Tiga wakil Asia pada putaran final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan –Jepang, Australia, dan Korea Selatan (Korsel)— melaju ke semifinal Piala Asia 2011 Qatar. Satu tim lagi adalah Uzbekistan.

Dari formasi tim ke babak empat besar ini tidak bisa disaksikan lagi aksi tim-tim Asia Barat. Padahal dua tim dari sub-benua itu berjaya pada Piala Asia 2007. Arab Saudi dan Irak bertemu pada partai puncak di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, empat tahun silam dengan Irak tampil sebagai juara.

Di semifinal Piala Asia 2011, tidak ada lagi Saudi dan Irak. Saudi tidak lolos dari fase penyisihan Grup B, sedangkan Irak dikandaskan Australia, Iran dilumat Korsel, dan tuan rumah Qatar diempaskan Jepang di perempat final. Pendek kata, tidak tersisa lagi wakil Asia Barat di Piala Asia 2011 ini sebagaimana tidak satu pun wakil sub-benua itu di putaran final Piala Dunia tahun lalu.

Dari formasi empat besar Piala Asia 2011, dua raksasa dari Asia Timur, Jepang dan Korsel, berjibaku di Al-Gharafa Stadium, Selasa malam (25/1) pada semifinal pertama. Pada semifinal kedua beberapa jam berikutnya di Khalifa Stadium, Rabu (26/1) dini hari WIB, Uzbekistan dari Asia Tengah kontra Australia yang resmi masuk Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) sejak Piala Asia 2007.

Dengan demikian, selain thrillers yang dijanjikan di semifinal, partai final di Khalifa Stadium pada Sabtu (29/1) malam akan menyuguhkan tontonan kelas dunia supermenarik yang tidak bisa disaksikan pada laga-laga puncak di Piala Asia sebelumnya. Wakil Asia Timur menghadapi Australia atau Uzbekistan dari Asia Tengah.

Hary Kewell, mantan punggawa Leeds United dan Liverpool yang menjadi penentu kemenangan Australia atas Irak pada babak kedua perpanjangan waktu, mengakui saat ini tidak ada lagi pertandingan mudah melawan tim-tim Asia. Pada perempat final Piala Asia empat tahun lalu, Kewell gagal mengeksekusi adu penalti melawan Jepang dan membuat Socceroos tersisih. Korsel, yang bermain imbang 1-1 lawan Australia di penyisihan Grup C dan tampil sebagai runner-up grup, juga butuh perpanjangan waktu untuk mengalahkan Iran di perempat final Piala Asia kali ini.

Jepang –yang mengawali kejuaraan ini dengan hasil seri 1-1 lawan Yordania, kemudian menang 2-1 atas Suriah dan menggelontor Saudi yang sudah tanpa spirit 5-0 pada laga terakhir Grup B sehingga tampil sebagai juara grup— harus jatuh bangun untuk bisa menang 3-2 atas tuan rumah Qatar, runner-up Grup A, di perempat final setelah sempat dua kali tertinggal dan dipaksa bermain dengan 10 orang pada babak kedua.

Menarik dinantikan bagaimana Park Ji-Sung dkk di skuad Taeguk Warriors yang dibesut pelatih lokal, Cho Kwang-rae, menghadapi Jepang dengan beberapa pemain merumput di liga-liga Eropa, seperti striker Shinji Kagawa yang bermain untuk Borussia Dortmund di Bundesliga Jerman, dengan polesan pelatih kelas dunia yang pernah berjaya membesut AC Milan, Alberto ‘’Zac’’ Zaccheroni.

Menarik pula menyaksikan Kewell dan bintang Everton, Tim Cahill, dkk terus berjuang membuktikan kedigdayaan Australia di AFC dengan polesan pelatih asal Jerman, Holger Osieck. Socceroos tentu berharap kemujuran Osieck di Asia dengan membawa klub Jepang Urawa Reds menjuarai AFC Champions League berulang di Piala Asia 2011 ini.

Vadim Abramov dan pemain cadangan Uzbekistan di Piala Asia 2011. PHOTO: EUROSPORT

Ancaman Uzbekistan

Layak menjadi perhatian khusus di Piala Asia 2011 ini adalah Uzbekistan yang menorehkan sukses kali pertama lolos ke perempat final. Memulai kejuaraan dengan menundukkan Qatar 2-0, lalu menghajar Kuwait 2-1, dan ditahan imbang China 2-2 pada laga terakhir Grup A, di perempat final Uzbekistan melindas Yordania, runner-up Grup B, dengan skor 2-1.

Tidak berbeda dengan Jepang, Korsel, maupun Australia yang mewarnai suguhan aksi dengan gaya sepakbola Eropa sebagai imbas perjalanan karier beberapa pemain dan pelatihnya, Uzbekistan terbilang ‘’unik’’. Genus-nya mereka memang Eropa sebelum resmi berdiri sendiri sebagai negara merdeka menyusul ambruknya imperium Uni Soviet.

Namun sepanjang kejuaraan Piala Asia 2011, skuad besutan Vadim Abramov ini justru lebih mengesankan ‘’paling Asia’’ dibandingkan Jepang, Korsel, apalagi Australia. Ketika negara-negara kekuatan sepakbola Asia begitu bersemangat dengan spirit tempur modern, dengan gaya menyerang berpola 4-4-2 dengan segenap variannya, jika situasi menuntut Abramov tidak segan mengadopsi pola ortodoks 3-5-2 yang lazim diadopsi tim-tim Asia dan Eropa Timur pada masa silam dengan mengutamakan pertahanan.

Di sisi lain, formasi itu juga harus diimbangi dengan kemampuan kecepatan serangan balik lewat bola-bola umpan panjang yang diakhiri tembakan keras, jitu, dan mematikan. Tidak hanya oleh striker-strikernya, melainkan juga oleh para gelandang dari lapis kedua. Strategi ini bisa menjadi semacam ‘’jebakan maut’’ untuk tim-tim Asia Barat –seperti telah dirasakan Qatar, Kuwait, dan Yordania— yang sejatinya juga masih suka memainkan bola-bola panjang saat menyerang, namun kerap alpa dengan pertahanan ketika asyik menggempur.

Saat menghadapi China, Abramov berusaha mengimbangi dengan memakai pola 4-3-1-2, tetapi hasilnya tidak maksimal: seri dan lini pertahanan Uzbekistan kerap dibombardir para pemain China. Melawan Yordania di perempat final, ia pun harus kembali mengandalkan pola ortodoks tersebut dan terbukti jitu lagi.

Shavkatjon Mullajanov dan Sakhob Juraev dipasang sebagai jangkar pertahanan. Sementara gelandang Odil Akhmedov didorong jauh ke belakang untuk memainkan peran sebagai central defender. Lalu Ulugbek Bakaev, yang tidak dimainkan pada seluruh laga penyisihan grup, berpetualang bebas di lini depan dan mencetak kedua gol Uzbekistan ke gawang Yordania. Left winger Jasur Khasanov dan penggantinya, Stanislav Andreev, sengaja diinstruksikan tidak terlalu sering jauh meninggalkan posisinya untuk membantu serangan.

Sejatinya Yordania juga tim yang mengandalkan pertahanan. Namun merasa melihat ada ‘’celah’’ di lini tengah Uzbekistan –yang sejatinya jebakan yang ditinggalkan Akhmedov— mereka sangat bernafsu menyerang. Pola serangan tidak lagi seperti laga-laga sebelumnya, dari lini belakang mengumpan bola jauh ke depan, tetapi meniti lini tengah. Para pemain belakang Yordania juga pede meninggalkan posnya melihat Bakaev masih ‘’pemain baru’’ yang dinilai tidak terlalu membahayakan.

Yordania memang bisa menikmati serangan-serangannya, tetapi lini belakang Uzbekistan, khususnya Mullajanov, sangat brilian menghalaunya. Semakin Yordania bernafsu menggempur, semakin terbukalah peluang Uzbekistan mengoyak lini pertahanan lawan.

Strategi itu kiranya layak diwaspadai Osieck dan segenap skuad Socceroos di semifinal nanti. Jika Uzbekistan lolos ke final, Jepang atau Korsel juga sepatutnya siaga. Segala kemungkinan bisa terjadi di sepakbola. Siapa pernah mengira jika Irak, yang bukan unggulan, justru akhirnya tampil sebagai juara Piala Asia 2007?