BRIEFING: Pelatih Argentina Sergio Batista mem-briefing skuadnya pada sesi latihan di Komplek Ezeiza, Buenos Aires, Kamis (14/7) waktu setempat. Argentina yang mendapatkan kembali kepercayaan dirinya ditantang Uruguay di perempat final. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

Gersang gol di awal, namun bola-bola penggetar bagian dalam jala yang dinanti akhirnya datang juga. Penyisihan grup Copa America 2011 yang mulai bergulir 2 Juli waktu Indonesia –ditandai seri 1-1 pada laga perdana antara tuan rumah Argentina kontra Bolivia usai seremoni pembukaan— purna pada Kamis 14 Juli dengan surplus dua gol Brasil ke jala gawang Ekuador (4-2). Copa America pun kini pada track semestinya.

TOTAL 37 gol dari 18 pertandingan penyisihan grup tidak lagi bisa dibilang kering. Dengan jumlah tersebut, rata-rata 2,05 gol tercipta di setiap laga. Argentina dan Brasil –dua unggulan teratas sebagai juara— bahkan telah menunjukkan kegarangannya dengan menjaringkan lebih dari tiga gol pada laga terakhirnya di grup masing-masing yang memastikan kelolosannya.

Begitu pula Uruguay, yang menempati peringkat ketiga unggulan juara. Mereka  mampu melampaui beberapa benturan mengejutkan dari rival-rivalnya pada penyisihan grup dan lolos ke perempat final.

Namun, sesuai format yang berlaku di Copa America 2011, Argentina sebagai runner-up Grup A harus bertemu Uruguay (runner-up Grup C). Kolombia (juara Grup A) jumpa Peru sebagai pemilik peringkat ketiga terbaik pertama dari Grup C. Sedangkan Brasil (juara Grup B) harus berjumpa lagi Paraguay (juga dari Grup B) yang tampil sebagai pemilik peringkat ketiga terbaik kedua. Pada laga kedua Grup B di Cordoba 10 Juli lalu, keduanya bermain imbang 2-2.

Satu pasangan perempat finalis lainnya adalah Cile (juara Grup C) bertemu Venezuela sebagai runner-up Grup B (JADWAL PEREMPAT FINAL-SEMIFINAL-FINAL, HASIL-KLASEMEN AKHIR GRUP & TOP SCORER SEMENTARA).

Karena pada akhir penyisihan grup Brasil tampil sebagai juara, dengan format yang ada, jika Argentina dan Brasil masing-masing mampu melewati ujian serius di perempat final dan semifinal, dua raksasa dari Amerika Latin tersebut akan berjumpa di final. Memang klasik dan, mungkin pula, cliche. Namun, apa pun atmosfer emosionalnya akan sangat terasa karena mereka masing yang terbaik di Amerika Latin saat ini berdasarkan apa pun barometernya.

Apalagi ketika melumat Kosta Rika 3-0 pada laga terakhir Grup A, Argentina telah menemukan formula terbaiknya. Megabintangnya, Lionel Messi, mulai nyetel dengan skema yang dimainkan Pelatih Sergio Batista. Begitu pula Brasil yang membekap Ekuador 4-2 pada laga terakhirnya di Grup B melalui dua gol Alexandre Pato dan dua lagi oleh bintang muda Neymar. Dua raksasa itu sebelumnya hanya mampu seri atas rival-rival di grup masing-masing.

Namun, ketika masih menggantung impian menyaksikan final idaman itu di awan, sebaiknya membedah dulu plus-minus empat pasang perempat finalis (delapan tim) sebelum memastikan nasibnya di lapangan (seperti yang berlaku sebelumnya, masih diagendakan siaran langsung oleh RCTI):

MINGGU 17 JULI 2011

02.00 WIB: KOLOMBIA vs PERU (CORDOBA)

Di atas kertas, Kolombia berpeluang memenangi pertandingan ini dengan beberapa faktor krusial. Tampil sebagai juara Grup A, gawang Kolombia sejauh ini masih ‘’perawan’’ alias tidak pernah dibobol lawan-lawannya meskipun bukan sebagai tim yang terbilang produktif karena cuma mengemas 3 gol dari tiga laga (dua kali menang, sekali seri).

PAOLO GUERRERO: Ketajaman striker Peru ini akan diuji barisan belakang Kolombia yang digalang Mario Yepes dkk. PHOTO: AP

Dikomando Kapten Mario Yepes (AC Milan) di lini belakang, Kolombia solid di lini belakang dan mengandalkan serangan balik cepat, tidak jarang dengan bola-bola umpan jauh dari belakang, yang siap disambut striker Radamel Falcao Garcia maupun Dayro Moreno. Falcao, pilar lini depan yang musim lalu andil mengantarkan FC Porto juara Europa League ini tidak hanya piawai mengacak-acak wilayah pertahanan lawan, tetapi ia juga tidak segan turun untuk mengganggu para gelandang tim rival untuk mengalirkan bola ke wilayah berbahaya Kolombia.

Meski demikian, bukan berarti Kolombia yang dibesut Hernan Dario Gomez itu tidak memiliki kelemahan. Lini belakang mereka sejatinya cukup gampang membuat kesalahan sendiri seandainya mendapatkan tekanan frontal bertubi-tubi melalui skema serangan yang rapi. Itu yang tidak mereka dapatkan saat melawan Argentina ketika Messi belum klop betul dengan Ezequiel Lavezzi dan Carlos Tevez yang lebih mengesankan one-man show. Fokus bertahan lawan Argentina berbuah hasil 0-0.

Kosta Rika berhasil beberapa kali mencoba, tetapi penyelesaian akhir yang kurang jitu. Ketika mereka asyik menyerang dengan berusaha bertumpu pada manuver Joel Campbell, datanglah serangan balik Kolombia yang berbuah gol. Kolombia menang 1-0. Sedangkan Bolivia dengan lone striker tidak cukup untuk menggerogoti tembok yang dibangun Yepes dkk, apalagi mereka lantas harus bermain dengan 9 orang dan takluk 0-2.

Tanpa bek Giancarlo Carmona yang terkena skorsing akibat kartu merah, Peru memang layak waspada bila Renzo Revoredo maupun Aldo Conzo turun untuk menggantikan Carmona. Conzo sepertinya lebih berpeluang, tetapi bahaya bila ia sering-sering tergoda naik membantu serangan (overlap) karena Falcao akan siap memangsanya.

Jika Juan Vargas dkk lini tengah Peru bisa menerapkan pressing  ketat dan mengalirkan serangan tidak semata dari sektor kiri-kanan, melainkan juga variasi dari tengah, di situlah saatnya dua penggedor (Paolo Guerrero dan Luis Advincula) bermanuver masuk ke petak terlarang Kolombia.

Perkiraan Pemain

Kolombia: 12-Luis Enrique Martinez; 18-Camilo Zuniga, 14-Luis Perea, 3-Mario Yepes, 7-Pablo Armero; 6-Carlos Sanchez, 8- Abel Aguilar, 13- Freddy Guarin, 20- Adrian Ramos; 17-Dayro Moreno; 9- Falcao Garcia.

Peru: 1-Raul Fernandez, 15-Aldo Conzo, 3-Santiago Acasiete, 2-Alberto Rodriguez, 4-Walter Vilches; 5-Adan Balbin, 11-Carlos Lobaton, 10-Rinaldo Cruzado, 6- Juan Vargas; 16-Luis Advincula, 9-Paolo Guerrero.

SIAP DITEROR: Kiper Uruguay Fernando Muslera dalam sesi latihan di Komplek Casa Amarilla milik klub Boca Juniors di Buenos Aires, Kamis (14/7). Kepiawaian Muslera akan dijajal Lionel Messi dkk di skuad Argentina pada perempat final Copa America 2011. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

05.15 WIB: ARGENTINA vs URUGUAY (SANTA FE)

Supersengit. Itulah yang akan terjadi saat Argentina jumpa Uruguay di perempat final. Selain karena tuan rumah berambisi selalu menyalakan asa menuju tangga juara, tetapi pertandingan ini juga menyajikan perang bintang dunia yang begitu akrab dengan indera penikmat sepak bola di Indonesia. Lionel Messi adalah pemain terbaik dunia. Rekan-rekannya ada di klub-klub mapan di planet bumi ini.

Uruguay menghentak jagat ketika di Piala Dunia 2010 melangkah hingga semifinal sebelum dihentikan Belanda. Ada Diego Forlan sebagai salah satu yang terbaik di kejuaraan dunia tersebut. Setelah Piala Dunia itu, minus Forlan timnas Uruguay bertandang ke Jakarta melakoni friendly match dengan timnas Indonesia yang jelas jauh di bawah kelas mereka.

Di Copa America kali ini, Messi dan Forlan adalah inspirator kunci sukses tim masing-masing meskipun keduanya belum mencetak sebiji gol pun. Messi berperan vital atas kemenangan telak Argentina 3-0 atas Kosta Rika pada laga terakhir Grup A yang menggaransi tiket perempat final. Begitu pula Forlan di laga terakhir Grup C yang membawa Uruguay menang 1-0 atas Meksiko dan memastikan jatah perempat final.

Kegarangan striker Uruguay Luis Suarez belum muncul, tetapi rekan Forlan di Atletico Madrid, Sergio Aguero, telah membubung dengan tiga gol dan tampil sebagai top scorer sementara. Messi dan Aguero tampak telah padu lagi setelah kombinasi mereka berbuah medali emas pada Olimpiade 2008 Beijing lalu.

Pelatih Argentina Sergio Batista tampaknya tidak akan merombak formasi the winning team saat mengalahkan Kosta Rika untuk melawan Uruguay. Messi sebagai playmaker, sedangkan lini depan diisi Aguero dan Gonzalo Higuain. Bukan lagi Lavezzi dan Carlos Tevez sebagai starter, serta Fernando Gago dan Angel Di Maria (berposisi di depan Messi) di lini tengah. Bukan lagi Ever Banega dan Esteban Cambiasso sebagai starter seperti kala ditahan seri oleh Bolivia dan Kolombia.

Di sisi lain, Pelatih Uruguay Oscar Tabarez menghadapi dua masalah pada laga krusial ini. Masalah pertama, seperti diakuinya sendiri, adalah Messi. Tabarez tidak menampik Messi adalah penentu jalannya pertandingan sekaligus hasil akhirnya. Masalah kedua, adalah absennya defender Sebastian Coates akibat akumulasi kartu kuning. Mauricio Victorino kemungkinan besar mengisi posisi Coates.

Martin Caceres sudah bisa kembali setelah absen pada laga terakhir melawan Meksiko karena akumulasi kartu, tetapi kemungkinan Tabarez masih suka menurunkan Alvaro Pereira yang lebih bertaji. Pereira adalah pencetak gol penentu kemenangan 1-0 atas Meksiko yang menggaransi kelolosan Uruguay. Ia juga mencetak gol saat Uruguay berbagi skor 1-1 melawan Cile pada laga kedua Grup C.

Perkembangan lainnya, Edinson Cavani dipastikan absen karena cedera lutut. Mampukah Uruguay membendung ambisi tuan rumah yang telah meraih lagi kepercayaan diri? Sangat layak ditunggu.

Perkiraan Pemain

Argentina: 23-Sergio Romero; 3-Pablo Zabaleta, 4-Nicolas Burdisso, 6- Gabriel Milito, 8-Javier Zanetti; 20- Fernando Gago, 14- Javier Mascherano, 7- Angel Di Maria, 10- Lionel Messi; 16- Sergio Aguero, 9- Gonzalo Higuain.

Uruguay: 1-Fernando Muslera, 16- Maxi Pereira, 2- Diego Lugano, 6-Mauricio Victorino, 11- Alvaro Pereira, 17- Arevalo Rios, 15- Diego Perez, 7- Cristian Rodriguez, 20- Alvaro Gonzalez, 10- Diego Forlan, 9- Luis Suarez.