TIMNAS QATAR: Pemain naturalisasi Qatar Fabio Cezar (depan) dan rekan-rekan berlatih di Doha, Kamis (11/8) malam. PHOTO: AFP-GETTY-KARIM JAAFAR

SETIAP tim punya masalah. Sepak bola Indonesia masih memendam beberapa masalah meski benang panjang yang ruwet seputar kepengurusan PSSI mulai terurai. Angkat topi untuk skuad Merah Putih yang tidak menggubris masalah yang dibuat para ‘’makelar bola’’ itu saat melakoni dua laga di Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia.

Mereka tetap berlaku profesional: main dan sukses menyisihkan Turkmenistan hingga lolos ke Putaran Ketiga. Biarlah masalah tersisa di organisasi PSSI diurus yang berwenang. Fokus skuad Merah Putih tidak lain ke laga-laga yang semuanya krusial di Putaran Ketiga agar lolos ke fase selanjutnya walaupun, harus diakui, jalan menapakinya tak semulus lantai di Kantor PSSI.

Sesuai hasil drawing di Brasil jelang akhir Juli lalu, pada Putaran Ketiga Indonesia berada di Grup E bersama Iran, Qatar, dan Bahrain. Dari tiga rival ini, setidaknya dua tim juga mengalami masalah serius. Mereka adalah Qatar dan Bahrain.

Timnas Qatar harus menata lagi kepercayaan dirinya seturut pemecatan Pelatih Milovan Rajevac pada Minggu (7/8) lalu. Meskipun berhasil membawa tim yang baru lima bulan dibesutnya itu lolos ke Putaran Ketiga, pelatih asal Serbia tersebut dicap gagal karena pada leg kedua Putaran Kedua timnya bisa dikalahkan tuan rumah Vietnam 1-2 di Hanoi. Qatar tetap lolos karena unggul agregat 4-2 karena menang 3-0 saat leg pertama di kandangnya di Doha.

Dalam pandangan Persatuan Sepak Bola Qatar (QFA), meskipun Rajevac pada Piala Dunia 2010 Afrika Selatan berhasil membawa Ghana ke perempat final dan kalah dari Uruguay melalui adu penalti, kekalahan di Hanoi memberi bukti bahwa ia tidak cukup mumpuni mengampu timnas mereka. Bisa dikalahkan oleh bukan tim terkuat di Asia Tenggara –saat ini peringkat global Vietnam (144) alias masih di bawah timnas Thailand (119), Singapura (131), dan Indonesia (137)— merupakan alarming result. Hasil yang mencemaskan. Layak diwaspadai!

Padahal, disokong sejumlah pemain naturalisasi seperti Sebastian Soria dan Fabio Cezar, Qatar kali ini benar-benar berambisi menembus putaran final Piala Dunia 2014 Brasil. Apalagi mereka juga menempatkan sukses di Piala Dunia 2014 sebagai kampanye jitu menuju tuan rumah Piala Dunia 2022. Sejauh ini Qatar belum pernah lolos ke putaran final Piala Dunia.

‘’Kami mengucapkan terima kasih atas upaya-upayanya (Rajevac). Namun, kami merasa inilah saatnya terus melaju, sehingga demi kedua pihak kami sepakat putuskan mengakhiri kontrak,’’ ujar Presiden QFA Sheikh Hamad bin Khalifa al-Thani sebagaimana dilansir Reuters.

BEBAN TINGGI: Pelatih baru Qatar asal Brasil, Sebastiao Lazaroni, memimpin sesi latihan di Doha, Kamis (11/8) malam. PHOTO: AFP-GETTY-KARIM JAAFAR

Rajevac pergi, Sebastiao Lazaroni dari Brasil pun dipasang sebagai pelatih baru. Sebelum menukangi timnas, Lazaroni adalah pelatih klub lokal Qatari Sports Club. Dia juga pernah menukangi timnas Brasil di Piala Dunia 1990 Italia. Namun ketika itu Brasil ditekuk 0-1 oleh seteru klasiknya dari Amerika Latin, Argentina, pada putaran kedua. Usai Piala Dunia itu, Lazaroni juga pernah melanglang memoles Fiorentina dan Bari (Italia), Fenerbahce (Turki), serta mengarsiteki timnas Jepang, Portugal, dan Arab Saudi.

Tidak cukup percaya diri usai pergantian pelatih itu, Qatar memutuskan membatalkan pertandingan uji coba internasional melawan Irak pada 10 Agustus. Timnas Qatar, dalihnya, butuh persiapan di bawah kendali Lazaroni. Namun Lazaroni akan menghadapi pembuktian pertamanya pada 2 September nanti ketika laga pertama Grup E di Bahrain yang juga sedang dirundung masalah.

Berbeda dengan Qatar, masalah Bahrain tidak menyoal teknik. Pelatih Bahrain asal Inggris, Peter Taylor, justru dihadapkan pada dampak politik ideologi pada kesiapan skuadnya mengarungi Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia ini.

Sejumlah pilar hingga pekan ini belum masuk daftar, apalagi bergabung dengan skuad yang juga sedang berlatih di Dubai, karena keterlibatan mereka dalam aksi protes berdarah beberapa bulan belakangan. Aksi-aksi protes tersebut dimotori kaum Syiah yang menuntut hak-hak lebih besar dari para penguasa Sunni di sana.

Umumnya beberapa pilar timnas Bahrain yang terlibat dalam aksi-aksi protes itu adalah pengikut Syiah, seperti dua bersaudara Alaa dan Mohammad Hubail, Abbas Ayaad, Mahmoud Al Oujami, dan Sayed Mohamad Adnan. Mereka bahkan sempat ditahan, kemudian dibebaskan, tetapi nama-namanya tidak lagi tertera di skuad timnas. Bahkan, diyakini atas perintah Asosiasi Sepak Bola Bahrain (BFA), mereka juga diskorsing bermain untuk klubnya.

Saat ini mereka bebas dari tahanan, tetapi status tersangka dalam aksi-aksi protes itu belum dicabut. Mohamad dan Alaa Hubail berperan membawa Bahrain mencapai semifinal Piala Asia 2004. Mohamad telah divonis dua tahun pada Juni lalu, sedangkan Alaa dan lain-lainnya dijadwalkan baru diajukan ke pengadilan usai bulan Ramadhan, yaitu September depan.

Taylor mengaku tidak mau ambil pusing dengan masalah politik dan urusan klub. Menurut pelatih yang mulai memoles timnas Bahrain sejak Juli lalu itu, sejauh yang bersangkutan fit bermain sepak bola dan dinilai layak masuk timnas, mereka pasti akan masuk skuad. Tidak takut dipecat oleh BFA?

‘’Kami belum sampai pada tahap itu. Saya harus melihat mereka bermain dulu karena mereka selama ini dilarang bermain oleh klub maupun federasinya,’’ ujarnya seperti dilaporkan The Associated Press.

Yang jelas, anggota skuad timnas seperti Ibrahim Mishkhas yang Sunni sangat berharap para pilar itu ada di tim pada saat laga-laga penting. Mereka, kata Mishkhas, layak mendapatkan kesempatan kedua. ‘’Setiap orang pasti pernah berbuat salah. Ini memang bukan keputusan saya, tetapi saya sangat ingin mereka kembali,’’ ujar bek yang telah 15 tahun membela timnas Bahrain ini.

BFA sejauh ini belum berkomentar soal membawa balik para pemain Syiah itu ke timnas. Namun, Juli lalu mereka mengatakan kepada FIFA bahwa tidak benar telah menjatuhkan sanksi kepada atlet.

Layak ditunggu perkembangan selanjutnya. Namun Bahrain, negeri kecil yang berpenduduk hanya 525.000, memang sangat berambisi ke Piala Dunia setelah tersingkir menyakitkan oleh Selandia Baru pada play-offs antarbenua memburu satu tiket ke Piala Dunia 2010 Afsel.

Taylor memahami ambisi itu, tetapi mantan arsitek timnas U-21 Inggris serta beberapa klub seperti Leicester City dan Crystal Palace ini berusaha menancapkan target yang rasional. Di bawah kendali Taylor, Bahrain cuma sekali melakukan uji coba, yakni melawan Oman pada 10 Agustus lalu, dan berakhir seri 1-1 setelah sempat terhenti pada babak kedua karena lampu stadion padam.

Peluang Merah Putih

Kondisi di skuad Qatar dan Bahrain tersebut memberikan kans kepada timnas Indonesia untuk memetik hasil maksimal saat menjamu keduanya secara beruntun setelah melakoni laga perdana ke kandang Iran pada 2 September yang diramalkan sulit untuk dimenangi. Seri akan menjadi capaian bagus. Sejauh ini Indonesia belum pernah menang lawan Iran.

Indonesia menjamu Bahrain pada 6 September dan Qatar pada 11 Oktober. Katakanlah, jika pada laga perdana ke kandang Iran itu kalah, maka Merah Putih bisa mencari poin penggantinya pada dua laga kandang ini. Kemenangan beruntun di rumah sendiri akan memberikan kepercayaan diri cukup tinggi untuk skuad Merah Putih polesan Wim Rijsbergen.

Sekali lagi, ini sekadar rekaan di atas kertas, jika kemenangan dua laga home itu dicapai, saat ke Doha, kandang Qatar, pada 11 November, Merah Putih bisa memaksakan minimal seri. Begitu pula ketika menjamu Iran pada 15 November dan, terakhir, melawat ke Bahrain pada 29 Februari 2012.

Katakanlah, dari dua kali kemenangan plus tiga kali seri, sembilan poin bakal dikantongi Indonesia dan membuka harapan lolos ke Putaran Keempat. Lagi-lagi, sekali lagi, proyeksi itu juga rasional. Selain masalah-masalah yang dihadapi Qatar dan Bahrain, spirit dari catatan prestasi masa silam juga berpihak ke Indonesia.

Tentu Merah Putih butuh penyuntik moral andal dan dukungan semangat besar. Tidak kalah penting, di atas segalanya, pembuktian kecerdikan serta kepiawaian Wim Rijsbergen dan stafnya dalam mengampu timnas Merah Putih. Jayalah Indonesiaku, Harmoni Bangsaku…