FINAL Liga Champions 2010-2011 di Stadion Wembley, Sabtu (28/5) malam atau Minggu (29/5) dini hari WIB, sarat dengan sejarah spirit sukses kedua klub finalis: Manchester United dan Barcelona. Hingga 48 jam sebelum duel final, bursa taruhan global menjagokan permainan kolektif Barcelona mengungguli tuan rumah. Akankah Barcelona bisa mengulang sukses dua tahun lalu atau justru Red Devils berhasil revans?

1. Spirit Stadion Wembley

Stadion keramat bagi sepak bola Inggris. Di stadion ini timnas Inggris menjuarai Piala Dunia 1966 dengan mengalahkan Jerman Barat di final. Di stadion ini Manchester United meraih trofi Eropa pertamanya pada 1968 –saat masih berlabel Piala Eropa (European Cup) dari ajang European Champions Clubs’ Cup— setelah menang 4-1 atas Benfica dari Portugal melalui perpanjangan waktu.

Sejak kemenangan di Wembley, Manchester United begitu lama puasa gelar di ranah Eropa hingga meraihnya lagi di era Alex Ferguson, tepatnya pada final 1999, ketika menang dramatis 2-1 atas Bayern Munich (Jerman). Di manakah final ini berlangsung? Di Camp Nou, kandang Barcelona.

Di Wembley pula, pada 1992 ketika format baru bernama Liga Champions (UEFA Champions League) kali pertama dikenalkan menggantikan European Champion Clubs’ Cup, Barcelona meraih trofi Eropa pertamanya. Pelatih Barcelona saat ini, Pep Guardiola, menjadi bagian dari tim juara tersebut setelah menang 1-0 atas Sampdoria (Italia), juga melalui perpanjangan waktu. Titel juara di Wembley memberi Barcelona keyakinan tentang entitas sepak bola Catalan.

Final pada Sabtu malam (28/5) atau Minggu (29/5) dini hari WIB merupakan comeback Guardiola ke Wembley, namun berstatus sebagai pelatih. Mampukah ia membawa pasukannya menaklukkan Wembley yang, tentu saja, akan lebih condong beratmosfer dukungan untuk Manchester United?

2. Kesamaan Koleksi Gelar

Menuju Wembley, dua klub bermodal serupa: sama-sama telah resmi menggenggam gelar juara di liga domestik pada musim 2010-2011. Bisa dikata, inilah ‘’perang sejati’’ antarjuara. Selain itu, keduanya juga bermodal gelar Eropa dalam jumlah yang sama: tiga kali. Manchester United juara pada 1968, 1999, dan 2008 (dua gelar terakhir dalam kendali Alex Ferguson), serta Barcelona juara pada 1992, 2006, dan 2009 (dipoles Pep Guardiola).

3. Misi Revans?

Ada perbedaan nyata antara Manchester United dan Barcelona di bawah kendali Ferguson dan Guardiola ketika menjejak final. Dipoles Ferguson, tiga kali Manchester United lolos ke final; 1999, 2008, dan 2009. Dari tiga edisi itu, dua kali tampil sebagai juara tetapi harus melewati momen-momen yang mendebarkan dan bisa dikata nyaris kalah.

Pada 1999, Red Devils juara berkat ‘’keajaiban’’ dua gol injury time (90+1 oleh Teddy Sheringham dan 90+3 oleh Ole Gunnar Solskjaer) setelah sepanjang pertandingan tertinggal 0-1 dari Bayern Munich lewat gol Mario Basler.

Pada final 2008, mereka juara setelah menang adu penalti 6-5 atas klub senegara, Chelsea. Laga selama 90 menit berakhir 1-1. Chelsea yang kala itu bisa dikata limbung usai ditinggalkan Jose Mourinho sempat berpeluang memenangi adu penalti setelah Cristiano Ronaldo –pencetak gol United pada menit ke-26 dalam waktu normal dan disamakan Frank Lampard menit ke-45— gagal sebagai eksekutor ketiga.

Sial, sebagai eksekutor terakhir (kelima) di kubu Chelsea, Kapten John Terry terpeleset dan tendangannya menyamping. Eksekusi dilanjutkan. Anderson dan Giggs bisa menjalankan tugasnya untuk Manchester United, sedangkan Nicolas Anelka sebagai eksekutor terakhir Chelsea gagal mengikuti sukses Salomon Kalou. Manchester United pun juara.

Kondisi Manchester United jelas berbeda dengan Barcelona yang dipoles Guardiola. Mereka ke final dengan performa yang sangat meyakinkan, termasuk ketika menggulung Manchester United 2-0 lewat gol Samuel Eto’o menit ke-10 dan Lionel Messi menit ke-70 di final Liga Champions 2009 di Stadion Olimpico, Roma, juga pada 28 Mei, namun tahun 2009. Bisa dikata ketika itu Barcelona ‘’memberi kursus bermain bola’’ kepada Manchester United dan mengangkat trofi Champions pertama bersama Guardiola sebagai pelatih.

Sebelumnya, pada final 2006 saat dibesut Frank Rijkaard, Barcelona juga meraih trofi pertama pascasukses Wembley setelah menang 2-1 atas klub Inggris lainnya, Arsenal. Namun pada laga itu Barcelona sempat deg-degan karena tertinggal dulu lewat gol Sol Campbell di menit ke-37. Barcelona baru bisa membalas dan memastikan kemenangan pada menit ke-76 lewat gol Samuel Eto’o dan Belletti menit ke-81.

4. Karakter Strategi Pelatih

Kepada Sports Illustrated, Andy Cole –mantan striker Manchester United yang juga anggota skuad sukses pada final Liga Champions di Barcelona 1999— mengatakan, Alex Ferguson merupakan tipe pelatih cerdik dalam memotivasi spirit tempur para pemainnya. Ketika di lapangan, pemain diberi kebebasan bermanuver, tetapi juga diwajibkan memikul tanggung jawab bertahan sesuai skema maupun pola yang ditetapkan.

Karakter tersebut jelas berbeda dengan kegemaran Pep Guardiola di kubu Barcelona. Menurut Xavi Hernandez, Guardiola merupakan pelatih yang lebih menekankan pada aspek penting kolektivitas (collectivity) bermain yang diimbangi dengan keunggulan penguasaan bola (ball possession). Di lapangan kolektivitas itu bisa diterjemahkan dengan menyerang serempak, demikian pula ketika bertahan. Guardiola tidak menyukai adanya lubang sekecil apa pun yang tidak dihuni oleh para pemainnya, sehingga menuntut pemain terus bergerak (mobile).

Melawan Manchester United, Barcelona menunjukkan superioritas strategi itu di Roma dua tahun lalu. Menuju final Liga Champions dengan modal gelar juara liga domestik masing-masing, catatan sukses Barcelona di La Liga musim yang baru lewat dengan 96 poin (30 kali menang) dari total 38 laga merupakan bukti ketajaman klub Catalan itu. Dengan total pertandingan yang sama, bandingkan dengan Manchester United yang meraih 80 poin (23 menang).

Strategi apa yang hendak dipakai Ferguson ketika Xavi dan Andres Iniesta di lini tengah akan kembali menari-nari, lalu David Villa menebar ancaman bersama sang maestro Lionel Messi? Mungkin sekali Ferguson telah banyak belajar dari kesalahan-kesalahan di Olimpico dua tahun lalu. Lagi-lagi, menarik ditunggu.

5. Formasi Pemain

Pemain yang pergi dan datang pada masing-masing klub layak dicermati pada final Liga Champions 2011 ini. Ini akan menjadi salah satu kunci penting membedakan final di Wembley dengan di Olimpico, Roma, dua tahun lalu.

Tak ada lagi Eto’o dan Thierry Henry di Barcelona. Namun Guardiola kini memiliki Villa dan Pedro, serta Lionel Messi sebagai kartu as yang selama ini mampu mengelabui apa pun strategi lawan. Juga Daniel Alves yang bisa menyentak menyerang sekaligus memancing emosi para pemain United. Bagaimanapun, Messi sang maestro tetap sebagai andalan utama pada laga di Wembley nanti.

Di kubu Manchester United, tidak ada lagi Cristiano Ronaldo dan Carlos Tevez. Namun Ferguson memiliki amunisi muda asal Meksiko yang sangat brilian sepanjang musim yang baru lewat, yakni Javier ‘’Chicharito’’ Hernandez sebagai tandem Wayne Rooney. Juga ada Antonio Valencia yang pada musim 2010-2011 acap kali tampil sebagai penyelamat Manchester United di laga-laga krusial –sekaligus mengamankan strategi rotasi Ferguson— meskipun pada paruh pertama musim itu lebih banyak diistirahatkan akibat cedera.

Berikut perbandingan formasi kedua tim pada final 2009 dan perkiraan formasi final Liga Champions 2011:

FORMASI FINAL 2009

Barcelona: Valdes, Puyol, Toure Yaya, Pique, Sylvinho, Xavi, Busquets, Iniesta (Pedrito 90), Messi, Eto’o, Henry (Keita 72).

Man Utd: Van der Sar, O’Shea, Ferdinand, Vidic, Evra, Anderson (Tevez 46), Carrick, Giggs (Scholes 75), Park (Berbatov 66), Ronaldo, Rooney.

PERKIRAAN FORMASI FINAL 2011

Man United: 1-Edwin van der Sar; 20-Fabio, 5-Rio Ferdinand, 15-Nemanja Vidic, 3-Patrice Evra; 25-Antonio Valencia, 16-Michael Carrick, 11-Ryan Giggs, 13-Park Ji-Sung; 10-Wayne Rooney, 14-Javier Hernandez.

Barcelona: 1-Victor Valdes; 2-Daniel Alves, 3-Gerard Pique, 5-Carles Puyol, 22-Eric Abidal; 16-Sergio Busquets, 6-Xavi, 8-Andres Iniesta; 17-Pedro, 10-Lionel Messi, 7-David Villa.