TAHUN ini hingga tahun depan, anomali terjadi dalam sepak bola Inggris. Pada musim 2011-2012, untuk kali pertama sebuah klub dari Wales bakal berlaga di Premier League alias kasta tertinggi dalam format liga sepak bola Inggris saat ini. Klub yang sukses promosi ke Premier League melalui playoff dari Championship itu adalah Swansea City AFC yang berjuluk ‘’si Angsa’’.

Barangkali pertanyaan tersisa bagi sebagian orang, bagaimana mungkin Wales dengan tim nasional sendiri yang berlaga di (kualifikasi) kompetisi antarbangsa seperti Piala Eropa dan Piala Dunia bisa ikut di liga Inggris. Mengapa klub Skotlandia dan Irlandia Utara tidak?

Liga di satu negara yang melibatkan klub-klub kontestan dari dua negara memang terjadi tidak hanya di Inggris. Yang mengenal, bahkan mengakrabi, Major League Soccer  (MLS-Liga Sepak Bola Utama Amerika Serikat) mafhum pula bahwa liga tersebut juga diikuti oleh klub-klub dari Kanada. Untuk musim 2011, terdapat Toronto FC di Zona Timur (Eastern) dan Vancouver di Zona Barat (Western).

Namun, eksistensi klub-klub Wales di Inggris sejauh ini masih kontroversi. Tidak hanya di domestik Wales, tetapi juga di Inggris, bahkan di internal UEFA yang memayungi asosiasi-asosiasi sepak bola di Eropa. Tidak pula cuma menyangkut Swansea, namun juga Cardiff City, Newport County, Wrexham, Merthyr Town, dan Colwyn Bay di divisi-divisi di bawahnya.

Sejatinya anomali tersebut bisa dipahami dengan menilik faktor historisnya. Persatuan Sepak Bola Wales (FAW), yang didirikan pada 1876, terbilang sebagai salah satu asosiasi tertua di dunia. Ia memang lebih muda 13 tahun dari FA Inggris dan tiga tahun setelah FA Skotlandia.

Berbeda dengan Skotlandia dan dua Irlandia, FAW yang didirikan di Wales Utara secara geografis dan sosiologis tidak hanya lebih dekat, namun juga lebih akrab, dengan Inggris. Pada awalnya sepak bola Wales terkonsentrasi di sekitar Wrexham. Budaya bermain sepak bola di wilayah itu merupakan dampak pengaruh lintas batas dari Cheshire di wilayah Inggris.

Peta kota-kota di Wales dan wilayah Inggris.

Di wilayah utara itu pula pada akhir abad ke-19 kekuatan FAW terkonsentrasi mengingat di selatan masyarakatnya lebih menyukai cabang olahraga rugby. Sebagai negara yang mengklaim tempat lahir sekaligus leluhur sepak bola (meskipun beberapa literatur menyebut di China-lah sepak bola kali pertama dimainkan), Inggris berpikir pula untuk menguatkan kuku pengaruh sepak bolanya ke Wales.

Perlahan tapi pasti, sepak bola mampu menginvasi wilayah selatan Wales. Fenomena ini bisa dilacak dari berdirinya klub-klub profesional utama di Wales, dimulai dari Wrexham di utara pada 1872, lalu di selatan oleh Cardiff pada 1899 dan Swansea pada 1912. Saat berdirinya hingga 1969, Swansea City masih bernama Swansea Town. Perubahan nama klub tersebut mengiringi berubahnya status kota tempatnya berpijak dari town (kota kecil) menjadi city (kota raya).

Tentu prestasi untuk Swansea City bila klub termuda itu justru tampil sebagai yang pertama beraksi di Premier League. Apalagi jika dihitung sejak pendirian hingga bergabung di liga, sebenarnya Swansea terbilang cukup lambat. Klub yang juga berjuluk The Jack selain The Swan (si Angsa) ini bergabung ke liga pada 1921 atau sembilan tahun sejak pendiriannya.

Rentang waktu yang terbilang cukup lama antara berdirinya satu dan klub lain itu yang membuat perkembangan sepak bola di Wales berjalan lebih lamban dibandingkan di Skotlandia, apalagi Inggris. Liga nasional Wales terbilang sangat telat digulirkan. Apalagi kala itu sentimen primordial antara masyarakat di utara dan selatan juga masih tinggi. Yang di utara membanggakan sepak bola sebagai ‘’olahraga nasional’’, sedangkan yang di selatan memilih rugby.

Sejak berdirinya FAW pada 1876 liga amatir digulirkan, tetapi tidak menarik minat Wrexham sebagai klub tertua untuk mengikutinya. Justru Wrexham menyeberang mengikuti liga amatir gabungan di Inggris yang bergulir antara 1890-1911. Bagi Wrexham, lebih menguntungkan dan bergengsi apabila ikut liga di Inggris daripada di dalam negeri selain belum ada klub-klub Wales yang mampu menandinginya ketika itu. Selama dua musim pada 1894-1896, Wrexham mencoba mengikuti liga Wales dan terbukti mampu menjuarainya secara mudah.

Pada awal abad ke-20, Cardiff dan Swansea mengikuti jejak Wrexham bersaing di Inggris. Sepanjang abad ke-20, Cardiff merupakan satu-satunya klub asal Wales yang mampu unjuk gigi di Inggris. Ia mampu menggulingkan dominasi klub-klub Inggris untuk menjuarai Piala FA pada 1927 silam. Tiga tahun sebelumnya Cardiff tampil sebagai runner-up di Divisi Utama Liga Inggris.

Namun, pada 1980-an sebelum format baru Premier League digulirkan, giliran Swansea yang unjuk gigi dalam perhelatan liga Inggris. Pada akhir musim 1981-1982, Swansea bertengger di peringkat keenam Divisi Satu (saat itu kasta tertinggi) untuk yang kali pertama diikutinya dan dalam perjalanannya mampu menekuk klub-klub tenar seperti Manchester United, Liverpool, maupun Tottenham Hotspur.

Sukses tersebut tidak lepas dari polesan tangan dingin mendiang Harry Griffith dan John Toshack –mantan striker Liverpool, Cardiff City, dan timnas Wales. Bersama mereka, sejak 1978 setiap tahun Swansea selalu promosi dari semula di Divisi Empat ke Divisi Satu. Namun, lepas 1983 Swansea kembali terperosok ke kasta-kasta di bawahnya hingga pada 1986 terpuruk lagi di Divisi Empat.

Pada 1988, mereka naik lagi ke Divisi Tiga dan bertahan di sana hingga delapan tahun hingga musim 1995-1996 saat format baru liga mulai dikenalkan pada 1992 dan Divisi Tiga dikenal dengan League Two. Seperti diketahui, urutan kasta dalam liga Inggris saat ini adalah Premier League, lalu di bawahnya adalah Divisi Championship (Divisi Satu), League One (Divisi Dua), dan League Two (Divisi Tiga).

Frank Lampard juga pernah membela Swansea City ketika dipinjamkan oleh klubnya, West Ham United, pada musim 1995-1996.

Pada musim 1995-1996 itu, Swansea mendapatkan pinjaman pemain muda brilian dari West Ham, Frank Lampard (yang kini berkostum Chelsea dan gelandang timnas Inggris) terhitung sejak Oktober 1995. Musim mendatang, Swansea naik ke Premier League sedangkan West Ham terdegradasi ke Championship.

Lampard mengukir debutnya di Swansea pada 7 Oktober 1995 melawan Bradford City. Swansea menang 2-0. Total sembilan kali Lampard membela Swansea di pertandingan liga musim itu dan dua kali di turnamen perebutan piala. Dari total laga tersebut, Lampard menyumbang satu gol sebelum ditarik balik ke West Ham pada Januari 1996. Lepas 1996, Swansea kembali ke masa-masa sulit dan turun lagi ke Divisi Empat hingga 2001.

Setelah itu mereka terus berbenah dan merangkak lagi hingga mencapai League One pada musim 2005-2006. Di akhir musim 2007-2008, mereka promosi ke Championship dan bertahan di sana hingga memasuki musim 2010-2011. Pada akhir musim yang baru lewat, mereka berada di peringkat ketiga dan berhak mengikuti playoff  untuk tiket promosi ke Premier League. Di bawah kendali Manajer Brendan Rodgers, pada playoff  mereka menang agregat 3-1 atas Nottingham Forest di semifinal dan mengalahkan Reading 4-2 pada partai final di Stadion Wembley.

Di sisi lain, sejak Inggris mengenalkan format baru liganya pada 1992, pada 1990-an Wales juga menggulirkan sistem barunya berupa Liga Primer Wales. Tim-tim asal Wales yang berlaga di liga Inggris –seperti Swansea, Cardiff, Wrexham, dan Newport— menolak bergabung ke Liga Primer Wales. Meski demikian, mereka masih diizinkan berkompetisi di Piala Wales (Welsh Cup) dan, tentu saja, mendominasinya.

Bagi klub-klub terkemuka tersebut, mengikuti Piala Wales merupakan jalan tersisa untuk berlaga di kancah Eropa. Menjuarai piala itu memberinya tiket ke Liga Eropa (dulu Piala UEFA). Sebuah kesempatan yang nyaris mustahil bisa didapatkan dari mengikuti liga di Inggris. Prinsip mereka, demi prestise klub-klub itu bermain di liga Inggris, namun mencari jatah ke Eropa lewat Piala Wales.

Kondisi tersebut memunculkan kontroversi tajam. Pada 1995, FAW akhirnya memutuskan bahwa klub-klub asal Wales yang berlaga di liga Inggris dilarang mengikuti Piala Wales. Namun, memasuki 2000-an pelarangan itu dicabut.

Meskipun juara Premier League Wales berhak untuk lolos ke kualifikasi Liga Champions, FAW masih juga kesulitan menarik minat klub-klub Wales, hingga klub sekecil seperti Merthyr Tydfil (kini Merthyr Town). Mereka justru ikut memilih berlaga di liga Inggris demi gengsi. Maka, dari waktu ke waktu, klub-klub Wales pun semakin membawa sepak bolanya terintegrasi ke Inggris.