TEKUK TUAN RUMAH: Para pemain Uruguay memanggul Diego Forlan, inspirator serangan di timnas mereka, setelah menang adu penalti melawan Argentina pada perempat final Copa America 2011 di Santa Fe, Minggu (17/7) pagi WIB. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

Inilah kegagalan nasional. Selamat tinggal impian memenangi Copa di rumah sendiri. Bahkan seorang Messi pun tidak mampu menyelamatkan kita.

PERNYATAAN bernada ratapan itu dipampang harian olahraga terkemuka di Argentina, Ole, hanya beberapa saat setelah timnasnya dikandaskan Uruguay di perempat final yang berlangsung di Santa Fe, Minggu (17/7) dini hari hingga pagi WIB. Tuan rumah takluk 4-5 melalui adu penalti setelah bermain selama 90 menit plus perpanjangan 2 x 15 menit berakhir imbang 1-1.

Secara individu, Pelatih Argentina Sergio Batista memang berhak menilai kata ‘’kegagalan’’ itu kelewat keji. ‘’Ini bukan kegagalan karena kami sudah berjuang untuk menang, namun itu tidak terwujud. Sekali lagi, kami berjuang untuk menang, tetapi tidak mampu melakukannya,’’ ujar Batista dalam konferensi pers usai laga sebagaimana dilansir The Associated Press.

Batista lebih menitikberatkan pada proses. Padahal, yang dibutuhkan rakyat Argentina dan fans mereka di seluruh dunia adalah hasil. Menang dalam fase knock-out seperti perempat final adalah harga mati. Sudah 18 tahun salah satu raksasa sepak bola dari Amerika Latin (CONMEBOL) ini paceklik gelar di pelbagai turnamen utama di dunia untuk timnas senior.

Di Copa, Argentina bersama Uruguay memang bisa berbangga dengan catatan masing-masing 18 kali juara berbanding delapan untuk Brasil. Namun, semua itu merupakan rekap masa silam. Dalam lima kali perhelatan terakhir, malah Brasil begitu digdaya dengan menjuarainya empat kali. Dari rentetan itu, pada dua edisi terakhir justru Argentina melaju hingga partai final meskipun, lagi-lagi, diganjal Brasil, sang seteru klasiknya.

Maka, wajar jika pada perhelatan di rumah sendiri kali ini Argentina berharap bisa memutus mata rantai kegagalan tersebut. Namun, rumus di lapangan berkata lain. Argentina yang diunggulkan berbagai bursa taruhan global bakal tampil sebagai juara kandas secara menyakitkan dan bakal mengguncang serius kursi kepelatihan Batista.

Rekan setim Diego Maradona saat menjuarai Piala Dunia 1986 ini bakal dipecat? Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) masih menimbangnya. Namun, Batista yang menggantikan Maradona usai Piala Dunia 2010 itu menegaskan enggan untuk mundur. ‘’Pekerjaan saya baru dimulai lima atau enam bulan lalu dan saya harus melanjutkan rencana-rencana yang ada. Terpenting adalah Piala Dunia 2014,’’ katanya.

Performa Argentina di Copa America kali ini memang kurang meyakinkan. Yang demikian sejatinya berlaku pula untuk Uruguay, semifinalis Piala Dunia 2010. Mereka melangkah ke perempat final dengan mencatatkan cuma sekali menang melawan tim-tim muda U-23 dari negara-negara non-CONMEBOL, melainkan dua negara dari Zona Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) sebagai undangan di kejuaraan resmi Amerika Latin ini.

Di Grup A, Argentina menang di laga terakhirnya melawan Kosta Rika dan Uruguay mengungguli Meksiko di Grup C. Namun, saat melawan Bolivia dan Kolombia, Argentina cuma bisa bermain seri. Begitu pula Uruguay ketika melawan Cile dan Peru.

GONTAI: (Dari kiri) Javier Zanetti, Carlos Tevez, dan Gonzalo Higuain setelah kalah adu penalti melawan Uruguay. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

Tidak mengherankan apabila Pelatih Uruguay Oscar Tabarez menilai, lolos ke perempat final dan mengalahkan Argentina untuk melangkah ke semifinal belum apa-apa. Bagi timnya, Copa sejatinya baru dimulai di semifinal melawan Peru yang pada perempat final beberapa jam sebelumnya, di luar prediksi, mampu menekuk Kolombia 2-0 melalui perpanjangan waktu lewat gol Carlos Lobaton (101’) dan Juan Vargas (111’).

‘’Sukses (mengalahkan Argentina) ini baru tujuan awal kami, yaitu menyamai hasil kami di Copa America yang kali terakhir,’’ ucap Tabarez.

Ia boleh merendah meskipun tidak disangkal mengalahkan tuan rumah di perempat final merupakan capaian yang membanggakan. Apalagi, di lapangan sejatinya Argentina punya kesempatan lebih besar untuk menang setelah Diego Perez mendapatkan kartu kuning kedua dan harus meninggalkan lapangan.

Namun, Perez tidak lantas menjelma sebagai ‘’biang kerok’’ kekalahan Uruguay. Justru golnya di menit ke-5 berhasil memberikan tekanan psikologis hebat kepada tuan rumah. Meskipun Argentina bisa menyamakan kedudukan melalui Gonzalo Higuain menit ke-37, tetapi gol Perez mampu menyentak ketenangan para pemain tuan rumah. Ini yang membuat para pemain belakang Uruguay yang digalang Diego Lugano dan Kiper Fernando Muslera tampil penuh percaya diri bahwa mereka bisa mengimbangi Argentina,

Puluhan peluang tuan rumah di babak pertama dan kedua gagal menjelma jadi gol. ‘’Messi hanya memiliki 30 menit bermain luar biasa di babak pertama. Babak kedua kami yang kehilangan intensitas menyerang,’’ tutur Batista.

Di ambang frustrasi, menit ke-87 Javier Mascherano mendapatkan kartu kuning kedua sehingga harus menyerahkan ban kapten kepada Messi. Laga jadi imbang dengan 10 pemain pada kedua tim. Namun, justru Uruguay yang makin percaya diri dengan kekuatan yang berimbang lagi itu. Mereka tetap fokus bertahan, namun sesekali juga melancarkan serangan berbahaya yang dikreasi Diego Forlan. Yang demikian berlaku hingga perpanjangan waktu usai.

DATA PERTANDINGAN

Minggu, 17 Juli 2011

PENENTU KEMENANGAN: Ketika Fernando Muslera menggagalkan eksekusi Carlos Tevez. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

ARGENTINA 1-1 (4-5, adu penalti) URUGUAY

(Estadio Brigadier General Estanislao Lopez, Santa Fe)

Pencetak Gol: Diego Perez (5’)-Uruguay: Gonzalo Higuain (17’)- Argentina

Hasil Adu Penalti

Argentina: Lionel Messi (masuk), Nicolas Burdisso (masuk), Carlos Tevez (gagal), Javier Pastore (masuk), Gonzalo Higuain (masuk).

Uruguay: Diego Forlan (masuk), Luis Suarez (masuk), Andres Scotti (masuk), Walter Gargano (masuk), Martin Caceres (masuk).

Argentina: 23-Sergio Romero, 3- Pablo Zabaleta, 4- Nicolas Burdisso, 6- Gabriel Milito, 8- Javier Zanetti, 20- Fernando Gago (15-Lucas Biglia, 96’), 14- Javier Mascherano, 7-Angel Di Maria (18-Javier Pastore, 72’), 10- Lionel Messi, 16- Sergio Aguero (11-Carlos Tevez, 83’), 9- Gonzalo Higuain. Pelatih: Sergio Batista. Kartu Kuning: Pablo Zabaleta (8’), Javier Mascherano (50’), Gabriel Milito (70’), Nicolas Burdisso (72’), Fernando Gago (92’), Carlos Tevez (118’). Kartu Merah: Javier Mascherano (87’)

Uruguay: 1- Fernando Muslera, 16- Maxi Pereira, 2- Diego Lugano, 6- Mauricio Victorino (19-Andres Scotti, 19’), 22- Martin Caceres, 15- Diego Perez, 17- Arevalo Rios (8-Sebastian Eguren, 109’), 20- Alvaro Gonzalez, 11- Alvaro Pereira (5-Walter Gargano, 109’), 10- Diego Forlan, 9- Luis Suarez. Pelatih: Oscar Tabarez. Kartu Kuning: Diego Perez (2’), Martin Caceres (31’), Alvaro Gonzalez (33’). Kartu Merah: Diego Perez (39’)

———————–

PESTA: Para pemain Peru merayakan gol Carlos Lobaton (dua dari kanan) pada perpanjangan waktu di perempat final melawan Kolombia. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES

KOLOMBIA 0-2 (extra time) PERU

(Estadio Mario Alberto Kempes, Cordoba)

Pencetak Gol: Carlos Lobaton (101’), Juan Vargas (111’)

Kolombia: 12- Luis Enrique Martinez, 18- Camilo Zuniga, 14- Luis Perea, 3- Mario Yepes, 7- Pablo Armero, 6- Carlos Sanchez (21-Jackson Martínez, 112’), 8- Abel Aguilar (19-Teofilo Gutierrez, 104’), 13- Freddy Guarin, 17- Dayro Moreno, 20- Adrian Ramos (11-Hugo Rodallega, 72’), 9- Falcao Garcia. Pelatih: Hernan Dario Gomez. Kartu Kuning: Carlos Sanchez (99’)

Peru: 1- Raul Fernandez, 13- Renzo Revoredo, 21- Christian Ramos, 2- Alberto Rodriguez, 4- Walter Vilchez, 16- Luis Advincula (11-Carlos Lobaton, 46’), 5- Adan Balbin, 10- Rinaldo Cruzado (7-Josepmir Ballon, 118’), 6- Juan Vargas, 18- William Chiroque (19- Yoshimar Yotun, 95’), 9- Paolo Guerrero. Pelatih: Sergio Markarian. Kartu Kuning: Luis Advincula (1′), Alberto Rodriguez (65’)