UNTUK AYAH: Cara Jermaine Jones merayakan golnya ke gawang Jamaika ketika rekan-rekan setim, Steve Cherundolo (6) dan Alejandro Bedoya, memeluknya. PHOTO: AFP / GETTY IMAGES

BEBERAPA kisah humanis mengiringi sukses timnas AS lolos ke semifinal Gold Cup CONCACAF 2011, Minggu (19/6) malam atau Senin (20/6) WIB usai mengalahkan The Reggae Boyz Jamaika 2-0 pada perempat final di Robert F. Kennedy Memorial Stadium, Washington DC.

Setelah deadlock di babak pertama, Jermaine Jones memecah kebuntuan dengan golnya empat menit memasuki babak kedua. Tendangan kerasnya dari luar petak terlarang gagal dihalau secara sempurna oleh bek Jamaika Jermaine Taylor. Bola melesat ke dalam jala gawang melintasi kiper Donovan Ricketts.

Untuk merayakan gol pada pertandingan yang bertepatan dengan peringatan Father’s Day (Hari Ayah) di AS ini, Jones memberikan salam hormat ketika rekan-rekan setim memeluknya. Untuk siapakah hormat itu? Tidak lain, buat ayahnya –seorang tentara AS yang ditugaskan di Frankfurt, Jerman.

‘’Ini (gol) hadiah kecil yang manis, perlambang hormat,’’ ujar Jones dalam bahasa Jerman yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh rekan setim, Steve Cherundolo, seperti dilansir situs saluran olahraga sebuah stasiun TV di Kanada. Kok bahasa Jerman?

Bisa dimaklumi mengingat Jones –yang di perempat final itu digantikan Maurice Edu pada menit ke-75— lahir dan tumbuh di Jerman. Ibunya perempuan Jerman. Pada awal 2009 ketika membela klub Bundesliga, Schalke, dia memutuskan memberikan keterampilan bermain bolanya untuk AS seturut darah sang ayah yang mengalir di tubuhnya. Padahal sebelumnya ia telah dipanggil Pelatih Timnas Jerman Joachim Loew (bertahan hingga kini) dan dimainkan dalam tiga laga persahabatan.

Saat memutuskan hijrah itu, Jones berdalih untuk menghindari ‘’sentimen rasis’’ di Jerman. Namun banyak yang meragukan alasannya itu mengingat di Timnas Jerman pada skuad Piala Dunia 2010 hingga kini juga terdapat beberapa pemain berkulit hitam. Jones pindah karena dinilai tidak cukup yakin bisa masuk skuad reguler timnas menyongsong Piala Dunia di Afsel lalu.

Apa pun yang terjadi, kini Jones telah memberikan kontribusinya untuk AS. Tidak kurang Pelatih AS Bob Bradley begitu memujinya, termasuk pada cara ia merayakan golnya ke gawang Jamaika itu. ‘’Jermaine memiliki stamina yang bagus. Pada momen-momen tertentu dia melesat dan mengancam gawang lawan. Sangat enak menontonnya.’’

Selebrasi hormat Jones memang bukan cara baru bagi pemain sepak bola untuk merayakan gol atau kemenangan. Banyak cara lain untuk menunjukkan rasa hormat dan cinta pemain kepada keluarganya di tengah tantangan berat di lapangan. Oleh karena itu, pelatih mana pun selayaknya menimbang makna penting atas hal-hal yang berkaitan dengan keluarga tersebut demi psikologi pemain pada saat menghadapi atau menjalani laga-laga penting.

Bradley termasuk pelatih yang mencoba memahami urgensi tersebut dan memetik hasilnya. Gelandang Clint Dempsey, pencetak gol kedua AS pada menit ke-80, dan bintang AS Landon Donovan bahkan tidak ikut berlatih di Washington sebelum laga melawan Jamaika tersebut. Keduanya minta izin absen latihan karena merasa harus menghadiri pernikahan saudara perempuan masing-masing: Dempsey ke Texas dan Donovan di California.

Bradley mengizinkannya. Apalagi Dempsey dan Donovan berkomitmen segera gabung tim seusai acara pernikahan saudara masing-masing. Mereka benar-benar memenuhi komitmen itu. Sabtu (18/6), dengan pesawat jam 23.00, kedua pemain itu menuju Washington. Dempsey mendarat pada Minggu dini hari pukul 02.00, sedangkan Donovan baru tiba pukul 07.30.

Sesampai di kamp, kedua pemain tersebut menemui Bradley. Sang pelatih menanyai kesiapan mereka. Hasilnya Dempsey masuk starter, sedangkan Donovan dicadangkan. Sebuah keputusan yang sangat berani oleh Bradley mengingat baru kali ini sejak 9 Juni 2007 Donovan dicadangkan di timnas. Melawan Jamaika, Donovan mendapatkan aplaus penonton saat dimasukkan menggantikan Alejandro Bedoya pada menit ke-65.

Baik Dempsey maupun Donovan mengapresiasi keputusan Bradley. ‘’Pertandingan yang sangat luar biasa,’’ ujar

Atas keputusannya sebelum laga krusial melawan Jamaika di perempat final Gold Cup kali ini, Bradley hanya berujar, ‘’Memahami mereka, memahami makna keluarga bagi mereka, kadang dalam mengambil keputusan Anda seharusnya tidak membebani mereka. Saya benar-benar memahami semua itu setelah berbicara dengan Landon dan Clint. Saya mengerti betapa berartinya hari-hari terakhir ini untuk mereka.’’

Duel Ideal Kontra Meksiko di Final

Dengan sukses tersebut, terbukalah kans AS bertemu juara bertahan Meksiko di partai final sesuai diprediksi sebelum turnamen ini bergulir. Namun, prediksi ini benar-benar terwujud jika pada Rabu (22/6) waktu setempat atau Kamis WIB mendatang, AS mampu menekuk Panama di semifinal dan Meksiko menumbangkan Honduras.

Di perempat final usai laga AS kontra Jamaika Minggu malam, Panama menumbangkan El Salvador melalui adu penalti 5-3 setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal plus perpanjangan waktu. Sehari sebelumnya, Honduras tampil mengejutkan menundukkan Kosta Rika 4-2 juga melalui drama adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 1-1. Sedangkan Meksiko menghentikan impian Guatemala 2-1.

Semifinal bakal memberikan tantangan khusus sekaligus serius untuk AS. Di perempat final mereka memang bisa mengalahkan Jamaika yang selalu menang pada penyisihan grup dan memuncaki Grup B. Namun, Panama telah memberikan ‘’pelajaran khusus’’ untuk Sam’s Army pada perhelatan Gold Cup 2011 ini. Pada 11 Juni lalu, di laga kedua Grup C, pencinta bola di dunia masih ingat betul betapa AS dikejutkan oleh kekalahan 1-2 oleh Panama.

Akankah di semifinal AS mampu melakukan revans? Selain dibebani misi balas dendam, Bradley kini juga dipaksa memeras otak seturut cedera yang menimpa salah satu pilarnya, Jozy Altidore. Sang striker ditarik keluar pada menit ke-12 pada laga melawan Jamaika tersebut. Belum diketahui pasti apakah ia bisa sembuh cepat atau harus mengucapkan selamat tinggal untuk laga tersisa di turnamen ini.