RACIALLY OFFENSIVE: Suarez (kiri) dan Evra saat Premier League di Anfield, Liverpool, 15 Oktober 2011. PHOTO: TIM HALES-THE ASSOCIATED PRESS

Sadar tempat, paham lokasi. Tahu menempatkan diri. Empan papan, kata orang Jawa. Rasionalisasi lost in translation yang dikemukakan striker Liverpool Luis Suarez atas dakwaan perilaku rasis kepada Patrice Evra dari Manchester United (MU) saat kedua klub berjibaku di Premier League, 15 Oktober 2011, di Anfield kiranya tidak bisa diterima.

Meskipun pribadi saya ngefans banget ke Liverpool, tindakan Suarez jelas telah menodai tidak hanya spirit sportivitas, tetapi juga respect (hormat) dalam sepak bola. Apalagi, dalam laporan setebal 115 halaman yang dirilis panel juri Persatuan Sepak Bola Inggris (FA) di pengujung 2011, setidaknya tujuh kali Suarez melontarkan hinaan rasis untuk Evra.

Di antaranya, sesuai laporan panel FA, saat Evra bertanya kenapa ia ditendang, Suarez bilang dalam bahasa Spanyol, ‘’Porque tu eres negro (Karena kamu hitam).’’

Ketika Evra meminta Suarez mengulang pernyataannya dan mengancam akan menonjoknya, masih dalam bahasa Spanyol striker timnas Uruguay itu bilang, ‘’Aku tidak bicara dengan orang kulit hitam.’’

Evra kembali mengancam menonjoknya dan, lagi-lagi, Suarez membalas dalam bahasa serupa yang berarti, ‘’OK, blackie, blackie, blackie.’’

Panel juri FA menjatuhkan skorsing delapan kali bermain dan denda 40 ribu pound (lebih dari Rp 560 juta) untuk Suarez pada 20 Desember lalu. Liverpool diberi tenggat waktu hingga 13 Januari 2012 untuk banding atas vonis tersebut.

FA mengambil putusan tegas dan tepat. Mengacu pada analisis pakar bahasa (linguistic experts) yang dihadirkannya, perkataan Suarez bisa dikategorikan racially offensive. Dengan kata lain, ucapan rasis!

Dalam pembelaannya, Suarez mengatakan, ia mengucapkan kata black (hitam) dan negro untuk meredakan ketegangan emosional dengan Evra. Lagi pula, di negaranya menyebut orang lain black atau negro itu justru pertanda keakraban. Dalam beberapa kesempatan, juga dinilai sebagai uluran persahabatan untuk meredakan ketegangan.

Panel juri FA dan ahli bahasa tidak sepakat atas pembelaan Suarez, yang dinilainya justru menggampangkan persoalan. Tidak menganggap serius bukti-bukti ucapan rasisnya dan sangat ‘’tidak memuaskan’’ dan berpotensi menyebarkan virus rasis di tubuh sepak bola Inggris.

Pada satu sisi, yang dikatakan Suarez mungkin benar. Kakeknya dulu yang tinggal di Uruguay berkulit hitam. Pembelaan untuk Suarez juga datang dari warga senegara, Gustavo Poyet, yang kini menjabat asisten manajer di Chelsea.

Sebelum laporan FA setebal 115 halaman tersebut keluar, Liverpool juga mempertanyakan kelaikan kesaksian Evra dan sanksi untuk Suarez. Skuad The Reds mengenakan T-shirts bergambar wajah Suarez sebelum laga melawan Wigan yang berakhir 0-0 pada 22 Desember lalu sebagai ekspresi dukungan. The Reds juga menyiapkan pembelaan.

Namun, terlepas dari hikayat Suarez yang pernah menggigit pundak pemain lawan saat masih berlaga di Eredivisie Belanda bersama Ajax Amsterdam dan gol lewat tangannya yang menyingkirkan Ghana secara menyakitkan di Piala Dunia 2010, dalam kasus rasis ini ia tidak cukup memahami eksistensinya.

Suarez bukan penutur asli bahasa Inggris dan tidak berasal dari negara-negara bekas koloni Inggris, namun kini ia menetap dan bermain di Inggris. Alhasil, mau tidak mau, Suarez harus belajar bagaimana berucap dan mengucapkannya secara tepat di sebuah wilayah meskipun masih dengan bahasa di negara asalnya.

Mengkaji cross-culture understanding (pemahaman lintas budaya) adalah mutlak untuk memberi pijakan berucap yang sesuai dengan beragam faktor kontekstual. Berucap sesuai latar dan konteksnya.

Sebagai pembanding, jika ke Surabaya dan bertemu seseorang yang sebelumnya tidak Anda kenal, lalu Anda mengucapkan kata (maaf) ‘jancuk’ agar lebih akrab, bisa-bisa Anda langsung ditempeleng. Jancuk sejauh ini memang tanpa arti, namun maknanya kotor dan kasar.

Meski demikian, apabila diucapkan oleh seseorang kepada yang lainnya dan saling mengenal, kata tersebut justru bisa tampil sebagai bumbu yang mengakrabkan. ‘’Jancuk, suwe gak ketemu. Pira anakmu saiki (Jancuk, lama tidak jumpa. Berapa sekarang anakmu)?’’

Faktor seperti itu yang kiranya tidak diperhitungkan oleh Suarez ketika bersitegang dengan Evra. Syukurlah, dalam laporan FA disebutkan Suarez berjanji tidak akan lagi menggunakan kata ‘negro’ saat bermain di lapangan-lapangan Inggris. Jika ia melanggar janjinya, FA tidak segan-segan menjatuhkan sanksi secara permanen.

Sebuah pelajaran bagus dari FA untuk sepak bola dunia. Apalagi FIFA juga telah mengumandangkan kampanye Say No to Racism. Betapa indah apabila tidak hanya pemain yang menaati seruan itu, namun juga suporter yang gegap gempita di tribun. Respect