BENTENG TERAKHIR: Kiper AS Hope Solo tetap menjadi andalan benteng terakhir timnya menghadapi Prancis di semifinal. Timnas perempuan AS berambisi meraih juara untuk kali ketiga pada perhelatan Piala Dunia 2011 di Jerman ini. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

Permainan sepak bola bisa dirumuskan. Pemeringkatan sebuah tim bisa pula ditentukan berdasarkan berbagai koefisien. Hasil pertandingan? Tidak seorang pun selalu tepat menebaknya. Yang ada sebatas prediksi. Vonis selalu lahir di lapangan dengan berbagai faktor teknis maupun non-teknis berkelindan memengaruhi puluhan kepala dan kaki yang membidik bergulirnya bola. Kaum Hawa dari berbagai negara ini berusaha mewujudkan asa menjadi yang terbaik di pentas dunia.

BEGITULAH yang terjadi pada perhelatan FIFA Women’s World Cup 2011 di Jerman kali ini. Rabu (13/7) malam hingga Kamis (14/7) dini hari WIB, kejuaraan yang bergulir sejak 26 Juni lalu memasuki fase semifinal. Empat timnas perempuan bersaing menuju podium juara: Prancis vs Amerika Serikat dan Jepang vs Swedia.

Jangan kaget apabila dari empat semifinalis itu hanya AS unggulan juara yang tersisa. AS adalah juara dunia edisi perdana tahun 1991 di China serta 1999 di rumah sendiri dengan mengalahkan China melalui adu penalti.

Meski belum sekalipun mengangkat trofi juara, sebelum kejuaraan ini bergulir Brasil dengan superstar-nya, Marta, juga masih diunggulkan. Begitu pula kekuatan tradisional seperti Kanada dan Norwegia (negara Eropa pertama peraih gelar juara dunia pada edisi 1995), namun keduanya malah gagal lolos dari penyisihan grup.

Di atas semua unggulan itu, tentu yang paling difavoritkan adalah Jerman. Selain tuan rumah, mereka adalah juara bertahan sekaligus juara beruntun pada dua penyelenggaraan sebelumnya (2003 dan 2007). Alhasil, mereka berjuang untuk tantangan mengukir hat-trick  juara. Namun, impian itu sirna sudah.

Meskipun sinar bintang seniornya, Birgit Prinz, tidak seterang harapan, Jerman selalu tampil perkasa pada total tiga laga penyisihan dan memuncaki klasemen akhir Grup A. Dengan bintang-bintang yang moncer di turnamen ini seperti Kerstin Garefrekes, Inka Grings, Simone Laudehr, dan Celia Okoyindo Da Mbabi, mereka selalu menang (2-1 atas Kanada, 1-0 atas Nigeria, dan 4-2 lawan Prancis) dipaksa takluk dramatis 0-1 melalui perpanjangan waktu di perempat final oleh gol Karina Maruyama (108’) dan skuad perempuan Jepang.

Padahal sebelum pertandingan tersebut, nyaris tidak ada yang mengunggulkan Jepang meskipun torehan para perempuan dari Negeri Sakura itu di kejuaraan tidak bisa dianggap enteng. Pada penyisihan Grup B, mereka menang 2-1 atas Selandia Baru serta menggelontor Meksiko 4-0 dan telah mengantarkan Jepang lolos ke perempat final. Kekalahan 0-2 kepada Inggris di laga terakhir grup pun tidak memengaruhi kelolosan wakil Asia ini.

INSPIRATOR: Pemain senior sekaligus Kapten Jepang Homare Sawa (atas) dan Nahori Kawasumi. PHOTO: GETTY IMAGES

Sukses Jepang ini tidak lepas dari kepiawaian pemain senior Homare Sawa serta disokong munculnya bintang-bintang baru ‘’berani mati’’, seperti Karina Maruyama, Shinobu Ohno, Yuki Nagasato, serta Kiper Nozomi Yamago. Bahkan, gelandang Homare Sawa kini tercatat sebagai penghuni peringkat kedua top scorer bersama Lisa Dahlkvist (Swedia) masing-masing dengan 3 gol.

Swedia ke semifinal setelah di perempat final mengalahkan Australia 3-1. Pada penyisihan Grup C, mereka menang masing-masing 1-0 atas Kolombia dan Korea Utara, serta unggul 2-1 atas AS di laga terakhir untuk mempertemukan tim perempuan dari Negeri Paman Sam itu dengan Brasil di perempat final.  Selain Dahlkvist, beberapa pemain brilian asal Swedia yang juga muncul di turnamen ini adalah Therese Sjogran dan Lotta Schelin.

Sawa dan Dahlkvist berpeluang menyamai maupun menyalip penghuni puncak daftar pencetak gol terbanyak  yang saat ini ditempati Marta (Brasil) dengan 4 gol. Apalagi tim mereka saling berhadapan di semifinal karena Marta tidak mungkin lagi menambang gol karena timnya telah dikalahkan AS di perempat final melalui adu penalti dramatis yang berakhir 5-3 untuk AS setelah pada durasi normal dan perpanjangan waktu berakhir 2-2.

Marta dan Sensasi Spektakuler AS

Brasil memang telah tersisih. Namun, tidak seperti Prinz dari Jerman, Marta telah menunjukkan jati diri bahwa ia masih tajam. Dengan tumbangnya Brasil di perempat final yang berarti upaya meraih gelar juara untuk kali pertama kandas, terantuk pula ambisi pribadi Marta menyamai, bahkan mengungguli, rekor Prinz.

BIRGIT PRINZ: Bintangnya meredup dimakan usia di Piala Dunia 2011. PHOTO: GETTY IMAGES

Bagaimanapun, Prinz yang tidak dimainkan pada perempat final karena tidak menunjukkan performa meyakinkan di laga-laga penyisihan grup, masih pemilik rekor pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah perhelatan Piala Dunia Perempuan. Prinz, 33 tahun, mengemas total 14 gol berbanding 12 gol dari 13 laga yang dibukukan Marta,

Namun, tumbangnya Marta dan Brasil di perempat final justru yang diinginkan AS untuk mengambil alih ambisi Jerman menjuarai kejuaraan ini tiga kali, meski tidak beruntun. Sejak turnamen bergulir, AS memang tampil ‘’ganas’’ di Grup C dengan melibas Korut 2-0 dan Kolombia 3-0, namun terguncang kala dibekap 1-2 oleh Swedia.

Setelah menekuk Brasil, kini kepercayaan mereka membubung lagi. Abby Wambach telah menemukan performa terbaiknya dengan mengemas 2 gol. Begitu pula Carli Lloyd, Megan Rapinoe, maupun Lauren Cheney, Rachel Buehler, dan Heather O Reilly yang masing-masing mengemas 1 poin. Tidak kalah vital adalah performa Kiper Hope Solo yang gemilang, khususnya ketika mendapatkan ujian serius ketika laga melawan Brasil yang berakhir adu penalti dengan menangkal bola tembakan seorang algojo lawan.

MARTA: Gagal lagi membawa Brasil menggapai mimpi juara di Piala Dunia 2011. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

Laga melawan Brasil itu bahkan dinilai oleh publik dan komentator di AS sebagai salah satu pertandingan paling dramatis yang dialami timnas, baik lelaki maupun perempuan, Negeri Paman Sam di ajang utama sepak bola dunia. Pada laga itu, AS sempat memimpin dini berkat gol bunuh diri pemain belakang Brasil, Daiane, menit ke-2 sebelum disamakan Marta melalui titik penalti pada menit ke-68.

Skor 1-1 bertahan hingga waktu normal 90 menit berakhir. Perpanjangan waktu 2 x 15 menit membawa Brasil unggul, lagi-lagi lewat gol Marta, menit ke-92. AS dalam kondisi tertekan. Laga banyak diwarnai pelanggaran dan, tampaknya, dimanfaatkan oleh tim medis Brasil untuk mengulur-ulur waktu saat ada pemainnya yang membutuhkan pertolongan di lapangan. Mau tidak mau, injury time di babak perpanjangan pun bertambah.

Siapa sangka, ketika detik demi detik mendekati akhir (tepatnya menit ke 120 + 2), tandukan Abby Wambach muncul sebagai penyelamat hingga skor imbang 2-2 dan merujuk ke adu penalti. Media AS menjuluki gol penyama kedudukan Wambach ini sebagai miracle alias keajaiban dan ditempatkan dalam bingkai momen-momen menentukan sepanjang sejarah sepak bola AS bersama gol Joe Gaetjens yang mengantarkan timnas lelaki AS menang atas Inggris di Piala Dunia 1950, eksekusi Brandi Chastain sebagai penentu kemenangan AS dalam adu penalti melawan China di final Piala Dunia 1999, dan gol Landon Donovan ke gawang Aljazair sehingga lolos ke putaran kedua di Piala Dunia 2010 Afsel.

ABBY WAMBACH: Penyelamat ambisi juara AS. Masih bersinar di semifinal? PHOTO: GETTY IMAGES

Publik dan media AS kini sangat berharap timnya bisa menjuarai Piala Dunia Perempuan 2011 ini. Tetapi, mereka harus dulu menghadapi hadangan Prancis di semifinal. Apalagi, Prancis di kejuaraan ini juga tampil mengesankan dengan banyak memunculkan bintang seperti gelandang brilian Louisa Necib, Marie-Laure Delie, Gaetane Thiney, Elodie Thomis, serta Camille Abily.

Sebelum menang 4-3 atas Inggris melalui adu penalti setelah waktu normal dan perpanjangan berakhir 1-1 di perempat final, di Grup A Prancis menjalani mengalahkan Nigeria 1-0, kemudian menggelontor Kanada 4-0. Namun, pada laga terakhir mereka kalah 2-4 dari tuan rumah Jerman yang tampil sebagai juara grup.

Posisi itu membuat Jerman bergembira karena menghadapi Jepang yang dinilai lebih mudah di perempat final dan, ternyata, pembuktiannya terbalik. Jerman kalah. Kondisi ini jelas berbeda dengan AS yang kalah di laga terakhir grup dan dipaksa gamang meladeni Brasil di perempat final. Siapa sangka, justru skuad perempuan AS yang menang.

Oh… bola itu bundar. Kaum Hawa ini di-haru biru-kan oleh permainan nasib di lapangan bola, berebut menjadi yang terbaik di planet bumi ini. Maka, seperti apa laga semifinal dan juaranya nanti kiranya layak ditunggu.

LISA DAHLKVIST: Membawa Swedia sebagai ''kuda hitam'' di Piala Dunia 2011. PHOTO: GETTY IMAGES

JADWAL SEMIFINAL

Rabu 13 Juli 2011

23.00 WIB: Prancis vs Amerika Serikat

Kamis, 14 Juli 2011

01.45 WIB: Jepang vs Swedia

LOUISA NECIB (14): Kepiawaiannya di lini tengah membuat Prancis layak diperhitungkan kekuatan mapan di Piala Dunia 2011. PHOTO: GETTY IMAGES