BINTANG BRASIL: Berpose bersama usai cara undian awal Piala Dunia 2014 di Rio de Janeiro, Minggu (31/7) dini hari WIB. PHOTO: GETTY IMAGES

SAAT bola untuk pertandingan Piala Dunia mulai bergulir di Brasil pada 2014 nanti, ketika itu pula kenangan dan harapan membaur di antara sukacita dan haru. Brasil masih bertengger di takhta tertinggi penguasa sepak bola sejagat dengan lima kali meraih penta Piala Dunia. Negara Amerika Latin itu juga begitu massif mengekspor para pemainnya –baik yang punya nama, sedang-sedang saja, malah asing di negaranya sendiri— untuk mencari perbaikan penghidupan di berbagai belahan penjuru dunia, termasuk di jengkal bumi bernama Indonesia.

Lima kali juara dunia, namun tidak satu pun diraihnya di negara sendiri. Saat Brasil menggelar Piala Dunia 1950, ambisi besar menjadi juara malah terganjal oleh Uruguay di partai final. Menyakitkan! Di hadapan tidak kurang 200 ribu pasang mata di Stadion Maracana, yang khusus dibangun untuk menyambut Piala Dunia tersebut, Ademir sang top scorer tidak mampu membuat seisi Brasil berbahagia seutuhnya.

Setelah Piala Dunia 1950 yang mengesankan tetapi mengecewakan di hasil akhir itu, Brasil dengan para bintangnya justru melanglang dari benua ke benua untuk menjemput trofi juara: dimulai di Swedia pada 1958 dan dipertahankan di Cile pada 1962, 1970 di Meksiko, 1994 di Amerika Serikat, dan terakhir di Korea-Jepang pada Piala Dunia 2002. Yang paling legendaris tentu saja Pele dan sang fenomena Ronaldo Luiz Nazario de Lima, top scorer di Piala Dunia 2002.

Ketika jarum jam pada 2014 memastikan kick-off, berarti setelah 64 tahun pengembaraan di berbagai benua dengan hasil mencengangkan, Piala Dunia kembali lagi ke tanah Samba. Bagi bintang-bintang muda usia seperti Lucas Piazon, Ganso, maupun Neymar, Piala Dunia di rumah sendiri nanti adalah harapan. Piala Dunia 1950 pun bukan kenangan yang komplet melainkan sekadar kisah heroik yang kandas. Jangankan mereka, ayah-ayah mereka pun belum lahir.

Begitu juga dengan Mattheus (Flamengo) yang kelahirannya justru dirayakan sang ayah, Bebeto, dengan selebrasi seperti menimang-nimang bayi usai menjebol gawang Belanda di perempat final Piala Dunia 1994 Amerika Serikat. Bebeto sangat merindukan anaknya bisa bermain bersama Brasil di Piala Dunia.

SANG LEGENDA: Pele menyapa hadirin pada acara undian awal Piala Dunia 2014 di Rio de Janeiro. PHOTO: GETTY IMAGES-MICHAEL REGAN

Bebeto naik panggung saat Undian Kualifikasi Piala Dunia 2014 di Marina da Gloria, Rio de Janeiro, Sabtu (30/7) petang waktu setempat atau Minggu (31/7) dini hari WIB bersama para bintang muda dan serta bintang-bintang yang pernah dimiliki Selecao, seperti Cafu, Ronaldo, Zico, Mario Zagallo. Mereka membantu Sekjen FIFA Jerome Valcke mengundi kontestan kualifikasi pada masing-masing konfederasi. Sebuah apresiasi sekaligus upaya menanamkan spirit berkesinambungan pada Piala Dunia kepada para bintang dan mantan bintang tuan rumah Brasil.

Bagaimana kesannya? Berikut kutipan pernyataan mereka sebelum maupun sesudah drawing dilaksanakan kepada FIFA.com dan sumber lainnya:

‘’Aku sangat takjub bisa berpartisipasi dalam undian awal ini. Aku sangat gembira dengan yang terjadi di sini, di negaraku, saat ini dan begitu merasa terhormat.’’  — Neymar, striker klub juara Libertadores, Santos, yang baru saja bermain untuk Selecao di Copa America 2011, sebelum naik panggung bersama Cafu untuk mengundi Zona Afrika.

‘’Kami menjadi tuan rumah Piala Dunia 1950 saat olahraga ini belum seperti sekarang. Baru setelah kompetisi itu (Piala Dunia 1950) Brasil bisa menjadi seperti saat ini dalam sepak bola. Jika beberapa negara merasa layak menyelenggarakan Piala Dunia, salah satunya adalah Brasil.’’ – Zico, yang naik panggung bersama bintang muda Lucas Piazon mengundi kontestan dari Asia.

‘’Baru saat ini saya betul-betul menyadarinya, namun faktanya Piala Dunia (2014) dimulai di sini. Tentu saja saya memimpikan tentang Brasil 2014 (bisa bermain), meskipun jalan ke sana masih panjang.’’ – Lucas Piazon, gelandang di timnas muda Selecao di Piala Dunia U-17 Meksiko bulan lalu, dan bergabung Chelsea pada akhir tahun ini.

‘’Sangat menakjubkan menyambut seluruh dunia ke negara kami untuk undian ini. Saya benar-benar menyesal tidak mengalami yang seperti ini ketika masih menjadi pemain, namun saya berharap anak saya memenuhi impian saya itu. Banyak hal masih bisa terjadi menuju Piala Dunia 2014. Pemain baru bermunculan tiap tahun dan siapa tahu Mattheus bisa menjadi salah satu dari mereka. Saya selalu berpikir dia ditakdirkan bisa mewujudkannya segera seperti keinginan ketika saya merayakan gol itu (ke gawang Belanda di Piala Dunia 1994).’’ – Bebeto, mantan striker Brasil dan anggota skuad juara di Piala Dunia 1994, mengutarakan harapannya usai melakukan drawing untuk Zona Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF).

Usai Mario Zagallo, salah satu legenda lain Brasil, mantan pemain dan pelatih yang memberikan gelar juara dunia, bersama Fellipe Bastos mengundi untuk Zona Oceania dengan kuota 0,5 tim (yang mana juara dari seluruh proses penyisihan di zona itu harus berhadapan dalam play-offs dengan wakil dari CONCACAF untuk satu tiket ke putaran final),  giliran yang dinanti-nantikan adalah undian untuk Zona Eropa.

‘’Yang bisa saya lakukan saat ini hanya mendukung Brasil dari sisi lapangan. Sejatinya saya masih ingin bermain di Piala Dunia Brasil ini, namun masa saya telah lewat.’’ – Ronaldo, yang bermain di empat kali Piala Dunia, saat mengundi untuk Zona Eropa bersama Ganso.