TIMNAS U-21 Spanyol lolos ke final Euro U-21? Layak. Bahkan sangat layak. Bukan semata karena tim Matador Muda yang ditopang para pemain pengakrab mata pemirsa sepak bola dunia –seperti Adrian Lopez, Juan Mata, Jeffren Suarez, Bojan Krkic, hingga Kiper David de Gea— memang diunggulkan pada turnamen dua tahunan yang dihelat di Denmark ini, tetapi juga karena mereka telah menunjukkan superioritasnya.

Pasti juara? Tunggu dulu. Banyak hal yang masih layak dicermati dari strategi Pelatih Luis Milla sebelum kontra Swiss di partai puncak, Sabtu (25/6) malam atau Minggu (26/6) dini hari WIB. Setidaknya itu jika menyaksikan duel semifinal Matador Muda kontra Belarusia lalu.

Statistik Sport Illustrated mencatat, sepanjang laga babak pertama para pemain Spanyol unggul telak dalam ball possession hingga 75 persen. Spanyol juga melesatkan 14 kali tendangan ke gawang lawan berbanding cuma tiga –hanya sekali on target—oleh para pemain Belarusia. Kiper Spanyol bisa berleha-leha tanpa melakukan penyelamatan, sedangkan penjaga gawang Belarusia dipaksa tiga kali berjibaku mengalau bola yang hendak menggetarkan jalanya.

Apa yang terjadi kemudian? Spanyol pun panik ketika Andrei Voronkov malah bisa lebih dulu membawa Belarusia unggul pada menit ke-38. Sejak gol ini, koordinasi permainan Spanyol justru kelihatan berkurang. Sebaliknya Belarusia tampak semakin percaya diri menerapkan strategi bertahan dengan mekanisme zone marking . Mereka tampaknya sadar bakal kalah kelas dibandingkan para pemain Spanyol –seperti Adrian  (gabung Atletico Madrid per bulan depan setelah klubnya musim lalu, Deportivo La Coruna, terdegradasi) maupun Jeffren (Barcelona, namun santer dikabarkan segera menuju AS Roma menyusul Bojan) yang bahkan telah masuk timnas senior— jika memakai man-to-man marking .

Memasuki babak kedua, Spanyol tampak mulai frustrasi menemukan celah. Hitungan beberapa menit saja siap membawa Belarusia ke final. Namun, Dewi Keberuntungan dari kerja keras datang juga untuk Spanyol ketika pada menit ke-89 Adrian mampu menyamakan skor hingga laga harus menempuh extra time. Spirit tempur Spanyol berkobar-kobar lagi hingga Jeffren memastikan kemenangan pada menit ke-113.

Spanyol Muda lolos ke final melawan Swiss –yang di semifinal mengalahkan Rep Chek 1-0 juga melalui extra time berkat gol Admir Mehmedi menit ke-114— di Stadion Aarhus. Para punggawa muda Iberia itu pun meretas jalan mengikuti seniornya sebagai juara Piala Eropa 2008 yang berikutnya juga menaiki podium juara Piala Dunia 2010.

ADRIAN LOPEZ: Striker Spanyol U-21 ini merupakan top scorer sementara turnamen Euro U-21 dengan 5 gol dan bisa menjadi ancaman serius untuk Swiss. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

Strategi ‘’Melawan Gaya”

Saat melawan Belarusia, punggawa muda Spanyol memang memeragakan sepak bola indah dengan strategi tiki-taka –permainan cepat dan umpan-umpan bola pendek— seperti para seniornya. Katakanlah, gaya Barcelona juga. Mereka memang kerap naik mengancam gawang lawan, namun kurang presisi. Hal yang membedakannya dengan timnas senior.

Jika timnas senior meneror namun tidak menghasilkan gol, lazim terjadi karena pertahanan dan kiper lawan memang tangguh seperti bisa disaksikan ketika menekuk Belanda di final Piala Dunia 2010. Gol lahir pada extra time saat Belanda menyisakan 10 pemain di lapangan karena seorang pemain telah dikartu merah akibat pelanggaran keras karena ‘’digelitik teror’’ permainan indah para pemain senior Spanyol.

Itulah yang belum ditunjukkan para pemain muda Spanyol saat melawan Belarusia. Sepanjang 20 menit babak kedua, tidak satu pun tendangan ke gawang lawan bisa dibilang membahayakan. Gelandang tidak cukup mampu membantu melakukan teror laiknya di timnas senior.

Maka, Milla memutuskan menarik bek Alvaro Dominguez dan memasukkan Bojan Krkic, sang striker muda Barcelona yang baru saja merampungkan proses hijrah ke AS Roma. Dua pemain sayap disuntikkan ke skuad, yaitu Jeffren Suarez dan Diego Capel menggantikan Ander Herrera dan Iker Muniain.

Keputusan ‘’bongkar pasang’’ di lapangan tidak berhenti di situ. Milla lantas menginstruksikan Javi Martinez yang nota bene gelandang pembagi bola turun sebagai center back. Keputusan yang berani dan tidak lazim dalam kamus strategi sepak bola Spanyol. Melawan arus!

Namun dengan keputusan itu dua pemain sayap baru lebih bisa bermanuver. Begitu pula Bojan. Bikin permainan tetap hidup meskipun berpola –meminjam julukan Koran Olahraga Spanyol As— sebuah Contra estilo alias melawan gaya. Toh, yang melawan gaya ini yang justru membuahkan hasil dengan lahirnya gol penyama lantas berlanjut ke gol penentu kemenangan di extra time.

Apakah contra estilo itu kembali dipakai Milla saat laga final melawan Swiss? Tampaknya kelewat bahaya bila itu diterapkan sejak menit-menit awal. Milla kiranya lebih suka kembali ke khittah gaya sepak bola Spanyol sembari menunggu strategi yang ditunjukkan di lapangan oleh skuad Swiss.

Menarik dinantikan apakah Spanyol bakal meraih trofi Euro U-21 ketiganya setelah menjuarainya pada 1986 dan edisi 1998 yang melahirkan para bintang seperti Cesc Fabregas, Iker Casillas, dan lain-lain. Milla memang memiliki amunisi-amunisi jitu untuk tujuan ini, seperti Adrian (top scorer sementara dengan lima gol) dan Mata yang dikenal piawai memberikan umpan-umpan jitu pencipta gol. Capel (24 kali membela timnas), Javi Martinez (23 kali), dan Bojan (21 kali) juga siap memberikan yang terbaik sebagai jalan masuk skuad senior ke Piala Dunia 2014 Brasil.

XHERDAN SHAQIRI: Winger Swiss yang rajin menebar teror ke gawang lawan. Spanyol layak mewaspadai pemain ini saat final Euro U-21 di Stadion Aarhus, Denmark, Sabtu (25/6) malam.

Mehmedi & Shaqiri, Tumpuan Swiss

Tetapi, status unggulan sebaiknya tidak membuat Spanyol jumawa. Dari analisis permainan di semifinal lalu, Swiss yang dipoles Pierluigi Tami terbilang tim yang cukup solid dalam bertahan, pintar memainkan ritme di lini tengah, dan tidak jarang menyengat dengan tendangan-tendangan jarak jauh ke gawang lawan. Namun, pada laga final nanti, Tami dipusingkan oleh cedera otot paha bek tangguh Francois Affolter dan dipastikan absen. Kembalinya Granit Xhaka dari hukuman menjadi kabar bagus untuk Tami menyongsong final perdana Swiss dalam lima kali partisipasinya di turnamen Euro U-21 ini.

Tentu Tami masih berharap pada manuver-manuver brilian sang striker Admir Mehmedi yang telah mengemas tiga gol di turnamen ini, termasuk gol penentu kemenangan di semifinal melawan Rep Chek. Ia berada pada deretan kedua top scorer di bawah Adrian (Spanyol) dengan torehan lima gol.

Selain itu, Tami juga masih bertumpu pada gebrakan-gebrakan dari sayap melalui Xherdan Shaqiri. Statistik pemain sayap ini pada turnamen Euro U-21 kali ini adalah melesakkan 12 kali tendangan ke gawang (terbanyak di antara pemain tim mana pun pada putaran final Euro U-21 kali ini) meskipun tidak on target. Pergerakannya juga terbilang licin. Tidak mengherankan apabila ia bersama Javi Martinez (Spanyol) masuk dalam daftar pemain yang paling sering dikasari lawan sepanjang Piala Eropa ini.

Apa pun yang terjadi di final nanti, tim juara pasti bersukacita dengan trofi di angkat tinggi-tinggi di atas kepala. Namun, yang kalah juga tidak sepantasnya kelewat dibebat duka rana karena juara dan runner-up di turnamen ini otomatis mendapatkan jatah berlaga di cabang sepak bola Olimpiade 2012 London.

PERKIRAAN PEMAIN

SWISS (4-4-2): Sommer; Koch, Rossini, Klose, Berardi; Lustenberger, Frei, Shaqiri, Xhaki; Emeghara, Mehmedi

SPANYOL (4-3-3): De Gea; Montoya, Botia, Dominguez, Didac; Javi Martinez, Ander Herrera, Thiago; Mata, Adrian, Jeffren