Hasil leg pertama 1-1 di Ashgabat, kandang Turkmenistan, 23 Juli, belum bisa jadi patokan absolut. Pertandingan tersebut dilangsungkan di lapangan yang sangat, sangat,  sangat tidak layak, sehingga sama sekali tidak terlihat kepiawaian masing-masing tim. Sama sekali bukan tontonan menarik.

Namun, karena yang bermain adalah Timnas Indonesia, mau tidak mau penggandrung sepak bola di negara ini ‘’harus’’ menontonnya. Salut dan apresiasi tinggi layak diberikan kepada Firman Utina dkk atas sukses menahan tuan rumah yang, sejatinya, lebih dirugikan oleh kondisi lapangan yang buruk. Bukan semata karena mereka tidak bisa pamer skill yang sejatinya juga sebanding dengan timnas Merah Putih, tetapi lebih karena tim tuan rumah kurang mampu mengoptimalkan keunggulan power dan speed-nya.

Alhasil, pada laga pertama itu, yang lebih berperan adalah faktor kesalahan dan kontrol emosi. Dua gol yang terjadi pada pertandingan tersebut  –V. Krendelev (11’) dan M. Ilham (29’)— bisa dikatakan juga karena kesalahan antisipasi masing-masing pemain belakang dan kiper karena bola meluncur ‘’tidak wajar’’. Selain itu, faktor emosi berperan mengingat frustrasi gampang mendera tim yang merasa lebih diunggulkan menang, namun masih saja tidak mampu mencetak gol. Kartu merah untuk pemain Turkmenistan A. Gevorkyan (76’) adalah contoh nyata.

Nah, pada leg kedua, apa yang kiranya layak dipertontonkan tuan rumah Indonesia?

Bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Kamis (28/7) malam, kelewat bahaya jika Merah Putih merasa sudah menang hanya dengan bekal seri 1-1 di leg pertama. Dengan kualitas lapangan yang jauh lebih baik, ini tidak hanya menguntungkan Indonesia, tetapi juga Turkmenistan.

Kedua tim pun tertantang menunjukkan skill  yang bisa dikata seimbang. Jika ranking terbaru FIFA yang di-update sehari sebelum laga ini dijadikan acuan, kedua tim berada pada posisi urut kacang: Indonesia di peringkat ke-137 (turun lima tingkat dari posisi bulan sebelumnya) dan Turkmenistan di peringkat 138 (naik lima strip dari posisi bulan sebelumnya).

——————————————————————————

Info tambahan:

Thailand masih bertengger sebagai tim teratas  dari Asia Tenggara dengan menghuni peringkat ke-119 atau naik empat strip setelah pada laga terakhirnya di Kualifikasi Piala Dunia 2014 menang 1-0 atas Palestina. Setelah mengalahkan Malaysia 5-3 juga di Kualifikasi Piala Dunia 2014, Singapura menyalip Indonesia. Peringkat Negeri Singa bulan ini naik tajam 11 strip ke posisi 131, sedangkan Malaysia turun dua strip ke posisi 146. Di peringkat global, juara Copa America 2011 melesatkan Uruguay 13 strip dan kini menduduki peringkat ke-5. Posisi teratas masih ditempati Spanyol, disusul Belanda, Jerman, dan Brasil.

—————————————————————————-

Namun, fakta riil menunjukkan speed dan power masih ada di pihak tim tamu. Oleh karena itu, bermain dengan bola-bola pendek kiranya lebih tepat untuk Indonesia dengan skema tradisional 3-5-2 atau variasinya dibandingkan formasi dasar 4-4-2 yang lebih mengandalkan speed para pemain sayapnya dengan mengutamakan umpan-umpan panjang langsung ke daerah pertahanan Turkmenistan.

Menarik ditunggu apa yang bisa dilakukan pelatih baru timnas Indonesia Wim Rijsbergen pada pertandingan di SUGBK ini. Laga pertama di Ashgabat sama sekali –saya kira, sama sekali— pelatih asal Belanda itu belum berperan. Juga bukan karena kenaikan uang saku dan tiket pesawat seperti yang digemborkan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin di Surabaya, Selasa (26/7), karena substansi pernyataan ketua umum baru ini masih bernuansa politis ‘’mengorek luka lama’’. Yang lalu biar berlalu, Bung! Pun, seolah-olah menyembulkan kesan merendahkan para pemain timnas ‘’baru benar-benar semangat main jika uang saku dan dienakkan ketika naik pesawat’’.

Kondisi lapangan dan, dari yang tampak saat permainan, kiranya yang menonjol adalah peran suntikan moral kekompakan tim oleh Asisten Pelatih Rahmad Darmawan. Nasihat sosok Rahmad memang layak didengar. Dia pelatih yang tegas dan disiplin, mengenal betul karakter para pemain timnas, dan –terpenting—pernah memberi bukti nyata dengan membawa Persipura dan Sriwijaya FC menjuarai Liga Indonesia.

Di SUGBK, penonton sepak bola yang jeli pasti bisa memilah-milah mana hasil kerja Wim, mana pula sentuhan Rahmad. Kita harus sportif mengakuinya. Akan sangat menarik disaksikan seandainya para pemain Turkmenistan benar-benar bisa menunjukkan keunggulan speed dan power-nya di hadapan para pemain timnas yang selama ini masih kerap dikeluhkan staminanya. Apalagi sepanjang tahun ini mereka tidak pernah kumpul mensinkronkan strategi di timnas, termasuk beruji coba, karena benturan ulah pengurus PSSI dan yang berambisi ke kursi PSSI.

Kontribusi apa yang bisa diberikan Wim? Bagaimana pula para pemain Indonesia yang disokong langsung puluhan ribu fans di SUGBK bisa mengontrol emosinya ketika tuntutan untuk menang begitu tinggi? Sambil menanti strategi apa yang bisa dipamerkan Wim di SUGBK, sekali lagi yang terpenting adalah kontrol emosi di lapangan saat dalam kondisi tertekan. Bagaimana seorang Wim menanamkan kedisiplinan itu atau ia tidak bisa lepas dari catatan rahasia dunia atas tradisi para pelatih Negeri Kincir Angin yang cenderung ‘’tidak demokratis’’ kepada para pemainnya?