DANIEL STURRIDGE mencetak gol kelima Liverpool dari titik putih ke gawang Chelsea. Kehadiran Sturridge di Anfield sejak Januari 2013 menambah tajam lini depan Liverpool. PHOTO: ESPN
DANIEL STURRIDGE mencetak gol kelima Liverpool dari titik putih ke gawang Swansea. Kehadiran Sturridge di Anfield sejak Januari 2013 menambah tajam lini depan Liverpool. PHOTO: ESPN

 

MINGGU (17/2) malam, ketika Manchester City dan Chelsea berpesta empat gol tanpa balas atas lawan-lawannya di Piala FA, Liverpool seolah mendapatkan lagi rohnya di Premier League. Brigade The Reds polesan Brendan Rodgers membelasah Swansea City 5-0.

Kemenangan pada laga ke-27 musim ini, melambungkan kembali mental tanding Steven Gerrard dkk setelah di kandang sendiri dipermalukan 0-2 oleh West Bromwich pada pertandingan sebelumnya serta dihantam 0-2 pada first leg babak 32 besar Europa League di kandang Zenit St Petersburg (Rusia).

Raihan tiga poin, untuk sementara, menempatkan The Reds pada posisi ke-7 klasemen sementara dengan 39 poin. Nama besar Liverpool masih harus antre di belakang Manchester United, Manchester City, Chelsea, Tottenham, Arsenal, dan Everton. The Reds terpaut jauh, 26 poin, dari Man United yang tangguh di puncak. Bahkan untuk bisa memasuki zona empat besar yang berhak ke Liga Champions musim depan, Liverpool masih defisit sembilan poin.

Menyisakan 11 pertandingan Premier League musim ini, pastikan –meminjam kata-kata Asmuni, pelawak Srimulat— hil yang mustahal Liverpool masih punya kans juara. Namun untuk bisa masuk empat besar di akhir musim, sepertinya, segala kemungkinan masih terbuka. Kans ini tentu bergantung pada konsistensi The Reds serta ‘’harapannya’’ agar klub-klub di atasnya terpeleset di sisa laga-laga musim ini.

Meskipun bisa dibilang agak telat, kemenangan besar atas Swansea bisa menjadi tonggak kebangkitan Liverpool untuk kali kesekian. Pada satu sisi kemenangan telak tersebut bisa saja disebut sebagai buah kecerdikan Rodgers yang sebelumnya menukangi Swansea, satu-satunya klub asal Wales di Premier League.

Di sisi lain, dengan pilar-pilar utama hadir lengkap di lapangan tanpa diganggu cedera, sejatinya The Reds masih kekuatan dahsyat yang tetap layak diperhitungkan. Menjamu Swansea, kedahsyatan itu benar-benar terpamerkan di Anfield. Permainan cepat bervarian umpan-umpan panjang khas Inggris membikin para pemain klub ‘Angsa’ dari Wales tertekan, melakukan pelanggaran dan kesalahan yang melahirkan dua gol Gerrard (34’) dan Daniel Sturridge (71’) dari titik penalti, serta kalah telak dalam ball possession hingga membuahkan tiga gol lainnya melalui Philippe Coutinho (46’), Jose Enrique (50’), dan Luis Suarez (56’).

Noted. Kehadiran Sturridge di Anfield sejak Januari 2013 kemarin begitu terasa menambah tajam lini depan Liverpool. Pemain setinggi 1,88 meter kelahiran Birmingham 1 September 1989 ini serasa termotivasi betul membuktikan eksistensinya di Premier League setelah tidak cukup mendapatkan kepercayaan di formasi utama Manchester City maupun Chelsea. Empat gol sudah dicetaknya di Premier League sejak ber-jersey Liverpool.

Sebenarnya masalah utama Liverpool selama ini bukan pada ketajaman lini depan, tetapi lebih pada balance (keseimbangan) lini tengah, belakang, serta penjaga gawang yang ‘’angin-anginan’’. Jika Gerrard dan Lucas bisa tampil bareng atau salah satu pilar belakang tidak absen, kedahsyatan The Reds benar-benar bisa menyuguhkan permainan apik dan menarik. Masih sangat lekat ciri khas kick and rush dibandingkan klub-klub lainnya di Premier League.

Jika Anda Liverpudlian, tetap optimislah klub idola bakal lebih moncer. Jika tidak di sisa perjalanan musim ini, ya musim depan. Itulah hasil analisis Xabi Alonso, eks gelandang Liverpool selama lima musim sebelum hijrah ke Real Madrid pada 2009.  Menurut Alonso di program ‘Football Focus’ BBC sebelum laga menjamu Swansea, beri Rodgers lebih banyak waktu karena sejatinya ia kini tengah membangun (lagi) fondasi sukses untuk The Reds.

Alonso, 31 tahun, menilai Rodgers yang menukangi Liverpool sejak Juni 2012, merupakan sosok tepat. ‘’Bersama Brendan, Liverpool sedang membangun sebuah proyek. Yang mereka butuhkan adalah bersabar. Kita ingin menyaksikan Liverpool bertarung demi tempat di Liga Champions,’’ ucap pemain Real dan Timnas Spanyol tersebut.

Alonso mengaku masih setia mengikuti Premier League dan memosisikan diri sebagai fans The Reds. Di kalangan fans Liverpool dan penggandrung di seluruh dunia, nama Alonso mustahil dihapus. Ia salah satu aktor penting dalam sejarah laga dramatis final Liga Champions.

Pada partai puncak Liga Champions 2005 di Istanbul, Turki, Alonso mencetak gol penyama kedudukan setelah Liverpool tertinggal tiga gol oleh AC Milan. Juara pun selanjutnya ditentukan lewat adu penalti dan dimenangi The Reds.

Alonso pergi, keseimbangan Liverpool di lapangan pun guncang. Pemain serta pelatih datang dan pergi. Tak ada lagi trofi di ranah Eropa. Di liga domestik pun catatan juaranya tidak bertambah, bahkan prestasi rekor juara sudah disalip Manchester United di akhir musim 2010-2011 lalu.

Alonso mengenang, sebenarnya ia sudah disuruh pergi setahun sebelum kepindahan resminya ke Real Madrid. Kala itu Manajer Liverpool Rafa Benitez sangat berambisi membawa Gareth Barry dari Aston Villa ke Anfield. Hasil penjualan Alonso diyakini masih lebih untuk membayar Barry. Namun upaya Rafa kandas sehingga Alonso pun bertahan setahun lagi.

Benarkah kemenangan telak 5-0 menandai ‘’kebangkitan telat’’ Liverpool menjelang akhir musim ini? Benarkah terbentang optimisme lebih untuk masa mendatang di bawah kendali Brendan Rodgers?

Jawaban terdekat, tentu saja, menanti pembuktian laga-laga Liverpool berikutnya, seperti menjamu Zenit pada second leg babak 32 Besar Europa League Jumat (22/2) dini hari WIB, tandang ke Wigan Minggu (3/3) dini hari WIB serta menjamu Tottenham Minggu (10/3) di pentas Premier League, dan seterusnya.