Presiden Brasil Dilma Rousseff (tengah) menandatangani bola didampingi Sekjen FIFA Jerome Valcke (tiga dari kiri) dan Ronaldo (tiga dari kanan), mantan bintang Brasil sekaligus anggota lokal organizing committee  Piala Dunia 2014, Wali Kota Porto Alegre Jose Fortunati (kanan tengah), serta beberapa pemain klub Internacional saat upacara pembukaan Stadion Beira-Rio, salah satu venue Piala Dunia 2014, di Porto Alegre, 20 Februari 2014. Presiden Rousseff berharap Piala Dunia memberinya kemujuran. REUTERS | EDISON VARA | FILES
Presiden Brasil Dilma Rousseff (tengah) menandatangani bola didampingi Sekjen FIFA Jerome Valcke (tiga dari kiri) dan Ronaldo (tiga dari kanan), mantan bintang Brasil sekaligus anggota lokal organizing committee Piala Dunia 2014, Wali Kota Porto Alegre Jose Fortunati (kanan tengah), serta beberapa pemain klub Internacional saat upacara pembukaan Stadion Beira-Rio, salah satu venue Piala Dunia 2014, di Porto Alegre, 20 Februari 2014. Presiden Rousseff berharap Piala Dunia memberinya kemujuran. REUTERS | EDISON VARA | FILES

ROMARIO andil membawa Brasil juara Piala Dunia 1994 di AS. Ronaldo brilian dan berperan memberi Brasil gelar kelimanya di Piala Dunia 2002 Korea-Jepang. Ketika Piala Dunia diboyong ke tanah kelahiran mereka tahun ini, dua bekas bintang itu pun berseteru menyikapi kesiapan Brasil.

Romario menuding Ronaldo tak konsisten lewat ucapannya yang ‘’malu atas persiapan Brasil’’ di Piala Dunia ini. Padahal, Ronaldo tercatat sebagai anggota organizing committee di kejuaraan sepak bola empat tahunan terbesar sejagat ini. ‘’Setiap orang tahu bagaimana saya bersikap. Saya tidak berubah keberpihakan tergantung perubahan permainan ini,’’ ujar Romario kepada UOL, portal berita terkemuka di Brasil, seperti dinukil Reuters.

Romario adalah anggota parlemen dari oposisi yang keras mengkritisi kesiapan Brasil menjadi tuan rumah Piala Dunia. Ia menilai, dana yang begitu besar untuk Piala Dunia sebaiknya dimanfaatkan untuk infrastruktur dan kesejahteraan. Aksi-aksi protes terus berlangsung, termasuk oleh para guru dan warga yang memukuli bus pengangkut timnas saat hari pertama latihan di Teresopolis, Senin (26/5).

Sementara itu, Ronaldo dikenal sebagai pendukung Presiden Dilma Rousseff dan menyokong penuh Brasil sebagai tuan rumah. Banyak yang berpendapat, jika di rumah sendiri Brasil menjuarai Piala Dunia untuk keenam kali, Rousseff dan Partai Pekerja-nya yang berkuasa berpeluang besar memertahankan jabatan hingga empat tahun ke depan. Usai Piala Dunia, tepatnya pada 5 Oktober 2014, Brasil menggelar pemilu.

Namun, sejumlah analis memprediksi tidak ada garansi kemujuran bagi Rousseff dan Partai Pekerja-nya meskipun Brasil tahun ini juara dunia. Jika benar juara, euforia diyakini berlangsung beberapa pekan saja. Setelah itu rakyat akan larut lagi dalam masalahnya. Bisa dibayangkan andaikata Brasil gagal juara, apalagi tersisih pada babak-babak awal yang sangat tidak mereka harapkan.

Sentimen negatif itu bisa semakin membesar mengingat, berbeda dengan kegagalan di Piala Dunia 1950, kali ini hampir seluruh pemain timnas Selecao berbendera klub-klub luar negeri, khususnya di Eropa. Persepsi kurangnya rasa memiliki (sense of belonging) timnas bila mereka gagal di Piala Dunia bakal begitu besar.

Eduardo Campos, salah satu penantang utama Rousseff, mengakui dampak persiapan Piala Dunia yang selama ini telah berperan menurunkan popularitas Rousseff.

Kasus Piala Dunia 2014 Brasil dan kemujuran prediksi Rousseff setidaknya bisa diteropong dari hasil kajian riset Stanford Graduate School of Business pada 2010 silam. Kemenangan atau juara yang dicapai 10 hari sebelum pemilu digelar berkontribusi penambahan suara bagi petahana (incumbent) sebesar 1-2 persen. Jika kemenangan atau gelar itu dicapai lebih dari dua pekan sebelumnya, dampaknya pun sangat kecil.

Setelah 1994, saat Romario dkk di Selecao mengangkat trofi di AS, pemilu Brasil selalu bersamaan tahun dengan helatan Piala Dunia. Selain meraih gelar keempatnya di AS, kondisi dalam negeri Brasil berbeda dengan saat ini. Kala itu Brasil meraih gelar ketika rencana stabilisasi ekonomi, yang ditandai pula dengan pemberlakuan mata uang baru real, sedang bergulir. Presiden saat itu, Fernando Henrique Cardoso, pun bisa mulus menggulirkan rencananya, terlebih mood rakyat lagi berbunga-bunga berkat gelar juara Piala Dunia. Cardoso pun terpilih kembali saat pemilu pada akhir 1994.

Setelah itu, korelasi antara juara dunia dan kemujuran presiden tidak lagi sebagai penjamin absolut. Pada 1998 Brasil gagal juara setelah di final dikandaskan tuan rumah Prancis. Namun, Cardoso terpilih lagi.

Empat tahun berikutnya, ketika Brasil menjuarai Piala Dunia 2002 dengan mengalahkan Jerman di final, justru tokoh oposisi Luiz Inacio Lula da Silva tampil sebagai presiden mengalahkan kandidat yang disokong Cardoso. Lula toh terpilih lagi pada 2006 meskipun pada Piala Dunia tahun yang sama Brasil disingkirkan Prancis di perempat final. Disokong Lula, Rousseff memenangi pemilihan pada 2010, hanya beberapa bulan setelah Brasil diempaskan Belanda pada Piala Dunia Afrika Selatan.

Piala Dunia kali ini benar-benar pertaruhan bagi Rousseff. Selain prestasi di lapangan, kondisi di luar stadion juga mengancam, apalagi disorot miliaran mata dunia. ‘’Apa pun yang terjadi, apakah itu lampu padam saat pertandingan, kemacetan lalu lintas, bandara yang semrawut, atau kecelakaan jalanan akibat buruknya infrastruktur, ia (Rousseff) yang langsung layak disalahkan,’’ tutur Thiago de Aragão, mitra perusahaan konsultan Arko Advice di Brasilia. ‘’Presiden Rousseff seharusnya berharap Brasil tidak menggelar pemilu saat Piala Dunia.’’

Meski demikian, beberapa yakin popularitas Rousseff bakal terdongkrak naik karena optimisme Brasil menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kini, kata Senator Romero Jucá dari Partai PMDB, harapan Rousseff adalah timnas bermain bagus di lapangan untuk meminimalkan protes-protes jalanan.

‘’Ia lebih baik berharap Neymar bermain bagus, Brasil menang dan juara,’’ tuturnya.

* Dimuat di HARIAN NASIONAL, Rabu 28 Mei 2014