RAJA CONCACAF: Para pemain Meksiko bersukacita dengan trofi Gold Cup setelah pada laga final mengalahkan AS 4-2 di Rose Bowl Stadium, Pasadena, California, Sabtu (25/6) malam atau Minggu (26/6) pagi WIB. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

PERHELATAN Gold Cup (Piala Emas) 2011 purna. Sabtu (25/6) malam atau Minggu (26/6) pagi WIB, sekira 93.420 pasang mata di Stadion Rose Bowl Pasadena, California –terbanyak sepanjang perhelatan Gold Cup kali ini meskipun mayoritas adalah fans Meksiko— menjadi penyaksi dominasi timnas El Tri pada ajang dua tahunan ini.

Tertinggal dua bola lewat gol Michael Bradley (menit ke-8) dan Landon Donovan (23’), Meksiko sukses meng-kick balik tuan rumah Amerika Serikat (AS) dengan dua gol Pablo Barrera (29’, 50’) dan masing-masing sebiji dari Andres Guardado (36’) serta Giovanni dos Santos (76’). Meksiko meraih trofi Gold Cup keenam dalam 10 kali pergelaran sejak 1991. Gagal menyamai torehan rekor El Tri, catatan perolehan penta AS pun tertahan di angka empat.

Apa makna Piala Emas keenam ini untuk Meksiko? Apa pula pesan yang didapatkan AS setelah upaya menyamai rekor rival utamanya itu justru terkubur di rumah sendiri?

MEXICO & CHICHARITO: Fans Meksiko sebelum memasuki Rose Bowl Stadium, Pasadena, jelang laga final AS kontra Meksiko, Sabtu (25/6) malam. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

Kian Mantap Menatap Brasil

Selain masih membuktikan dominasinya dengan tidak pernah kalah dalam seluruh laga, menjuarai Gold Cup ini memberi Meksiko hak untuk mewakili Zona Amerika Tengah, Utara, dan Karibia (CONCACAF) ke perhelatan Piala Konfederasi di Brasil tahun 2013 untuk menguji kelaikan venues yang bakal dijadikan tuan rumah di Piala Dunia setahun berikutnya. Juara Gold Cup tidak otomatis mengantarkan Meksiko lolos otomatis ke putaran final Piala Dunia 2014 Brasil, melainkan masih harus melalui kualifikasi.

Menjuarai Gold Cup 2011 semakin memarakkan Meksiko berpesta. Saat timnas senior meraih trofi ini, di rumah sendiri Meksiko menghelat Kejuaraan Piala Dunia U-17 dan sejauh ini timnya lolos ke putaran kedua dengan menjuarai Grup A (9 poin) dari tiga kali kemenangan atas Korea Utara, Belanda, dan Kongo. Sedangkan timnas perempuannya telah bertolak ke Jerman mengikuti Kejuaraan Dunia Sepak Bola Perempuan (FIFA Women’s World Cup) 2011 di Jerman yang mulai bergulir sejak Minggu (26/6) malam hingga 17 Juli mendatang. Di kejuaraan ini, tim perempuan Meksiko berada di Grup B bersama Jepang, Selandia Baru, dan Inggris.

Per 1 Juli 2011, Meksiko juga berpartisipasi sebagai (langganan) undangan Copa America, kejuaraan untuk negara-negara Amerika Selatan (CONMEBOL), di Argentina. Meksiko tergabung di Grup C bersama Cile, Peru, dan Uruguay. Menimbang timnas senior telah terkuras energinya di Gold Cup, maka untuk Copa America 2011 sejak jauh hari Meksiko mengumumkan mengirimkan skuad U-22.

MASIH BERPRESTASI: Giovanni dos Santos dan trofi Gold Cup usai mengalahkan timnas AS di partai final Gold Cup 2011. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

Chicharito dan Kegamangan Dos Santos

Gold Cup 2011 menahbiskan lahirnya bintang baru, Javier ‘’Chicharito’’ Hernandez. Setelah membelalakkan mata penggila bola dunia dengan 20 gol pada musim pertamanya di Manchester United lalu, pada Gold Cup 2011 Chicharito tampil sebagai top scorer dengan tujuh gol. Pengalaman di timnas Meksiko pada putaran final Piala Dunia 2010 Afsel dan di MU dipertajam Chicharito pada Gold Cup kali ini dan diharapkan bintangnya semakin terang saat kualifikasi Piala Dunia Zona CONCACAF, Piala Konfederasi 2013, serta mampu membawa Meksiko ke putaran final Piala Dunia 2014 Brasil.

Pablo Barrera dan Andres Guardado juga masih bisa menjadi andalan. Begitu pula Giovanni dos Santos. Namun, khusus untuk Dos Santos, meskipun ia bermain gemilang saat Gold Cup 2009 dan dinobatkan sebagai man of the match  di partai final dengan golnya dinobatkan sebagai yang terbaik selama perhelatan Gold Cup 2011, ia masih butuh tantangan tingkat tinggi dalam persaingan di klubnya dan di liga-liga elite Eropa.

Meskipun cemerlang di dua edisi Gold Cup dan di putaran final Piala Dunia 2010 lalu, tiga tahun terakhir karier internasional Dos Santos sempat dibilang nyaris sirna akibat tidak mendapatkan tempat reguler di klubnya usai meninggalkan Barcelona ke Tottenham Hotspur pada akhir musim 2007-2008 silam senilai 6 juta poundsterling. Pada musim terakhirnya itu, ia mencetak hat-trick di pertandingan terakhirnya bersama Barca dari 38 kali bermain semusim di segala ajang.

Sayang, bintangnya muram di Spurs. Dari total tujuh laga awal Premier League musim 2008-2009, Dos Santos diturunkan enam kali. Namun, dari jumlah itu Spurs hanya sekali menang, lima kali kalah, dan sekali seri. Ia lantas tidak masuk starter, bahkan dihilangkan dari daftar pemain yang siap diturunkan. Hanya sesekali Dos Santos dipakai Spurs untuk laga-laga Eropa, Piala FA, dan Piala Carling sebelum akhirnya dipinjamkan ke Ipswich Town.

Di Ipswich, ia bermain cemerlang, menjadi starter enam kali dari total delapan laga awal klub itu. Bahkan Dos Santos mencetak empat gol. Ia pun ditarik lagi ke Spurs, tetapi pada Januari 2010 dipinjamkan ke Galatasaray dengan opsi jika pada akhir musim klub Turki itu merasa cocok, maka Dos Santos bisa dibeli. Namun, ia tidak cemerlang di Galatasaray. Tak satu gol pun dicetaknya. Maka, Galatasaray memutuskan tidak mengikatnya permanen.

Dos Santos kembali ke Spurs dan hanya beberapa kali diturunkan sebelum Januari 2011, lagi-lagi, dipinjamkan ke klub lain. Kali ini ke Racing Santander. Di klub Spanyol ini, ia mencatat karier profesional tersukses dengan lima gol dan tiga assists dari 16 pertandingan klub itu, padahal Dos Santos diturunkan hanya tujuh kali dengan enam kali sebagai pemain pengganti. Kontribusi Dos Santos membuat klub yang sempat diprediksi terdegradasi itu pada akhir musim terselamatkan. Santander menduduki peringkat ke-12 La Liga.

Kini ia kembali lagi ke Spurs. Akankah musim depan Manajer Spurs Harry Redknapp memberinya kepercayaan bermain dengan skuad reguler?

Layak ditunggu. Usia Dos Santos baru 22 tahun dan masih memiliki banyak kesempatan. Jika Spurs tidak memakainya, banyak klub menghendakinya mengingat kemampuan pemain ini beroperasi di berbagai posisi: gelandang serang, striker gantung, atau pemain sayap. Spurs saat ini memang memiliki para pemain untuk posisi itu, seperti Modric, Van Der Vaart, Lennon, maupun Bale. Mungkinkah ia dilepas ke Sevilla (Spanyol) yang sempat mengatakan tertarik membawanya untuk mengarungi musim depan?

Di lini tengah dan depan, timnas Meksiko memiliki banyak bintang untuk tantangan kompetisi regional dan global ke depan. Jika harus ada yang ditimbang, tidak lain di lini belakang. Pada saat final Gold Cup 2011 melawan AS, mereka begitu kentara kedodoran bila harus berebut bola-bola atas serta kedodoran apabila mendapatkan serangan bertubi-tubi. Kapten sekaligus central defender Rafael Marquez (kini membela New York Red Bulls—klub anggota Liga Sepak Bola Utama Amerika Serikat/MLS) tidak segemilang seperti saat masih berkostum Barcelona.

KEGEMBIRAAN SESAAT: Ekspresi Michael Bradley (kiri) dan Freddy Adu usai AS mencetak gol pertama pada final Gold Cup 2011 di Rose Bowl, Pasadena, Minggu (25/6) malam. Sempat memimpin dua gol, AS dihantam balik Meksiko dengan empat gol. PHOTO: GETTY IMAGES

Perombakan Timnas AS

Hasil Gold Cup 2011 akan menentukan nasib Pelatih Bob Bradley. Sebenarnya, lepas putaran final Piala Dunia 2010, banyak pihak menghendaki ayah Michael Bradley –pencetak gol pertama AS saat final lawan Meksiko di Rose Bowl itu—ini diberhentikan. Namun, otoritas sepak bola AS mempertahankannya.

Pada Gold Cup 2011, manuver Bradley juga mengundang kontroversi. Ia memanggil Freddy Adu, 22 tahun, yang sudah dua tahun tidak masuk skuad timnas. Ia juga memilih mencadangkan seorang bintang seperti Landon Donovan untuk laga-laga penyisihan grup. Kecaman atas keputusan itu menguat ketika laga kedua penyisihan grup (11 Juni) AS takluk 1-2 oleh Panama dan membuat kesempatannya lolos ke fase selanjutnya di tubir jurang. Namun, kecaman itu sirna setelah kepastian lolos didapat. Di semifinal AS sukses revans pada Panama 1-0 dengan peran penting Donovan serta Adu sebagai pengganti atas lahirnya gol Clint Dempsey.

Di final, di luar dugaan banyak orang, Bradley memasang Donovan dan Adu sejak awal. Adu bermain gemilang layaknya di semifinal ketika diturunkan sebagai pengganti. Si anak hilang yang telah kembali itulah yang melepaskan sepak pojok matang untuk ditanduk Bradley Muda menjadi gol pada menit ke-8. Assists  Adu juga kerap membahayakan.

Begitu pula dengan Donovan yang bermain brilian. Saat ia mencetak gol kedua AS di Rose Bowl, ingatan orang tertuju ke putaran final Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang ketika AS dengan Donovan muda –kala itu masih 20 tahun—menumbangkan Meksiko  2-0. Sayang, keunggulan di final Gold Cup 2011 tidak bisa dipertahankan dan AS pun kalah.

AS tidak lagi punya alasan atas kekalahan ini. Tim yang diturunkan adalah timnas senior utama bermaterikan para pemain terbaik yang dimiliki The Yanks saat ini meskipun  minus Onyewu dan Jozy Altidore yang cedera. Tim ini juga tidak seperti ketika pertandingan final Gold Cup 2009 ketika AS bisa berdalih bahwa kekalahan atas Meksiko merupakan ‘’pelajaran’’ mengingat saat itu yang diturunkan adalah timnas U-23.

Strategi Bradley mencadangkan Donovan yang kurang fit pada awal turnamen ini plus membawa kembali Adu ke skuad timnas memang tidak keliru. Strategi terus menyerang meskipun telah unggul dua gol di laga final itu juga tidak sepenuhnya bisa disalahkan karena psikologisnya publik AS tidak suka sepak bola bertahan. Skor banyak lebih disukai daripada kering gol.

Namun, satu hal pasti yang tidak mereka sukai adalah kekalahan yang dinilai bisa memengaruhi kampanye prestasi ke depan, khususnya menuju Piala Dunia 2014 Brasil. Untuk itu, kiranya Bradley harus menebusnya. Bradley pun hanya menghitung jam demi jam menuju hari untuk melepaskan jabatannya sebagai head coach.