KEWALAHAN: Beberapa kali Adrian Ramos (tengah) meneror Nicolas Burdisso (kanan) dkk serta Kiper Argentina Sergio Romero pada laga kedua Grup A Copa America di Santa Fe, Kamis (7/7) pagi WIB. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

SERI kembali. Tanpa gol lagi. Bahkan, boleh dikata Argentina layak kalah pada laga kedua Grup A Copa America 2011 melawan Kolombia di Santa Fe, Rabu (6/7) malam waktu setempat atau Kamis (7/7) pagi WIB. Beruntung berdiri Sergio Romero di bawah mistar yang supercemerlang menangkal berondongan dua penggedor Kolombia, Radamel Falcao dan Dayro Moreno.

Beban berat pascaimbang 1-1 pada laga perdana melawan Bolivia pada 2 Juli WIB lalu begitu jelas disajikan skuad besutan Sergio Batista. Ekspresi gugup juga terbaca pada setiap manuver dan ekspresi wajah sang superbintang Lionel Messi. Argentina memang bukan Barcelona seperti ditegaskan Batista, namun hingga laga kedua Copa America ini Messi belum juga menunjukkan performa terbaiknya.

Tentu tanggung jawab menang lewat seni sepak bola indah tidak semata ada di kaki Messi, tetapi juga di segenap skuad Argentina, khususnya Batista sebagai arsitek. Seperti diisyaratkannya sehari sebelum pertandingan kedua ini, ia tidak banyak melakukan perubahan pada formasi timnya selain menyuntikkan Pablo Zabaleta sebagai starter menggantikan Marco Rojo di lini belakang yang diturunkan saat melawan Bolivia. Lini tengah dan depan idem ditto, termasuk memasang Ezequiel Lavezzi yang tidak optimal di laga perdana.

Lini tengah yang diisi Javier Mascherano, Esteban Cambiasso, dan Ever Banega tidak cukup mampu menjadi pelapis manuver Messi. Masih ada jarak yang harus susah-payah ditutup Messi. Ia lebih banyak turun sampai-sampai kerja keras itu membuatnya terpeleset, meringis memegangi engkel kaki kanannya. Bahkan saat Messi mendapatkan bola dan menusuk ke petak terlarang Kolombia, Lavezzi kerap kali out of position. Sedangkan Tevez mengesankan bermain individu dengan mengandalkan kekuatan ototnya meskipun kerap terbentur tembok Kolombia yang digalang Mario Yepes.

Sebaliknya, menyadari beban tinggi meraih kemenangan yang membuat skuad Argentina mengesankan begitu bernafsu menambang gol tetapi menonjolkan skill individu, Kolombia justru bermain lebih terorganisasi. Selain memang di atas angin berkat kemenangan 1-0 atas Kosta Rika pada laga perdana, skuad polesan Hernan Dario Gomez ini justru tidak memilih defensif.

Selain Yepes sebagai komandan di lini belakang, kontribusi gelandang Abel Aguilar di laga ini begitu signifikan. Ia tidak hanya piawai melakukan body charge, tetapi juga memancing adu sprint dengan para gelandang Argentina. Alhasil, Cambiasso, Mascherano, bahkan Javier Zanetti yang lazim melakukan overlap tidak berani naik kelewat jauh. Apalagi di kiri-kanan wilayah Argentina itu Freddy Guarin dan Adrian Ramos selalu rajin memancing para bek Tango untuk memberi ruang Falcao dan Moreno, seorang gelandang serang, untuk merangsek ke petak terlarang lawan dari tengah.

Skema 4-3-3 Argentina terbukti tumpul oleh formasi 4-4-2 Kolombia. Selain itu, sprint dan upaya memperlama penguasaan bola para pemain Kolombia juga lebih unggul. Pendek kata, mereka yang mendikte jalannya permainan. Mereka yang menekan lebih garang dibandingkan Argentina.

LIONEL MESSI: Belum juga menemukan performa terbaiknya pada laga kedua Grup A Copa America 2011 melawan Kolombia. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

Pressing para pemain Kolombia semakin membuat Mascherano dkk panik dan kehilangan determinasi. Antara menit ke-20 hingga ke-25, dua kali Moreno memiliki kans untuk mendulang gol, termasuk ketika gawang Romero, sudah melompong. Namun, tendangannya menyamping.

Argentina memiliki peluang menit ke-34, tetapi tendangan Lavezzi bisa diblok kaki kanan Kiper Kolombia Luis Martinez. Setelah itu, Kolombia kembali menunjukkan dominasinya. Menit ke-42 Romero harus jatuh telak menangkal tendangan keras jarak jauh Falcao. Dua menit berselang, giliran Moreno kembali memaksa angan Romero meninju bola tendangannya.

Memasuki babak kedua kondisi tidak banyak berubah. Masih Kolombia yang dominan. Pablo Armero meneror gawang Romero, namun tendangannya pada menit ke-65 cuma lewat tipis di depan garis gawang. Dua menit kemudian, lagi-lagi Falcao yang mengancam.

‘’Kami sebenarnya layak mendapatkan tiga poin. Kami punya banyak peluang menang. Banyak menyerang, tetapi tidak mampu menyelesaikannya (menjadi gol),’’ ujar Yepes, sang kapten, seperti dilaporkan The Associated Press.

Menyadari kondisi terus tertekan itu, Batista menarik Lavezzi untuk memberi tempat Sergio Aguero pada menit ke-60. Bersamaan itu Cambiasso juga ditarik untuk menyegarkan lini tengah. Ia digantikan Fernando Gago. Kondisi ini tidak banyak membawa perubahan. Tidak lahir kreasi serangan yang mampu menghasilkan gempuran-gempuran sengit ke gawang Kolombia. Pada menit ke-72, Banega yang nota bene gelandang digantikan Gonzalo Higuain, striker, sehingga Argentina praktis memainkan empat penyerang pada laga ini.

Hasilnya, nihil. Sebaliknya lini tengah makin tidak terkoordinasi dan hanya membuat para pemain belakang Argentina pontang-panting hingga hidung Nicolas Burdisso berdarah-darah akibat benturan menghalau serangan para pemain Kolombia. Bahkan dalam 10 menit terakhir, bisa dikatakan total milik para pemain Kolombia. Argentina bagai tidak tahu arah di tengah riuh rendah suara yang mendukungnya.

Becermin ke Cile

Dengan 2 poin dari dua kali seri, peluang Argentina lolos ke perempat final memang belum tertutup. Sebaliknya, dengan hasil seri saja melawan Bolivia di laga terakhirnya, Kolombia berpeluang lolos. Bahkan kalah pun juga masih bisa berharap lolos dengan status sebagai salah satu dari dua penghuni peringkat ketiga terbaik.

Seperti diketahui, pada turnamen ini 12 tim kontestan dibagi dalam tiga grup. Masing-masing grup berisi empat tim. Juara dan runners-up pada klasemen akhir plus dua penghuni peringkat ketiga terbaik lolos ke perempat final.

Nah, dengan 2 poin saat ini, Argentina wajib menang di laga terakhirnya melawan Kosta Rika. Namun, peluang skuad Batista juga tergantung pada laga Jumat (8/7) antara Bolivia vs Kosta Rika. Jika Bolivia menang, berarti mereka memiliki 4 poin dari dua laga. Andai skenario ini yang terjadi, maka tantangan Argentina pada laga terakhir malah semakin berat lagi. Mereka dituntut tidak hanya menang, tetapi juga harus mengemas banyak gol dengan poin akhir 5.

Jika Bolivia seri –bahkan kalah— dari Kosta Rika, tantangan Argentina justru tetap berat di laga terakhirnya. Saat bersua nanti jika Kosta Rika bisa memaksakan seri, misalnya, lalu Bolivia menang atas Kolombia, Argentina pun tergolek di posisi juru kunci. Jika di laga terakhir Kolombia dan Bolivia seri, Argentina masih bisa berharap lolos dengan status salah satu dari dua pemilik peringkat ketiga terbaik. Tentu juga harus menimbang hasil laga-laga lain di Grup B dan C.

Segala kemungkinan memang masih bisa terjadi. Ironis jika tuan rumah yang difavoritkan sebagai juara harus melangkah ke perempat final dengan status peringkat ketiga. Tetapi, inilah seni turnamen. Siapa tahu di laga-laga selanjutnya Batista bisa meracik strategi terbaik untuk para bintangnya.

Kini fokus mereka adalah Kosta Rika, tim undangan dari Zona CONCACAF (Amerika Tengah, Utara, dan Karibia) seperti halnya Meksiko. Seperti Meksiko pula, Kosta Rika berpartisipasi di Copa America 2011 ini tidak dengan tim senior terbaiknya yang baru bulan lalu berjibaku di pentas Gold Cup 2011 AS. Dua negara non-Zona CONMEBOL (Amerika Latin) itu turun dengan skuad muda plus beberapa pemain senior.

Adakah jaminan Argentina bakal mudah menjinakkan Kosta Rika, apalagi dengan banyak gol? Kelewat bahaya jika terlalu optimistis. Kosta Rika sejatinya juga tidak mudah dibobol. Di laga perdananya, Kolombia baru bisa membobol gawang mereka setelah seorang pemain Kosta Rika di-kartu merah. Apalagi, fisik mereka dengan para pemain muda itu sangat prima.

Jalan teraman bagi Batista bila tidak ingin dipaksa cepat-cepat diambil kursi pelatihnya adalah evaluasi total dari dua laga di Grup A yang berakhir seri tersebut: lini tengah belum optimal, lini depan kurang tajam. Sebiji gol dalam tempo 180 menit jelas bukan hasil ideal dari sebuah tim bertabur bintang.

Konfidensi dan determinasi kiranya yang memegang peran vital. Untuk ini, Argentina kiranya bisa belajar dari cara Cile menjinakkan Meksiko pada laga perdana Grup C. Sejak kick-off, Cile dengan para pemain seniornya itu terus menggempur Meksiko. Belum membawa hasil, tetapi malah kecolongan dulu oleh anak-anak muda El Tricolor berspirit tempur tinggi yang dikomandani Giovanni dos Santos (masih berusia 22 tahun).

Hingga babak pertama usai, Cile masih tertinggal. Memasuki babak kedua, tenaga baru disuntikkan dan membawa hasil. Selain menyamakan kedudukan, akhirnya Cile bisa menang 2-1. Toh, setelah mengukir gol kedua, Cile tidak bisa lengah sedikit pun karena para pemain muda Meksiko terus meneror.

Lazimnya para pemain muda, mereka memiliki motivasi tinggi untuk mengalahkan para seniornya, apalagi dari negara lain dengan nama besar plus pemain-pemain sorotan dunia semacam Argentina. Kiranya itulah yang ada di benak para pemain Kosta Rika, terlepas apa pun hasil pada laga keduanya melawan Bolivia.

Tidak bisa disangkal bahwa senioritas memiliki keuntungan pengalaman. Sejauh mana modal itu bisa dimanfaatkan Batista dalam formula racikannya di lapangan melawan Kosta Rika nanti? Inilah yang layak ditunggu.

TERIMA KASIH: Bek Kolombia Mario Yepes (kiri) dan gelandang Abel Aguilar menyapa fans di tribun setelah timnya mampu mengganjal ambisi menang tuan rumah Argentina pada laga kedua Grup A Copa America 2011 di Santa Fe, Kamis (7/7) pagi WIB. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

DATA PERTANDINGAN GRUP A

Kamis, 7 Juli 2011

Argentina 0-0 Kolombia (Estadio Cementerio de Elefantes, Santa Fe)

ARGENTINA: 23-Sergio Romero, 3- Pablo Zabaleta, 4- Nicolas Burdisso, 6- Gabriel Milito, 8- Javier Zanetti, 19- Ever Banega (9-Gonzalo Higuain, 72′), 14- Javier Mascherano, 5- Esteban Cambiasso (20-Fernando Gago, 60′), 10- Lionel Messi, 11- Carlos Tevez, 21- Ezequiel Lavezzi (16-Sergio Aguero, 60′) .

KOLOMBIA: 12- Luis Enrique Martinez, 18- Camilo Zuniga, 14- Luis Perea, 3- Mario Yepes, 7- Pablo Armero, 6- Carlos Sanchez, 17- Dayro Moreno, 8- Abel Aguilar, 13- Freddy Guarin, 20- Adrian Ramos (16-Elkin Soto, 89′), 9- Falcao Garcia (19-Teofilo Gutierrez, 87′). Kartu Kuning: Abel Aguilar (6’)

————————

KLASEMEN SEMENTARA GRUP A

(DI-UPDATE USAI HASIL LAGA BOLIVIA 0-2 KOSTA RIKA, JUMAT 8 JULI 2011)

(main, menang, seri, kalah, memasukkan-kemasukan, poin)

1. Kolombia                     2          1          1          0           1-0          4

2. Kosta Rika                    2          1          0          1           2-1          3

3. Argentina                   2          0          2          0           1-1          2

4. Bolivia                          2          0          1           1          1-3          1

——————–

PERTANDINGAN SELANJUTNYA DI GRUP A

Senin, 11 Juli 2011

02.00 WIB: Kolombia vs Bolivia – Santa Fe

Selasa, 12 Juli 2011

07.45 WIB: Argentina vs Kosta Rika – Cordoba