ENZO BEARZOT. PHOTO: ILPOST.IT

Tidak terasa hari ini tepat setahun Enzo Bearzot berpulang ke Sang Pencipta. Pada 21 Desember 2010, allenatore yang imejnya lekat dengan pipa rokok itu mengembuskan napas terakhir di Milan, Italia, pada usia 83 tahun.

Namun, nama Bearzot tidak akan lekang dimakan zaman seturut jasad yang tertanam. Dialah sosok yang mengantarkan Italia mengangkat trofi Piala Dunia 1982 di Spanyol. Gelar mondial pertama untuk Italia dalam kurun 44 tahun, tepatnya sejak mengangkat trofi juara pada 1938.

Prestasi yang sangat pantas dikenang, apalagi hingga kini almarhum masih dinobatkan sebagai pelatih terlama sekaligus tersukses di timnas Gli Azzurri. Melatih timnas sejak 1975, Bearzot mengantarkan Italia menempati posisi keempat di Piala Dunia 1978 Argentina dan Piala Eropa 1980 di rumah sendiri, juara pada Piala Dunia 1982, serta ke putaran final Piala Dunia 1986 Meksiko.

Bukan sekadar deretan prestasi tersebut yang membuat Bearzot sangat layak dikenang. Mantan defender yang cuma sekali memperkuat timnas selama karier bermainnya itu juga dihormati karena kepiawaiannya meracik taktik di lapangan serta sentuhan humanis untuk anak latih dan jajaran manajemen.

Tak terlewatkan kejelian Bearzot membaca ‘’tanda-tanda’’ keemasan seorang pemain meskipun pemain bersangkutan direndahkan oleh publik dan media. Orang mengenang bagaimana sebelum putaran final Piala Dunia 1982 Spanyol itu striker Paolo Rossi begitu tidak diperhitungkan dan sangat layak tidak dipanggil masuk timnas.

Namun, Bearzot cuek aja dengan semua penilaian minor untuk Rossi. Ia memanggilnya ke timnas, memainkannya pada putaran pertama (Grup 1) kontra Polandia, Peru, dan Kamerun. Di tiga laga putaran pertama ini Italia hanya mampu memetik hasil seri. Bearzot pun lebih deras dan keras dikecam karena Rossi mandul gol di tiga pertandingan tersebut.

Beruntung, meski memetik seri di tiga laga itu, bersama Polandia, Italia lolos ke putaran berikutnya karena unggul selisih gol (perlu diingat, di Piala Dunia 1982 format yang masih digunakan adalah 2 poin untuk tim yang menang dan 1 poin untuk seri. Penentuan lolos ke putaran berikutnya untuk dua tim dengan poin yang sama melalui mekanisme hitungan selisih gol, bukan head-to-head seperti sekarang).

Berada di Grup B pada putaran kedua, Italia berkumpul dengan juara bertahan Argentina dan Brasil. Bearzot dihajar lagi karena menurunkan Rossi yang masih juga tidak mampu menambang gol sebelum ditarik keluar. Meski Italia lolos karena mengalahkan Diego Maradona dkk 2-1, tetapi media koor mendesak Bearzot agar tidak menurunkan Rossi ketika melawan Brasil.

Bearzot menutup telinga atas desakan itu. Ia masih memercayai Rossi. Hasilnya? Fantastik. Pada duel yang mempertontonkan permainan cantik berpola serangan supersporadis melawan pertahanan sekukuh gerendel (catenaccio) ini, Rossi mengukir hattrick yang memastikan kemenangan Italia 3-2 atas Brasil. Lewat gol penentu kemenangan pada menit ke-74 setelah posisi imbang 2-2 (jika bertahan akan meloloskan Brasil ke semifinal karena unggul selisih gol berkat kemenangan 3-1 atas Argentina pada pertandingan pertama), Rossi lah penyelamat muka Italia dan Bearzot.

Pilihan Bearzot terbukti tidak salah. Di semifinal Italia berjumpa lagi Polandia. Lagi-lagi, dua gol Rossi membawa Gli Azzurri menang 2-0 atas Polandia. Italia ke final dan Rossi membuka gol Italia dari kemenangan 3-1 atas (kala itu) Jerman Barat. Italia juara. Rossi tampil sebagai top scorer kejuaraan ini dengan 6 gol sekaligus peraih gelar Pemain Terbaik.

Pelatih Berkarakter Lengkap

Kepada media ketika itu, Rossi mengatakan, mungkin ia telah ‘mati’ jika Bearzot juga ikut arus publik dan media yang tidak memercayainya. Rossi juga terharu ketika Bearzot tidak tunduk pada tekanan publik dan media agar tidak memasangnya setelah krisis di putaran pertama. Pun, kegigihan Bearzot meyakinkan para petinggi di asosiasi sepak bola Italia bahwa tidak ada yang salah dengan skema permainannya.

Pendek kata, demikian Rossi, Bearzot bukan hanya pelatih, tetapi juga bapak yang memahami anaknya serta terus menggelorakan semangat si anak ketika gamang dan tertekan. Sikap Bearzot ini yang membuat tim nyaman, kompak, serta membantu anggota skuad saling memahami kondisi masing-masing pemain, lantas bahu-membahu mengatasinya. Chemistry ini yang seharusnya dimiliki pelatih mana pun.

Di lapangan, Bearzot juga dikenal piawai meramu strategi. Ia sosok yang tidak mau menerima secara kaku catenaccio-nya Italia. Ia berpegang pada prinsip, bertahan bagus, menyerang bagus. Tidak akan menang jika cuma bertahan, sehingga pemain harus kuat bertahan sekaligus menyerang. Tidak boleh timpang.

‘’Saya kira sepak bola itu seharusnya dimainkan dengan dua sayap (wingers), seorang penyerang tengah, serta seorang playmaker. Begitulah cara saya memandang sebuah permainan. Beri saya kebebasan memilih pemain, lalu biarkan mereka bermain tanpa terlalu banyak membebani mereka dengan taktik. Anda tidak bisa berkata kepada Maradona, ‘Bermainlah seperti yang kukatakan’. Biarkan ia mengekspresikan dirinya sendiri dan yang lainnya akan mengurus urusannya,’’ tutur Bearzot suatu ketika.

Di Spanyol, Bearzot menerapkan formasi 4-3-3 dengan beberapa pilar seperti Franco Baresi, Gaetano Scirea, Marco Tardelli, Bruno Conti, dan Rossi.

Namun, sepandai-pandai seorang pelatih, ia juga manusia yang pasti memiliki titik maupun celah lemah. Terlebih lagi jika rival telah mampu membaca strategi yang pernah diterapkan dan setia digenggam.

Begitu juga yang berlaku pada Bearzot. Usai euforia juara di Piala Dunia 1982 Spanyol, ia masih setia mengandalkan skuad yang sama dan cenderung berpola serupa. Hasilnya, Italia gagal lolos ke putaran final Piala Eropa 1984.

Seturut kegagalan itu, media kembali bersuara lantang mengingatkan Bearzot. Kali ini sang pelatih bersedia membuka telinga. Beberapa perubahan dilakukan dan membawa hasil perbaikan. Namun, semuanya serasa berakhir ketika di Piala Dunia 1986 Gli Azzurri ditumbangkan Prancis pada babak 16 besar. Bearzot menjawabnya dengan mundur dari timnas.

Itulah Bearzot. Ia pelatih sejati yang telah memberi warna spirit dan cara bermain. Ia salah satu icon sepak bola Italia. Kepadanya sepak bola dan pelatih di dunia bisa belajar. Selamanya…