KONSISTENSI BOAZ: Ketajaman dan assists matang Boaz Solossa masih diharapkan timnas Indonesia untuk mencapai hasil maksimal di Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia. PHOTO: AFP-GETTY-ADEK BERRY

Undian Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia menempatkan Indonesia di Grup E bersama Iran, Qatar, dan Bahrain. Dibilang ringan tidak. Dikata kelewat berat juga bukan. Ketiga negara tersebut belakangan juga tidak menunjukkan performa yang sangat cemerlang, baik di level benua maupun dunia.

Dalam sejarahnya, Merah Putih pernah berjumpa dengan ketiga rivalnya tersebut, umumnya di kejuaraan Piala Asia. Data masa silam memang bukan referensi absolut, namun setidaknya cukup bermanfaat untuk sedikit memberi wawasan tentang pola main ketiga negara dari Asia Barat itu.

Memang butuh perjuangan ekstrakeras. Bagaimanapun, dibandingkan ketiga rivalnya itu berdasarkan pemeringkatan termutakhir oleh FIFA, Indonesia memang yang terendah: di posisi 137 dunia. Sedangkan Iran di peringkat ke-54, Qatar di posisi ke-90, dan Bahrain di tangga ke-100.

Berikut singkat sejarah pertemuan Indonesia dengan ketiga rivalnya tersebut sebelum memulai pertandingan Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia:

IRAN: Dalam tiga kali pertemuan sebelumnya, yang terakhir pada Kualifikasi Piala Asia 1984, Indonesia tidak pernah menang melawan Team Melli – julukan Iran. Dari tiga pertemuan tersebut, Indonesia kalah dua kali dan seri sekali. Kini dipoles Carlos Queiroz –mantan Pelatih Timnas Portugal, Asisten Manajer Manchester United Sir Alex Ferguson, dan Pelatih Real Madrid— Iran berambisi bisa melaju lagi ke putaran final Piala Dunia sebagaimana pernah diukirnya pada Piala Dunia 1978, 1998, dan 2006.

Masih memanfaatkan para pemain muda yang dimunculkan Afshin Ghotbi di Piala Asia 2011 pada Januari lalu, Queiroz semakin memberikan peran lebih tidak hanya menyoal mental kepemimpinan di lapangan, namun juga kreativitas permainan kepada Kapten Javad Nekounam. Bersama rekan setimnya di klub Osasuna (Spanyol), Masoud Shojaei, keduanya kini menjadi roh serangan Iran. Kepaduan mereka semakin lengkap ketika Queiroz kembali memanggil playmaker veteran yang berpengalaman di tiga edisi terakhir Kualifikasi Piala Dunia, Ali Karimi, untuk menambah daya dobrak Team Melli.

Di lini depan, striker muda Karim Ansarifard bisa menjadi ancaman serius. Sementara di lini belakang koordinasi pertahanan berada di bawah kendali pemain kenyang pengalaman Mohammad Nosrati. Seperti Indonesia yang mendapatkan bye di Putaran Pertama, pada Putaran Kedua Kualifikasi Zona Asia ketajaman Iran ditunjukkan dengan menggulung Maladewa dengan agregat 5-0.

Banyak media internasional meramalkan Iran adalah favorit lolos ke Putaran Keempat dari Grup E ini. Namun, dengan peningkatan kondisi fisik, bukan mustahil Indonesia bisa menyulitkan Team Melli ini.

QATAR: Indonesia bisa berharap menambang poin dari Qatar. Tim ini sebenarnya tidak terlalu istimewa. Qatar tidak pernah mencapai putaran final Piala Dunia. Prestasi terbaik mereka adalah lolos hingga Putaran Keempat (fase terakhir yang terbagi dalam dua grup) Kualifikasi Piala Dunia 1990. Karena di klasemen akhir grupnya menempati posisi ketiga di bawah Korsel dan Uni Emirat Arab, Qatar gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 1990 di Italia.

Dari segi permainan, Qatar juga terbilang kurang konsisten. Pada leg kedua Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2014 lalu, mereka bisa dikalahkan Vietnam 1-2. Mereka tetap lolos ke Putaran Ketiga karena menang 3-0 di kandang pada leg pertama, sehingga unggul agregat 4-2. Jika Vietnam bisa, mengapa Indonesia tidak?

Apalagi dalam sejarah pertemuan Qatar juga menguntungkan Indonesia, yakni dua kali menang, sekali seri, dan sekali kalah. Dalam pertemuan terakhir di babak Penyisihan Grup Piala Asia 2004, Merah Putih mampu menekuk Qatar 2-1.

Jika ada yang layak diwaspadai, tentu saja spirit mereka. Qatar pasti akan berjuang keras mencapai putaran final sebagai kampanye awal nan mengesankan menuju tuan rumah Piala Dunia 2022. Untuk itu, Pelatih Milovan Rajevac sangat mengandalkan kontribusi mantan Pemain Terbaik Asia Khalfan Ibrahim.

Semakin bergairahnya liga domestik profesional di Qatar selama satu dasawarsa terakhir andil melahirkan pemain-pemain bertalenta. Selain Ibrahim, playmaker Hussein Yasser yang kini bermain untuk klub papan atas Zamalek di Mesir juga akan menjadi ancaman serius yang layak diwaspadai. Bersama Ibrahim, Yasser tidak hanya pernah andil membawa Qatar sebagai juara Piala Teluk 2004, tetapi bersama Zamalek juga terbiasa dengan iklim kompetisi yang ketat sepak bola Afrika.

Di lini belakang, Ibrahim Majed selama ini juga cukup solid mengawal pertahanan. Yang layak dan menarik dicermati adalah lini depannya. Selain memiliki modal pada deretan striker mudanya seperti Hassan Al Haydous, Khaled Muftah, dan Yousef Ahmad, Qatar juga mengandalkan kontribusi beberapa pemain naturalisasinya, khususnya Sebastian Soria yang kelahiran Uruguay. Wow, akan sangat menarik menyaksikan striker Indonesia Cristian Gonzales yang juga kelahiran Uruguay, bakal bersaing dengan Soria pada Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia ini.

BAHRAIN: Meskipun ranking global Bahrain saat ini lebih baik dari Indonesia, itu bukan jaminan mutlak mereka bakal lebih baik di lapangan nanti. So, Merah Putih tidak perlu pesimistis. Spirit tempur harus terus dipompa. Mengapa demikian?

Biarlah sebagian media di Teluk dan media internasional menjagokan Bahrain atau Qatar sebagai pendamping kuat Iran ke Putaran Keempat. Namun, fakta menunjukkan rekor pertemuan antara Indonesia dan Bahrain masih berpihak ke Merah Putih. Indonesia mencatatkan dua kali menang, dua seri, dan cuma sekali kalah saat menghadapi Bahrain.

Bahrain mengalahkan Indonesia 3-1 pada Piala Asia 2004. Namun, pencinta sepak bola di Indonesia masih ingat betul bahwa di Piala Asia 2007 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Merah Putih membalasnya dengan kemenangan 2-1. Bahrain setidaknya selevel dengan Indonesia dan kiranya lebih berpeluang dikalahkan dibandingkan Iran maupun Qatar.

Meski demikian, seharusnya Indonesia tidak menutup mata bahwa Bahrain bisa menjadi ancaman serius. Selepas tampil sebagai semifinalis Piala Asia 2004 di China, dua kali Bahrain melaju mewakili Asia dalam play-offs melawan wakil zona lain, yakni melawan Trinidad dan Tobago (CONCACAF) untuk satu tiket ke putaran final Piala Dunia 2006 Jerman dan kontra Selandia Baru (Oceania-OFC) untuk putaran final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Namun, pada dua kesempatan play-offs tersebut dua kali pula Bahrain gagal.

Tentu Bahrain tidak ingin mengulang kegagalan itu di Kualifikasi Piala Dunia 2014. Di bawah polesan pelatih asal Inggris, Peter Taylor, Bahrain bahkan berambisi meraih tiket ke putaran final tanpa harus lagi melalui play-offs. Tinggal mencermati bagaimana kecerdikan Taylor meramu talenta-talenta menjanjikan sekaligus kenyang pengalaman dari bermain untuk klub-klub luar negeri, seperti Mohammed Salmeen, Mahmood Abdulrahman, Fouzi Aaish, Ismail Abdullatif, dan lain-lain.

JADWAL PERTANDINGAN TIMNAS INDONESIA

2 September 2011 (Away)

Iran vs INDONESIA

6 September 2011 (Home)

INDONESIA vs Bahrain

11 Oktober 2011 (Home)

INDONESIA vs Qatar

11 November 2011 (Away)

Qatar vs INDONESIA

15 November 2011 (Home)

INDONESIA vs Iran

29 Februari 2012 (Away)

Bahrain vs INDONESIA