TIGA pekan penting meskipun belum bisa dibilang krusial. Mungkin penilaian itu tepat untuk menganalisis kekuatan Manchester United (MU) ketika mulai mengarungi musim Premier League 2011-2012. Dimulai pekan pertama pada 13 Agustus 2011 di kandang West Bromwich Albion, dalam dua minggu berikutnya MU harus meladeni Tottenham Hotspur dan Arsenal di Old Trafford.

Pada tiga pekan pertama musim depan tersebut setidaknya pencinta sepak bola di dunia, fans The Red Devils khususnya, bisa menyaksikan apakah kekuatan MU –lini tengah utamanya— benar-benar timpang seturut pensiunnya Paul Scholes akhir musim lalu.

PAUL SCHOLES. PHOTO: AFP/GETTY IMAGES

Sebuah tanya yang sejatinya juga kurang krusial mengingat musim lalu Scholes lebih banyak diturunkan sebagai pemain pengganti. Permainannya tidak segemilang musim-musim sebelumnya. Dari total 676 penampilan (150 gol) di segala ajang sejak membela tim senior MU pada 1993 namun baru mengukir debutnya di musim 1994-1995, musim lalu Scholes cuma turun 33 kali (1 gol) di semua event.

Selain kering gol, akurasi umpan dan speed-nya sudah banyak berkurang seiring bertambahnya usia. Ball possession-nya juga makin lemah. Pemain kelahiran Salford, 16 November 1974, itu banyak garuk-garuk kepala setelah melakukan pelanggaran kepada para pemain lawan.

Sepanjang kariernya di Premier League Scholes mengantongi 89 kartu kuning dan empat kartu merah. Maka, hingga akhir musim lalu, ia bersama Robbie Savage mencatatkan diri sebagai penerima kartu terbanyak ketiga sepanjang sejarah Premier League setelah Lee Bowyer (99 kartu kuning) dan Kevin Davies (92 kartu kuning). Kartu kuning dalam satu pertandingan tidak dihitung jika berubah menjadi kartu merah.

Sedangkan di Liga Champions, justru Scholes sebagai pemegang rekornya dengan 32 kartu kuning alias tiga kartu lebih banyak dibandingkan gelandang sekaligus kapten AC Milan Gennaro Gattuso.

Jumlah pelanggaran tersebut menjadi catatan tersendiri dalam lembaran karier Scholes yang memang dikenal memiliki tekling kasar meskipun, lagi-lagi, tidak bisa menjadi ukuran absolut dibandingkan dengan deretan bintang MU lainnya. Roy Keane misalnya. Mantan kapten The Red Devils itu juga memiliki tekling kasar, namun rekor kartu kuningnya lebih sedikit karena memang masanya membela MU lebih pendek dibandingkan Scholes.

Scholes dipuji banyak pemain dan pelatih di Eropa maupun dunia. Toh, catatan atas kebiasaannya melakukan tekling kasar tidak urung juga menjadi perhatian khusus Arsene Wenger. Scholes membantah mempraktikkan tekling kasar, tetapi Manajer Arsenal tersebut telanjur menjulukinya sebagai sisi gelap atas sosok bintang MU yang baru saja gantung sepatu itu. ‘’Saya menghormatinya sebagai pemain yang berkualitas, tetapi saya tidak suka hal-hal seperti itu yang ia lakukan di lapangan,’’ ujar Wenger kepada The Daily Telegraph, London, 20 Agustus 2010.

Selain itu, beberapa kolumnis dan pengamat sepak bola Inggris menyatakan, pada usia puncak performanya, Scholes kurang menunjukkan kinerja yang luar biasa di lini spesialisnya. Ia memang bisa disejajarkan dengan pemain-pemain besar lainnya yang pernah dimiliki MU seperti Denis Law, Bryan Robson, Roy Keane, Ryan Giggs, bahkan David Beckham sebelum meninggalkan Old Trafford.

Di sisi lain, dari sudut pandang sebagai inspirator serangan sekaligus penentu hasil akhir dalam sebuah pertandingan (bukan koleksi trofi), Scholes masih di bawah kinerja pemain-pemain legendaris seperti George Best, Bobby Charlton, maupun Eric Cantona. Bahkan Scholes kerap kali tampak gagap ketika dituntut sedikit berimprovisasi serta dalam kondisi di bawah tekanan.

Pada musim 2001-2002 misalnya. Ketika MU mendatangkan Juan Sebastian Veron, Sir Alex Ferguson mengadopsi formasi 4-4-1-1 agar Scholes dan bintang asal Argentina tersebut bisa diturunkan bareng. Dalam formasi itu, Scholes diposisikan laiknya striker gantung di belakang striker Ruud van Nistelrooy, sedangkan Roy Keane dan Veron berfungsi sebagai central midfielders.

Scholes cukup nyaman dengan formasi itu, namun pada saat laga-laga away di pentas Eropa ia tidak jalan diposisikan di central midfield bersama Veron ketika Keane difungsikan sebagai pemain jangkar. Padahal Ferguson, sang manajer, merasa perlu menerapkan formasi itu untuk menguatkan pertahanan di laga-laga away level Eropa, yang memberlakukan aturan gol agregat dan gol tandang, untuk memperbesar kans timnya.

Ketika sang manajer yang akrab disapa Fergie itu menyadari plus-minus formasi tersebut, pada musim 2002-2003 ia memutuskan mengembalikan Scholes ke posisi spesialisnya. Hasilnya luar biasa. Musim itu Scholes mencetak 20 gol di segala ajang yang menandai torehan gol tertinggi sepanjang kariernya, tetapi musim berikutnya turun menjadi 14 gol.

Pada final Piala FA 2005 melawan Arsenal yang harus diakhiri dengan adu penalti, eksekusi Scholes bisa diselamatkan Kiper Jens Lehmann dan MU pun kalah. Musim 2005-2006, ia mengalami gangguan penglihatan dengan penyebab yang tidak pasti. Saat itu cukup banyak yang berspekulasi bahwa karier Scholes segera berakhir, namun tidak terbukti.

Meskipun demikian, banyak pula yang beranggapan itulah saat tepat bagi Scholes untuk mundur karena sejatinya gangguan penglihatan itu tidak pernah bisa dipulihkan sepenuhnya. Jika tidak, Scholes bisa mundur satu hingga dua musim berikutnya. Namun, ia tidak menempuhnya.

Mungkin semua itu juga bukan kesalahan Scholes mengingat pada akhir musim 2009-2010 ia sudah mengajukan diri mundur dari MU, tetapi berniat bermain semusim lagi bersama klub lain sebelum gantung sepatu. Namun, Manajer MU Sir Alex Ferguson ketika itu memintanya terus bermain semusim lagi.

Karena Scholes menerimanya, mau tidak mau ia harus menjawab ‘’favoritisme’’ sang manajer dengan performa brilian di lapangan. Tetapi itu tidak kuasa diwujudkannya musim lalu. Bahkan bisa dikata ia kalah prima dibandingkan Giggs yang sama-sama uzur dan musim depan bahkan masih bermain untuk si ‘’Setan Merah’’.

Namun sejarah tidak menampik realitas peranan penting Scholes selama masih tercatat di skuad MU. Semua penta bergengsi yang diidam-idamkan klub di dunia ikut dikontribusikan kepada The Red Devils, termasuk ketika MU musim lalu menorehkan rekor spektakuler 19 kali juara liga menggulingkan catatan dominasi Liverpool dengan 18 kali juara. Maka, memajang nama Scholes dalam daftar para pemain legendaris MU kiranya sangat tepat.

Melabelinya sebagai mitos di Old Trafford, oh, oh tunggu dulu. Jika mitos itu dikaitkan dengan kesetiaan Scholes yang sepanjang kariernya hanya bermain untuk MU, mungkin bisa diterima. Ia pemain yang superloyal. Tidak banyak komentar yang berpotensi mengguncang kesolidan tim baik saat di lapangan maupun di luar. MU pun mengganjarnya setimpal selepas ia gantung sepatu dengan mempekerjakannya sebagai staf pelatih di klub tersebut.

Tetapi, berkaitan dengan performa individunya di lapangan, kaus mitos tersebut tampaknya masih kurang pas dikenakannya. Scholes menyadari itu. Ketika sejumlah pemain seperti Luka Modric (Tottenham), Samir Nasri (Arsenal), dan Wesley Sneijder (Inter Milan) dikait-kaitkan dengan skuad Old Trafford untuk musim mendatang meskipun sejauh ini belum juga ada titik terang, di situs resmi MU Scholes melontarkan pernyataan yang terbilang ‘’intelek sekaligus politis’’.

Ia mengatakan tidak butuh pengganti di MU, tetapi sangat meyakini bakal banyak pemain yang mampu menggantikannya. Scholes yakin Sir Alex –yang kini diupayakan mendapatkan gelar bangsawan ‘’Lord’’ oleh beberapa anggota parlemen dari Partai Buruh atas kontribusi dan prestasinya bagi persepakbolaan Inggris— tetap tahu yang terbaik dalam membangun tim demi kesuksesan MU pada musim-musim mendatang.

Menarik ditunggu bagaimana MU pasca-Scholes.

PEMAIN LEGENDARIS MU: Dennis Viollet (1950-1962), Duncan Edwards (1953-1958), Bobby Charlton (1956-1973), Denis Law (1962-1973), George Best (1963-1974), Bryan Robson (1981-1994), Mark Hughes (1983-1986 & 1988-1995), Eric Cantona (1992-1997), Peter Schmeichel (1991-1999), Roy Keane (1993-2005), Paul Scholes (1993-2011), Ryan Giggs (sejak 1990)