''Berciuman'' di antara amuk massa di Vancouver. RICHARD LAM / GETTY IMAGES

Publik dan media Kanada ramai menyebutnya Vancouver riot kiss (ciuman di kerusuhan Vancouver). Juga love among the ruins (asmara di antara remah-remah). Jika keduanya digabungkan, saya kira, mungkin lebih tepat disebut ‘’gelora asmara di tengah bara amuk massa’’.

Seperti diberitakan di situs The Sydney Morning Herald, Australia, pewarta foto freelance Richard Lam, yang bekerja untuk Getty Images, pada Rabu (15/6) malam mengabadikan momen-momen kerusuhan di Vancouver, Kanada. Fans klub hoki es setempat, Vancouver Canucks, mengamuk setelah timnya dikalahkan Boston Bruins dalam pertandingan final perebutan Piala Stanley. Mobil-mobil dibakar, toko-toko dirusak dan dijarah, hingga memaksa polisi setempat bertindak represif.

Nah, di tengah jalanan Vancouver yang membara oleh amarah fans yang dihalau polisi itu, tanpa disadari Lam menjepret sepasang muda-mudi bersimpuh di jalanan dengan pose ‘’berciuman’’. Sang pemuda tampak mencium si perempuan. Tidak diketahui pasti apakah ada unsur pemaksaan dari pemuda atau si pemudi memang juga menghendakinya.

Lam juga tidak sempat menanyai siapa pasangan itu. Selain nalurinya mengatakan agar sebisa mungkin menghindari kekerasan di tengah polisi dan fans yang marah, katanya kepada Ottawa Citizen, Lam juga baru menyadari apa yang didapatnya setelah seorang koleganya bilang, ‘’nice photo (foto yang bagus).’’ Ia pun bergegas lagi ke ruang editing dan baru melihat apa yang telah didapatnya itu.

Kepada Toronto Star, Lam mengatakan saat mengambil momen itu dia mengira pasangan tersebut adalah fans yang terluka. Namun, foto ini telah cukup untuk menghebohkan media Kanada dan menjadikan Lam ‘’buruan’’ untuk diwawancarai. Seturut sensasi, berbagai kontroversi pun bermunculan perihal momen di foto tersebut.

Majalah The Atlantic menulis penuturan seorang pengguna Twitter yang juga mem-posting foto bidikannya saat kerusuhan tersebut dalam angle lain. Ia mengatakan, sejatinya pasangan itu dikelilingi oleh beberapa lelaki lainnya. ‘’Tanpa konteks roman, foto tersebut bisa dibaca bahwa sekelompok pemuda berusaha mencari keuntungan dari seorang perempuan yang sedang butuh pertolongan,’’ katanya.

Di Twitter pula, seorang penulis olahraga mempertanyakan apakah perempuan di foto itu benar-benar sadar diri dan memang menghendaki dicium. Yang lain berpendapat foto ini sengaja di-setting agar menyerupai foto karya Alfred Eisenstaedt (dipublikasikan The Associated Press) yang menampilkan seorang pelaut AS  mencium seorang gadis perawat di Times Square, New York, pada 14 Agustus 1945 sebagai ekspresi kegembiraan menyambut pengumuman berakhirnya Perang Dunia II (foto kiri atas).

Yang lainnya membandingkan foto mesra antara kerumunan massa riuh di Vancouver tersebut dan foto pasangan berciuman di Paris pada 1950 oleh Robert Doisneau yang bertitel Kiss by the Hotel de Ville (foto kanan).

Apa pun yang dikatakan orang, Lam menyambutnya dengan gembira. Yang pasti, ujarnya menegaskan kepada Citizen, ‘’Saya tidak ingin dikatakan idealistis, melainkan hanya menjalankan pekerjaan saya.’’ Bagaimana pendapat Anda?