APAKAH Timnas Indonesia ditakdirkan sebagai spesialis runner-up? Pertanyaan ini muncul setelah ‘’mabuk euforia’’ mendadak tenggelam oleh kekecewaan mendalam. Keperkasaan Garuda pada tiga laga penyisihan Grup A plus dua leg semifinal Piala AFF 2010 tidak tampak lagi di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, Minggu (26/12) malam.

TIGA PILAR HARIMAU: (Dari kiri), Mohd Safee Sali, Norshahrul Idlan, dan Kapten Safiq Rahim. PHOTO: AFF SUZUKI CUP 2010

Tuan rumah Harimau Malaya sukses revans atas kekalahan telak 1-5 pada penyisihan grup dengan kemenangan meyakinkan 3-0 justru di pertandingan krusial, leg pertama final. ‘’Harimau Baham Garuda’’, judul berita ‘’Utusan Online’’ –versi web koran terkemuka Utusan Malaysia—dengan lead sesuai aslinya sebagai berikut:

Dendam terbalas! Garuda tersembam ke bumi dibaham Harimau Malaya. Nampaknya reputasi gah Indonesia sekadar omong kosong apabila anak-anak buah K. Rajagobal memastikan penyokong Malaysia berpesta di Stadium Nasional Bukit Jalil dengan kemenangan cukup menyakinkan, 3-0.

Malaysia sangat yakin bakal menapak podium juara Piala AFF (dulu Piala Tiger) untuk kali pertama. Asa Indonesia meraih trofi itu, juga untuk yang kali pertama, menipis. Yang ada di pelupuk mata adalah podium runner-up seperti usai final Piala Tiger 2000, 2002, dan 2004. Pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedl, mengatakan, kini peluang juara Garuda tersisa hanya 5—10 persen. Sangat berat meski kans juara belum tertutup. Garuda pernah menang 5-1, jadi kemenangan empat gol juga bukan hal yang sepenuhnya mustahil.

Untuk juara, Garuda butuh menang minimal empat gol pada final leg kedua di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) malam nanti. Jika Firman Utina dkk mampu menang tiga gol, mereka bisa memaksakan extra time 2 x 15 menit dan adu penalti seandainya skor agregat tidak berubah. Menang kurang dari tiga gol, bangsa ini harus berbesar hati melihat Harimau Malaya berpesta di Jakarta.

Percayakan kepada Riedl strategi malam nanti tanpa gelandang kiri Oktovianus Maniani akibat akumulasi kartu. Riedl pasti telah melakukan lebih dari sekadar evaluasi tetapi juga berbicara dari hati ke hati dengan pemain, mengapa di Bukit Jalil bisa hilang konsentrasi dan mudah kehilangan bola. Mengapa pertahanan begitu rapuh? Mengapa aliran bola dari lini tengah ke depan begitu minim hingga semakin memudahkan para pemain belakang Harimau Malaya me-marking striker-striker Garuda?

Semoga jawabannya bukan mutlak karena insiden laser pointer, tetapi introspeksi diri. Namun ‘’mengapa’’, ‘’mengapa’’, dan entah berapa lagi mesti bilang ‘’mengapa’’ itu sekarang seharusnya purna. Selayaknya bukan lagi why (mengapa) yang mengesankan tidak kuasa melupakan luka, tetapi fokus pada how (bagaimana) bermain bagus, menang, dan berjuang keras agar trofi bisa dirampas dari separuh genggaman Malaysia.

Kebanggaan dan harapan rakyat negara ini kepada timnas masih sangat tinggi. Bermain bagus dan menang, itu dulu. Curi gol dulu, lalu terus bertempur gagah berani demi lahirnya gol-gol berikutnya: dua, tiga, empat, lima, dan seterusnya. Tidak juara memang kurang ideal, tetapi kemenangan di SUGBK kiranya mampu menjadi penawar kekecewaan pecinta sepak bola dan rakyat republik ini jika akhirnya dipaksa menyaksikan skuad negeri jiran berpesta di kandang kita.

Tanamkan spirit tempur dalam bingkai sportivitas olahraga, fair play, kepada skuad Garuda. Tidak ada yang mustahil dalam sepak bola. Masa normal 90 menit lebih dari cukup. Ini kandang kita! Dengan Garuda di dada, apakah rela terkapar di kandang sendiri? Seperti di paragraf pembuka Utusan Online tersebut, bersediakah mereka dikata-katai ‘’…reputasi gah Indonesia sekadar omong kosong…’’  dan mungkin lebih mengiris hati seandainya malam nanti kalah lagi.

Meminjam kata-kata pembangkit semangat oleh Rafael Benitez di ruang ganti kala jeda usai skuadnya, Liverpool, tertinggal 0-3 dari AC Milan pada final Liga Champions Eropa 2005, kuncinya adalah now or never, sekarang atau tidak sama sekali. Meski menjauh, trofi juara itu masih dalam jangkauan. Timnas Indonesia jelas bukan Liverpool, tetapi hikmah pengobar semangat bisa dipetik dari perjalanan juara klub Inggris itu. Dengan tekad kuat dan perjuangan keras defisit tiga gol mampu dibalas hanya dalam 45 menit babak kedua, memaksakan extra time, lalu adu penalti yang dimenangi The Reds.

Aksi Kiper Markus Haris Maulana ketika Garuda menang telak 5-1 pada laga perdana penyisihan Grup A AFF Cup di SUGBK Jakarta, 1 Desember 2010. Malaysia sukses revans dengan kemenangan 3-0 di Bukit Jalil Kuala Lumpur, 26 Desember 2010, pada final leg pertama. Malam nanti Garuda dan Harimau Malaya berjibaku lagi di SUGBK pada final leg kedua. PHOTO: AFF SUZUKI CUP 2010

Mantapkan Determinasi

Menganalisis final leg pertama di Bukit Jalil, penerapan formasi 4-4-2 oleh Riedl tidak segemilang lima laga sebelumnya di SUGBK. Bahkan formasi modern dengan segenap variannya ini bisa dibilang tidak jalan akibat faktor psikis. Determinasi pemain rendah. Siapa pun mafhum, dari perspektif kejiwaan dan psikologi peserta latih, salah satu penyebab utamanya adalah ‘’jiwa yang tertekan’’.

Self- errors kerap terjadi: salah umpan, salah antisipasi manuver lawan, serta tidak cukup percaya diri yang dibalut kehati-hatian. Kikuk bila semuanya harus dirangkum dalam satu kata. Gejala ini tampak jelas pada hilangnya determinasi bek Maman Abdurahman mengantisipasi manuver Norshahrul Idlan Talaha di garis datar sebelah kiri gawang Indonesia hingga menyebabkan lahirnya gol pertama Malaysia oleh Safee Sali pada menit ke-61.

Gol pertama itu awal keruntuhan semangat Garuda. Maman makin kikuk, kian sering out of position. Sedangkan central back Hamka Hamzah terlalu kompromistis dan kiper Markus keburu panik hingga andil merusak konsentrasi rekan-rekannya.

Juga dari serangan di sektor kiri, gol kedua Malaysia lewat Mohd Ashari Samsudin lahir pada menit ke-67. Ia begitu bebas melesatkan tendangan. Masih dari sektor kiri Mahalli Jasuli mengirim umpan ke Safee Sali yang tidak terkawal di jantung petak terlarang Garuda dan menanduk keras bola untuk menggetarkan lagi jala gawang Markus pada menit ke-71. Kepiawaian striker gempal yang agak mirip skills mendiang striker legendaris Malaysia, Mokhtar Dahari, itu kini menempatkannya sebagai top scorer sementara Piala AFF 2010 dengan torehan empat gol.

Mengapa bisa begitu, di mana Nasuha sebagai bek kiri?

Karena Okto di sayap kiri cenderung menantang sprint tetapi kerap kalah adu tubuh, serta acap tidak di posisi tepat menerima bola, Nasuha sering tergoda naik menyerang. Ia tampaknya sengaja diberi ruang untuk dikuras tenaganya oleh Malaysia pada babak pertama. Nasuha tidak hanya overlap, tetapi juga harus cekatan berjibaku melawan sayap kanan Harimau Malaya, Mohd Amirulhadi Zainal, yang absen di laga malam nanti karena akumulasi kartu seperti Okto.

Pada babak pertama Malaysia memang sering menekan lewat sektor kanan Indonesia yang benar-benar payah. Dribbling skill gelandang kanan M Ridwan dikombinasikan tusukan-tusukan tajamnya ke petak terlarang tidak muncul lagi. Malah pada babak pertama Ridwan melakukan blunder salah umpan yang berujung ancaman serius ke gawang Markus. Beruntung peluang bebas itu tidak menjadi gol karena tendangan pemain Malaysia jauh melambung di atas mistar. Beberapa salah umpan dalam menyerang masih terjadi.

Ridwan pun tidak banyak naik, tetapi lebih banyak bergerak di sekitar garis tengah. Namun ia tidak cukup cekatan menghadang laju sayap kiri Malaysia Kunanlan Subramaniam. Beruntung bek kanan Garuda, Zulkifli Syukur, cukup sigap melakukan clearance mengahalau setiap serangan.

Dengan kondisi tersebut, formasi 4-4-2 yang mengandalkan alur serangan melalui kedua sayap dengan central midfielders berperan menyeimbangkan kekuatan fungsi kedua sayap sekaligus pemegang ritme serangan jadi tidak jalan. Ahmad Bustomi dan Firman Utina yang bisa dikata sempurna pada laga-laga sebelumnya –sebagai breaker kala menyerang dan memotong alur gempuran lawan— dihadapkan kondisi dilematis dua sayap yang timpang.  Ke kiri tenaga para pemain di sana sudah terkuras, ke kanan tidak cukup meyakinkan dan hanya berisiko diserang balik.

Tidak ada jalan lain, Bustomi dan Firman kerap memainkan ball possession di lini tengah, berusaha sendiri membawa bola naik meski kerap terhalang, serta memilih langsung mengirimkan bola lambung menuju Gonzales maupun Yongki di lini depan yang terkawal rapat. Tidak banyak lagi variasi serangan Garuda seperti laga-laga sebelumnya, sehingga sangat mudah dibaca para pemain Malaysia.

Memantapkan mental bertanding demi determinasi tinggi pemain merupakan salah satu tugas yang kiranya harus diberesi Riedl pada laga malam nanti. Dari mental yang kuat akan lahir kepercayaan diri pemain dalam memeragakan variasi serangan. Apalagi di SUGBK Harimau Malaya diperkirakan menerapkan pertahanan berlapis guna mengamankan surplus tiga gol sebagaimana mereka tunjukkan ketika menahan imbang tanpa gol tuan rumah Vietnam di semifinal leg kedua lalu usai unggul 2-0 di Bukit Jalil pada leg pertama.

Jika harus superofensif dengan, misalnya, memasang tridente alias trisula lini depan (Bambang Pamungkas, Cristian Gonzales, Irfan Bachdim) sejak menit awal, mengapa tidak? Tidak soal permainan keras asal tidak menjurus kasar yang bisa dikenai hukuman atau sanksi. Pun tidak masalah jika mengganti beberapa pemain starter, termasuk kiper Markus, sebagai alternatif solusi meminimalisasi kegamangan. Berikan Riedl kewenangan penuh soal formasi, strategi, dan menentukan pemain di lapangan. Ia tahu yang terbaik.

Selamat berjuang di panggung terakhir Piala AFF 2010, Garudaku. Tunjukkan kalian mampu. Apa pun hasilnya, terima kasih atas perjuanganmu. (solichin m. awi)

* Tulisan ini dimuat di section olahraga TopSoccer, Jurnal Nasional Jakarta, edisi 29 Desember 2010.