Nama Anzhi Makhachkala belakangan kian mengglobal. Anzhi, demikian klub asal Rusia itu biasa disebut, semakin tenar seturut kemampuannya menggaji Samuel Eto’o sebagai pemain termahal di dunia mengungguli dua penyandang gelar Pemain Terbaik Dunia, Lionel Messi (Barcelona) dan Cristiano Ronaldo (Real Madrid).

Setelah melalui negosiasi panjang alot, demikian Gazzetta dello Sport kemarin, Eto’o akhirnya menanggalkan kostum Inter Milan dan bergabung Anzhi dengan nilai transfer 27 juta euro (US$ 38,9 juta). Lewat kesepakatan yang diformalkan pada Senin (22/8) ini, Anzhi bakal memberikan kontrak selama tiga musim untuk striker berkebangsaan Kamerun itu dengan nilai 20 juta euro (US$ 28,8 juta) per musim. Nilai kontrak Eto’o ini melampaui catatan kontrak Ronaldo yang senilai 12 juta euro per musim di Real Madrid dan 10,5 juta euro per musim yang diterima Messi dari Barcelona.

Dengan duit tersebut, dompet Inter kini cukup tebal untuk menarik Diego Forlan dari Atletico Madrid, Ezequiel Lavezzi dari Napoli, atau Carlos Tevez dari Manchester City pada bursa musim panas hingga pengujung Agustus ini. Para calon pendatang itu akan ditandemkan dengan beberapa penggedor yang kini dimiliki Inter, seperti Giampaolo Pazzini, Diego Milito, dan Goran Pandev.

Meskipun tidak menorehkan rekor baru transfer, kepindahan striker Kamerun berusia 30 tahun itu berhasil terpampang pada deretan atas nilai transfer musim ini. Nilai tertinggi transfer ditempati Javier Pastore (42 juta euro) dari Palermo ke Paris Saint-Germain, Sergio Aguero dari Atletico Madrid ke Manchester City (38 juta euro) , dan Cesc Fabregas menuju Barcelona dari Arsenal (29 juta euro).

Seperti apa Anzhi yang bertaji mengeluarkan fulus sebanyak itu untuk Eto’o? Siapa miliuner yang menopang klub ini?

Anzhi baru berdiri pada 1991 di Makhachkala, ibu kota Republik Dagestan di wilayah selatan Rusia. Pascatumbangnya imperium Uni Soviet, republik-republik kecil berdiri –tidak berbeda dengan provinsi di negara-negara lain— sebagai bagian dari Republik Federasi Rusia saat ini.

Seperti dinukil dari Wikipedia, Anzhi Makhachkala berasal dari sebagian nama kuno kota itu, Azhi-Qala. Kata Anzhi berarti fortress (benteng) serta Qala  bermakna tanah dalam bahasa Arab dan Turki. Di kancah persepakbolaan Rusia, Anzhi Makhachkala berjuluk Dikaya Diviziya  (Divisi Rimba Raya). Mengapa demikian?

Tidak lain, menurut berbagai referensi, karena asal dan sepak terjang klub tersebut di liga sepak bola Rusia. Dagestan bertengga dengan wilayah-wilayah di Kaukasus Utara yang rawan gejolak dan konflik militer untuk menuntut otonomi lebih luas maupun pemisahan diri dari pemerintahan pusat di Kremlin. Chechnya adalah contoh nyata. Tidak terkecuali Anzhi Makhachkala, tim-tim sepak bola dari republik-republik kecil juga diawasi ketat dalam pelbagai level kompetisi yang diikutinya. Karena dinilai rawan konflik, sarana dan prasarana pun kurang mendapatkan perhatian.

Anzhi contoh nyata. Setahun setelah berdiri, klub ini mengikuti liga Divisi Dua Rusia dan promosi ke Divisi Satu pada 1996. Pada 2000, mereka menggapai kasta tertinggi, Liga Primer Rusia, namun terdegradasi ke Divisi Satu dan bertahan hingga 2009. Akhir musim 2009, mereka menjuarai Divisi Satu sehingga promosi lagi ke Liga Primer pada musim 2010-2011. Di akhir musim itu, Anzhi finish pada urutan ke-11.

Anzhi kian mantap menatap masa depan setelah pada 18 Januari 2011 miliuner Suleiman Kerimov (di peringkat ke-118 orang terkaya dunia versi termutakhir Majalah Forbes dengan kekayaan sekira US$ 7,8 miliar, setingkat dengan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi) mengambil alih kepemilikan klub tersebut. Sebenarnya bukan proses takeover mengingat Kerimov awalnya berkomitmen siap mendanai klub itu yang dililit masalah keuangan. Tetapi, menurut berbagai sumber, Presiden Republik Dagestan Magomedsalam Magomedov memberikan 100 persen kepemilikan saham di klub itu, termasuk 50 persen yang dimiliki pemilik lama klub Igor Yakovnev, kepada Kerimov.

Sejak itu, revolusi pun dimulai. Kerimov mencanangkan investasi hingga US$ 200 juta untuk Anzhi, termasuk merenovasi home ground Stadion Dinamo dari yang saat ini berkapasitas 40 ribu menjadi 80 ribu tempat duduk. Fasilitas-fasilitas lain juga dibenahi supaya sesuai dengan standar internasional.

Karena berbagai fasilitas yang belum memadai itu, hingga kini para pemain Anzhi masih berlatih di kamp latihan mereka di luar Moskow. Mereka pun harus menempuh perjalanan dengan kereta atau pesawat sejauh 2.000 km setiap kali harus menjalani laga kandangnya di Makhachkala. Dengan demikian, dalam semusim setidaknya 15 kali mereka menempuh perjalanan panjang itu untuk laga home dari pusat latihan di luar Moskow.

Karena fasilitas yang dinilai tidak layak plus ketegangan bersenjata di daerah sekitar di Kaukasus Utara, Chechnya khususnya, pada Piala UEFA musim 2001-2002 silam, Anzhi harus menjalani laga putaran pertamanya melawan Rangers FC (Skotlandia) di tempat netral. UEFA menunjuk Warsawa (Polandia). Anzhi pun terpental dengan skor 0-1 yang berdampak pada performa berikutnya di Liga Primer dan terdegradasi.

Dengan kucuran fulus Kerimov, Anzhi kian mantap menatap musim ini setelah Eto’o resmi bergabung. Target mereka adalah Liga Champions atau Liga Eropa musim depan. Untuk itu, Eto’o yang telah telah dua kali andil memberikan dua trofi Champions bagi Barcelona dan sekali untuk Inter Milan tidak sendirian.

Pada 16 Februari 2011, Kerimov merekrut bintang veteran Brasil Roberto Carlos. Meskipun usianya telah 38 tahun, ia dinilai masih mumpuni sehingga didaulat menjadi kapten Anzhi. Klub ini sangat berharap peran Carlos dan Eto’o, yang musim lalu mempersembahkan total 37 gol untuk Inter di segala ajang, bisa mewujudkan ambisi Anzhi ke pentas Eropa.

Pada Februari tahun ini juga, Anzhi merekrut gelandang Brasil Jucilei da Silva, yang bulan lalu dipanggil masuk skuad timnas oleh Pelatih Mano Menezes, dari Corinthians. Sebulan berikutnya, giliran Mbark Boussoufa (Maroko) diangkut dari klubnya, Anderlecht (Belgia).

Sebelumnya transfer musim ini sukses menghadirkan Eto’o, Anzhi juga berhasil memboyong pulang Yuri Zhirkov dari Chelsea dan gelandang Timnas Hungaria Balazs Dzsudzsak.

Bagaimana pembuktian Eto’o dan Anzhi musim ini? Digdayakah kucuran uang Kerimov? Layak dinanti.