Timnas Indonesia sebelum memulai laga pertama final Piala AFF 2010 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, 26 Desember 2010. PHOTOS: AFF SUZUKI CUP 2010

Petinggi PSSI sengaja menjual pertandingan pertama final AFF Cup 2010 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, 26 Desember lalu? Jika benar, benar-benar gila (tanpa tanda petik). Orang mungkin saja memercayai paparan pengirim surat elektronik yang menyebut dirinya Eli Cohen (seperti nama agen Mossad, dinas intelijen Israel) ini sebagai sebuah ‘’kebenaran yang perlu diungkap’’.

Namun sebagai penikmat sepak bola nasional yang murni –sepak bola tanpa direcoki interests politik meskipun banyak pengelolanya dari pusat hingga daerah merangkap sebagai pengurus partai politik yang pasti juga tidak bisa lepas dari kepentingan politik— saya hanya bisa tersenyum menyaksikan betapa publik cukup riuh membincang ‘’surat aneh’’ itu.

Disebut ‘’surat aneh’’ karena saya bukan termasuk golongan penganut setia teori konspirasi dalam menyikapi kegaduhan ‘’sepak bola politik’’ yang berlangsung akhir-akhir ini. Tidak mengecam PSSI dan orang-orangnya serta Liga Super Indonesia (LSI) maupun kompetisi-kompetisi lainnya, tidak juga membenci Liga Primer Indonesia (LPI). Saya berusaha tetap tidak berpihak meskipun sadar –seperti kata seorang sahabat— dalam hidup prinsip ke-tidak berpihak-an tidak selalu menguntungkan.

Keberpihakan saya hanya untuk sepak bola nasional, pembinaan tim nasional (timnas) yang mampu memberikan gelar lazimnya harapan bangsa mana pun. Apalagi sudah dua dasawarsa timnas paceklik gelar internasional. Maka siapa pun dan pihak mana pun yang berkontribusi dalam membina sepak bola anak negeri ini layak diapresiasi. Alangkah indah menyaksikan mereka akur dan bekerja sama mencetak timnas yang menjanjikan pada masa mendatang.

Memainkan politik sepak bola, termasuk untuk menduduki kursi kepengurusan, itu sah-sah saja. Yang diharamkan adalah sepak bola politik alias melacurkan spirit mulia sepak bola untuk kepentingan politik praktis yang mencederai semangat humanity dan fair play.

Dari perspektif ini, adakah surat dari sosok kabur bernama Cohen itu dirasakan benar adanya?

Saya kira, sejauh ini sama kaburnya dengan si pengirim. Namun harus diakui, meskipun tidak cukup lengkap membeberkan praktik suap seperti pengaturan skor,  surat kaleng tersebut telah cukup ampuh membuat banyak orang kelimpungan seperti kala PSSI beberapa waktu lalu menunjukkan surat tanpa tandatangan pejabat FIFA menyoal LPI. Mungkin juga seperti saat Nurdin Halid, yang belakangan marak diserukan mundur dari kursi Ketua Umum PSSI, dikabarkan tetap aman dengan modal dukungan pengurus provinsi dan cabang pada kongres bulan depan agar terus memimpin otoritas sepak bola nasional itu.

Di Bukit Jalil timnas Indonesia kalah telak 0-3, lantas pada laga kedua tiga hari berikutnya di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta menang 2-1. Dengan agregat itu, timnas Garuda kembali gagal meraih Piala AFF yang sebelumnya berlabel Piala Tiger.

Disebutkan dalam surat Cohen, pada laga pertama final itu dua petinggi PSSI masuk ruang ganti pemain guna memuluskan ‘’skenario penjualan’’ hasil laga final pertama sesuai pesanan bandar judi di Malaysia. Kedua petinggi PSSI itu diduga menjualnya untuk mengumpulkan biaya guna mengamankan posisinya di kongres nanti.

PSSI membantah. Bahkan Wolfgang Pikal, Asisten Pelatih Timnas Alfred Riedl, juga membantah dan tahu betul apa yang saat itu terjadi di ruang ganti karena ia selalu berada di tengah skuad Garuda.

Jika trust kepada pengurus PSSI sekarang dinilai atau dianggap memudar, saya –mungkin juga yang lain— tidak mau menganggap, apalagi menilai orang asing seperti Pikal sebagai sosok bodoh yang begitu gampang menggadaikan prinsip sportivitas dalam sepak bola. Ia sadar bekerja di bawah komando PSSI, tetapi pasti tidak akan begitu saja mau bertekuk lutut serta membiarkan tim yang ikut dibinanya dengan susah payah diminta ikhlas mengalah.

Meski eksplisit yang diserang adalah pengurus PSSI, namun tuduhan itu juga merendahkan, bahkan melecehkan, sosok Riedl maupun para pemain timnas di Piala AFF 2010. Menganggap mereka ‘’kerbau’’ yang bisa leluasa dicunguk hidungnya agar mau ke mana saja menuruti apa pun titah tuannya. Untuk direnungkan, bila Riedl maupun Pikal merasa diintervensi kelewat jauh dengan hal-hal di luar teknik, bahkan ditekan saat Piala AFF itu, mengapa mereka masih betah memoles timnas?

Duit? Siapa pun butuh duit. Namun untuk pelatih sekaliber Riedl dan Pikal, rasanya tidak cuma di Indonesia tempat mencari duit. Mereka menggenggam integritas profesi dan prinsipnya. Saya bisa memahami dan begitu respek kepada dua orang asing ini sebagaimana hormat setingginya untuk Irfan Bachdim yang bersikap profesional mematuhi kontraknya di Persema Malang meski harus dibayar mahal terdepak dari timnas.

Padahal seandainya tidak mengikuti jejak Persema menyeberang ke LPI, beberapa klub di LSI siap menampung Irfan dengan bayaran yang tidak kalah menggiurkan. Tidak memanggil Irfan ke timnas proyeksi Olimpiade 2012 dan SEA Games 2011 juga bukan kesalahan Riedl karena ia paham betul prinsip dan aturan administrasi yang berlaku dan harus dipenuhi oleh pemain timnas agar bisa berlaga di ajang internasional.

Bukannya kagum pada yang berbau serbaasing, tetapi dari sosok-sosok seperti Riedl, Pikal, dan Irfan Bachdim yang didikan Eropa itu sepak bola nasional dan insan-insannya bisa berkaca di tengah keburaman ini. Spirit sportsmanship berdasarkan aturan-aturan yang berlaku harus ditegakkan tidak hanya dalam pengelolaan, tetapi juga penjabarannya di lapangan.

Striker M. Safee Sali (10) mencetak gol ketiga Malaysia ke gawang Indonesia pada laga pertama final Piala AFF di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, 26 Desember 2010.

Wajah di Lapangan

Yang terjadi di lapangan saat final pertama itu, saya kira, juga tidak ada yang janggal. Jika wasit yang selama ini kerap dituding memuluskan skenario match fixing (pengaturan skor), saat laga itu Wasit Toma Masaaki dari Jepang dan para asistennya terbilang fair menjalankan tugasnya.

Justru beruntung pada babak pertama kedudukan imbang tanpa gol mengingat gawang Indonesia kerap dibombardir para pemain Harimau Malaya. Padahal sejak kickoff terlihat jelas para pemain Indonesia begitu kikuk, sering salah tingkah dan langkah. Mereka tampak lelah dan kurang bermental. Capek karena sebelumnya banyak menghadiri acara yang tidak krusial hubungannya dengan pertandingan atau sibuk melayani wawancara media di tengah euforia sebelum juara? Yang jelas bioritmik positif dan grafik puncak penampilan memang ada masanya.

Ketika babak kedua dimulai, timnas Indonesia memang berusaha langsung mengambil inisiatif keluar dari tekanan. Tiga menit berlangsung, Cristian Gonzales mencetak gol namun dianulir. Wasit dan asisten salah? Jelas tidak karena striker Persib Bandung itu memang dalam posisi offside.

Tetapi demam panggung masih berlangsung, di antaranya beberapa kali ditunjukkan M. Ridwan dan Kapten Firman Utina. Sangat disayangkan, tetapi pikiran saya berusaha memahami karena pertandingan di Bukit Jalil merupakan laga tandang (away) pertama timnas Garuda. Sepanjang penyisihan dijalani di Stadion Utama Gelora Bung Karno, bahkan laga semifinal pertama lawan Filipina juga di Jakarta karena tim lawan dinilai tidak memiliki venue sesuai standar. Pikiran saya kala itu, jika tidak di Filipina, semifinal pertama itu sebaiknya dihelat di tempat netral untuk memberi modal tempaan mental.

Di sisi lain, tempaan mental di luar kandang sudah didapatkan Malaysia pada seluruh laga penyisihan di Jakarta dan Palembang. Bahkan saat semifinal kedua mental Harimau Malaya ditempa hebat di Stadion My Dinh, Hanoi, oleh gemuruh suporter tuan rumah Vietnam. Malaysia bisa menahan tuan rumah seri tanpa gol, sehingga kemenangan 2-0 pada laga semifinal pertama di Bukit Jalil aman membawanya ke final.

Soal insiden laser pointer dari tribun kepada Kiper Indonesia Markus Haris Maulana yang membuat laga dihentikan sekitar enam menit sejak menit ke-53 itu?

Rasanya juga bukan faktor mutlak. Sekali lagi harus gentle diakui sebelum insiden itu, para pemain timnas Garuda tampak kalah mental. Padahal, selain laga away pertama, catat beberapa pemain Malaysia –termasuk Kiper Khairul Fahmi Che Mat yang tampil supergemilang— sudah bisa bermain. Mereka tidak turun saat Indonesia menghajarnya 5-1 pada laga awal penyisihan Grup A di Jakarta. Padahal para pemain muda itu adalah tulang punggung Malaysia saat sukses meraih medali emas SEA Games 2009 Laos dan lolos ke putaran kedua Asian Games 2010 di China. Mereka memang kekuatan yang membahayakan. Hasil pembinaan jitu.

Pelatih Malaysia K. Rajagobal cukup sadar merespons kekalahan telak atas Indonesia dan menjawabnya dengan hasil menahan Thailand 0-0, serta menang telak 5-1 atas Laos pada laga terakhir Grup A di Palembang yang membuatnya lolos ke semifinal. Pada dua laga semifinal, grafik skuad Rajagobal benar-benar makin mantap.

Kembali ke insiden laser, sebelumnya di sebuah harian ibu kota saya menulis agar timnas hati-hati menghadapi ‘’jebakan halus’’ di Bukit Jalil dengan merujuk nasib apes yang dialami timnas Garuda ketika melawan Thailand di semifinal SEA Games 1977 di Stadion Merdeka, Kuala Lumpur. Karena keputusan-keputusan Wasit Malaysia Othman Omar yang dinilai condong membela Thailand yang memeragakan permainan keras namun tidak dikenai hukuman, Garuda sangat dirugikan dan beberapa kali protes namun tidak digubris.

Bahkan suasana menjelma ricuh. Pemain Indonesia berantem dengan para penonton asal Malaysia yang berulah. Indonesia lalu memutuskan tidak melanjutkan laga saat skor 1-1 pada babak kedua dan pulang ke Tanah Air dengan beragam respons. Di final Malaysia bertemu Thailand yang ketika itu kekuatannya di bawah Indonesia. Emas pun jatuh ke tangan Malaysia.

Faktor non-teknis dan ujian mental dalam pertandingan bisa datang dalam beragam bentuk. Pada beberapa kasus ujian-ujian itu memang dinilai tidak mencerminkan sikap sportivitas, namun juga tidak cukup kuat untuk bisa menganulir hasil pertandingan.

Saat insiden laser itu, tindakan Markus melakukan protes memang tidak salah. Namun para pemain Malaysia yang merasa di atas angin pada babak pertama –tetapi kaget merespons gebrakan Indonesia memasuki babak kedua— mungkin sekali bisa membaca protes berdampak penghentian sementara itu sebagai pertanda para pemain timnas Garuda mulai hilang fokus dan mentalnya goyah.

Ibarat mesin, Garuda yang sudah panas tiba-tiba harus dingin lagi. Begitu berusaha menata lagi saat pertandingan dilanjutkan dan belum settled betul, giliran Harimau Malaya menerkam saat pemain belakang Indonesia Maman Abdurahman melakukan kesalahan mengantisipasi pergerakan Norshahrul Idlan, lalu mengirimkan bola ke petak terlarang yang langsung disambut tembakan M. Safee Sali pada menit ke-61.

Laksana petinju yang baru saja terkena hook atau uppercut telak, ketika timnas Garuda masih berusaha sadar dan melawan, para pemain Harimau Malaya tidak cukup memberi ruang gerak. Dalam praktik di lapangan sepak bola, memang kadang tidak gampang bisa cepat keluar dari tekanan lawan. Tempo 12 menit, gawang Markus pun bobol tiga kali oleh serangan kilat skuad Malaysia. Setelah Safee menit ke-61 itu, tujuh menit kemudian giliran Ashari Samudin, dan Safee kembali mencetak gol menit ke-73. Pada akhir kejuaraan, Safee pun berpredikat top scorer dengan torehan 5 gol.

Ketiga gol Malaysia itu juga lahir dari open play alias permainan terbuka dengan alur-alur serangan yang bagus. Tidak dari bola mati dari posisi strategis, apalagi dari titik putih penalti akibat pelanggaran yang tampak ”disengaja” oleh pemain Indonesia atau ”sengaja diberikan” wasit. Wasit bahkan juga tidak mengerosi kekuatan Indonesia dengan memberikan kartu merah kepada pemain.

Jadi, masih adakah yang layak dicurigai dari pertandingan pertama final Piala AFF 2010 itu?

Namun semua yang saya paparkan itu tidak lebih dari hasil penalaran pribadi penikmat bola –yang pernah pula mencermati dan mewartakan laga-laga sepak bola di beberapa stadion dalam dan luar negeri— atas berbagai fenomena yang muncul di permukaan. Jika dugaan praktik match fixing itu terjadi di liga domestik, kemungkinannya memang lebih terbuka dari tatapan mata telanjang meski sejauh ini masih sangat sulit ditemukan bukti-buktinya.

Apa pun penilaian berbagai pihak terhadap para pengurus PSSI saat ini, pribadi saya masih yakin mereka tidak pernah berpikir, apalagi berbuat, sekeji itu: menjual harkat serta kehormatan bangsa dan negara.

Meski demikian, benar pernyataan Menpora Andi Mallarangeng. Tuduhan ini harus dilacak dan diusut. Jika kemudian memang benar adanya, maka para pelakunya layak dihukum berat karena perbuatan itu merupakan PENGKHIANATAN KEPADA NEGARA.