TROFI JUARA: Diabadikan awak media massa sebelum konferensi pers ''Nadeshiko Japan'' di Tokyo, Selasa (19/7). PHOTO: AFP-GETTY-TOSHIFUMI KITAMURA
IDOLA: Homare Sawa memimpin rekan-rekannya saat mendarat di Bandara Narita, Selasa (19/7) pagi. PHOTO: AP-SHUJI KAJIYAMA

Jepang benar-benar demam sepak bola. Sepekan terakhir, nyaris tidak ada berita maupun foto bisbol dan sumo di halaman depan koran-koran terkemuka di Negeri Sakura. Semua tertuju ke Piala Dunia Peremuan 2011 sejak Homare Sawa dkk melindas favorit juara, tuan rumah Jerman, di perempat final, lantas menggulung ‘’kuda hitam’’ Swedia di semifinal, kemudian mengungguli AS di partai final melalui adu penalti.

Selain juara dunia pertama dari Asia, Nadeshiko juga meraih trofi FIFA Fair Play Award dan ‘’Sepatu Emas’’ untuk Sawa, sang kapten, sebagai Top Scorer (5 gol) sekaligus ‘’Bola Emas’’ sebagai Pemain Terbaik (Player of the Tournament).

BANGGA: Perdana Menteri Jepang Naoto Kan (dua dari kanan) dengan kostum timnas perempuan Jepang didampingi Homare Sawa (dua dari kiri) dan Aya Miyama (kanan). Di sebelah kiri adalah Pelatih Timnas Norio Sasaki. PHOTO: AP-FRANCK ROBICHON-POOL

Jangan heran apabila Sawa dkk mendarat di Bandara Internasional Narita, Tokyo, Selasa (19/7), mereka langsung dielu-elukan fans. Sang pahlawan telah pulang dengan kemenangan. Ratu sepak bola perempuan dunia kini bukan lagi dari Jerman dan negara-negara lain di Eropa seperti Norwegia maupun AS, tetapi Jepang. Nadeshiko. Jepang memang layak menggelar pesta.

AGAR SELALU MENGKILAP: Staf Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) membersihkan trofi-trofi yang diraih timnas perempuan Jepang di Piala Dunia 2011 Jerman sebelum dipamerkan pada konferensi pers di Tokyo, Selasa (19/7). PHOTO: AFP-GETTY-TOSHIFUMI KITAMURA