BISA!: Ekspresi penyerang Paraguay Nelson Haedo Valdez setelah timnya memastikan tiket semifinal usai mengalahkan Brasil melalui adu penalti di perempat final Copa America 2011, Senin (18/7) WIB. PHOTO: AFP-GETTY IMAGES-DANIEL GARCIA

Empat tim tersisa di Copa America 2011. Mereka bukan luar biasa, tetapi biasa saja: Uruguay, Peru, Paraguay, dan Venezuela. Dua unggulan teratas juara –tuan rumah Argentina dan Brasil— telah tutup buku dari kejuaraan yang bergulir sejak awal Juli ini. Mereka kalah oleh lawan-lawan yang jauh di bawah kelasnya.

ADAKAH Copa America selama dua dasawarsa terakhir mengalami anomali terbesarnya? Bisa jadi. Di antara empat tim tersisa tadi, kiranya cuma Uruguay yang membuat prediksi tidak jauh terlempar. Semifinalis Piala Dunia 2010 itu berada di posisi ketiga setelah Brasil (peringkat ke-5 dunia versi ranking terkini FIFA) dan Argentina (10 dunia) di puncak unggulan.

‘’Argentina dan Brasil merusak pasaran,’’ ujar teman saya, sosok penggila sepak bola.

Argentina dan Brasil, tentu saja, tidak ingin merusak prediksi pasar. Hanya tim berisi orang-orang ‘’tidak waras’’ yang bertempur di lapangan untuk kalah. Argentina menyimpan ambisi besar dalam Copa America di rumah sendiri ini setelah 18 tahun paceklik gelar di berbagai kejuaraan utama timnas senior.

Begitu pula Brasil. Juara dunia lima kali ini delapan kesempatan naik podium juara Copa –empat di antaranya diraih dalam lima edisi perhelatan terakhir. Namun, dari semua itu tidak satu pun diraih di tanah Argentina, sang seteru klasik. Padahal, itu cita-cita besar mereka untuk lebih menabalkan bukti Selecao adalah penguasa sejati takhta sepak bola Amerika Latin. Sebuah gengsi besar yang dipertaruhkan di Copa ini.

Yang terjadi justru penjungkirbalikan prediksi. Inilah menariknya sepak bola. Selalu ada benturan. Tidak jarang terjadi kejutan. Tidak ada lagi duel klasik Argentina vs Brasil di partai final seperti dua perhelatan terakhir. Dua raksasa itu tidak kesampaian membumikan cita-cita yang masih terbang di awan. Justru kini malah lenyap ditelan awan tebal duka.

Minggu (17/7) waktu Indonesia, Peru (49 dunia) membuktikan tidak terima diposisikan lebih bawah oleh Kolombia (54 dunia) yang lebih difavoritkan menang di Copa ini di perempat final. Lantas, Uruguay memangsa Argentina melalui adu penalti setelah 90 menit plus perpanjangan berakhir 1-1. Dunia tetap saja kaget meskipun sepanjang kejuaraan ini performa tuan rumah juga tidak kelewat meyakinkan.

Kekagetan dunia pun bertambah saat Senin (18/7) waktu Indonesia Paraguay (32 dunia) menggulingkan favoritisme Brasil juga melalui adu penalti setelah keduanya bermain imbang 0-0 selama 120 menit. Berarti tidak ada pergeseran berarti mengingat saat keduanya berjumpa di penyisihan Grup pada B 10 Juli lalu, skor akhirnya juga seri, 2-2, meskipun ketika itu Brasil nyaris kalah karena baru bisa menyamakan kedudukan menit ke-89 lewat gol Fred yang masuk pada menit ke-81 menggantikan Neymar.

LEMAS: Para pemain Brasil meninggalkan lapangan setelah kalah dari Paraguay melalui adu penalti di perempat final. PHOTO: AFP-GETTY-DANIEL GARCIA

Di perempat final, terbukti determinasi mental para pemain Brasil masih kalah dari Paraguay. Bukan lelucon, tetapi fakta. Bagaimana mungkin empat algojo awal Brasil (Elano, Thiago Silva, Andre Santos, dan Fred) gagal semua dengan bola ditendang terbang di atas mistar, melebar, dan bisa ditepis kiper senior Justo Villar?

Karena empat eksekutor Brasil awal gagal, kegagalan Edgar Barreto sebagai penendang pertama Paraguay pun tertutupi oleh sukses eksekusi Marcelo Estigarribia dan Cristian Riveros. Tidak perlu dilanjutkan lagi sampai lima eksekusi karena Paraguay telah menang unggul 2-0 dan mustahil dikejar.

Brasil tersisih. Sejatinya sakit meskipun Pelatih Mano Menezes dan Robinho berkata bahwa kegagalan ini bukan akhir segalanya. ‘’Target kami berikutnya adalah juara Piala Dunia (2014),’’ ucap Robinho menunjuk Piala Dunia di rumah sendiri tiga tahun lagi.

Selain gengsi dan menambah catatan koleksi penta, bagi Brasil, dampak menang dan kalah di Copa ini sebenarnya sama saja. Juara Copa layak ikut di Piala Konfederasi 2013. Sebagai tuan rumah, jelas Brasil otomatis ikut dalam turnamen untuk menguji kelayakan stadion-stadion yang hendak dipakai di Piala Dunia 2014. Juara Copa America 2011 ini berhak mewakili Zona Amerika Latin (CONMEBOL) di Piala Konfederasi tersebut.

Lantas, sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014, otomatis Brasil juga lolos tanpa melalui kualifikasi. Maka, untuk 9 timnas lainnya di Amerika Latin, ada ‘’berkah’’ satu tiket ditinggalkan Selecao yang selama ini selalu meraihnya untuk lolos ke putaran final Piala Dunia. Dari lima jatah otomatis plus Brasil, berarti Amerika Latin akan menempatkan 6 timnya. Sudah demikian, masih ada 0,5 tim lagi karena harus melalui playoff dengan tim dari zona lain.

Bukankah itu peluang untuk tim-tim seperti Bolivia, Ekuador, dan Kolombia yang juga tampil mengesankan di Copa America kali ini? ‘’Target kami adalah menjuarai Copa, itu sejak lama,’’ tutur Pelatih Venezuela Cesar Farias usai timnya tampil mengejutkan menumbangkan Cile 2-1 di perempat final, Senin (18/7) pagi WIB.

Venezuela (69 dunia) selama ini dikenal sebagai tim terlemah di zonanya. Olahraga terpopuler di negara itu adalah bisbol, bukan sepak bola seperti lazimnya negara-negara lain di Amerika Latin. Namun, di Copa kali ini persepsi itu kian luntur setelah mereka mampu menahan imbang Brasil, Paraguay, dan mengalahkan Ekuador pada penyisihan Grup B.

Tanpa kalah, Venezuela ke perempat final berbekal status runner-up grup. Kejutan besar terjadi ketika Cile (27 dunia) diembat di perempat final itu. Oswaldo Vizcarrondo membawa Venezuela unggul menit ke-34 dan bertahan hingga babak pertama usai.

Memasuki babak kedua, Cile yang difavoritkan menang tampil kian menekan setelah babak pertama mengesankan kelewat hati-hati. Gol yang dinanti-nantikan dari striker Humberto Suazo di turnamen ini akhirnya datang juga pada menit ke-69. Namun, Venezuela kembali unggul sekaligus memastikan kemenangan pada menit ke-80 melalui Gabriel Cichero.

DATA PERTANDINGAN PEREMPAT FINAL

Senin, 18 Juli 2011

CILE 1-2 VENEZUELA (ESTADIO DEL BICENTENARIO, SAN JUAN)

Pencetak Gol: Humberto Suazo (69’)-Chile; Oswaldo Vizcarrondo (34’), Gabriel Cichero (80’)-Venezuela)

Cile: 1- Claudio Bravo, 5- Pablo Contreras, 3- Waldo Ponce, 18- Gonzalo Jara (22-Esteban Paredes, 60’), 4- Mauricio Isla, 17- Gary Medel, 6- Carlos Carmona (10-Jorge Valdivia, 46’), 8- Arturo Vidal, 11- Luis Jimenez (19-Carlos Munoz, 83’), 7- Alexis Sanchez, 9- Humberto Suazo. Pelatih: Claudio Borghi. Kartu Kuning: Mauricio Isla (26’), Gary Medel (40’), Pablo Contreras (46’), Arturo Vidal (79’). Kartu Merah: Gary Medel (82’)

Venezuela: 1- Renny Vega, 16- Roberto Rosales, 20- Grenddy Perozo, 4- Oswaldo Vizcarrondo, 6- Gabriel Cichero, 8- Tomas Rincon, 14- Franklin Lucena, 11- Cesar Eduardo Gonzalez (15-Alejandro Moreno, 89’), 18- Juan Arango, 7- Miku (23-Salomon Rondon, 59’), 9- Giancarlo Maldonado (13-Luis Seijas, 63’). Pelatih: Cesar Farias. Kartu Kuning: Cesar Eduardo Gonzelez (36’). Kartu Merah: Tomas Rincon (93’)

GEBRAKAN ''LILIPUT'': Bek Venezuela Gabriel Cichero (kanan) dan Juan Arango merayakan gol ke gawang Cile pada duel perempat final Copa America 2011 di San Juan, Senin (18/7) pagi WIB. PHOTO: AFP-GETTY-RONALDO SCHEMIDT

BRASIL 0-0 (0-2, PSO) PARAGUAY (ESTADIO CIUDAD DE LA PLATA)

Hasil Penalti:

Brasil: Elano (gagal), Thiago Silva (gagal), Andre Santos (gagal), Fred (gagal)
Uruguay: Edgar Barreto (gagal), Marcelo Estigarribia (masuk), Cristian Riveros (masuk)

Brasil: 1- Julio Cesar, 13- Maicon, 3- Lucio, 4- Thiago Silva, 6- Andre Santos, 5- Lucas Leiva, 8- Ramires, 10- Paulo Henrique Ganso (18-Lucas Silva, 99’), 7- Robinho, 11- Neymar (19-Fred, 80’), 9- Alexandre Pato (16-Elano, 110’). Pelatih: Mano Menezes. Kartu Kuning: Andre Santos (56’), Maicon (59’). Kartu Merah: Lucas Leiva (102’)

Paraguay: 1- Justo Villar, 2- Dario Veron, 14- Paulo da Silva, 5- Antolin Alcaraz, 17- Aureliano Torres (4-Elvis Marecos, 70’), 13- Enrique Vera (8-Edgar Barreto, 63’), 16- Cristian Riveros, 15-Victor Caceres, 21- Marcelo Estigarribia, 18- Haedo Valdez, 19- Lucas Barrios (23-Hernan Perez, 83’). Pelatih: Gerardo Martino. Kartu Kuning: Enrique Vera (20’), Edgar Barreto (64’), Elvis Marecos (71’), Marcelo Estigarribia (110’). Kartu Merah: Antolin Alcaraz (102’)

————————————————

JADWAL SEMIFINAL

Rabu, 20 Juli 2011

07.45 WIB: Peru vs Uruguay – La Plata

Kamis, 21 Juli 2011

07.45 WIB: Paraguay  vs Venezuela – Mendoza