LAUTAN MERAH: Suporter Timnas Indonesia di SU Gelora Bung Karno Jakarta saat perhelatan Piala AFF 2010. Suporter merindukan prestasi terbaik di level internasional melalui pembinaan yang profesional, bukan sanksi global yang malah meminggirkan berbagai upaya mengasah timnas. PHOTO: AFF SUZUKI CUP 2010

BEBERAPA kota –seperti Yogyakarta, Solo, Malang, Surabaya, dan Makassar— berminat menjadi tuan rumah Kongres ‘’Superdarurat’’ PSSI. Sungguh fenomena menggembirakan (jika mengharukan kali ini mungkin dinilai berlebihan). Setelah dua kongres sebelumnya berakhir ricuh dan deadlock, FIFA yang masih bermurah hati dengan tidak langsung menjatuhkan sanksi, menggariskan kongres berikutnya dilaksanakan selambat-lambatnya 30 Juni 2011.

Yogyakarta dengan PSIM-nya, Solo dengan Persis-nya, Malang dengan Persema-nya, serta Surabaya yang kini dengan Persebaya gandanya (secuil di Liga Primer Indonesia dan seiris di Divisi Utama) merupakan mosaik yang membentuk sejarah persepakbolaan nasional bersama Jakarta (Persija), Bandung (Persib), Semarang (PSIS), Medan (PSMS), Makassar (PSM), serta Papua (Persipura).

Merekalah kota-kota dengan tim-tim fenomenalnya yang mengisi lembar-lembar awal pada halaman sejarah buku sepak bola Indonesia. Lazimnya klub-klub sepak bola berusia tua di pelbagai jengkal dunia, prestasi mereka juga pasang-surut. Namun, sebagai salah satu aset penting yang menandai denyut perjalanan hidup sebuah kota, hingga kini klub-klub tersebut masih ada walaupun tidak semuanya tetap bisa berlaga di kasta tertinggi kompetisi sepak bola di Tanah Air.

Kongres mendatang juga layak dijuluki sebagai kongres superdarurat menimbang latar kondisinya. Dua kali luput dari ancaman sanksi langsung dari FIFA, tiga kali kali sepak bola nasional menggelar kongres dalam empat bulan terakhir. Wow, bukankah ini kejadian sekaligus ‘’capaian’’ yang luar biasa?

Partai politik saja tidak mampu menggelar kongres, muktamar, atau apa pun namanya, sebanyak itu dalam kurun hanya satu kuartal karena sering kali kelewat banyak mulut yang tidak hanya harus ‘’diurus’’, namun mesti pula diladeni. Lempar kata sana-sini, bahkan tidak jarang bernada menghardik dan mengancam.

Namun, ‘’Partai PSSI’’ mampu melakukannya dan berhasil meyakinkan FIFA untuk merestuinya meskipun timnas sepak bola Indonesia sudah terbiasa di luar hiruk-pikuk hajat kasta tertinggi sepak bola dunia. Fenomena tiga kali kongres dalam satu kuartal harus diakui sebagai ‘’capaian’’ luar biasa. Setidaknya fenomena itu –yang dibahas para petinggi FIFA, diliput berbagai kantor berita asing untuk disebarkan ke segenap penjuru bumi, serta koran-koran internasional seperti International Herald Tribune— andil menunjukkan kepada dunia bahwa di Indonesia sepak bola itu ada.

Senin (6/6), Komite Normalisasi pimpinan Agum Gumelar –yang dibentuk FIFA guna menjalankan tugas sehari-hari PSSI pascapembekuan kepemimpinan Nurdin Halid per awal April menyusul kekacauan kongres pertama, Maret, di Pekanbaru hingga kongres mampu menghasilkan kepengurusan yang baru— dijadwalkan mengumumkan lokasi kongres superdarurat itu. Apakah lokasi menentukan sukses dan tidaknya pelaksanaan kongres lazimnya siswa yang kurang siap menghadapi ujian dan berkata ‘’posisi (tempat duduk) menentukan prestasi’’?

Sekecil apa pun kemungkinan itu ada. Terlebih lagi, seperti ditegaskan Agum sepulang dari Swiss, Jumat (3/6), bahwa agenda kongres mendatang tidak berubah dari kongres kedua yang deadlock di Hotel Sultan Jakarta pada 20 Mei. Tidak ada lagi proses verifikasi terhadap para calon ketua, wakil ketua, dan anggota komite eksekutif (exco) PSSI.  Kongres bakal langsung menggelar pemilihan berpatokan pada rekomendasi FIFA yang, salah satu poin pentingnya, tetap melarang Nurdin, Nirwan Bakrie, George Toisutta, dan Arifin Panigoro maju memegang pucuk pimpinan PSSI.

Kongres pertama di Pekanbaru ricuh. Yang kedua di Jakarta deadlock. Para pendukung George dan Arifin bersikukuh pasangan calonnya harus tetap bisa maju ke pemilihan meskipun alasan penolakan mereka telah dijelaskan oleh perwakilan FIFA yang hadir sebagai peninjau dalam kongres di Jakarta.

Di mana dan kapan pun kongres bakal dilangsungkan, kali ini ultimatum FIFA tegas: sanksi akan langsung dijatuhkan kepada sepak bola Indonesia per 1 Juli 2011 jika kongres, lagi-lagi, gagal.  Jika tidak harus di Jakarta, kongres superdarurat ini juga akan menjadi tantangan serius bagi kota-kota bersejarah dalam persepakbolaan nasional tersebut. Juga tantangan untuk pemilik suara, peserta kongres, serta mereka yang benar-benar merasa ikut membangun tanpa pamrih demi kemajuan sepak bola nasional.

Satu hal pasti, kegagalan kongres mendatang akan mencatatkan nama kota bersangkutan pada ‘’lembaran kelam’’ sepak bola nasional dalam buku catatan sepak bola dunia. Tentu yang demikian tidak diinginkan oleh mayoritas pecinta sepak bola di Tanah Air di mana pun. Jika ada yang berani berkoar menantang sanksi tersebut, kiranya itu lebih pada keberanian mulut –demi harga diri bermakna ganda (harga jual atau menghindari rasa malu)— dan bukan suara hati terdalamnya. Bagaimanapun, mereka masih warga negara yang baik dan memiliki nasionalisme.

Sebaiknya berpikir praktis saja. Tak perlu petitah-petitih dengan keyakinan diri bahwa sepak bola nasional akan belajar banyak dari sanksi ini, akan lebih baik pada masa mendatang, akan ini, akan itu, namun sejatinya tidak tahu pasti akan ke mana dibawa. Pecinta sejati sepak bola nasional, di mana pun, pasti tidak akan rela –dan, jangan lupa, berkesempatan menggugat— siapa pun yang berniat menjadikan kongres superdarurat mendatang masih sebagai ‘’ajang balas dendam’’ kepentingan antarindividu atau kelompoknya sehingga sanksi itu tidak masuk kalkulasinya.

Menimbang kepentingan yang lebih besar dan luas, apa sih untungnya disanksi FIFA pada saat sepak bola nasional belum bisa dibanggakan dan menjadi alat tawar (bargaining) di ajang global. Terlalu naif jika harus membanggakan diri sekadar bertolak dari pandangan bahwa industri sepak bola dunia butuh Indonesia sebagai pasar potensial karena banyak peminat tayangan langsung di sini, hehehe… Jangan lupa, banyak penonton karena gratisan sih… Kiranya lebih tepat apabila rasa bangga itu dibangun oleh prestasi sepak bola nasional sebagai buah pembinaan yang jitu.

Banyak cakap dan saling adu argumen yang kadang cenderung ‘’menggelikan’’ seperti terlihat pada kongres 20 Mei lalu –ironis, karena bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional— justru akan semakin menjauhkan sepak bola Indonesia untuk berbenah diri.

Yang merasa sudah melakukan hal-hal baik demi sepak bola nasional dan disambut hangat oleh khalayak, media, dan sekumpulan wartawannya, cobalah kini berpikir ‘’waras’’, tidak semata sensasional, di atas kepentingan semua golongan. Bukan hanya karena mendapatkan keuntungan dari hiruk-pikuk sepak bola nasional ini akibat faktor kedekatan dengan orang-orang yang terlibat atau menangguk untung dari iklan maupun sponsorship. Saatnya semua berpikir dan bertindak demi kepentingan nasional.

Jayalah sepak bola nasional