MENENTANG sosok jauh lebih mudah ketimbang melawan sebuah sistem, apalagi rezim yang telah tersistem dan melahirkan pola pikir serta perilaku sistemik. Maka, tidak mengherankan apabila sosok yang dinilai sebagai simbol maupun icon sebuah rezim berhasil ditumbangkan, tidak ada jaminan pasti pola pikir dan perilaku rezimnya otomatis terkubur dalam-dalam di liang lahat tanpa setitik lubang jarum menguap ke permukaan.

PHOTO: AFP

Ketika sebuah rezim bisa digulingkan dan tatanan yang dibangunnya ikut diporakporandakan karena dicap antipembaruan, antireformasi, dan anti- anti- lainnya yang dinilai benar, maju, dan berbudaya, saat itu pula sejatinya sebuah kerja besar menantang baru dimulai. Tidak sekadar memancang harapan, tetapi pembuktian atas slogan-slogan yang mengisi ruang publik semasa ‘’kampanye penggulingan’’ yang cenderung abstrak (kata sifat) menjadi kata kerja, kinerja nyata.

Wajar. Itulah jalan hidup. Warna dan tantangan hidup. Sunnatullah. Bikin hidup lebih hidup. Socrates sang filsuf (bukan salah seorang pesepak bola legendaris dan mantan kapten Brasil yang tidak pernah mengantarkan timnasnya menjadi juara dunia itu) mengatakan, the unexamined life is not worth living. Hidup tanpa ujian sungguh tidak layak dijalani.

Siapa pun berani menantang ujian hidup pasti memetik hasilnya: berhasil atau gagal, lulus atau tidak lulus. Kiranya semua itu hanya warna hidup. Sang pemberani tidak jarang disambut aplaus dan dielu-elukan, diidolakan dengan label pelaku perubahan –the agent of change lah kata orang-orang sekolahan. Disengat laporan media serta kalimat-kalimat penuh nada canda dan amarah di spanduk dan pamflet, dari hari ke hari massa pengidola bertambah karena, menurut Eric Hoffer dalam True Believer, mereka merasa senasib sebagai kumpulan sosok yang haus perubahan dan memiliki satu tujuan.

Ketika komandan perubahan hadir, psikologi massa menjadi dominan melihat satu tujuan. Massa bergerak. Massa bertindak. Hipnotisme suara hati massa kerap mengalahkan pertimbangan masing-masing kepala dan ‘’mencoba curiga’’ untuk jangka panjang. Yang penting, saatnya bertindak. Ujian harus dilalui karena hanya itu yang akan membuat hidup lebih berarti. Amboi, romantisnya. Lebih romantis lagi jika tujuan tercapai, barangkali seindah pasutri yang sedang berbulan madu.

Sayang, tidak jarang pula cita-cita mulia perubahan yang membebaskan diwarnai provokasi yang tidak mendidik, pembiaran, bahkan tindakan anarkistis. Disayangkan pula apabila mereka yang dinobatkan sebagai aktor (otak kotor?) serta yang menganggap diri sendiri sebagai aktor bersama massanya dituntut tidak asal bekerja dengan spirit coba-coba, melainkan kerja yang terukur hasilnya.

Ada parameter kinerja yang memberikan peluang kepada publik untuk menilai tidak lagi sekadar faktor akseptabilitas para aktor, tetapi juga akuntabilitas berdasarkan kapabilitas mereka.

Jika semua paparan tersebut diposisikan sebagai teleskop, bagaimana kondisi di Indonesia saat ini pasca Pak Harto dan Nurdin Halid?

Para penentang bersorak kegirangan penuh kemenangan ketika Pak Harto dan Nurdin terguling. Padahal yang mereka tumbangkan itu sekadar simbol dari sebuah sistem yang telah mengakar dan dijanjikan oleh para aktor bakal dienyahkan seturut spirit reformasi (versi mereka) yang digelorakan.

Yang terjadi kemudian? Tampaknya tidak perlu lagi banyak dipapar di sini karena realitas sehari-hari telah menjawabnya. Benarkah presiden-presiden pengganti lebih cakap dari Pak Harto? Benarkah pengganti Nurdin di PSSI saat ini lebih terampil?

Masing-masing memiliki sisi plus dan segi minus.  Namun, mereka tidak akan pernah bisa lepas dari parameter kinerja yang dijadikan dasar penilaian oleh publik, tidak terkecuali yang sebelumnya bersama mereka bersemangat menggelorakan reformasi bertarget penggulingan para simbol.

Namun, setelah penggulingan para simbol memetik hasil, apakah ada jaminan pasti para aktor menggaransi keinginan –belum pada taraf kepentingan—massa pendukungnya? Dari titik ini pengingkaran terhadap tesis Hoffer dimulai dan semakin nyata mencolok mata publik ketika para aktor, ternyata, lebih mementingkan diri sendiri dan kelompok kecilnya. ‘’Sistem reformasi’’ yang mereka bangun tidak lagi bertolak dari kepentingan bersama, menurut parameternya sendiri.

Oleh karena itu, publik membutuhkan pikiran jernih agar tidak membiarkan diri serta menyerahkan jiwa mereka untuk diombang-ambingkan oleh retorika dan slogan para aktor,  namun sejatinya justru dijadikan tumbal dari kepentingan mereka.  Selamat merenung……