SUKSES GANDA: Homare Sawa mencium trofi FIFA Women's World Cup dengan tangan kanan memegang ''sepatu emas'' sebagai top scorer. PHOTO: GETTY IMAGES-CHRISTOF KOEPSEL

USIA Homare Sawa tidak lagi muda. Membela timnas sepak bola perempuan negaranya sejak berusia 14 tahun, berarti ia telah 18 tahun berada di Nadeshiko –julukan timnas Jepang. Kenyang pengalaman?

Pasti, bahkan lebih dari sekadar itu. Dengan ban kapten melingkar di lengan, Sawa tidak hanya unggul jam terbang dibandingkan para anggota timnas yang muda usia. Gelandang berusia 32 tahun itu juga seorang jenderal lapangan sekaligus motivator ulung. Bahkan, ia juga pencetak gol penentu hasil laga-laga vital bagi Jepang pada perhelatan Piala Dunia 2011 ini.

Pendek kata, Sawa memilikinya lengkap. Selain gelar juara Piala Dunia 2011, pemain klub lokal Jepang INAC Leonessa ini juga menyabet predikat top scorer (5 gol) mengungguli bintang Brasil, Marta, dan superstar AS, Abby Wambach, masing-masing dengan 4 gol plus dirijen pengalur serangan brilian Swedia Lisa Dahlkvist (3 gol). Bahkan ia juga dinobatkan sebagai Pemain Terbaik (Player of the Tournament) di Piala Dunia 2011.

Ketika bintang-bintang gaek seperti Birgit Prinz, 33 tahun, asal Jerman, Cristie Rampone dari AS dan lainnya redup di kejuaraan ini, saat Marta dan Wambach menemukan lagi sentuhannya, bak meteor Sawa melesat memimpin Jepang dari kekuatan yang sebelumnya tidak diperhitungkan menjadi ancaman serius untuk tim-tim mapan sekelas Jerman dan AS yang masing-masing telah mengoleksi dua gelar juara.

‘’Melangkah ke final kali ini bagai mimpi. Butuh perjalanan panjang untuk tim nasional perempuan kami sampai ke titik ini. Tentu saya sangat bangga bersama rekan-rekan setim mampu mencapai babak sepenting ini,’’ ujarnya sebelum laga final seperti dituturkan kepada FIFA.com.

Di atas kertas, Jepang sebelumnya memang bukan kekuatan tradisional sepak bola perempuan dunia dari Asia. China, yang dikalahkan AS melalui adu penalti ketika kali terakhir menjuarai Piala Dunia di rumah sendiri pada 1999, dinilai lebih tangguh. Namun di Piala Dunia 2011 ini China tidak lolos ke putaran final di Jerman, juara beruntun pada dua edisi terakhir.

AS menang dramatis 5-3 atas Brasil di perempat final lewat adu penalti menyusul skor 2-2 pada waktu normal plus perpanjangan waktu serta mengandaskan Prancis 3-1 di semifinal. Skuad besutan pelatih perempuan asal Swedia, Pia Sundhage, jauh diunggulkan dibandingkan Jepang.

Padahal, Jepang ke final juga dengan torehan mengesankan. Di perempat final, mereka mengubur ambisi juara tuan rumah Jerman 1-0 melalui perpanjangan waktu dan mengandaskan ‘’kuda hitam’’ Swedia 3-1 di semifinal. Di semifinal ini, Sawa mencetak satu gol pada menit ke-60. Gol yang memantapkan mental pemenang Jepang setelah sempat tertinggal oleh Swedia lewat gol Josefine Oqvist menit ke-10, kemudian dibalas Nahomi Kawasumi menit ke-19 dan dimantapkannya menit ke-64. Tiga gol lainnya dicetak Sawa ketika ia mengukir hat-trick ke gawang Meksiko dari kemenangan 4-0 Jepang pada penyisihan Grup B.

TERPUKUL: Penyerang AS Abby Wambach harus menerima kenyataan timnya kalah dari Jepang di final Piala Dunia Perempuan 2011. PHOTO: GETTY IMAGES

Di final, Team USA sudah percaya diri meraih trofi juara untuk kali ketiga. Mereka bahkan mengundang Presiden Barack Obama hadir langsung di tribun Stadion Piala Dunia Frankfurt untuk menyaksikan duel final meskipun sang presiden tidak bisa memenuhinya, tetapi menyuntikkan semangat buat mereka via Twitter pagi menjelang pertandingan.

Siapa sangka di lapangan, di bawah komando Sawa, Team USA begitu kewalahan. Keunggulan rekor AS yang menang 22 kali dari total 25 pertemuan dengan Jepang, pada Minggu (17/7) malam atau Senin (18/7) dini hari WIB tertutup oleh semangat tempur Sawa dkk.

Pada babak pertama final itu, kedua tim saling gempur namun tidak satu pun gol lahir. Di babak kedua, AS memimpin lewat gol Alex Morgan menit ke-69, namun dibalas Jepang oleh gol Aya Miyama menit ke-81. Kedudukan imbang 1-1 hingga waktu berakhir dan dilanjutkan babak perpanjangan. AS telah merasa di atas angin setelah Wambach –sang pahlawan di perempat final lawan Brasil— kembali membawa AS memimpin dengan golnya pada menit ke-104.

Tiga menit lagi pertandingan usai dan AS siap mengangkat trofi juara. Namun, muncullah Sawa dengan tandukan kerasnya pada menit ke-118. Pertandingan berakhir 2-2 dan harus ditentukan melalui adu tendangan penalti. Tiga algojo pertama AS gagal mewujudkan target utama tugasnya. Tendangan Shannon Boxx diblok Kiper Ayumi Kaihori, Carli Lloyd tendangannya tidak tepat sasaran, dan bola tendangan Tobin Heath lagi-lagi diselamatkan Kiper Kaihori yang dinobatkan sebagai player of the match.

Hanya Wambach yang sukses menjalankan tugasnya. Namun, karena Kiper AS Hope Solo hanya mampu menghentikan tendangan Nagasato, sedangkan eksekusi Miyama, Sakaguchi, dan Kumagai masuk, skor pun telah menandakan 3-1 untuk Jepang yang tidak lagi membutuhkan tendangan terakhir.

Jepang yang dipoles Pelatih Norio Sasaki mengukir sejarah sebagai negara Asia pertama yang mampu menjuarai Piala Dunia Perempuan. ‘’Terima kasih untuk dukungan keluarga dan saudara-saudara di negara kami yang baru mendapatkan musibah. Kami telah bermain sebaik mungkin dan inilah hasilnya. Terima kasih. Kami akan terus bermain dan saya sendiri tidak tahu sampai kapan,’’ ucap Sawa sadar diri.