BEBERAPA jam lagi bola resmi final Liga Champions 2011 bergulir di rumput Stadion Wembley, London. Siapa yang bakal mendominasi bola itu, Manchester United atau Barcelona?

Namun, dominasi penguasaan bola (ball possession) tidak mutlak menjamin kemenangan. Barcelona pernah unggul telak dalam penguasaan bola, tetapi justru kalah agregat saat berhadapan dengan Inter Milan yang dipoles Jose Mourinho di semifinal Liga Champions 2009-2010. Kemenangan 1-0 di kandang pada leg kedua tidak cukup untuk menebus kekalahan 1-3 pada leg pertama di Milan.

Kala itu Inter memeragakan permainan defensif dengan pressing-pressing ketat untuk mengimbangi permainan cepat, bola mengalir dari kaki ke kaki serta mobilitas tinggi (dikenal dengan tiki-taka dalam sepak bola Spanyol) yang diperagakan para pemain Barca. Terbukti, berhasil.

Belajar dari sukses tersebut serta beberapa pertemuan mereka sebelumnya, Arsenal nyaris menggulung Barca di perempat final Liga Champions musim ini. Unggul 2-1 di Stadion Emirates pada leg pertama, pada leg kedua di Camp Nou mereka bertahan hampir total untuk mengamankan keunggulan.

Sepanjang babak pertama Barca begitu sulit membobol gawang The Gunners dan baru berhasil saat injury time melalui manuver individu brilian Lionel Messi.  Memasuki babak kedua Arsenal tampil menekan dan membawa hasil meskipun lewat gol bunuh diri Sergio Busquets yang salah mengantisipasi sepak pojok. Skor 1-1 yang jika bertahan hingga akhir akan meloloskan The Gunners.

Seperti guliran bola, tidak seorang pun mengira, saat Arsenal mulai menemukan formula serangannya, petaka datang melalui kartu merah untuk Robin van Persie. Maka, klub London itu kali ini kembali jadi bulan-bulanan El Barca. Digempur habis bukan ‘’sengaja siap untuk digempur’’ akibat bagian dari strategi, melainkan kedodoran karena kekurangan pemain. El Barca pun menang 3-1.

Menghadapi Barcelona, Manchester United layak menghitung strategi dua pertandingan Inter dan Arsenal itu. Juga berkaca dari kekalahan 0-2 saat final Liga Champions 2009. Tidak kalah penting juga berkaca dari dua duel semifinal Barca melawan seteru klasiknya, Real Madrid yang diarsiteki Mourinho, di Liga Champions musim ini. Pada laga pertama di kandang El Real, tuan rumah kalah 0-2 dalam 15 menit terakhir lewat dua gol Lionel Messi setelah Pepe dikartu merah. Di leg kedua, mereka bermain imbang 1-1.

Saat tandukan Lionel Messi membobol gawang Manchester United yang membawa Barcelona menang 2-0 pada final Liga Champions 2009 di Stadion Olimpico, Roma. Mampukah ia mengulanginya di Wembley dini hari nanti? PHOTO: GETTY IMAGES

‘’Business Unusual’’

Menilik pelajaran laga-laga tersebut, Manajer Manchester United Sir Alex ‘’Fergie’’ Ferguson pasti memiliki formula yang dinilai jitu. Namun, satu hal yang sekiranya layak disaksikan pada duel nanti adalah sejauh mana Fergie mau menerapkan strategi yang tidak biasa. Ibaratnya, bukan business as usual, tetapi business unusual.

Menghadapi Barcelona yang mengedepankan permainan kolektif dengan skill tinggi, The Red Devils harus memperlama penguasaan bola dan cepat-cepat merebutnya lagi bila bola lepas. Mengandalkan umpan-umpan panjang dari belakang ke depan akan sangat berisiko. Dengan cara ini Manchester United akan mampu menjaga gawangnya tidak digelontor Barca sejak dini. Pertandingan pun bisa berakhir seri sehingga dilanjutkan dengan extra time.

Namun, kemungkinan tersebut bisa gugur seandainya para pemain Manchester United tidak cukup mampu mengontrol diri saat ‘’digoda’’ dengan manuver-manuver para pemain Barca, seperti yang berlaku pada Pepe dari Real Madrid. Jangan sampai pula kesalahan individu akibat tidak mampu mengontrol emosi diri, seperti yang terjadi pada Van Persie (Arsenal) yang tetap menendang bola ketika wasit telah meniupkan peluit pertanda offside, berulang di Wembley.

Bagaimanapun, menilik sejarah yang ditorehkan kedua klub (baca: Lima Fakta dan Roh Final Liga Champions 2011), Stadion Wembley ibaratnya adalah venue netral. Bukan semata milik Inggris dan Manchester United, meskipun ia terletak di Inggris.

Apalagi Barcelona bisa dibilang sebagai tim yang komplet. Nyaris tanpa celah dan sisi lemah. Mereka memiliki kecepatan, ketajaman, dan terpenting kepercayaan diri dengan seorang Messi sebagai pemain terbaik dunia. Tidak mengherankan apabila hingga beberapa jam sebelum kick-off di Wembley, bursa taruhan dan banyak pakar sepak bola dunia menjagokan klub Catalan ini sebagai pemenang.

Namun Manchester United memiliki pengalaman dan akurasi. Kemampuan Fergie dalam menyuntikkan semangat tempur kepada pasukannya juga layak dicermati. Dua kali Fergie membawa pasukannya mengangkat trofi Champions –1999 dan 2008— setelah nyaris kalah di laga final. Jika ia mampu menggabungkannya dengan strategi yang unusual alias tidak biasa, tidak mustahil Barca akan frustrasi.

Hasilnya, jika MU tidak menang dalam waktu normal, mereka bisa memaksakan seri, lalu perpanjangan waktu, dan bisa memetik sukses melalui adu penalti seperti yang terjadi pada final 2008 di Moskow ketika mengalahkan Chelsea.

Fergie tergolong perfeksionis. Gelar juara Champions kali ini pasti sangat diimpikannya setelah musim yang baru lewat menorehkan sukses brilian dengan menggulingkan dominasi Liverpool dalam koleksi juara Premier League. Di bawah Fergie, United kini telah mengoleksi 19 gelar liga domestik berbanding catatan juara Liverpool 18 kali.

Akan sangat menarik seandainya laga di Wembley nanti juga harus berlangsung hingga perpanjangan waktu, apalagi adu penalti. Di Wembley ini, pada 1968 United meraih gelar Eropa pertamanya. Di stadion ini pula Barcelona meraih gelar Eropa pertamanya pada 1992. Keduanya melalui perpanjangan waktu.

Prediksi saya:

Jika pertandingan berlangsung dalam waktu normal, Barcelona menang tipis 1-0 atau 2-1.

Jika dilanjutkan dengan perpanjangan waktu setelah laga normal berakhir imbang 0-0 atau 1-1, Manchester United berpeluang menang.

Jika harus diakhiri adu penalti, Manchester United berpeluang menang.