GAGAL: Wayne Rooney (tengah), Rio Ferdinand (kiri), dan Nani (kanan) begitu terpukul usai dikalahkan FC Basel di St Jakob Stadium, Basel, Swiss, Rabu (7/12) atau Kamis (8/12) dini hari WIB. PHOTO: VALERIANO DI DOMENICO/AFP/GETTY IMAGES

Dalam sebuah kompetisi sepak bola, deret ukur jauh lebih penting ketimbang deret hitung. Deret ukur lebih menjamin hasil kekinian dan yang akan datang, sementara deret hitung condong bersifat memori meski berkontribusi pada bangunan mental.

Ketika Manchester City harus mengubur impian lolos ke babak 16 besar Liga Champions musim ini meskipun di kandang sendiri, Kamis (8/12) dini hari WIB, menang 2-0 atas Bayern Munich, tidak sedikit yang mafhum. Iniah kiprah pertama City di Champions. Bisa dikata, mereka belum cukup memiliki tradisi. Ini deret hitungnya.

Deret ukurnya, kegemilangan City yang saat ini mampu bertengger di pucuk klasemen sementara Premier League dalam upaya menuju juara Liga Utama Inggris untuk kali pertama sejak 1968, ternyata, belum cukup sebagai modal demi menjadi yang terbaik di Eropa.

Segenap punggawa dan fans City bersedih, tetapi kesedihan mereka mungkin tidak seperih yang dirasakan saudara tua sekota, Manchester United. Pada waktu yang sama, klub berjuluk The Red Devils (Setan Merah) ini hanya butuh seri, namun malah tersungkur 1-2 di kandang FC Basel, Swiss, dan tersingkir dari ajang 16 besar Liga Champions.

Padahal, dalam deret hitungnya MU begitu digdaya: juara Liga Champions 1999 dan 2008, selalu lolos dari fase grup sejak 2002-2003 dan tiga kali melaju ke final dalam empat musim terakhir Liga Champions, serta musim lalu menoreh rekor sebagai klub terbanyak menjuarai Premier League (19 kali).

Namun pada perjalanan musim ini deret hitung tersebut kalah menentukan dibandingkan deret ukurnya. Di liga domestik, sementara MU tertinggal dari City. Bahkan MU pekan lalu disingkirkan oleh klub tradisional tetapi kini ada di kasta kedua, Crystal Palace, pada ajang Piala Liga (Carling Cup).

‘’Saya tidak melihat ini permainan United,’’ ujar Manajer MU Sir Alex Ferguson usai timnya dikalahkan Palace.

Fergie sejatinya telah menganalisis deret ukur timnya sejak kekalahan dari Palace. Namun, upaya memperbaikinya di Champions juga gagal. Sudah keringkah ide dan strategi brilian ‘’Pak Tua’’ ini?

Kegagalan memenuhi deret ukur untuk terus melaju di Liga Champions juga berdampak pada pembilangan isi dompet MU. Padahal, ‘Setan Merah’ serius memburu fulus dari ajang Liga Champions ini untuk mengurangi beban utangnya yang per 30 Juni 2011 lalu tercatat sebesar 450 juta pound (sekira US$ 700 juta).

Selama empat musim terakhir, dengan prestasi sekali juara dari tiga kali tampil sebagai finalis, MU telah meraup lebih dari 180 juta pound (US$ 242 juta) dari Liga Champions. Saat meraih predikat runner-up musim lalu usai dikalahkan Barcelona di final, MU mengantongi 35,2 juta pound (sekira US$ 71,5 juta).

Meski demikian, neraca keuangan klub itu masih timpang. Dari beban utang hingga per 30 Juni 2011, MU masih harus membayar bunga sekira 51,2 juta pound (US$ 83,4 juta) per tahun atas utang yang dimiliki sejak ‘Setan Merah’ diakuisisi keluarga Glazer pada 2005.

Kondisi tersebut jelas jauh berbeda dengan yang dialami City. Klub berjuluk The Citizens ini masih bisa jalan lempang dengan suntikan petrodolar investor Abu Dhabi-nya. Berlaga di Europa League juga bukan sesuatu yang ‘’rendah’’ menurut ukuran City meskipun gengsi dan hadiah yang disediakan lebih kecil dibandingkan tetap bisa beraksi di Champions, apalagi tampil sebagai juara.

Sedangkan untuk MU, berlaga di Europa League jelas bukan sesuatu yang ideal saat ini, baik dari sisi pandang gengsi maupun uang.  MU harus memilih, serius di Europa atau benar-benar fokus di Premier League untuk mengejar ketertinggalan sementara dari City agar mampu mempertahankan gelar di akhir musim.

Jika kedua target tersebut lepas di akhir musim nanti, mungkin inilah pertanda akhir masa emas MU di tangan Fergie. Beberapa pemain bintang, termasuk Wayne Rooney, sangat mungkin akan meninggalkan Old Trafford tidak semata demi penyegaran, namun juga meringankan beban utang ‘Setan Merah’.