Neymar dkk ketika menjuarai Piala Konfederasi 2013 setelah menggilas Spanyol, juara dunia dan juara Eropa, 3-0 di partai final di Stadion Maracana Rio de Janeiro, Brasil, 1 Juli 2013. Akankah peruntungan ''Tahun Kuda Emas'' berpihak ke mereka?
Neymar dkk ketika menjuarai Piala Konfederasi 2013 setelah menggilas Spanyol, juara dunia dan juara Eropa, 3-0 di partai final di Stadion Maracana Rio de Janeiro, Brasil, 1 Juli 2013. Akankah peruntungan ”Tahun Kuda Emas” berpihak ke mereka? PHOTO: REUTERS | KAI PFAFFENBACH

PERTANDINGAN sepak bola, tidak terkecuali di ajang Piala Dunia, bukan arena tos-tosan. Kesiapan mental dan fisik menjadi kunci kesuksesan. Meski bukan klenik, sepak bola toh juga kerap diwarnai kejutan-kejutan yang bertumpu pada faktor luck alias peruntungan.

Piala Dunia 2014 Brasil pada Juni-Juli mendatang sekiranya tidak terlepas dari kemungkinan itu. Spanyol, sang juara Eropa beruntun dalam dua edisi terakhir dan juara Piala Dunia 2010, masih layak diperhitungkan. Begitu pula Jerman dan Belanda yang berperforma fantastis sepanjang babak penyisihan mereka di Zona Eropa.

Gairah menantikan kejutan di Brasil semakin bertambah dengan kehadiran Inggris. Rasanya tidak lengkap persaingan di arena sepak bola mondial ini tanpa kehadiran timnas The Three Lions.  Dengan kompetisi domestik Premier League dinilai paling mentereng di dunia, sukses melampaui ujian cukup menantang pada penyisihan level benua, plus seri 2-2 saat laga persahabatan melawan tuan rumah Brasil pada peresmian Stadion Maracana, terlalu dini kiranya menilai Inggris mati harapan.

Namun, sebagaimana diulas Jon Harvey di The Metro, dengan bintang-bintang seperti Eden Hazard, Vincent Kompany, Romelu Lukaku, Jan Vertonghen, Mousa Dambele, Christian Benteke, dan Marouane Fellaini, timnas Belgia serasa lebih pas mewakili Premier League ketimbang The Three Lions. Belgia pun layak sebagai dark horses alias ‘’kuda hitam’’ di Piala Dunia 2014.

Debutan Bosnia-Herzegovina yang diperkuat pemain-pemain berkualitas seperti Edin Dzeko, Asmir Begovic, serta Miralem Pjanic juga sekiranya patut masuk kategori ‘’kuda hitam’’ itu. Selama babak penyisihan grup, Pelatih Safet Susic berhasil menyuntikkan semangat tempur luar biasa kepada skuadnya.

Peningkatan performa timnas-timnas Asia, sudah menghitung Australia, sejak Piala Dunia 2002 belum bisa otomatis dianggap enteng. Timnas dari benua ini seperti Jepang dan Korea Selatan tetap potensial menjadi batu sandungan tim benua-benua lain yang lebih punya nama. Potensi ini dimiliki tim-tim dari Zona Amerika Tengah, Utara, dan Karibia (CONCACAF) seperti  Meksiko dan Amerika Serikat.

Sukses mengejutkan Ghana ke perempat final Piala Dunia 2010 bakal menyemangati tim-tim dari Benua Hitam Afrika. Dari sejumlah tim Afrika yang lolos ke putaran final di Brasil kali ini, fokus sepertinya tertuju ke Pantai Gading. Dengan performa Didier Drogba, Wilfried Bony, Salomon Kalou, dan Yaya Toure masih berkilau terang, The Elephants tetap menjadi ancaman yang sangat layak diperhitungkan tim-tim rival, tidak terkecuali dari Amerika Latin yang menjadikan Piala Dunia 2014 ini sebagai rumah mereka.

Piala Dunia di ‘’Tahun Kuda’’

Sebagaimana diketahui, 2014 dalam kalender China merupakan ‘’Tahun Kuda Kayu’’. Sebelumnya enam kali Piala Dunia juga digelar di ‘’Tahun Kuda’’ dengan proses dan hasil yang cukup menarik dicermati. Keenam Piala Dunia sebelumnya itu adalah 1930, 1954, 1966, 1978, 1990, dan 2002.

Mengilas peruntungan pada tahun-tahun penyelenggaraan itu, tuan rumah bisa berharap banyak. Dari enam kali penyelenggaraan di ‘’Tahun Kuda’’, separuh atau 50 persen dijuarai oleh tuan rumah. Pada Piala Dunia 1930 di Uruguay, tuan rumah mengalahkan Argentina di final 4-2, Inggris mengungguli Jerman Barat 4-2 di final Piala Dunia 1966, dan Argentina menundukkan Belanda 3-1 di final Piala Dunia 1978.

Menilik performa Piala Dunia di ‘’Tahun Kuda’’, hanya lima negara yang mencatatkan sukses sebagai juara. Mereka adalah Uruguay, Jerman/Jerman Barat yang menjuarai Piala Dunia 1954 setelah menumbangkan tim favorit Hungaria 3-2 di final, Inggris, Argentina, dan Brasil yang mengandaskan Jerman 2-0 di final Piala Dunia 2002 —Piala Dunia untuk kali pertama digelar di benua Asia. Dari lima negara yang masih didominasi Eropa dan Amerika Latin itu, performa Jerman dan Argentina yang terbilang mentereng.

Jerman juara dua kali di ‘’Tahun Kuda’’ dan dua kali masuk partai final (1966 dan 2002). Sedangkan Argentina sekali juara dan dua kali masuk partai final (1930 dan 1990). Berbeda dengan Argentina, dua kali Jerman menjuarai Piala Dunia yang tidak digelar di rumah sendiri. Bahkan pada 1954, sukses Jerman meraih trofi pertama Piala Dunia-nya ini terbilang ‘’ajaib’’ sehingga melahirkan sebutan Miracle of Bern (Keajaiban di Bern) di dalam negeri.

Betapa tidak, Hungaria ketika itu adalah raja Eropa. Pada babak penyisihan Piala Dunia 1954 itu pun Jerman dipaksa bertekuk lutut 3-8. Namun di final Jerman justru menggulingkan prediksi dan membangkrutkan bandar taruhan dengan meng-kick balik Ferenc Puskas dkk di timnas Hungaria.

Masihkah peruntungan Jerman moncer di ‘’Tahun Kuda Kayu’’ pada 2014 ini? Menarik ditunggu. Dengan anggota skuad yang sebagian besar sama, timnas polesan Joachim Loew kali ini hadir di Brasil dengan lapar prestasi yang teramat hebat. Der Panzer tersisih di semifinal Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012.

Atau, masihkah ‘’hukum’’ Jerman dan tim-tim Eropa serta benua lainnya tidak pernah bisa menjuarai Piala Dunia di ranah Amerika Latin bertahan pada 2014 ini? Jika masih berlaku, sekiranya tuan rumah Brasil bisa berharap peruntungan lebih besar. ‘’Tahun Kuda’’ pada 2002 menjadi acuan. Dengan talenta-talenta gemilang yang dimilikinya sekarang —ditambah faktor sang pelatih saat ini, Luiz Felipe Scolari yang andil membawa Brasil merengkuhi Piala Dunia kelimanya pada 2002 itu— Brasil serasa memiliki segalanya.

Jika demikian, sekiranya Lionel Messi dkk di timnas Argentina mengharapkan keberuntungan ‘’Tahun Kuda’’ kali ini tidak berpihak ke Brasil, melainkan ‘’kesialan’’ sebagai tuan rumah yang gagal juara sebagaimana di Piala Dunia 1950. Begitu pula Uruguay yang ingin mengulang sukses tuah ‘’Tahun Kuda’’ di ranah Amerika Latin sebagaimana Argentina. Tim-tim lain seperti Cile dan Kolombia pasti juga menyiapkan kejutan dan, siapa bisa mengira, ‘’keajaiban’’ sebagaimana yang dicatat Jerman Barat di ranah Eropa di Piala Dunia 1954.

Menarik ditunggu. Semua mafhum tim paling siap strategi dan mental lah yang bakal tampil sebagai juara. Namun, semua juga tidak bisa menyangkal faktor luck kadang hadir di pertandingan-pertandingan krusial seperti Piala Dunia.

PIALA DUNIA DI ‘’TAHUN KUDA’’: PIALA DUNIA 2002 – Korea-Jepang (Brasil juara); 1990 – Italia (Jerman juara); 1978 – Argentina (Argentina juara); 1966 – Inggris (Inggris juara); 1954 – Swiss (Jerman Barat juara); 1930 – Uruguay (Uruguay juara)

* Tulisan ini dimuat di HARIAN NASIONAL edisi 10 Februari 2014