‘’Yang jadi masalah bukan gadisnya – masyarakat lah yang bermasalah.’’

SEMULA ia gadis biasa saja. Namun kini Myam Mahmoud menunjukkan kepada publik dunia ia gadis luar biasa. Media Arab dan dunia menyorot dan bergantian mewawancarainya. Gadis Mesir berusia 18 tahun ini tidak hanya mencuri perhatian, tetapi juga menghunjamkan kritik ke para penguasa di tengah kian maraknya kekerasan seksual kepada kaum perempuan.

Juga bagaimana kaum lelaki disebutnya gampang mengkritik, bahkan menghujat, cara perempuan berpakaian. Lelaki hampir jarang introspeksi diri bagaimana cara mereka memandang perempuan berpakaian.

MYAM MAHMOUD. PHOTO: RUTH POLLARD | THE SYDNEY MORNING HERALD
MYAM MAHMOUD. PHOTO: RUTH POLLARD | THE SYDNEY MORNING HERALD

Dengan lirik-lirik rap-nya, Myam –semifinalis ajang pencarian bakat di TV Arabs Got Talent pada Oktober lalu— kini terus meluncur dengan kritik-kritik kerasnya pada ‘’kemunafikan sosial’’, bersuara lantang demi hak para gadis, serta berusaha menyindir beban begitu berat yang dibebankan kepada para gadis di Timur Tengah.

Mahasiswa tahun pertama jurusan ilmu politik sebuah universitas di Mesir ini suka ngerap sejak berusia 10 tahun. Mula-mula ia menulis bait demi bait yang dimaksudkan sebagai sajak. Seiring pertumbuhannya, ia mulai menyukai hip-hop dalam bahasa Inggris dan Arab. Menginjak remaja, ia pun menemukan dunianya: ngerap dengan lirik-lirik tentang perempuan dan politik.

Puisi-puisi mendiang Ahmed Fouad Negm, yang dikenal sebagai ‘’penyair rakyat’’, diakui Myam sangat menginspirasi lirik-lirik rap-nya. Puisi-puisi Negm, yang wafat pada 3 Desember lalu pada usia 84 tahun, dikenal sangat tajam mengkritik penguasa Mesir. Masuk, keluar, masuk, dan keluar bui seturut pergantian rezim di Mesir ia jalani. Penyair sekuler-revolusioner ini juga berperan dalam gerakan menggulingkan Presiden Hosni Mubarak pada 2011 silam.

Myam tidak pernah bertemu Negm namun  ‘’bahasa rakyat’’ yang dipakai mendiang sangat disukainya. ‘’Aku begitu mengaguminya. Aku akan mengenang karya-karyanya. Takkan pernah aku bisa mengingat peristiwa politik di Mesir tanpa membaca puisi-puisinya,’’ tutur Myam.

Selain Negm, dua penyanyi perempuan Arab –Malikah, rapper Lebanon kelahiran Mesir dan Shadia Mansour, penyanyi hip-hop Palestina kelahiran Inggris yang lekat dijuluki ‘’First Lady of Arabic Hip-hop’’, juga menjadi inspirasinya. Di Timur Tengah, performa mereka lekat dengan nuansa politis namun terbukti berhasil mendapatkan tempat di genre musik yang masih didominasi kaum lelaki itu. Lagu-lagu rap Arab pun umumnya mengkritik cara perempuan berpakaian.

‘’Apa yang membuatku memulai semua ini, yang benar-benar membuatku marah, adalah lagu-lagu rap Arab terus-terusan mengkritik cara perempuan berpakaian. Seorang kawan dan aku lantas berpikir, ‘Mereka toh bukan satu-satunya orang yang boleh mengkritik’,’’ tuturnya dalam wawancara khusus dengan Ruth Pollard, jurnalis The Sydney Morning Herald di Timur Tengah.

Iklim politik Mesir yang belum stabil hingga kini setelah tergulingnya Mubarak, disusul dilengserkannya Mohamad Mursi  oleh militer, semakin memberi ruang segar bagi lirik-lirik kritik Myam. Mesir memang terbebas dari tiran, namun sebagaimana dilaporkan PBB belum lama ini, perempuan di Negeri Piramida itu tetap merasa belum bebas, bahkan semakin ditekan.

Laporan PBB menyatakan, kekerasan seksual dan tekanan mental, baik berupa tindakan maupun sekadar kata-kata, meningkat drastis setelah gelombang Revolusi Arab Springs yang turut menggulung kekuasaan Mubarak. Jajak PBB menunjukkan 99,3 persen perempuan Mesir menjadi korban kekerasan seksual.

‘’Kita tak bisa tetap diam,’’ tutur Myam. ‘’Para gadis memberitahuku, ‘Yang kau katakan persis seperti yang selalu ingin kami katakan’. Mereka mengatakan aku suaranya.’’

Umumnya para gadis di Mesir ‘’terpingit’’, tidak leluasa bergerak dan berkarier, serta sepertinya lebih disiapkan untuk menikah. Beruntung Myam karena orangtuanya tidak sekolot itu. Orangtuanya mengizinkan ia terus menuntut ilmu, berkarier, hingga terus ngerap. Berkat sukses di ajang pencarian bakat itu, ia kini mulai terus merekam lagu-lagu yang ditulisnya serta mengunggahnya di SoundCloud.

Sebagai muslimah, sehari-hari Myam berhijab. Namun cara berpakaian ini dinilainya tidak relevan dengan lirik-lirik lagunya, juga dengan pilihannya ngerap. ‘’Saat aku menulis, toh aku juga selalu tidak menggurui perempuan bagaimana mereka harus bersikap. Yang kukatakan kepada mereka adalah mereka memiliki nilai hakiki dan berhak untuk memilih,’’ tuturnya.

Protes begitulah. Kebebasan, bisa juga, seperti tertuang dalam lirik Myam berikut: Bagaimana bisa kau menilaiku dari rambut atau cadarku? Kalian, para kucing, memanggil dan melecehkan, pikirmu itu benar, tak salah. Meski semua itu sekadar kata-kata, semuanya seperti batu, tau?

Lalu, dalam lirik tembang I Am Not a Cigarette (Aku Bukan Sebatang Rokok), Myam pun menghentak laksana menyanyikan lagu kebangsaan. ‘’Dimulai dari ciuman, lalu berakhir dicampakkan.’’ Maksudnya, nasib perempuan kadang tidak berbeda dengan sebatang rokok, dicium dulu kemudian dilemparkan ke tanah.

Salahkah perempuan, apa yang salah dengan perempuan? Lirik pun berlanjut, ‘’Yang jadi masalah bukan gadisnya – masyarakat lah yang bermasalah.’’ 

* Dimuat di HARIAN NASIONAL, C32, 23 Desember 2013