Coba pasang gambar peta dunia (global map). Tarik garis mulai dari Jakarta, Singapura, Vietnam, Kamboja, transit di Madrid (Spanyol) dalam perjalanan menuju Rep. Dominika, baru mendarat di Kolombia. Itulah pelarian lintas benua yang ditempuh bekas Bendahara Umum DPP Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, tersangka dalam kasus suap proyek wisma atlet SEA Games di Palembang, seperti dipaparkan Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Anton Bachrul Alam.

Dengan paparan tersebut, gugur sudah hipotesis yang berseliweran sebelumnya bahwa Nazaruddin masih di Singapura. Lalu ada juga yang bilang dari Singapura, ia terbang ke Kamboja dan masih di sana. Bisa juga ke negeri leluhurnya di Pakistan. Malah saat nongol di televisi dengan ‘’tampang teraniaya bertopi sulam compang-camping ala pengemis’’ berdistorsi seperti jingle Sari Roti, ada juga yang meyakini Nazar masih di wilayah Indonesia. ‘’Di Riau sangat mungkin,’’ ujar seorang kawan.

Heran juga Nazar bisa berakting seperti itu. Padahal, kata seorang teman di Jember, saat kampanye Pileg 2009 Nazar dikenal sebagai caleg yang paling tidak banyak ulah dibandingkan caleg-caleg lain. Dia irit bicara, tetapi paling gemar berderma.

Orang bebas menduga, tetapi hasil pelacakan Polri bekerja sama dengan Interpol akhirnya memastikan seorang buron bernama Nazar hinggap di Kota Cartagena, Kolombia, di Amerika Latin dan bisa dibekuk pada Minggu (7/8) dini hari waktu setempat. Ia bisa sampai sana berbekal paspor palsu dengan nama Syarifuddin –sebelumnya sempat beredar nama ‘’Safarudin’’ dan ”Syahruddin”.

Anton mengatakan, kemungkinan Nazar meninggalkan Kamboja pada 23 Juli lalu dan tiba di Bogota, Ibu Kota Kolombia, sehari berikutnya. Baru kemudian ia bersama istri dan beberapa ‘’pengawalnya’’ bergeser ke Cartagena.

Bagaimana polisi mampu melacaknya? Menurut Anton, dibantu petugas dari Keimigrasian dan dari markas Interpol di Lyon, keberadaan Nazar diketahui berkat identifikasi sidik jarinya. Mereka lantas berkoordinasi dengan Kepolisian Kolombia untuk menangkap Nazar dan berhasil.

Pernyataan Anton tersebut mengonfirmasi sinyalemen sebelumnya oleh Menko Pohukam Djoko Suyanto yang mengatakan, seseorang identik dengan Nazar ditangkap di Kolombia.

Yang menjadi pernyataan, mengapa Safarudin –eh, Nazaruddin— memilih kabur sejauh Cartagena? Jika mau Kartasura kan sangat lebih dekat?

Hehehe… Jawabannya sederhana. Tak perlu teori canggih dan segudang argumentasi. Di Cartagena tidak banyak, bahkan mungkin dikira Nazar tidak ada, yang mengenalnya. Jika mau belajar dari para buron terorisme, bersembunyi di mana pun di wilayah republik ini lambat laun terdeteksi juga.

Mungkin Nazar atau orang-orang di sekitarnya, baik yang menyertai atau tidak, sangat paham event. Saat ini di Kolombia tengah berlangsung kejuaraan Piala Dunia U-20 (FIFA U-20 World Cup). Tepatnya dimulai pada 29 Juli (30 Juli WIB) hingga 20 Agustus (21 Agustus WIB) 2011 waktu setempat. Bahkan Cartagena juga menjadi salah satu venue pertandingan, seperti laga-laga penyisihan di Grup E (Austria vs Panama) pada 30 Juli WIB serta di Grup F (Meksiko vs Inggris) dan Grup E (Mesir vs Austria) pada 5 Agustus WIB.

Pada kejuaraan yang kini telah memasuki fase knock-out (16 besar) itu, Cartagena juga menjadi lokasi pertandingan Prancis vs Ekuador pada 11 Agustus WIB. Satu laga perempat final yang mempertemukan pemenang Portugal vs Guatemala kontra pemenang Argentina vs Mesir juga berlangsung di Cartagena pada 14 Agustus WIB.

Lazimnya negara yang sedang menggelar hajatan kelas dunia, apalagi untuk cabang sepak bola, seleksi terhadap pengunjung –bukan pengamanan dalam arti menangkal bahaya— biasanya agak diperlonggar. Dari perhelatan itu, negara seperti Kolombia juga berharap mampu mendatangkan pengunjung sebanyak mungkin untuk mengisi kas pendapatan nasionalnya dari sektor-sektor lain seperti pariwisata.

Oleh karena itu, terlalu keji jika sampai ada yang mengatakan Nazar memilih ke Kolombia karena negara ini lekat dengan pengamanan melekat oleh mafia atau kartel obat-obat terlarang. Kolombia mungkin belum sepenuhnya bebas dari praktik-praktik mafia seperti itu, termasuk pula kekuatannya mengontrol beberapa elite politik dan pejabat di sana.

Bagaimanapun, kita harus mengapresiasi berbagai kemajuan positif yang dicapai Kolombia selama beberapa tahun terakhir. Seperti dinyatakan netizen yang mengaku bernama Arnaldo Meneses dari Bogota, Kolombia, di kolom komentar portal The Jakarta Post, Kolombia di bawah kepemimpinan Presiden baru Juan Manuel Santos sangat beda dibandingkan dengan pemimpin sebelumnya, Presiden Alvaro Uribe.

Santos sangat gigih memerangi korupsi, termasuk yang diwariskan oleh rezim Uribe yang juga dilabeli sebagai ‘’presiden terkorup dalam sejarah Kolombia’’. Pemerintahan Santos berpegang pada prinsip bahwa demokrasi harus mampu meminimalkan praktik-praktik korupsi untuk mencapai kemajuan dan pembangunan bagi rakyat.

Dengan prinsip pemerintahan Kolombia saat ini di bawah Presiden Santos, besar harapan Nazar bisa dibawa pulang ke Indonesia agar secara ksatria menceritakan yang semestinya. Tidak lagi bagai ‘’hantu peneror’’ yang datang dan pergi entah dari mana serta tidak jelas juntrung-nya.

Nanti, dari hasil investigasi menyeluruh terhadap kasus Nazar, bangsa ini diharapkan bisa kembali bertanya pada diri sendiri, bagaimana korupsi di negara ini berkembang biak pascareformasi dan di tengah prestasi demokrasi yang digembar-gemborkan itu: makin terkendali atau malah kian tidak tahu diri?