperti saat penyisihan Grup A AFF Cup 2010 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta awal bulan ini. Rajagobal tentu tidak sekadar menggertak atau psywar alias perag saraf.

Jika boleh dibilang, final pertama ini memang memberikan tekanan lebih besar kepada Timnas Indonesia. Garuda dihadapkan pada target juara atas fenomena ‘’demam nasional pada timnas’’ yang tidak terbendung lagi usai Firman Utina dkk menorehkan hasil sempurna dengan koleksi gol meyakinkan di penyisihan grup. Demam meninggi kala Garuda yang bermodal juara Grup A mengempaskan Filipina, peringkat kedua Grup B, dengan agregat 2-0 dalam dua laga semifinal.

Timnas kita hebat? Tentu meski harus pula legawa mencerna penilaian miring, termasuk dari penggila bola di Malaysia, bahwa sejauh ini Garuda masih dicap ‘’jago kandang’’. Seluruh kemenangan di Piala AFF 2010 tercipta di rumah sendiri, disokong hampir 80 ribu kaus merah di dalam SUGBK dan puluhan ribu lainnya yang memancang mata ke layar lebar di sekitar stadion. Seluruh sukses itu hadir dalam suasana di rumah sendiri, termasuk laga pertama semifinal yang idealnya dihelat di Filipina.

Tetapi itu keuntungan tuan rumah. Wajar dan seharusnya Indonesia optimal memanfaatkannya. Adakah karena tuan rumah lantas –misalnya— predikat juara dunia Inggris di Piala Dunia 1966, Argentina di Piala Dunia 1978, dan Prancis di Piala Dunia 1998 digugat? Juga tetaplah sah ketika gol tunggal Ribut Waidi saat injury time ke gawang Malaysia di SEA Games 1987 Jakarta mengantarkan Indonesia meraih medali emas pertama cabang sepak bola di pesta olahraga negara-negara Asia Tenggara.

Bermula dari sukses di Jakarta, Garuda terbang ke Kuala Lumpur dan selayaknya disambut hangat, welcome (selamat datang). Bermula dari Jakarta pula, meski sempat transit di Palembang untuk laga terakhir penyisihan grup kontra Laos, Malaysia menerima sambutan welcome home (selamat tiba lagi di rumah) dan menang 2-0 atas juara Grup B, Vietnam, pada semifinal pertama dan diamankan di Hanoi: memaksa tuan rumah berbagi tanpa gol saat leg kedua.

Insiden Stadion Merdeka 1977

Bisa dimaklumi jika lawatan Timnas Indonesia ke Bukit Jalil pada final pertama Piala AFF 2010 akan menghadapi berbagai cara dari tuan rumah yang berusaha melakukan lebih dari sekadar revans atas kekalahan telak pada penyisihan grup lalu, tetapi demi target juara. Misalnya, pembatasan distribusi tiket untuk suporter Indonesia agar di Stadion Bukit Jalil yang berkapasitas sekitar 100.200 tempat duduk itu Garuda tidak senyaman bermain di rumah sendiri. Suporter tuan rumah yang mendominasi, memberi semangat timnasnya agar menang besar jika memungkinkan, serta membuat Timnas Indonesia tertekan.

It’s okay. Bukankah yang demikian berlaku di SUGBK pada seluruh laga penyisihan dan dua laga semifinal Timnas Indonesia, bahkan juga ketika menjamu Malaysia pada leg kedua final 29 Desember nanti?

Timnas Indonesia juga mustahil berharap ‘’belas kasih’’ dengan argumen, bukankah Malaysia bisa lolos ke semifinal lalu karena ‘’bantuan’’ Indonesia yang mengalahkan Thailand 2-1 di laga terakhir grup? Justru sebaliknya, Timnas Indonesia bisa berbangga telah menegakkan fair play pada laga itu meskipun Malaysia lolos juga berkat perjuangan sendiri dengan mengalahkan Laos 5-1 pada laga terakhir Grup A.

Apa pun yang dilakukan Malaysia, itulah untungnya menjadi tuan rumah. Itu warna pertandingan. Asal semua masih wajar dalam semangat sportivitas dan menegakkan fair play saat bola bergulir di lapangan, tidak ada yang haram. Semoga aksi dan ulah suporter tuan rumah di Bukit Jalil tidak melampaui batas hingga memancing pemain dan pendukung Timnas Indonesia di sana berulah lebih dari sekadar wajar. Spirit bersaing dalam nuansa persaudaraan ditegakkan. My Game is Fair Play.

Semoga jebakan halus bertujuan kotor yang ‘’sengaja mengerjai’’ Timnas Indonesia tidak terjadi di Malaysia sebagaimana di semifinal SEA Games 1977 Kuala Lumpur. Kala itu Garuda memang tidak menghadapi Harimau Malaya, tetapi Thailand sebelum menjadi kekuatan utama sepak bola Asia Tenggara seperti sekarang. Tetapi kepemimpinan wasit asal Malaysia, Othman Omar, dinilai miring ke Negeri Gajah Putih plus suporter negara penyelenggara yang berulah kelewat batas.

Dari tayangan langsung TVRI lewat televisi hitam putih 14 inci, kala masih anak-anak itu saya ingat bagaimana Andi Lala dikartu merah, kiper Ronny Paslah yang dikenal sabar bisa mencak-mencak protes, bahkan Kapten Iswadi Idris dipaksa bentrok dengan penonton dari Malaysia di Stadion Merdeka, Kuala Lumpur. Kepemimpinan wasit yang dicap tidak fair membuat laga Indonesia kontra Thailand diwarnai baku hantam. Saat skor 1-1 pada menit ke-60, Garuda tidak mau melanjutkan laga, meninggalkan event SEA Games, dan langsung pulang ke Tanah Air. Di final emas menjadi milik Malaysia setelah mengalahkan Thailand.

Jelas rakyat Indonesia meradang. Namun ada juga yang mengkritik keras ulah para pemain timnasnya itu childish alias kekanak-kanakan. Tetapi di mata Ali Sadikin, Ketua Umum PSSI kala itu, insiden di Stadion Merdeka sudah jauh melanggar batas kesabaran manusia. Saking marahnya, Bang Ali sampai berujar, jika ingin melihat pemain bersabar, bentuk saja ‘’kesebelasan malaikat’’.

Dengan skuad Timnas Indonesia yang menjanjikan saat ini, lewat gemblengan disiplin dan tempaan mental tinggi, yakinlah Alfred Riedl mampu mengarahkan pasukannya untuk meredam tekanan di Bukit Jalil. Rajagobal dan skuad Harimau Malaya memang harus belajar dari kekalahan telak di penyisihan grup lalu, tetapi kiranya Timnas Indonesia juga paham cara mengantisipasi setiap perubahan strategi.

Strategi dan kedisiplinan Timnas Indonesia di bawah kendali Riedl jelas berbeda dengan skuad di Piala Tiger 2004. Namun ada spirit juang tinggi yang layak dicontoh dari skuad 2004, yakni di semifinal pertama Garuda kalah 1-2 di SUGBK, tetapi justru bangkit dan tampil luar biasa melibas Malaysia 4-1 pada leg kedua di Bukit Jalil hingga lolos ke final.

Seperti sekarang, saat itu euforia pada timnas juga begitu tinggi. Sayang Garuda kalah di dua laga final kontra Singapura dengan agregat 2-5. Sedih gagal di dua edisi final sebelumnya (saat itu hanya sekali pertandingan) dari Thailand –skor 1-4 di Piala Tiger 2000 dan kalah adu penalti 2-4 setelah waktu normal plus extra time berakhir 2-2 di final 2002— terpaksa masih harus dinikmati.

Semoga kesedihan itu tidak terjadi lagi tahun ini. Di tengah euforia yang begitu tinggi, harapan juara yang sangat luar biasa, semoga Timnas Garuda mampu mewujudkannya. (solichin m. awi)

* Tulisan ini dimuat di section olahraga TopSoccer, Harian Jurnal Nasional, Jakarta, 24 Desember 2010.