Mantan Presiden Prancis  Nicolas Sarkozy (kiri) disambut Presiden Paris Saint-Germain Nasser al-Khelaifi sebelum laga PSG vs Monaco di Stadion Parc des Princes Stadium Paris, Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB. REUTERS | BENOIT TESSIER
Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy (kiri) disambut Presiden Paris Saint-Germain Nasser al-Khelaifi sebelum laga PSG vs Monaco di Stadion Parc des Princes Stadium Paris, Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB. REUTERS | BENOIT TESSIER

Harimau tidak akan pernah menjadi vegetarian.

DARAH politik selalu mengaliri tubuh politikus sejati hingga ajal menjemput. Nicolas Sarkozy, mantan Presiden Prancis yang tahun lalu dipaksa menyerahkan jabatan kepada Francois Hollande, dinilai banyak orang masih memilikinya. Ia memang belum mengumumkan pensiun dari politik, tetapi belum juga mengikrarkan kembali ke pusaran utama.

Lebih dari setahun meninggalkan Elysée Palace, ia setia dengan partai Persatuan Gerakan Rakyat (UMP)-nya. Sarkozy juga sadar kekalahan yang memaksanya meninggalkan istana kepresidenan per 15 Mei 2012 setelah dihuni sejak 16 Mei 2007 membuatnya lebih banyak lepas dari teropong publik. Ia harus pintar mencari momen serta panggung yang pas untuk comeback.  Sepertinya itu telah didapat dari kursi di boks kehormatan Stadion Parc des Princes Paris, markas Paris Saint-Germain (PSG).

Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB, saat stadion itu menjadi magnet perhatian publik ketika Zlatan ‘’Ibra’’ Ibrahimovic dkk menjamu salah satu rival berat di Ligue 1, AS Monaco, Sarkozy hadir di boks kehormatan walaupun keberadaannya tidak mampu mengantarkan PSG menang. Klub besutan Laurent Blanc ini ditahan seri 1-1. Gol Ibra dijawab Monaco melalui ace-nya Claudio Ranieri yang didatangkan awal musim ini, bomber Radamel Falcao.

Hasil di atas rumput Parc des Princes bisa jadi tidak begitu penting untuk Sarkozy karena ia sebenarnya sibuk berikhtiar membangun ‘’lapangan’’ sendiri: lapangan untuk political comeback. Stadion tempat yang pas. Di Parc des Princes, ia disambut tidak hanya oleh Presiden PSG asal Qatar Nasser al-Khelaifi, namun juga fans yang memberikan aplaus dan berebut ingin foto bareng dengan sang mantan presiden.

Tahu namun Sarkozy sepertinya tidak mau tahu berita-berita miring yang masih menguntit dirinya, seperti pancingan berperang kata dengan Sepp Blatter seputar penunjukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 yang sebelumnya disebut Presiden FIFA itu sebagai ‘’kesalahan’’. Di permukaan, faktor cuaca panas di Teluk kala event itu berlangsung, yang disebut-sebut bisa mencapai 50 derajat Celsius, jadi kambing hitam meski Qatar menjanjikan bangunan stadion yang mampu menghadirkan suhu 20 derajat Celsius saat Piala Dunia berlangsung di musim panas Juni-Juli.

Rabu (18/9), kepada koran Die Zet Jerman, Blatter membenarkan keberadaan politikus yang menekan Presiden Persatuan Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) asal Prancis Michel Platini agar mengalihkan dukungan UEFA dari AS ke Qatar untuk Piala Dunia tersebut. Australia juga maju bidding, tetapi kalah juga oleh Qatar. Meski tanpa menyebut nama, terang benderang yang dimaksud itu Sarkozy.

Blatter sekadar menegaskan investigasi France Football  yang diturunkan dalam laporan berjudul Qatargate Januari lalu. Bahwa terjadi ‘’kolusi dan korupsi’’ atas penunjukan Qatar dari sebuah pertemuan santap siang oleh Sarkozy di Elysée Palace pada 23 November 2010. Saat makan siang dengan Putra Mahkota Qatar Pangeran Tamin bin Haman al-Thani dan investor PSG yang ketika itu dililit masalah keuangan serius, Sarkozy minta Platini yang juga diundang hadir mengerahkan anggota UEFA agar memilih Qatar.

Pertemuan juga membahas rencana pembelian PSG sekaligus pembukaan saluran olahraga baru di televisi Prancis guna menyaingi Canal Plus yang dibenci Sarkozy. Mantan presiden ini memang dikenal pendukung fanatik PSG dan rutin hadir di stadion kala klub itu bertanding.

France Football tidak menyebut pertemuan itu sudah menghasilkan kesepakatan (deal). Namun semuanya didiskusikan dalam pertemuan itu. Yang ada kemudian, 10 hari setelah pertemuan santap siang tersebut Qatar resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. PSG dibeli perusahaan dana investasi Qatar senilai GBP 50 juta pada 2011. Tahun lalu jaringan televisi Qatar Al-Jazeera membuka saluran khusus olahraga Prancis, beIN Sport, setelah mendapatkan hak siar sepak bola Prancis hingga 2016 senilai GBP 150 juta.

Platini membenarkan pertemuan santap siang itu, namun ia berang menanggapinya. Mantan kapten timnas Prancis ini mengatakan tidak ada tekanan mengalihkan dukungan UEFA ke Qatar. Ia pun kini sibuk berkampanye agar pelaksanaan Piala Dunia 2022 digeser ke November-Desember untuk menyesuaikan dengan cuaca. Namun Qatar dan sejumlah negara lain bersikukuh tetap di Juni-Juli.

Tahun lalu FIFA menunjuk pengacara AS Michael Garcia sebagai kepala tim penyelidik etika. Menurut France Football, Garcia mengatakan, berbagai bukti awal menunjukkan memang ada pengaruh korupsi atas penunjukan tuan rumah Piala Dunia 2018 Rusia setelah mengalahkan Inggris dalam voting di putaran pertama dan Qatar 2022 yang mengungguli Australia pada putaran terakhir.

Menjaga Popularitas

Politik adalah momentum. Memanfaatkan momentum wajib dimiliki setiap politikus untuk menjual nama di mana-mana, di segala macam media, di segala jenis acara. Kini salah satu yang memungkinkan bagi Sarkozy adalah sepak bola. Dengan pesonanya, ditambah sukses PSG menjadi juara Ligue 1 musim lalu, publik serasa telah ‘’melupakan dosa-dosanya’’.

Jajak terakhir atas popularitas Sarkozy di Paris Match memastikan dukungan di kisaran 53 persen berbanding 44 persen untuk Hollande. Di internal UMP, Sarkozy masih dinilai layak maju lagi menantang Hollande pada pemilu 2017. Dari sembilan nama internal UMP yang dinilai dalam jajak Ifop, Sarkozy di peringkat teratas (56 persen) berbanding hanya 17 persen untuk pesaing dekatnya, mantan PM Francis Fillon.

Sarkozy di tengah fans PSG yang menyambutnya dan mengajaknya berfoto bersama di Parc des Princes, Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB. REUTERS
Sarkozy di tengah fans PSG yang menyambutnya dan mengajaknya berfoto bersama di Parc des Princes, Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB. REUTERS

Di saat krisis ekonomi masih menggantung di Prancis, orang mengingat saat 2008 ia ke Jerman menemui Kanselir Angela Merkel dan membicarakan langkah bersama demi kestabilan perekonomian. Prancis tidak terkena serangan serius sebagaimana kini masih dihadapi Presiden Hollande. Apa pun yang dilakukan Hollande akan memberinya kredit dan menentukan sendiri popularitasnya, sementara Sarkozy serasa nothing to lose. Jika publik menilai pemerintah sekarang tidak cukup cekatan, tanpa kata pun Sarkozy bisa bermanuver seolah berkirim pesan: ‘’Coba kami yang terus memerintah’’.

Momentum muncul bagi Sarkozy untuk keluar lagi ‘’menjual diri’’. Memang ia sedang out of duty, tetapi takkan pernah out of desire. Hasratnya ke politik tetap membara. ‘’Politik sudah menjadi DNA Nicolas Sarkozy. Ia akan selalu tertarik politik,’’ ujar mantan Menteri Kehakiman Rachida Dati kepada Observer.

Meski belum mengucap comeback, Sarkozy mulai membangun kembali popularitasnya dari stadion. Sementara sang istri, model-penyanyi Carla Bruni, mengeluarkan album terbaru Le Pengouin berisi satir-satir yang diyakini banyak orang ditujukan ke Hollande. Semua kian menguatkan pendapat publik Sarkozy belum tamat di panggung politik Prancis yang permisif menilai sosok.

Pada 1950-an, Jenderal Charles de Gaulle menghabiskan lebih dari satu dasa warsa di belantara politik tanpa posisi sebelum kembali membangun Republik Kelima. Francois Mitterand gagal saat kali pertama nyapres pada 1965, tapi politikus Sosialis ini sukses di pemilu 1981 yang bertahan hingga 1995. Jacques Chirac gagal di pemilu 1981, tapi sukses pada 1995 hingga 2007. Selama 30 tahun politik Prancis diisi pertarungan politik Mitterand dan Chirac. Kiranya parameter waktu ini begitu dipahami Sarkozy.

Jika memilih melanggengkan nama dengan ‘’menunggangi’’ sepak bola, Sarkozy sepertinya sadar risiko kepopuleran dari arena itu sangat minim. Mungkin bisa dibilang tidak ada untuk tujuan utama politisi menjual nama. Sebaliknya sangat menguntungkan demi menjaga popularitas.

Mendiang seorang manajer klub sepak bola di Indonesia beberapa tahun silam berkata kepada saya, diberitakan baik atau buruk asal berkaitan dengan sepak bola dan olahraga itu tetap saja untung. Apalagi, ujarnya, ‘’Bayangkan tiap hari nama bisa ada di televisi dan koran. Berapa duit harus keluar jika bayar iklan?’’

*) Dimuat di HARIAN NASIONAL, Selasa 24 September 2013, Halaman A19.