RISIKO BINTANG: Beban menang Argentina atas Kolombia pada laga kedua Grup A Copa America 2011 itu seolah masih di pundak Lionel Messi seorang. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

KAMIS 7 Juli 2011. Jarum jam di Indonesia menunjukkan pukul 07.45 WIB. Sekira 47 ribu pasang mata bakal memadati tempat duduk di Estadio Brigadier General Estanislao Lopez di Kota Santa Fe, Argentina. Pun, pemirsa tayangan langsung di hampir 200 negara di dunia ketika di stadion yang dibangun pada 1946 silam dengan nama populer Cementario de Elefantes itu tuan rumah Argentina menjalani laga krusial melawan Kolombia di Grup A Copa America 2011.

Mengilas hasil kurang optimal, seri 1-1, pada laga pertama melawan Bolivia, jelas di laga kedua melawan Kolombia Javier Mascherano dkk dituntut menang. Menganalisis deretan bintang yang dimiliki skuad tuan rumah, mereka dituntut tidak sekadar mampu meraup tiga poin, tetapi juga kemenangan melalui permainan cantik yang enak ditonton.

Tentu tugas wajib menang itu tidak hanya milik Lionel Messi seorang. Semua tahu bintang klub Barcelona ini hanya satu dari 11 pemain yang bakal diturunkan lagi Pelatih Sergio Batista di lapangan rumput Estadio Estanislao Lopez.

‘’Messi tidak pernah bermain buruk. Mereka yang berada di sekitarnya lah yang bermain buruk,’’ komentar Presiden Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) Julio Grondona seperti dirilis The Associated Press.

Membela Messi? Begitulah meskipun Messi mungkin pula tidak membutuhkannya. Justru Batista yang dipaksa berpikir keras atas ‘’sindiran’’ bos AFA itu. Namun, Batista seolah tidak mau otonominya diusik. ‘’Kami tidak harus kalap hanya karena gagal menang pada laga pertama. Kami tahu itu baru permulaan dan akan membaik,’’ tulis Grondona dalam kolom rutinnya di koran Clarin, Senin (4/7).

Dalam konferensi pers Rabu (6/7) pagi WIB, sang pelatih yang andil mempersembahkan gelar juara Piala Dunia 1986 bersama Diego Maradona ini menjawab ‘’sindiran’’ Grondona dengan sedikit merombak starting lineup dari yang diturunkannya saat laga pertama melawan Bolivia pada Sabtu (2/7) pagi WIB lalu. Ia seolah membenarkan kabar santer yang beredar sebelumnya dengan hanya memasukkan Pablo Zabaleta sebagai starter menggantikan Marco Rojo yang kurang cukup melakukan marking, bahkan juga kalah adu sprint, ketika melawan Bolivia.

Masuknya pemain Manchester City itu sebagai starter akan menggeser pemain veteran Javier Zanetti ke posisi bek kiri. Maka, dalam skema 4-3-3, lini belakang Argentina akan diisi Zabaleta, Gabriel Milito, Nicolas Burdisso, dan Zanetti. Dengan formasi ini, Zabaleta dan Zanetti diharapkan tidak hanya solid bertahan, namun juga berkontribusi dengan overlapping membantu serangan dari sayap sekaligus penopang alur lini tengah yang diisi Javier Mascherano, Esteban Cambiasso, dan Ever Banega.

Sedangkan lini penggedor masih dipercayakan kepada Messi, Carlos Tevez, dan Ezequiel Lavezzi. Tidak ada gelandang Angel Di Maria di lini tengah sebagai starter. Begitu pula pencetak gol penyelamat ke gawang Bolivia, Sergio Aguero.

Tampaknya, Batista tidak mau merusak psikologi kekompakan tim hanya berdasarkan hasil analisis satu laga melawan Bolivia. Dengan formasi itu, ia cenderung memilih melihat lagi apa yang bakal terjadi di lapangan. Misalnya, jika Lavezzi tidak optimal saat melawan Kolombia, bisa jadi Aguero dimainkan sebagai pengganti lebih awal dibandingkan ketika kontra Bolivia lalu ketika ia baru diturunkan sejak menit ke-70. Begitu pula dengan Di Maria jika salah satu dari tiga gelandang itu tidak optimal dengan improvisasi layaknya pergeseran yang terjadi di lini belakang.

Namun, lagi-lagi, yang menjadi topik perbincangan hangat tetap Messi. Batista mengakui ingin menempatkan Messi layaknya posisi sang bintang yang memberikan hasil cemerlang di Barcelona. Hal itulah yang tidak dilakukan Diego Maradona ketika memoles Argentina di Piala Dunia 2010 lalu. Meski demikian, Argentina bukan Barcelona.

‘’Saya menyukai gaya bermain Barcelona, seperti itulah bagaimana seharusnya sepak bola dimainkan. Namun untuk bisa seperti itu hanya setelah 20 hari berlatih bersama memang tidak mudah. Mereka (Barcelona) bisa seperti itu karena itulah yang dimainkan hampir sepanjang hidupnya,’’ tutur Batista saat konferensi pers.

Messi, ujarnya melanjutkan, tetap akan diberi kebebasan bermanuver sesuai kreasinya, seturut skill yang dimilikinya, serta rekan-rekannya wajib menyokongnya. Ia melakukan itu bisa semaunya dengan porsi jelajah seperempat dari total luas lapangan.

Sangat menarik dinantikan bagaimana racikan baru Batista itu diwujudkan di lapangan. Yang jelas, Kolombia tidak merasa perlu mengawal bintang Barcelona itu. Begitu juga dengan lawan yang lebih punya nama, baik kibaran bendera timnas Argentina di ranking dunia maupun bintang terang para pemainnya.

Menurut Pelatih Kolombia Hernan Dario Gomez, mengawal pemain tertentu di skuad Argentina cuma akan melemahkan skema main skuad polesannya. Ia mengaku belajar banyak dari pengalamannya dulu sebagai pemain di timnas Kolombia yang pernah ditugasi khusus mengawal Maradona. ‘’Strategi seperti itu hanya akan melemahkan kami untuk kembali meraih tiga poin. Saya sudah berbicara dengan tim saya setelah menonton laga Argentina. Jika kami sibuk mengontrol Messi, itu hanya akan bikin saya ‘gila’,’’ ucapnya.

Melawan tuan rumah Argentina yang lagi-lagi masih difavoritkan berbagai bursa taruhan global, baik untuk laga ini maupun kandidat juara, Gomez akan menyuntikkan gelandang Carlos Sanchez menggantikan Gustavo Bolivar. Masuknya Sanchez diharapkan semakin mengokohkan lini tengah sekaligus membantu kreasi untuk umpan-umpan matang ke para penyerangnya. Kurangnya aliran bola ke lini depan itu yang dirasakan Gomez ketika Kolombia melawan Ekuador pada laga perdana, meskipun timnya menang 1-0.

PERKIRAAN PEMAIN

Argentina (4-3-3): Romero; Zabaleta, Milito, Burdisso, Zanetti; Mascherano, Cambiasso, Banega; Lavezzi, Messi, Tevez.

Kolombia (4-1-4-1): Martinez; Zuniga, Yepes, Perea, Armero; Sanchez; D. Moreno, Guarin, Aguilar, Ramos; Falcao.