Cukup lama menghilang dari layar publik, tiba-tiba Karl-Theodor zu Guttenberg muncul lagi mengiringi euforia kesepakatan awal koalisi jilid kedua Uni Demokratik Kristen (CDU)-nya Kanselir Angela Merkel dengan Partai Demokrat Sosial (SPD). Akankah mantan menteri pertahanan yang dipaksa mundur akibat tuduhan plagiarisme ini kembali ke pemerintahan?

KARL-THEODOR ZU GUTTENBERG. PHOTO: REUTERS | THIERRY ROGE
KARL-THEODOR ZU GUTTENBERG. PHOTO: REUTERS | THIERRY ROGE

HAMPIR semua panggung politik dunia memiliki kisah ini. Karier seorang politikus begitu cemerlang, melesat bagai pesawat luar angkasa, namun sangat cepat pula jatuh bak meteor menghunjam bumi. Jika tidak karena tuduhan korupsi atau main perempuan, bisa pula menjadi korban framing perebutan kekuasaan di internal serta eksternal partai maupun lembaga kekuasaan.

Di Jerman pasca-Perang Dunia II, Karl-Theodor zu Guttenberg terbilang satu di antara politisi berkarier sangat cemerlang itu. Saat berada di puncak kariernya pada 2009, ia menduduki jabatan menteri keuangan lalu menteri pertahanan. Bahkan saat itu ia mulai digadang-gadang sebagai penerus Merkel.

Sejak muda Guttenberg memang dikenal kritis dengan kemampuan analisis yang tajam. Ia juga karismatik. Alhasil ia pun menjadi media darling karena tidak pelit berbicara kepada media tentang berbagai isu yang terbilang kontroversial, mulai dari perang di Afghanistan hingga langkah penyelamatan pabrik automotif Opel. Kala itu media menilai beruntung Merkel yang sangat hati-hati memiliki junior pemberani seperti Guttenberg. Sebuah perpaduan yang tepat.

Jerman belum pernah memiliki politikus seperti dia. Trah Guttenberg dari Leopold II, Kekaisaran Suci Roma pada akhir abad ke-18, membuat karismanya kian terang. Apalagi ia dikenal bukan sosok politikus yang begitu disibukkan dengan penampilan jaim alias jaga imej. Ia tidak segan-segan berkumpul dengan kaum munda penggandrung musik cadas menonton konser AC/DC di malam hari.

Berkumpul dengan kalangan jetset dan sosialita juga superbiasa disokong kegemaran istrinya, Stephanie, yang tampil glamour. Stephanie adalah cicit Otto von Bismarck, kanselir pertama Jerman.

Pun ‘’dosa sejarah’’ Jerman juga tidak melekat kepadanya mengingat keluarga pendahulunya adalah para penentang Nazi. Kakeknya bahkan disebut-sebut sempat lolos dari eksekusi Nazi karena mengatakan lebih baik membunuh perwira SS (Agen Rahasia)-nya Nazi ketimbang warga Yahudi.

Pendek kata, modal seorang politikus telah lengkap dimiliki Guttenberg. Namun siapa sempat mengira pada Maret 2011 dengan hati redam ia harus menanggalkan jabatannya, lantas meninggalkan Berlin menuju New York. Karier politik sosok yang sempat difavoritkan sebagai salah satu kandidat pengganti Kanselir Merkel ini terjun bebas akibat tuduhan plagiarisme. Media membeber habis-habisan sang politikus cemerlang itu ternyata menjiplak sejumlah besar karya orang lain untuk tesis doktornya.

Kepergian Guttenberg disayangkan tidak hanya kalangan politisi sehaluan yang konservatif, namun juga mereka di oposisi yang beraliran kiri. Bahkan Kanselir Merkel dengan berat hati menerima pengunduran dirinya.

Sejak itu Guttenberg lebih banyak menghabiskan waktu bersama Stephanie beserta dua anak perempuannya di lokasi hunian kalangan berpunya di pinggiran New York, tepatnya di Greenwich, Connecticut. Ia bukan warga negara namun diangkat sebagai ‘’negarawan kehormatan’’ oleh lembaga Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington. Di ‘’pengasingannya’’ itu pula Guttenberg menjabat sebagai duta besar Komisi Eropa untuk program inisiasi kebebasan berinternet.

Awal bulan lalu, saat partainya sibuk membincang rencana koalisi dengan SPD pascakemenengan di pemilu serta memprotes bukti penyadapan yang dilakukan agen-agen Amerika Serikat di telepon selulernya, diam-diam Merkel menerima Guttenberg dan berbicara selama satu jam di Kantor Kanselir. Spekulasi pun muncul, Guttenberg siap comeback di pentas politik Jerman.

Sejauh ini materi pembicaraan rahasia Merkel dan Guttenberg masih misteri. Guttenberg sendiri enggan membeber inti pembicaraan dalam pertemuan dengan Merkel itu. Menjawab permintaan wawancara khusus Reuters, ia hanya bilang sebelumnya kerap pulang kampung namun dilakukannya sangat diam-diam. Ia juga tidak mau dijebak untuk menjawab kemungkinannya kembali menerjuni politik Jerman.

‘’Saya sangat bahagia di sini. Akhirnya saya bisa menyelami berbagai topik yang biasanya politisi selalu berpura-pura paham namun sejatinya mereka tidak memiliki banyak pengetahuan tentang topik-topik itu,’’ tuturnya.

Saat di AS, Guttenberg mengakui banyak mendapatkan perspektif baru. Ia pun mengaku bisa berpendapat lebih jernih. Meski tetap menjalin hubungan akrab dengan Merkel, dalam sejumlah tulisan opini-editorial ia kerap mengkritisi policy pemerintahan seniornya itu, mulai dari kebijakan luar negeri hingga keamanan.

Pada akhir 2012, di Financial Times ia mengkritik sikap pemerintahan Berlin yang menghalangi merger industri dirgantara dan pertahanan Prancis-Jerman EADS dengan BAE Systems-nya Inggris. Menurut Guttenberg, kegagalan merger itu merupakan ‘’kehilangan kesempatan mengambil langkah bersejarah’’.

Agustus lalu, saat tudingan Suriah menggunakan senjata kimia kian deras mengalir, di The New York Times ia mengkritik ‘’budaya selalu enggan’’ dalam keterlibatan militer. Jerman seharusnya terlibat sebagaimana negara-negara kekuatan utama dunia lainnya. Namun pandangan Guttenberg ini banyak diserang media lokal.

‘’Semua itu saya maksudkan sebagai pengingat,’’ kata Guttenberg, politikus asal Bavaria yang tergabung di Uni Sosial Kristen (CSU), mitra ‘’koalisi sejati’’ CDU-nya Merkel.

Menguji Penerimaan Publik

Sejumlah media Jerman menilai memertahankan inti pembicaraan Merkel dan Guttenberg tetap misterius merupakan upaya mengetahui sejauh mana publik bereaksi dan bisa menerima kembali kehadiran politikus Bavaria itu. Namun mereka juga memandang, semuanya kembali kepada Guttenberg sendiri.

Satu persoalan mendasar, sejauh ini ia belum mau mengakui tindakan plagiat yang dilakukannya meskipun University of Bayreuth, kampus tempatnya meraih gelar Ph.D. pada 2006, telah memastikan Guttenberg telah ‘’banyak melanggar standar akademik dan sengaja berbohong’’. Media Jerman sepertinya juga bakal sangat berhati-hati memberinya tempat untuk meraih lagi kepercayaan publik setelah merasa ‘’dikhianati’’ oleh sosok yang telah dijadikannya sebagai bintang itu.

Namun masih cukup banyak waktu bagi Guttenberg untuk memulihkan diri. Usianya kini baru 41 tahun. Ia juga masih dibutuhkan oleh CSU. Tahun lalu Ketua CSU Horst Seehofer bahkan berjanji membawanya pulang setelah pemilu parlemen federal pada September 2013. Di pemilu itu koalisi CDU-CSU menang dan, terbukti, Guttenberg pulang serta berkesempatan berbicara langsung di kantor pemerintahan bersama Kanselir Merkel.

Jika ia benar hendak kembali, sejumlah pengamat menilai tempat yang paling pas baginya untuk membangun lagi karier politik adalah di Bavaria, kampung halamannya. Selain kemampuannya yang masih terbilang brilian, di wilayah itu pula keluarganya tinggal sejak abad ke-12 dan menetap di kastil keluarga yang dimiliki sejak 1482.

‘’Bisakah itu terwujud beberapa tahun lagi dari sekarang? Mungkin saja. Guttenberg masih sangat populer, bahkan juga di kalangan Sosial Demokrat. Untuk mendapati politikus muda Jerman sekarismatik dia, Anda baru bisa menjumpainya ke masa muda Helmut Schmidt,’’ ujar Juergen Falter, pengamat politik di Mainz University.

Beberapa tahun lagi. Bukan sekarang. Itulah penilaian Falter. ‘’Memori orang atas inti plagiarisme itu masih tajam.’’

* Dimuat HARIAN NASIONAL, A4, 1 DESEMBER 2013