TEKANAN TINGGI: Pelatih Argentina Sergio Batista menghadapi tekanan tinggi setelah timnya ditahan imbang oleh Bolivia, sementara pada laga lain di Grup A Copa America 2011 Kolombia mampu mengalahkan Kosta Rika. Argentina bakal jumpa Kolombia di laga kedua. PHOTO: CA2011

Kolombia 1-0 Kosta Rika. Argentina 1-1 Bolivia. Grup A Copa America 2011 telah merampungkan rangkaian laga pertamanya. Kolombia di pucuk klasemen sementara dengan 3 poin, tetapi sejauh ini sejatinya yang paling beruntung adalah Bolivia. Yang paling merugi, tentu saja, Kosta Rika.

Banyak orang mafhum laga pertama di sebuah turnamen lazim merupakan ‘’penyesuaian’’. Namun, untuk Argentina (peringkat 10 dunia pada ranking terbaru FIFA) yang berlaku sebagai tuan rumah dan bersemat kandidat juara, serta disokong para pemain top di planet bumi ini, seri melawan tim sekelas Bolivia (93 dunia) jelas bukan yang didambakan.

Kolombia (54 dunia) memang layak bersyukur dengan kemenangan pada duel perdana di Grup A ini. Tetapi, seharusnya mereka mampu menambang lebih dari satu gol selain yang disarangkan Adrian Ramos pada menit ke-44 dalam pertandingan di Estadio 23 de Agosto, San Salvador de Jujuy, Minggu (3/7) dini hari WIB. Bukan semata karena di turnamen ini Kosta Rika (55 dunia) turun dengan mayoritas pemain muda, tetapi pada laga itu pula tim undangan dari CONCACAF –pengganti Jepang yang mundur menyusul bencana tsunami pada Maret lalu— bermain dengan 10 orang sejak menit ke-27 seturut kartu merah langsung untuk Randall Brenes.

Seandainya Kolombia mampu mencetak lebih dari satu gol –katakanlah dua, tiga, dan seterusnya— ke gawang Kosta Rika, maka skuad besutan Hernan Dario Gomez ini bisa sedikit lebih tenang menatap dua laga tersisa di Grup A melawan Argentina maupun Bolivia. Kalah pada salah satu dari dua laga itu, bahkan keduanya kalah pun Kolombia masih bisa berharap lolos ke perempat final dengan status peringkat ketiga terbaik.

Seperti diketahui, pada Copa America 2011 ini sebanyak 12 tim kontestan dibagi menjadi tiga grup dengan masing-masing terdiri atas empat tim. Juara dan runners-up masing-masing grup pada klasemen akhir plus dua peringkat ketiga terbaik lolos ke perempat final.

Hernan Dario Gomez menyadari urgensi mencetak banyak gol itu, khususnya setelah pengusiran Brenes dari lapangan oleh Wasit Enrique Osses dari Cile. Pada menit ke-33, ia menarik keluar gelandang Abel Aguillar dan memasukkan Hugo Rodallega yang nota bene seorang striker untuk mempertajam lini serang. Skema main 4-1-4-1 pun langsung berubah menjadi 4-4-2 dengan kencenderungan menyorong Rodallega, yang bermain di Inggris bersama Wigan Athletic, sebagai striker gantung. Serangan Kolombia makin gencar dan hasilnya dipetik jelang pengujung babak pertama lewat gol Ramos.

Memasuki babak kedua Kolombia semakin menekan, namun tambahan gol tidak kunjung datang. Dua puluh menit berjalan, gol tambahan belum juga lahir. Gomez perlu menyuntikkan darah segar dengan menarik Dayro Moreno pada menit ke-69 untuk memberi kesempatan Teofilo Gutierrez –striker diganti striker. Menit ke-77, giliran Radamel Falcao Garcia digantikan Elkin Soto, juga striker untuk striker. Namun, hingga laga usai, skor 1-0 tidak berubah.

Kegagalan Kolombia menambah gol juga tidak lepas dari antisipasi jitu Pelatih Kosta Rika Ricardo La Volpe. Formasi 4-4-2 langsung diubah menjadi 3-5-1 dengan menguatkan lini tengah setelah Brenes diusir dari lapangan. Memasuki babak kedua Joel Campbell digantikan sesama striker, Cesar Elizondo. Pemain pengganti ini dibiarkan berkelana di lini depan sendirian plus dibebani tugas mencari bola dari lini tengah.

Menit ke-71, dua menit usai Kolombia mengganti Moreno dengan Gutierrez (striker untuk striker), La Volpe mengimbanginya dengan menarik gelandang serang Diego Madrigal untuk striker Josue Martinez, namun tetap difungsikan sebagai gelandang yang siap menerkam bila ada kesempatan melancarkan counter-attack. Menit ke-73, La Volpe kembali menyuntikkan darah segar di lini tengah dengan memasukkan Jose Cubero untuk David Guzman. Perang lini tengah pun imbang, sehingga membuat para pemain Kolombia sulit bermanuver menciptakan peluang lempang menambah gol.

Menegangkan di Laga Kedua

MESSI-AGUERO: Dua bintang ini berperan vital di skuad Argentina polesan Sergio Batista. Namun, sang pelatih masih dituntut berpikir keras menghasilkan racikan jitu di antara segudang bintang yang dimilikinya untuk laga kedua melawan Kolombia. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

Meski sama-sama ‘’merugi’’, Kolombia jelas lebih beruntung dibandingkan tuan rumah Argentina. Kerugian skuad besutan Sergio Batista ini mungkin akan lebih dalam seandainya tidak lahir gol penyama skor oleh pemain pengganti Sergio ‘’Kun’’ Aguero pada menit ke-75. Bolivia sempat memimpin melalui gol sontekan tumit Edivaldo Rojas memanfaatkan sepak pojok pada menit ke-47 pada laga usai upacara pembukaan di Ciudad de La Plata, Sabtu (2/7) pagi WIB.

Dengan hasil ini, maka jalan teraman bagi Argentina adalah memenangi dua laga sisa di Grup A. Tetapi, sejatinya yang sangat menegangkan sekaligus menentukan harus dihadapi Argentina pada laga kedua menghadapi Kolombia di Santa Fe, Kamis 7 Juli 2011 (07.45 WIB).

Menilik pertandingan kontra Kosta Rika, oke-lah jika ada penilaian bahwa lini depan Kolombia kurang tajam. Namun, Argentina seharusnya juga tidak menampik fakta bahwa lini belakang Kolombia merupakan salah satu yang paling solid di Amerika Latin pada Kualifikasi Piala Dunia 2010 meskipun mereka tidak lolos ke Afrika Selatan. Skuad di kualifikasi itu nyaris tidak berubah dengan yang diturunkan di Copa America kali ini.

Jika pada laga kedua itu Argentina tidak bisa menang, sementara keesokan harinya (Jumat 8 Juli, 05.15 WIB) Bolivia mampu mengalahkan Kosta Rika di San Salvador de Jujuy, bisa dibayangkan betapa tekanan semakin menggunung di pundak skuad Batista. Bagi Kolombia, hasil seri di laga kedua melawan tuan rumah tentu tidak buruk, apalagi bila Bolivia benar-benar mampu menekuk Kosta Rika. Kolombia dan Bolivia akan sama-sama mengemas 4 poin, sehingga saat mereka sua pada laga terakhir Grup A di Santa Fe (Senin 11 Juli, 02.00 WIB) tinggal memainkan ritme yang bisa saja defensif kontra defensif, namun tidak harus ‘’main mata’’.

Jika skenario itu yang terjadi, maka Argentina harus menambang gol sebanyak mungkin saat melawan Kosta Rika di Cordoba pada Selasa 12 Juli (07.45 WIB) untuk menghindari posisi ketiga pada klasemen Grup A. Mengapa? Tidak lain, andai Argentina lolos dengan predikat salah satu dari dua peringkat ketiga terbaik, format kompetisi yang berlaku sudah akan mempertemukannya dengan Brasil di partai final. Katakanlah, akan terjadi final dini dengan asumsi Brasil merajai Grup B dan tampil sebagai juara grup pada klasemen akhir.

ADRIAN RAMOS: Ekspresi penentu kemenangan Kolombia ke gawang Kosta Rika. PHOTO: STR-AFP-GETTY IMAGES

Oleh karena itu, laga kedua melawan Kolombia benar-benar menentukan langkah berikutnya bagi Argentina untuk mewujudkan prediksi favorit sebagai kandidat juara Copa America 2011 di rumah sendiri. Laga melawan Bolivia telah memberikan Batista masukan penting untuk mengoptimalkan segudang pemain bintangnya menjadi sebuah tim yang padu di lapangan –bukan mengesankan saling berlomba unjuk kemampuan individu agar menjadi ‘’pahlawan’’ seperti terlihat pada laga perdana tersebut.

Bagaimana seharusnya Messi? Apakah kiranya pada laga kedua itu Ezequiel Lavezzi tidak perlu diturunkan sebagai starter, bahkan tidak sama sekali? Akankah Aguero dipasang sejak kick-off? Perlukah Angel Di Maria dan Esteban Cambiasso dimainkan bareng sejak menit awal tanpa harus saling mengganti sebagaimana di laga pertama? Meski bermain cukup brilian pada laga pertama, namun karena blunder tidak mampu mengontrol dengan baik sontekan tumit Rojas hingga berbuah gol untuk Bolivia, mungkinkan Batista berani berimprovisasi dengan tidak memasang Ever Banega sejak awal di laga kedua melawan Kolombia untuk memberi tempat Fernando Gago?

Menarik ditunggu racikan apa yang bakal dipamerkan Batista, sang central midfielder yang andil sukses mempersembahkan trofi Piala Dunia 1986 bersama Diego Maradona dkk itu. Namun, kelewat percaya diri justru bisa menjadi bumerang.

Saat melawan Kolombia, Argentina mungkin sekali masih di atas angin alias diunggulkan. Di sisi lain, psikologi yang jamak berlaku, tim yang diposisikan sebagai underdog justru akan bertempur habis-habisan apabila menghadapi tim di atas kelasnya. Bolivia sudah menunjukkannya pada laga pembuka tirai Copa America 2011 di Ciudad de La Plata. Sebelum laga yang berakhir 1-1 itu, kubu Bolivia mengatakan, laga di Copa kali ini tidak ada kaitannya dengan sukses spektakuler mereka di kandang sendiri menggebuk Argentina (ketika masih dipoles Diego Maradona) 6-1 pada Kualifikasi Piala Dunia 2010 lalu.

Sukses itu, kata mereka, cuma coretan statistik. Toh, di Ciudad de La Plata, disaksikan langsung pula oleh Presiden Bolivia Evo Morales, anak asuh Gustavo Quinteros berhasil menghidupkan lagi spirit tempur itu dengan mematahkan favoritisme kepada Argentina. Sang tuan rumah kini dipaksa memeras otak untuk laga-laga selanjutnya melawan Kolombia dan Kosta Rika.

Saat ini Kolombia mungkin berpikiran serupa. Menggunduli Argentina 5-0 di kandang sendiri yang dikenal angker, Estadio Monumental Buenos Aires, saat Kualifikasi Piala Dunia 1994 silam merupakan catatan statistik semata. Namun, tidak bisa dibantah spirit juang itu bakal kembali digelorakan oleh publik dan media Kolombia ketika dua negara berjibaku pada laga kedua Copa America ini di Santa Fe, 7 Juli WIB.

Pada awal 1990-an, Argentina merupakan tim terkuat di Amerika Selatan: finalis Piala Dunia 1990, juara Copa America 1991 dan 1993. Rekor mereka fantastik. Tidak terkalahkan dalam 33 laga secara beruntun sebelum diakhiri oleh Carlos Valderrama dkk saat Tango menjalani laga tandang ke Bogota pada Agustus 1993. Argentina kalah 1-2.

Almanak menunjukkan 5 September 1993. Giliran Kolombia melakoni laga ke Estadio Monumental, yang juga menjadi venue partai final Copa America 2011 ini pada 24 Juli (25 Juli WIB). Kala itu Argentina begitu percaya diri bakal mampu revans meskipun dalam tekanan hebat. Seri atau kalah, Argentina tidak akan lolos otomatis ke putaran final Piala Dunia 1994 di AS melainkan harus melalui playoff.

Bola bergulir. Tekanan membuat para pemain Argentina begitu kikuk di lapangan stadion sendiri yang dikenal ‘’sakral’’ itu. Valderrama dkk seperti  Faustino Asprilla, Freddy Rincon, dan Adolfo Valencia tampil lepas, bahkan sangat sporadis. Hasilnya, di luar prediksi, di kandang sendiri Diego Simeone, Gabriel Batistuta, dkk di skuad Argentina yang dipoles Alfio Basile takluk 0-5 kepada skuad Kolombia polesan Francisco Maturana lewat gol-gol Rincon (41’, 62’), Asprilla (49’, 64’), dan Valencia (84’).

Oleh karena itu, seri, apalagi kalah, saat melawan Kolombia pada laga kedua Grup A Copa America 2011 ini bakal membuat jalan Argentina menuju partai puncak di Monumental kian terjal. Sergio Batista dituntut mampu meracik strategi jitu untuk meredam tidak hanya teknik, melainkan juga spirit tempur para pemain Kolombia yang diilhami sukses 1993 silam.

Begitu besar dampak psikologis kemenangan itu bagi rakyat Kolombia, kepada kritikus sastra Kolombia Profesor Erna Von der Walde di University of Los Andes, sampai-sampai peraih Nobel Sastra Gabriel Garcia Marquez berujar, ‘’Pada abad ini (abad ke-20), hanya tiga peristiwa besar yang terjadi di Kolombia: meletusnya kekerasan politik 1948, penerbitan 100 Years of Solitude pada 1967, serta kekalahan 0-5 Argentina oleh timnas Kolombia pada 1993.’’ (Marcelo Mora y Araujo, Sports Illustrated, 1 Juli 2011).

Jadi, bersiaplah Argentina menghadapi perlawanan Kolombia.

DATA PERTANDINGAN GRUP A

Minggu, 3 Juli 2011

Kolombia 1-0 Kosta Rika (Estadio 23 de Agosto, San Salvador de Jujuy)

Pencetak Gol: Adrian Ramos (44’)

PHOTO: AP

KOLOMBIA: 12-Luis Martinez, 18-Camilo Zuniga, 14-Luis Perea, 3-Mario Yepes, 7-Pablo Armero, 4-Gustavo Bolivar, 8-Abel Aguilar (11-Hugo Rodallega, 33′), 13-Freddy Guarin, 17-Dayro Moreno (19-Teofilo Gutierrez, 69’), 20-Adrian Ramos, 9-Falcao Garcia (16-Elkin Soto, 77’). Kartu Kuning: Freddy Guarin (52’), Camilo Zuniga (54’), Gustavo Bolivar (71’)

PHOTO: AP

KOSTA RIKA: 18-Leonel Moreira, 3-Johnny Acosta, 19-Oscar Duarte, 2-Francisco Calvo, 20-Pedro Leal, 4-Jose Salvatierra, 6-Heiner Mora, 8-David Guzman (22-Jose Cubero, 73’), 11-Diego Madrigal (17-Josue Martinez, 71’), 10-Randall Brenes, 12-Joel Campbell (21-Cesar Elizondo, 46’). Kartu Kuning: Diego Madrigal (15’), David Guzmán (20’), Francisco Calvo (23’). Kartu Merah: Randall Brenes (27’)

—————————————-

Sabtu, 2 Juli 2011

Argentina 1-1 Bolivia (Estadio Unico Ciudad de La Plata)

Pencetak Gol: Edivaldo Rojas-Bolivia (47′), Sergio Aguero-Argentina (75′)

PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

ARGENTINA: 23-Sergio Romero, 8-Javier Zanetti, 4-Nicolas Burdisso, 6-Gabriel Milito, 17-Marcos Rojo, 14-Javier Mascherano, 5-Esteban Cambiasso (Angel Di Maria, 46′), 19-Ever Banega, 11-Carlos Tevez,21-Ezequiel Lavezzi (Sergio Aguero, 70′), 10-Lionel Messi. Kartu Kuning: Carlos Tevez (37’), Ezequiel Lavezzi (54’)

PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

BOLIVIA: 1-Carlos Arias, 4-Lorgio Alvarez, 3-Luis Gutierrez, 5-Ronald Rivero,16-Ronald Raldes, 6-Walter Flores, 15-Jaime Robles, 21-Jhasmany Campos (Juan Carlos Arce, 79’), 10-Joselito Vaca (Jose Chavez, 63’), 9-Marcelo Moreno, 7-Edivaldo Rojas (Rudy Cardozo, 89’). Kartu Kuning: Walter Flores (34’), Luis Gutierrez (38’), Jose Chavez (73’), Ronald Rivero (87’)

—————————————-

KLASEMEN SEMENTARA GRUP A

(main, menang, seri, kalah, gol memasukkan-kemasukan, poin)

1. Kolombia          1   1   0   0   1-0   3

2. Argentina         1    0   1  0   1-1   1

3. Bolivia               1    0   1  0   1-1   1

4. Kosta Rika        1    0   0   1  0-1   0

————————————-

 PERTANDINGAN SELANJUTNYA

 Kamis, 7 Juli 2011

07.45 WIB: Argentina vs Kolombia – Santa Fe

Jumat, 8 Juli 2011

05.15 WIB: Bolivia vs Kosta Rika – San Salvador de Jujuy