Tandukan sudden death striker Korea Selatan Ahn Jung-hwan mengakhiri langkah Italia hanya sampai putaran kedua Piala Dunia 2002 Korea-Jepang.  REUTERS | FILES
Tandukan sudden death striker Korea Selatan Ahn Jung-hwan mengakhiri langkah Italia hanya sampai putaran kedua Piala Dunia 2002 Korea-Jepang. REUTERS | FILES

ALMANAK 29 Juni 1994. Cuaca sore di Stadion Robert F Kennedy Washington DC masih menyengat kala Belgia dan Arab Saudi berhadapan pada laga terakhir penyisihan Grup F putaran final Piala Dunia 1994. Mengingat ini aksi perdana Saudi di putaran final, Belgia –yang diperkuat Marc Robert Wilmots, pelatih timnas sekarang— pun lebih diunggulkan.

Beruntung Saudi memiliki ‘’mukjizat’’ pada sosok Saeed al-Owairan. Dengan skill luar biasa, ia mengontrol bola di arealnya sendiri, melakukan solo run, dan oh, wow, wow, mengecoh lima pemain Belgia, lantas bola tendangan keras kaki kanannya memerdayai kiper Michel Preud’homme. Sebiji gol al-Owairan ini tidak saja mengantarkan Saudi yang kala itu dipoles pelatih Jorge Solari (Argentina) menang, tetapi juga lolos ke putaran kedua.

Lolosnya Saudi membuat Asia berbangga karena tidak lagi dinilai sebagai ‘’pelengkap penderita’’ di ajang Piala Dunia. Apalagi saat itu kontestan lain dari Asia, Korea Selatan, tersingkir di penyisihan grup. Meski di putaran kedua dibekap Swedia 1-3, sukses Saudi pada partisipasi perdananya andil besar mendongkrak jatah Asia di putaran final Piala Dunia dari semula dua menjadi empat tim –seturut penambahan kontestan putaran final dari 24 menjadi 32 tim sejak Piala Dunia 1998 Prancis.

Gol al-Owairan juga dinobatkan FIFA di peringkat kelima dari 100 gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia sepanjang abad ke-20. Sukses Saudi di Piala Dunia 1994 AS juga membuka jalan tim negeri petrodolar lolos ke putaran final Piala Dunia Prancis pada 1998, 2002 di Korea-Jepang, dan 2006 di Jerman. Namun, Saudi dipaksa absen di putaran final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan dan Piala Dunia 2014 Brasil kali ini.

Berkat al-Owairan dan timnas Saudi, sepak bola Asia menyentak dunia. Serasa sepak bola Asia menggeliat lagi setelah lama tertidur pascakejutan yang diukir Korea Utara, satu-satunya wakil Asia di Piala Dunia 1966 Inggris. Dipoles pelatih lokal Myung Rye-Hun, Korut lolos hingga perempat final melawan Portugal. Korut bahkan sempat unggul 3-0 sebelum di-kick balik Eusebio dkk menjadi 3-5. Langkah Korut menjejak perempat final setelah mengimbangi Chile 1-1 dan menang 1-0 atas Italia, meski sempat kalah 0-3 kepada Uni Soviet di penyisihan grup, cukup mampu membuka mata dunia.

Striker Arab Saudi Saeed al-Owairan memerdayai beberapa pemain Belgia sebelum mencetak gol yang andil mengantarkan Saudi lolos ke putaran kedua Piala Dunia 1994 Amerika Serikat. ESPN | GETTY | FILES
Striker Arab Saudi Saeed al-Owairan memerdayai beberapa pemain Belgia sebelum mencetak gol yang andil mengantarkan Saudi lolos ke putaran kedua Piala Dunia 1994 Amerika Serikat. ESPN | GETTY | FILES

Al-Owairan dan Saudi membangunkan Asia dari tidur panjang. Sejak Piala Dunia 1994, langkah tim-tim Asia tidak lagi terhenti di penyisihan grup (lihat tabel).

Bahkan, terlepas kontroversi yang sempat muncul, prestasi fantastis diukir tim Korea Selatan kala menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 bersama Jepang. Sebelum langkah Taegeuk Warriors yang dibesut Guus Hiddink dihentikan Jerman 0-1 di semifinal, Korsel melibas Polandia 2-0, seri 1-1 kontra AS, dan menang 1-0 atas golden generation Portugal yang diisi Luis Figo dkk. Di putaran kedua, berkat gol penentu Ahn Jung-Hwan, Italia dibabat 2-1 (1-1) di babak perpanjangan waktu yang masih memberlakukan sudden death dan menang adu penalti 5-3 (0-0) melawan Spanyol di perempat final.

PIALA DUNIA 2014

Mungkinkah berharap kejutan ala al-Owairan dan dua Korea di Piala Dunia 2014 Brasil?

Seturut bergabungnya Australia ke Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pasca-Piala Dunia 2006 Jerman, Asia serasa lebih bertaji. Persaingan regional semakin sengit. Pun, kian banyak pemain Asia berkompetisi di liga-liga elite Eropa.

Namun, dari empat wakil Asia (Australia, Iran, Jepang, dan Korsel) pada Piala Dunia 2014 Brasil kali ini, tampaknya Samurai Blue Jepang yang lebih berpeluang melewati penyisihan grup, bahkan mampu melangkah hingga perempat final. Sejumlah alasan sekiranya bisa dipaparkan dalam analisis ini.

AUSTRALIA: Skuad polesan Ange Postecoglou ini rata-rata muda usia dan kurang pengalaman. Di Grup B, bisa dibilang Socceroos yang terlemah karena harus bersaing dengan juara Eropa sekaligus juara dunia bertahan Spanyol, Belanda sebagai runner-up Piala Dunia 2010, juga Chile yang dikenal bermaterikan para pemain ngeyel. Tak lagi diperkuat pemain-pemain senior kenyang pengalaman seperti kiper Mark Schwarzer, Lucas Neill, Brett Holman, maupun Brett Emerton, harapan pun banyak tertumpu ke Tim Cahill, Mark Bresciano, Luke Wilshere, dan Josh Kennedy.

IRAN: Skuad besutan Carlos Queiroz ini yang paling minim persiapan ketimbang tim-tim lain. Kondisi politik dan minimnya dana membuat Iran kurang diperhitungkan. Bisa jadi mereka masih kesulitan mencetak gol seperti di beberapa putaran final Piala Dunia sebelumnya, pengecualian kala menang atas ‘’seteru klasik’’ AS di Piala Dunia 1998 Prancis. Apalagi di Grup F, Iran harus bersaing dengan Argentina. Setitik celah harapan mungkin muncul jika muncul kejutan Iran mampu mengimbangi Nigeria dan Bosnia Herzegovina guna mendampingi Argentina lolos dari grup.

JEPANG: Kepada Jepang Asia berharap. Mengandalkan para pemain yang merumput di liga-liga elite Eropa seperti Shinji Kagawa, Keisuke Honda, Yasuhito Endo, dan Shinji Okazaki, pelatih Alberto Zaccheroni telah menguji keampuhan racikannya kala Jepang menahan imbang Belanda 2-2 dan menang 3-2 atas Belgia di partai uji coba. Di Grup C, Jepang juga harus bersaing dengan tim-tim yang bisa dibilang setara seperti Kolombia tanpa striker andalan Radamel Falcao, Pantai Gading, serta Yunani.

KOREA SELATAN: Paling sering mewakili Asia di Piala Dunia, bisa dibilang tim mereka di Piala Dunia 2014 ini ‘’yang terlemah’’ dibandingkan para pendahulunya. Korsel sepertinya harus mengandalkan kemampuan Hong Myung-ho memompa spirit tempur anak asuhnya. Setidaknya seperti Hong, kapten Korsel di Piala Dunia 2002, digembleng Guus Hiddink ketika meraih sukses 12 tahun silam. Di Grup H, Korsel dipaksa bersaing dengan Belgia yang lebih difavoritkan lolos dari grup ini, juga Rusia dan Aljazair.

Menarik ditunggu kiprah tim-tim Asia di Piala Dunia 2014 Brasil ini. Bola itu bulat, bergulirnya sulit diterka. Yang terpapar itu sekadar prediksi. Segala kemungkinan di lapangan bisa terjadi.

KIPRAH TIM-TIM ASIA & CAPAIANNYA DI PIALA DUNIA

1930 Uruguay: tanpa partisipan
1934 Italia: tanpa partisipan
1938 Prancis: Indonesia/Hindia Belanda (Putaran I)
1950 Brasil: tanpa partisipan
1954 Swiss: Korsel (Putaran I)
1958 Swedia: tanpa partisipan
1962 Chile: tanpa partisipan
1966 Inggris: Korut (Perempat Final)
1970 Meksiko: Israel (Putaran I)
1974 Jerman Barat: tanpa partisipan
1978 Argentina: Iran (Putaran I)
1982 Spanyol: Kuwait (Putaran I)
1986 Meksiko: Irak (Putaran I), Korsel (Putaran I)
1990 Italia: Korsel (Putaran I), Uni Emirat Arab (Putaran I)
1994 AS: Arab Saudi (16 Besar), Korsel (Putaran I)
1998 Prancis: Iran (Putaran I), Jepang (Putaran I), Arab Saudi (Putaran I), Korsel (Putaran I)
2002 Korea-Jepang: Korsel (Semifinal), Jepang (16 Besar), China (Putaran I), Arab Saudi (Putaran I)
2006 Jerman: Iran (Putaran I), Jepang (Putaran I). Arab Saudi (Putaran I), Korsel (Putaran I)
2010 Afrika Selatan: Australia (Putaran I), Jepang (16 Besar),
Korsel (16 Besar), Korut (Putaran I)

* Dimuat di HARIAN NASIONAL edisi Minggu 8 Juni 2014