Spanduk ”peringatan” terpampang di kamp latihan Timnas Spanyol di Gniewino, Polandia. PHOTO: ALVARO BARRIENTOS – THE ASSOCIATED PRESS

JANGAN mendewakan sejarah. Dewakan upaya dan, bagi yang beragama, tentu harus diimbangi berdoa kepada Yang Mahakuasa. Begitu pun dalam sepakbola. Hadir dan berusaha menjuarai turnamen besar sekelas Piala Eropa (Euro) 2012,  sejarah tidak lagi bermakna tanpa sikap bersahaja dengan keseriusan berupaya dan berdoa. Sementara orang mungkin menilainya petuah klasik, namun jangan bilang kuno. Klise barangkali lebih tepat.

Namun, ‘’petuah klise’’ itu kiranya yang disukai Spanyol. Di tengah hiruk-pikuk manusia serta rumah bursa taruhan di dunia menjagoi juara bertahan Piala Eropa –juga juara Piala Dunia 2010— itu kembali berjaya pada Euro kali ini, para pengurus La Furia Roja justru menggelorakan semangat kebersahajaan manusia.

La Historia No Gana Partidos. Esfuerzo Si. Mata saya tajam terpaku ke sebuah spanduk bidikan Alvaro Barrientos, pewarta foto The Associated Press, yang memampang kalimat tersebut. Terjemahan bebasnya: Sejarah tidak memenangi laga. Upaya, Ya. Kata esfuerzo (upaya) dicetak lebih besar ketimbang kata-kata lainnya.

Spanduk itu menempel di pagar lapangan sepakbola di Gniewino, Polandia. Di situlah para pemain Spanyol berlatih untuk mengarungi tantangan baru di Piala Eropa 2012. Beberapa spanduk lain yang menekankan makna penting upaya –seperti ‘’Sejarah Tidak Mencetak Gol, Bakat yang Mencetaknya’, ‘Bukan Sejarah yang Membuatmu Juara, tetapi Kesahajaan’, dan lainnya— juga terbentang.

Menurut pengurus sepakbola Spanyol, sanjungan terhadap skuad Vicente Del Bosque saatnya di-cooling down-kan. Pemain besar kepala akan menjadi bumerang. Status Timnas Spanyol saat ini, ditambah ekspektasi membubung di dalam negeri, tidak hanya menjadi beban, namun juga bisa membuat para pemain lupa daratan.

Anda fans sekaligus menjagoi Spanyol juara Piala Eropa 2012 ini? Tidak seorang pun boleh melarang. Toh, juga tidak haram.  Adalah hak prerogatif pengurus sepakbola Spanyol pula me-wanti-wanti ‘bala tentaranya’ untuk tidak overconfidence.

Namun, tanpa Carles Puyol, David Villa, serta beberapa pemain tidak dalam kondisi superfit (seperti duo Barcelona, Xavi Hernandez dan Cesc Fabregas), masihkah La Furia Roja layak difavoritkan juara?

Selain fakta bahwa Real Madrid-lah juara La Liga musim lalu dengan key players non-bawah mistar bukan asli Spanyol, kandasnya dua klub raksasa negara itu (Real dan Barcelona) di semifinal Liga Champions Eropa layak diperhitungkan. Meski tidak absolut, dua fenomena itu setidaknya mengindikasikan bahwa tiki-taka sebagai roh sepakbola Spanyol telah terbaca rival-rivalnya. Selalu ada celah penangkal. Perpaduan Xavi-Iniesta tidak lagi superjempolan sebagaimana di Piala Eropa 2008 maupun Piala Dunia 2010.

David Silva memang tampil sebagai ace player dan andil besar mengantarkan Manchester City juara Premier League Inggris musim lalu. Begitu pula Juan Mata dan Fernando Torres –pembawa Spanyol juara di Piala Eropa 2008— yang beberapa bulan terakhir menemukan lagi performa bagus (belum ideal) di Chelsea hingga menjuarai Liga Champions musim lalu.

Namun, dua laga uji coba melawan dua tim Asia, Jepang dan China, sebelum ke putaran final Piala Eropa 2012 ini membuktikan bahwa Spanyol tidak sebagus di Austria-Swiss empat tahun silam serta di Afrika Selatan dua tahun lalu. Meskipun menang 4-1 atas Jepang dan 1-0 ke gawang China yang dikawal eks kiper Persebaya Surabaya, Zeng Cheng, terbaca Spanyol masih rapuh di lini tengah, apalagi di lini belakang –khususnya sektor kiri— tanpa ada lagi benteng bernama Puyol.

Determinasi Mata belum optimal karena, mungkin, terkondisi oleh pola main Chelsea yang belakangan cenderung bertahan. Silva memang brilian dengan individual skill-nya. Namun itu baru bisa terlihat jika ia tidak dikepung oleh lebih dari dua pemain lawan.

Dominasi Xavi-Iniesta juga tidak lagi ampuh ketika lawan tidak menumpuk pemain di benteng pertahanan yang sebagian besar dalam posisi sejajar. Dengan tujuh hingga delapan pemain di areal sendiri, termasuk tiga hingga empat yang ditugaskan ‘’merusak dengan cara apa pun’’ alur bola dan mem-body charge Xavi-Iniesta (seperti dilakukan Chelsea di semifinal Champions lalu), putuslah alur serangan Spanyol.

Dengan analisis itu, saya pribadi tidak menjagoi Spanyol juara di Piala Eropa 2012 ini. Namun, sekali lagi, ini sekadar prediksi berdasarkan analisis saya yang bisa saja salah. Anda berhak punya analisis sendiri dan tetap menjagokan La Furia Roja juara.

Mengapa tidak tim-tim lain seperti Jerman, Belanda, Prancis, Italia, … baru Inggris (seperti prediksi rumah-rumah bursa global) sebelum arus terakhir berupa munculnya tim kejutan sebagaimana pada 1992 saat Denmark juara dan 2004 di genggaman Yunani?

Jerman hadir dengan rerata pemain termuda di antara total 16 kontestan lho… serta berpredikat tim bagus bermodal semangat Bavaria yang dipertontonkan sejak Piala Dunia dua tahun lalu sebelum dinahaskan La Furia Roja Spanyol di semifinal. Namun, jam terbang para pemain Jerman dua tahun lalu jelas tidak sebanyak sekarang. Saat itu Mesut Ozil dan Sami Khedira juga belum merasakan langsung secara reguler tantangan roh tiki-taka sepakbola Spanyol.

Namun, Jerman juga gampang frustrasi andaikata upayanya membombardir lawan lama tidak membuahkan gol. Kecenderungan Die Panzer, saya kira, terlecut dan balik unggul jika tertinggal lebih dulu. Namun, mereka susah bangkit andai keunggulan (apalagi cukup telak) bisa disamakan tim lawan.

Prancis juga layak dijagokan. Meskipun terkoyak-koyak di Piala Dunia 2010, Les Bleus kini menemukan lagi khittah-nya berkat Laurent Blanc, sang arsitek yang piawai tidak hanya menekuk-nekuk strategi di lapangan, tetapi juga melembekkan emosional para pemainnya. Blanc adalah kapten Prancis ketika menjuarai Piala Dunia 1998. Dua tahun kemudian, sebagian besar skuad juara di Piala Dunia itu mengangkat trofi Piala Eropa di Belanda.

Tahun itu sang tuan rumah De Oranje begitu difavoritkan juara setelah capaian semifinal di Piala Dunia 1998. Meyakinkan sedari awal sebelum apes menghampiri di semifinal melalui kaki para pemain Italia lewat adu penalti.

Belanda yang kerap apes di puncak laga turnamen besar (Piala Dunia 1974, 1978, 2010) kini memburu peruntungan dengan skuad yang sebagian besar sama dan pelatih yang sama pula sebagaimana di Piala Dunia 2010. Berat juara, saya kira.

Begitu pula Portugal yang serasa tidak bisa menemukan solusi lain andaikata Cristiano Ronaldo ‘’mati kutu’’. Hukum serupa nyaris berlaku pada Swedia dengan Zlatan Ibrahimovic-nya. Tuan rumah Polandia dan Ukraina rasanya juga masih jauh dari realitas mengangkat penta.

Prancis, Italia, Inggris, Denmark, dan Republik Irlandia. Sebagaimana Rusia, tim-tim ini bisa tampil mengejutkan. Bukan semata modal nama-nama besar pemain, bukan pula Prancis yang punya sejarah dan Italia yang tampil sebagai juara di turnamen besar ketika di dalam negerinya terjadi skandal pengaturan skor pertandingan (seperti juara Piala Dunia 1982 dan 2006 kala tahun-tahun itu terungkap skandal calciopoli sebagaimana tahun ini), tetapi juga pada faktor frekuensi mereka bermain musim lalu yang tidak terlalu menguras tenaga berlaga di banyak turnamen hingga akhir.

Terpenting adalah tampilnya beberapa pemain muda mereka yang menunjukkan tren gemilang di klub masing-masing. Tempaan sudah cukup meskipun minim pengalaman internasional di turnamen besar. Euro kali ini menjadi pijakan mereka memantapkan eksistensinya di sepakbola dunia.

Siapa saja mereka? Mari dinantikan bersama-sama. Akhirnya, selamat menikmati pesta Piala Eropa. Bersiaplah di akhir turnamen ini menerima siapa pun juaranya karena hasil bola yang bergulir di lapangan kadang juga tidak sesuai logika dan nalar awal, apalagi sekadar sejarah dan hitungan ala matematika.

Fans Portugal dan Jerman di areal fanzone Euro 2012 di Kota Lviv, Ukraina, Kamis (7/6). Bersama Belanda dan Denmark, Portugal dan Jerman berada di Grup B yang dikenal sebagai ‘grup maut’ pada perhelatan Euro 2012. PHOTO: YURIY DYACHYSHYNYURIY – AFP – GETTY IMAGES

JADWAL EURO 2012 POLANDIA-UKRAINA 

GRUP A

Jumat, 8 Juni 2012 (Warsawa)

23.00 WIB: POLANDIA vs YUNANI

Sabtu, 9 Juni 2012 (Wroclaw)

01.45 WIB: RUSIA vs REP. CEKO

Selasa 12 Juni 2012 (Wroclaw)

23.00 WIB: YUNANI vs REP. CEKO

Rabu, 13 Juni 2012 (Warsawa)

01.45 WIB: POLANDIA vs RUSIA

Sabtu, 16 Juni 2012

01.45 WIB: YUNANI vs RUSIA (Warsawa)
01.45 WIB: REP. CEKO Ceko vs POLANDIA (Wroclaw)

——————————————————–

GRUP B

Sabtu, 9 Juni 2012 (Kharkiv)

23.00 WIB: BELANDA vs DENMARK

Minggu, 10 Juni 2012 (Lviv)

01.45 WIB: JERMAN vs PORTUGAL

Rabu, 13 Juni 2012 (Lviv)

23.00 WIB: DENMARK vs PORTUGAL

Kamis, 14 Juni 2012 (Kharkiv)

01.45 WIB: BELANDA vs JERMAN

Minggu, 17 Juni 2012

01.45 WIB: PORTUGAL vs BELANDA (Kharkiv)
01.45 WIB: DENMARK vs JERMAN (Lviv)

————————————————————–

GRUP C

Minggu, 10 Juni 2012 (Gdansk)

23.00 WIB: SPANYOL vs ITALIA

Senin, 11 Juni 2012 (Poznan)

01.45 WIB: REP. IRLANDIA vs KROASIA

Kamis, 14 Juni 2012 (Poznan)

23.00 WIB: ITALIA vs KROASIA

Jumat, 15 Juni 2012 (Gdansk)

01.45 WIB: SPANYOL vs REP. IRLANDIA

Senin, 18 Juni 2012

01.45 WIB: KROASIA vs SPANYOL (Gdansk)
01.45 WIB: ITALIA vs REP. IRLANDIA (Poznan)

—————————————————————–

GRUP D

Senin, 11 Juni 2012 (Donetsk)

23.00 WIB: PRANCIS vs INGGRIS

Selasa, 12 Juni 2012 (Kiev)

01.45 WIB: UKRAINA vs SWEDIA

Jumat, 15 Juni 2012 (Kiev)

23.00 WIB: SWEDIA vs INGGRIS

Sabtu, 16 Juni 2012 (Donetsk)

UKRAINA vs PRANCIS

Selasa, 19 Juni 2012

01.45 WIB: SWEDIA vs PRANCIS (Kiev)
01.45 WIB: INGGRIS vs UKRAINA (Donetsk)

———————————————————–

PEREMPAT FINAL

Kamis, 21 Juni 2012 – 01.45 WIB (Warsawa)

Juara A vs Runner-up B (I)

Jumat, 22 Juni 2012 – 01.45 WIB (Gdansk)

Juara B vs Runner-up A (II)

Sabtu, 23 Juni 2012 – 01.45 WIB (Donetsk)

Juara C vs Runner-up D (III)

Minggu, 24 Juni 2012 – 01.45 WIB (Kiev)

Juara D vs Runner-up C (IV)

SEMIFINAL

Rabu, 27 Juni 2012 – 01.45 WIB (Donetsk)

Pemenang I vs  Pemenang II (A)

Kamis, 28 Juni 2012 – 01.45 WIB (Warsawa)

Pemenang III vs  Pemenang IV (B)

FINAL

Minggu, 1 Juli 2012 – 01.45 WIB (Kiev)

PEMENANG A  vs PEMENANG B