Fans Ghana di antara suporter Belanda saat laga uji coba kedua tim di Stadion Feyenoord Rotterdam, Belanda, 31 Mei lalu. Ghana berada di ‘’grup maut’’ putaran final Piala Dunia 2014. REUTERS | TOUSSAINT KLUITERS | UNITED PHOTOS
Fans Ghana di antara suporter Belanda saat laga uji coba kedua tim di Stadion Feyenoord Rotterdam, Belanda, 31 Mei lalu. Ghana berada di ‘’grup maut’’ putaran final Piala Dunia 2014. REUTERS | TOUSSAINT KLUITERS | UNITED PHOTOS

”GRUP MAUT’’. Setidaknya julukan ini layak disematkan kala kontestan Grup G putaran final Piala Dunia 2014 diumumkan. Di grup ini bercokol Jerman, Portugal, Amerika Serikat, dan Ghana. Persaingan bakal sengit.

Namun, pada Ghana ‘’Benua Hitam’’ Afrika sekiranya tetap layak berharap. Setidaknya Ghana mampu mengulang sukses di Piala Dunia 2010 Afsel ketika menjejak perempat final, bahkan nyaris ke semifinal andai Luis Suarez tidak sengaja menampar bola yang meluncur ke gawang Uruguay pada detik-detik akhir perpanjangan waktu. Sial, Asamoah Gyan gagal mengeksekusi ganjaran penalti. Black Stars pun kalah adu penalti 2-4 (1-1).

Empat tahun lalu, Ghana menjadi sensasi baru Afrika, seperti torehan Roger Milla dan timnas Kamerun di Piala Dunia 1990 Italia, juga Senegal di Piala Dunia 2002 Korea-Jepang. Mereka sama-sama sukses menjejak perempat final, capaian tertinggi tim-tim Afrika. Namun, dunia juga mencatat sepak bola Afrika terbilang fast learner alias cepat belajar mengikuti tuntutan persaingan di putaran final Piala Dunia.

GHANA: Berada di ‘’grup maut’’, performa Ghana tetap layak diharapkan di Brasil. Beberapa pertimbangan bisa dikemukakan. Pertama, di antara tim-tim Afrika yang lolos ke Piala Dunia Brasil ini, Ghana paling konsisten. Putaran final Piala Dunia kali ini merupakan yang ketiga beruntun diikuti Ghana dengan peningkatan performa dan capaian pada dua partisipasi sebelumnya.

Di Piala Dunia 2006 Jerman, partisipasi perdana Ghana, tim ‘’Bintang Hitam’’ lolos ke putaran kedua (16 Besar) ketika tim-tim Afrika lainnya —Angola, Pantai Gading, Togo, dan Tunisia— terhenti di penyisihan grup. Padahal ketika itu Pantai Gading lebih dijagokan. Di Piala Dunia 2010 saat Nigeria, Kamerun, Pantai Gading, Aljazair, dan tuan rumah Afrika Selatan terganjal di penyisihan grup, Ghana justru melangkah hingga perempat final.

Kedua, dengan materi pemain yang sebagian besar sama dengan skuad Piala Dunia 2010 dan merumput di liga-liga elite Eropa, termasuk Kwadwo Asamoah yang andil membawa Juventus juara Serie A Italia tiga kali beruntun musim lalu, Ghana yang saat ini dipoles pelatih lokal Kwesi Appiah justru dinilai yang paling harmonis dan mantap. Appiah adalah asisten pelatih Milovan Rajevac (Serbia) kala sukses mengantarkan Ghana ke perempat final Piala Dunia 2010.

Ketiga, setidaknya Ghana sudah mengenal dan memelajari tipikal permainan rival-rivalnya di Grup G. Jerman yang masih dipoles Joachim Loew berada satu grup dengan Ghana di Piala Dunia 2010 meski ketika itu ‘’Bintang Hitam’’ kalah tipis 1-0. Sedangkan AS dibekap di perempat final 1-2 melalui perpanjangan waktu. Jika di Grup G pada Piala Dunia kali ini Jerman difavoritkan lolos, Ghana pun berpeluang bersaing dan bisa dibilang selevel dengan Portugal dan AS.

KAMERUN: Harus bersaing di Grup A bersama tuan rumah Brasil, Kroasia, dan Meksiko, tipis peluang Kamerun lolos dari grup ini. Capaian Samuel Eto’o dkk diprediksi tidak jauh berbeda dengan Piala Dunia empat tahun lalu, terhenti di putaran pertama.

Kemenangan tipis 1-0 di rumah sendiri, Yaounde, atas tim lemah Moldova dalam uji coba terakhir sebelum bertolak ke Brasil membuat publik tak berharap banyak. Apalagi kondisi Eto’o, sang kapten, dinyatakan tidak sepenuhnya fit. Ini menjadi tantangan serius pelatih Volker Finke (Jerman) yang belakangan ramai dihujani kritik pedas, termasuk dari legenda sepak bola Kamerun Roger Milla.

NIGERIA: Selain Ghana, pada Nigeria Afrika juga bisa berharap. Nigeria yang dibesut pelatih lokal Stephen Kesi —kapten timnas ‘’Elang Super’’ di Piala Dunia 1994—sangat berpeluang mendampingi Argentina lolos dari Grup F, yang juga dihuni debutan Bosnia-Herzegovina dan Iran. Inilah kans Nigeria mengulang sukses Piala Dunia 1994 dan Piala Dunia 1998, lolos dari penyisihan grup.

Namun, tidak seperti Ghana, tuntutan publik pada skuad Kesi kali ini jauh lebih besar, terlebih menyandang status juara Afrika. Banyak suara menilai tim Nigeria kali ini berisi pemain yang ‘’biasa-biasa saja’’, jauh beda ketika Kesi turun arena bersama Austin Okocha, Sunday Oliseh, Rashidi Yekini, dkk di Piala Dunia 1994 plus Nwankwo Kanu di Piala Dunia 1998. Maka pengalaman Kesi diharapkan menjadi senjata ampuh ‘’Elang Super’’.

PANTAI GADING: Usia kapten Didier Drogba sudah 36 tahun dan telah menyatakan Piala Dunia Brasil menjadi ajang terakhirnya membela timnas. Piala Dunia kali ini yang ketiga beruntun diikutinya setelah menjadi kunci sukses Pantai Gading lolos ke Piala Dunia 2006 dan 2010. Tentu Drogba berharap Pantai Gading tidak lagi terhenti di penyisihan grup seperti di dua Piala Dunia itu.

Pelatih Sabri Lamouchi bisa berharap membawa Pantai Gading lolos dari jeratan grup mengingat di Grup C yang kekuatan terbilang merata. Di grup ini, Pantai Gading harus bersaing dengan Kolombia, Yunani, dan Jepang. Andai Drogba tidak dipaksakan main, Lamouchi memiliki sejumlah amunisi jempolan pada striker Wilfried Bony, Salomon Kalou, Gervinho, juga dua bersaudara Toure (Kolo dan Yaya), maupun Didier Didier Zokora.

ALJAZAIR: Piala Dunia kali ini yang keempat diikuti Aljazair. Sebelumnya mereka tampil di Piala Dunia 1982, 1986, dan 2010. Saat ini pula merupakan kans terbesar Aljazair lolos dari penyisihan grup mengingat rival-rival di Grup H terbilang sepadan. Selain favorit juara grup Belgia, Rusia dan Korea Selatan adalah rival sepadan.

Diperkuat pemain-pemain kelahiran Prancis serta merumput di liga-liga Eropa, seperti gelandang berusia 19 tahun Nabil Bentaleb (Tottenham Hotspur), pelatih Vahid Halilhodzic (Prancis-Bosnia) —pemain timnas Yugoslavia di Piala Dunia 1982— menilai lolos dari grup merupakan target realistis.

TIM-TIM AFRIKA DI PIALA DUNIA & CAPAIANNYA
1930 Uruguay:
1934 Italia: Mesir (Putaran I)
1938 Prancis: –
1950 Brasil:
1954 Swiss:
1958 Swedia:
1962 Chile:
1966 Inggris: Memboikot
1970 Meksiko: Maroko (Putaran I)
1974 Jerman Barat: Zaire (Putaran I)
1978 Argentina: Tunisia (Putaran I)
1982 Spanyol: Aljazair (Putaran I), Kamerun (Putaran I)
1986 Meksiko: Aljazair (Putaran I), Maroko (16 Besar)
1990 Italia: Kamerun (Perempat Final), Mesir (Putaran I)
1994 AS: Kamerun (Putaran I), Maroko (Putaran I), Nigeria (16 Besar)
1998 Prancis: Kamerun (Putaran I), Maroko (Putaran I), Nigeria (16 Besar), Afrika Selatan (Putaran I), Tunisia (Putaran I)
2002 Korea-Jepang: Kamerun (Putaran I), Nigeria (Putaran I), Afrika Selatan (Putaran I), Senegal (Perempat Final), Tunisia (Putaran I)
2006 Jerman: Angola (Putaran I), Pantai Gading (Putaran I), Ghana (16 Besar), Togo (Putaran I), Tunisia (Putaran I)
2010 Afrika Selatan: Aljazair (Putaran I), Kamerun (Putaran I), Pantai Gading (Putaran I), Ghana (Perempat Final), Nigeria (Putaran I), Afrika Selatan (Putaran I)

* Dimuat di HARIAN NASIONAL edisi Senin 9 Juni 2014