BARTER SERANGAN: Bintang Meksiko Giovani dos Santos (kanan) dikawal bek Cile, Waldo Ponce (kiri) dan Gonzalo Jara pada laga Grup C Copa America 2011 di Estadio Bicentenario, San Juan, Argentina, Selasa (5/7) pagi WIB. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

Pada putaran final Piala Dunia 2010, Cile merupakan satu-satunya wakil Amerika Selatan (Zona CONEMBOL) yang gagal melaju ke perempat final. Brasil dan Argentina tumbang di perempat final masing-masing oleh Belanda dan Jerman. Sedangkan Uruguay, di luar prediksi, mengejutkan dengan lolos ke semifinal sebelum dipatahkan Belanda, yang kemudian takluk di partai final oleh Spanyol.

Di turnamen Copa America 2011, Argentina dan Brasil yang difavoritkan justru memulai langkahnya dengan hasil-hasil kurang memuaskan. Argentina ditahan Bolivia 1-1 di Grup A dan Brasil diganjal tanpa gol oleh Venezuela di Grup B.

Di Grup C, pada pertandingan di Estadio de Bicentenario di San Juan, Selasa (5/7) WIB, Uruguay dengan Diego Forlan, top player di Piala Dunia 2010, juga ditahan seri 1-1 oleh Peru. Beruntung dari total enam laga perdana penyisihan di tiga grup, duel Cile kontra Meksiko di Grup C –di stadion yang sama usai pertandingan Uruguay lawan Peru— mampu menyajikan tontonan menarik.  Bisa dikata, yang paling menarik sepanjang turnamen ini bergulir.

Cile (peringkat ke-27 dunia pada ranking terbaru FIFA) memeragakan sepak bola menyerang meskipun sempat kecolongan oleh pasukan muda Meksiko (9 dunia setelah timnas senior menjuarai Gold Cup 2011 bulan lalu, tetapi di turnamen ini turun dengan skuad muda U-22 yang dimotori Giovanni dos Santos) lewat gol heading pemain belakang Nestor Araujo menit ke-41. Namun, sejak kick-off justru duo penggedor Cile, Humberto Suazo dan Alexis Sanchez, yang tiada lelah memberondong tembok muda Meksiko nan gigih.

Tertinggal 0-1 pada babak pertama berhasil dibalas dengan dua gol di babak kedua melalui Esteban Paredes (menit ke-67) dan Arturo Vidal (menit ke-73). Sepak bola menyerang Cile akhirnya menang 2-1. ‘’Saya kira Cile akan terus melaju di Copa America ini. Dari yang saya saksikan pada 12 tim yang telah berlaga, saya kira Cile yang paling bagus,’’ komentar Asisten Pelatih Meksiko Luis Fernando Tena seperti dilansir The Associated Press.

Mewarisi skuad bentukan Marcelo Bielsa yang tahun lalu mempersembahkan prestasi terbaik di putaran final Piala Dunia sejak 1962 dengan lolos ke putaran kedua, Claudio Borghi –pelatih Cile saat ini— memang tidak perlu takut menerapkan strategi menggempur. Apalagi, skuad muda Meksiko juga tidak memeragakan sepak bola bertahan, sehingga di lapangan pun muncul barter serangan yang sangat enak ditonton.

Di sisi lain, tidak bisa disangkal bahwa Cile bisa leluasa bermanuver mengingat mereka mempunyai jam terbang dan pengalaman yang jauh mengungguli para pemain muda Meksiko. Meski demikian, spirit tempur para punggawa muda Meksiko ini layak pula diwaspadai oleh lawan-lawan mereka lainnya di Grup C: Uruguay dan Peru.

PENENTU KEMENANGAN: Ekspresi Arturo Vidal setelah memastikan kemenangan Cile atas Meksiko pada laga Grup C Copa America 2011 di San Juan, Selasa (5/7) WIB. PHOTO: AP

Pada laga sebelumnya di grup yang sama, Uruguay (18 dunia) terhindar dari kekalahan atas Peru (49 dunia) berkat gol Luis Suarez menjelang babak pertama usai. Peru yang cenderung defensif mencuri gol pada menit ke-24 lewat aksi individu brilian Paolo Guerrero dalam skema counter attack umpan jauh dari lini belakang. Guerrero terpaksa menjadi lone striker setelah di turnamen ini Peru tidak bisa diperkuat Jefferson Farfan dan Claudio Pizarro yang cedera.

Sejatinya lini belakang Peru juga tidak terlalu kokoh. Namun, mereka bisa mengimbangi Uruguay dengan determinasi tinggi serta cukup lama memainkan ball possession. Apalagi dalam pertandingan ini Uruguay yang menurunkan skuad sukses di Piala Dunia 2010 lalu –minus bek kokoh Diego Godin yang cedera— tampak kerap salah umpan. Gampang kehilangan bola.

Tanpa Godin, lini belakang Uruguay yang dikomando Diego Lugano kerap bisa diacak-acak Guerrero serta Luis Advincula yang mencoba menusuk ke petak terlarang. Beberapa kali pula gawang Fernando Muslera dalam ancaman. Di lini depan cuma Suarez yang terbilang paling mengancam dengan skill individunya dan kecerdikannya mengambil posisi, sementara Diego Forlan dan Edinson Cavani beberapa kali membuang peluang emas mencetak gol.

Forlan mengakui, pada Copa America 2011 ini peta kekuatan semakin merata terlepas apa pun strategi yang dipakai masing-masing tim. Dari enam laga perdana di tiga grup, hanya Cile yang mampu mencetak lebih dari satu gol ke gawang Lawan. ‘’Banyak tim bagus di turnamen ini,’’ ujarnya.

DIEGO FORLAN: Gagal memberikan kemenangan untuk Uruguay saat laga perdana Grup C melawan Peru di San Juan, Selasa (5/7) WIB. PHOTO: AP

Pada laga berikutnya, Sabtu 9 Juli 2011 di Mendoza, Uruguay menghadapi Cile (05.15 WIB) dan Peru kontra Meksiko (07.45 WIB). Laga Uruguay kontra Cile diperkirakan sangat menarik mengingat dua tim memiliki kecenderungan menggempur. Dengan bintang-bintang penggedor di kedua tim, kunci sukses duel ini tampaknya lebih pada adu kuat lini pertahanan dan kepiawaian para kipernya. Apakah Oscar Tabarez, arsitek Uruguay, bisa mengulang racikan sukses sebagaimana di Piala Dunia 2010 lalu?

Pada laga lainnya di Grup C, Peru diperkirakan akan terpancing lebih tergoda menggempur ketika menghadapi para pemain muda Meksiko. Kecenderungan Peru polesan Sergio Makarian memanfaatkan serangan balik dengan menantang adu sprint  tim lawan tidak bisa lagi diandalkan. Para pemain muda Meksiko di segala lini akan terus berlari dan berlari mem-pressing para pemain Peru, ke mana pun mereka bergerak.

Justru pemain-pemain muda Meksiko ini berpotensi menggempur lini pertahanan Peru yang sejatinya juga tidak cukup tangguh hingga menit-menit akhir. Para pemain Meksiko juga berpotensi memancing para pemain Peru melakukan pelanggaran berbahaya di sekitar atau dalam petak terlarang.

DATA PERTANDINGAN GRUP C

Selasa, 5 Juli 2011

Cile 2-1 Meksiko (Estadio de Bicentenario, San Juan)

Pencetak Gol: Nelson Araujo-Meksiko (41’); Esteban Paredes-Cile (67’), Arturo Vidal-Cile (73’).

CILE: Claudio Bravo, Pablo Contreras, Waldo Ponce, Gonzalo Jara, Mauricio Isla, Gary Medel, Arturo Vidal, Matias Fernandez (Carlos Carmona, 83’), Jean Beausejour (Esteban Paredes, 60’), Alexis Sanchez, Humberto Suazo (Marco Estrada, 92’). Kartu Kuning: Claudio Bravo (74’)

MEKSIKO: Luis Ernesto Michel, Hector Reynoso, Darvin Chavez, Hiram Mier, Javier Aquino (Oribe Peralta, 74’), Paul Aguilar, Diego Reyes, Nestor Araujo, Jorge Enriquez, Giovani Dos Santos, Rafael Marquez Lugo (Edgar Pacheco, 88’). Kartu Kuning: Javier Aquino (22’), Diego Reyes (25’), Paul Aguilar (67′)

MENCURI GOL: Striker Peru Paolo Guerrero (bawah) merayakan golnya ke gawang Uruguay bersama Luis Advincula pada laga perdana Grup C di Estadio Bicentenario, San Juan, Argentina pada Selasa (5/7) WIB. PHOTO: AP

Uruguay 1-1 Peru (Estadio Bicentenario, San Juan)

Pencetak Gol: Paolo Guerrero-Peru (24’), Luis Suarez-Uruguay (44’)

URUGUAY: Fernando Muslera, Maxi Pereira, Diego Lugano, Mauricio Victorino, Martin Caceres, Diego Perez, Egidio Arevalo Rios, Nicolas Lodeiro (Cristian Rodriguez, 78’), Edinson Cavani (Abel Hernandez, 78’), Diego Forlan, Luis Suarez. Kartu Kuning: Martin Caceres (81’)

PERU: Raul Fernandez, Renzo Revoredo, Santiago Acasiete, Alberto Rodriguez, Walter Vilchez, Michael Guevara (Carlos Lobaton, 57’), Adan Balbin, Rinaldo Cruzado, Yoshimar Yotun (Juan Vargas, 59’), Luis Advincula (William Chiroque, 90’), Paolo Guerrero. Kartu Kuning: Paolo Guerrero (24’), Santiago Acasiete (50’), Rinaldo Cruzado (81’), Juan Vargas (83’)

——————–

KLASEMEN SEMENTARA GRUP C

(main, menang, seri, kalah, memasukkan-kemasukan, poin)

1. Cile                      1     1     0     0     2-1     3

2. Uruguay             1     0     1     0     1-1     1

3. Peru                    1     0     1     0     1-1     1

4. Meksiko              1    0     0      1     1-2     0

——————–

Pertandingan Selanjutnya

Sabtu 9 Juli 2011

05.15 WIB: Uruguay vs Cile – Mendoza

07.45 WIB: Peru vs Meksiko – Mendoza