Kembang api di Stadion Olimpiade Fisht di Olympic Park saat geladi resik upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014, Selasa 4 Februari 2014. PHOTO: REUTERS | ALEXANDER DEMIANCHUK
Kembang api di Stadion Olimpiade Fisht di Olympic Park saat geladi resik upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014, Selasa 4 Februari 2014. PHOTO: REUTERS | ALEXANDER DEMIANCHUK

PEREMPUAN bernama Razmena Akhmadievna Ibragimova ini beberapa hari terakhir begitu populer di Rusia, khususnya di Sochi. Bekas wilayah tetirah yang telah disulap sedemikian takjub sebagai jujugan tidak kurang 6.000 atlet dari 85 negara yang bakal bersaing demi superioritas di ajang Olimpiade Musim Dingin 2014 pada 7-23 Februari. Belum lagi 1.650 atlet Paralympic dari 45 negara. Juga puluhan ribu penonton, pelancong, serta jurnalis dari berbagai jengkal jagat.

Siapakah Razmena? Rusia menyebutnya black widow. Ia dilahirkan pada 6 Juni 1991. Jadi usianya 22 tahun. Seperti julukannya, widow, ia adalah janda. Menurut Moskow, dua pekan sebelum olimpiade bergulir Razmena sempat didapati berkeliaran di jantung Kota Sochi. Ia ditengarai memetakan target bom bunuh diri.

Razmena mungkin tidak sendiri. Beberapa janda lainnya (black widows) juga dimungkinkan siap melancarkan aksi bunuh diri untuk menuntut balas atas kematian suami-suami mereka —kaum militan di Chechnya dan wilayah Kaukasus Utara— di tangan militer dan pasukan keamanan Rusia.

Janda-janda seperti Razmena, di mata Rusia, jelas superbahaya. Apalagi jika mereka sampai luput dan mampu menyerang ketika olimpiade yang jauh-jauh hari disiapkan Presiden Vladimir Putin sebagai ‘’pesta termegah sepanjang sejarah’’ itu diguncang bom. Susah dibayangkan pastinya.

Poster sketsa wajah Razmena Akhmadievna Ibragimova di sebuah toko grosir di Distrik Adler, Sochi. PHOTO: REUTERS | ALEXANDER DEMIANCHUK
Poster sketsa wajah Razmena Akhmadievna Ibragimova di sebuah toko grosir di Distrik Adler, Sochi. PHOTO: REUTERS | ALEXANDER DEMIANCHUK

Alhasil, di tempat-tempat umum seperti stasiun, terminal bus, pusat-pusat perbelanjaan hingga toko-toko kelontong di Sochi dan sekitarnya, sketsa wajah Razmena menghiasi selebaran yang tertempel betebaran. Rusia merasa wajib ekstrawaspada dan, sebagaimana dikatakan Presiden Putin, tidak takut karena sudah tahu betul cara mengantisipasi serta mengatasi setiap ancaman yang muncul.

Toh, kegamangan publik global tetap menggelayut. Mereka mencemaskan tragedi serangan kaum militan pada Olimpiade Musim Panas Munich 1972 berulang di Sochi. Juni lalu, dalam rekaman video pemimpin gerilyawan Chechnya Doku Umarov menyerukan ‘’jihadis’’ mengerahkan seluruh daya dan strategi untuk menggagalkan penyelenggaraan olimpiade yang ia sebut sebagai ‘’tarian setan di atas tulang-belulang leluhur kami’’.

Umarov juga mengklaim kelompoknya sebagai pelaku serangkaian serangan bunuh diri yang terjadi sebelumnya, termasuk pengeboman di Moskow pada 2010 dan 2011 yang menewaskan lebih dari 70 orang.

Bulan lalu dua lelaki dari kelompok militan di Dagestan mem-posting video di internet dan mengultimatum Presiden Putin agar membatalkan perhelatan Olimpiade Sochi. Jika tidak, gertaknya, mereka akan memberikan ‘’hadiah’’ kepada Putin dan para pengunjung olimpiade. Keduanya juga mengklaim sebagai pelaku bom bunuh diri ganda di Kota Volgograd, belahan selatan Rusia, bulan lalu yang menewaskan 34 orang.

Bom bunuh diri ganda di Volgograd yang mendekati perhelatan olimpiade itu, mau tidak mau, tetap memunculkan kecemasan terhadap keamanan Sochi meski Rusia telah menguatkan benteng pertahanan ‘’ring of steel’’ di sekitar kota itu. Bahkan, seperti dilansir TIME, Moskow juga berketetapan mengerahkan sedikitnya 40 ribu personel keamanan di Sochi yang telah disuntik dana US$ 50 miliar untuk dijadikan kompleks tuan rumah olimpiade sejak kota itu dipilih sebagai tuan rumah pada Juli 2005 silam.

Pelajaran dari Super Bowl

Menjelang akhir bulan lalu para pejabat Rusia mengakui tiket Olimpiade Sochi baru terjual 70 persen. Artinya, teror telah memengaruhi animo calon penonton maupun pengunjung. Masih cukup banyak yang mencemaskan faktor keamanan dan keselamatannya meski Rusia telah menggaransi.

Untuk meminimalisasi kecemasan keamanan tersebut, Pentagon dan FBI menawarkan bantuan pengamanan, termasuk pengerahan armadanya yang ada di Laut Hitam, saat berlangsung olimpiade dalam koordinasi dengan otoritas Moskow. Namun sejauh ini belum ada respons dari Rusia. Berdasarkan pengalaman Rusia alergi mengizinkan personel militer dan keamanan asing menginjak wilayahnya dalam hajatan yang ia selenggarakan sehingga hampir mustahil tawaran AS tersebut diterima.

Meski demikian, AS tidak melihat enteng setiap ancaman terhadap olimpiade itu. Menhan AS Chuck Hagel menyatakan negaranya tetap akan ‘’melakukan pembicaraan menyangkut beberapa tindakan yang tepat’’ dengan Rusia guna menjamin keamanan evakuasi atlet dan warga AS jika nanti memang diperlukan.

Di Olimpiade Sochi, AS mengirimkan sekitar 230 atlet didampingi 270 pelatih dan ofisial pendukung setiap cabang olahraga. Sekitar 10 ribu pengunjung asal AS diperkirakan hadir di kota tepian Laut Hitam yang membentang 27 mil di arah utara dari Georgia tersebut. Kontingen AS disertai oleh delegasi beranggotakan lima orang dipimpin Janet Napolitano, mantan Menteri Keamanan Dalam Negeri.

Kepada Reuters, beberapa pejabat senior di pemerintahan Presiden Barack Obama mengatakan, Rusia memiliki tanggung jawab utama jika terjadi insiden selama olimpiade berlangsung. Jika evakuasi terpaksa harus dilakukan, militer AS bisa melakukan sewaktu-waktu baik dengan pesawat militer maupun carter. Meski demikian, kata seorang pejabat AS, sejauh ini belum ada rencana evakuasi berupa konsep matang yang siap dijalankan. Namun AS selalu siap seandainya operasi mengeluarkan warganya dari Rusia selama olimpiade harus dilakukan.

Sebagaimana para pengamat, para pejabat AS meyakini ancaman jelang event-event besar yang menjadi fokus dunia seperti olimpiade bukan hal baru. Bisa saja itu cuma gertakan. Namun antisipasi tetap perlu dilakukan. Di antaranya, tetap memberlakukan standar pelarangan atlet mengenakan kostum tim di luar kompleks pertandingan maupun perkampungan atlet.

Di sisi lain, sebagaimana dilaporkan The Washington Post, AS berharap Rusia bisa memetik ‘’pelajaran’’ dari observasi yang mereka lakukan saat berlangsung pertandingan Super Bowl XLVI di Indianapolis pada Februari 2012 dalam pengamanan Olimpiade Sochi. Saat itu David Rubincam, Atase Hukum FBI di Moskow, mengantarkan delegasi beranggotakan lima perwira senior pada Dinas Keamanan Federal (FSB–intelijen Rusia) mengobservasi stadion tempat pertandingan.

Dengan mata telanjang, ujar Rubincam, para perwira FSB itu tidak melihat pasukan keamanan bersenjata di berbagai sudut stadion dan sekitarnya. ‘’Kami sebenarnya menempatkan banyak personel keamanan siaga tetapi partisipan tidak melihatnya. Itulah yang kalian butuhkan,’’ ujar Rubincam kepada delegasi FSB. Ia menjelaskan, snipers sebenarnya ada di berbagai sudut stadion dan sekitarnya tetapi tidak tampak mata publik.

Lisa Monaco, penasihat kontraterorisme Obama, ditunjuk sebagai pemimpin panel kerja sama antaragen intelijen untuk mengoordinasikan dukungan AS pada Olimpiade Sochi jika dibutuhkan. Namun Rubincam, yang bertugas di Moskow dalam rentang Mei 2011 hingga Oktober 2012, mengakui sejauh ini Rusia masih enggan menerima bantuan AS untuk pengamanan Sochi, bahkan masih terkesan mencurigainya.

Rusia, kata Jim Treacy –mantan agen FBI yang juga pernah bertugas sebagai atase hukum di Moskow, masih curiga AS bakal melakukan penyadapan dan pengumpulan data intelijen ketika kerja sama keamanan dan kontraterorisme berlangsung.

Sasaran Antara

Mark Galeotti, pakar keamanan Rusia di New York University, masih meyakini yang ancaman militan terhadap Olimpiade Sochi baru sebatas teror. Dalam tataran teror, bisa dibilang mereka telah berhasil menciptakan kegamangan. Namun menyiapkan aksi bunuh diri, sebagaimana dimaksud Umarov dengan black widows, merupakan ‘’senjata yang rentan’’ di tengah pengamanan ekstraketat saat olimpiade bergulir.

Yang justru layak dicermati adalah serangan-serangan seperti di Volgograd yang jauh dari basis militan di Kaukasus Utara. Serangan seperti itu bisa dibilang sebagai ‘’sasaran antara’’, di luar Sochi tetapi tetap mampu menimbulkan kepanikan di Sochi.

‘’Ketakutan terbesar adalah serangan-serangan di Volgograd ini seperti taktik diversi. Sebelum setiap teroris menyerang Rusia, militan memakai pengalihan seperti ini. Mereka mengorganisasi serangan-serangan teroris berskala kecil di wilayah-wilayah lain,’’ ujar Andrei Soldatov, pemimpin redaksi Agentura.ru, sebuah website yang mencermati isu keamanann Rusia.

Meski saat pesta bergulir nanti tidak ada bom, harus diakui militan telah berhasil membuat gamang perhelatan Olimpiade Sochi. Penjualan tiket yang baru 70 persen adalah salah satu bukti. Rusia harus bekerja keras menggaransi pesta termahal sepanjang sejarah itu aman dan lancar.

* Beberapa bagian tulisan ini dimuat di HARIAN NASIONAL edisi Minggu 26 Januari 2014